adaptasi.
Malam pertama ku di Bandung.
Tidak ada lagi celotehan Ibu soal bagaimana harinya dihabiskan untuk berdagang kue buatannya. Tidak ada lagi suara Biru yang merengek minta diajarkan tugas matematika. Tidak ada lagi suara bising dapur yang biasanya menginterupsi pagi ku untuk segera terbangun dari tidur. Tidak ada lagi mereka yang menyapaku diambang pintu untuk hanya sekedar bertanya bagaimana hari ku berjalan.
Malam pertama ku di Bandung.
Di temani senyap didalam kamar berukuran empat kali empat dengan beberapa ekor cicak yang seolah menyambut kedatanganku serta udara dingin yang menyelinap malu-malu dari balik lubang ventilasi.
Malam pertama ku di Bandung.
Sangat sepi, ya.
Meski akhirnya aku tidak perlu lagi bersusah payah meminta ijin Ibu untuk pergi, bisa tidur hingga lewat tengah malam, makan mie instan lebih sering dari biasanya dan hal-hal yang mungkin tidak pernah aku lakukan sebelumnya di rumah. Termasuk menangis dengan leluasa seperti sekarang ini. Setelah berkenalan dengan para penghuni cafe alias teman-teman kerja nya Saga aku langsung pamit undur diri menuju kamar. Walaupun cuman kamar kecil dan sederhana kondisi nya masih sangat layak untuk ditempati, dengan kasur, lemari dan meja lipat. Kalau kata Saga sih, dulunya kamar ini dipakai Aji karena dulu orang nya banyak ngabisin waktu disini, gak ada waktu buat pulang ke kosan karena . Ohiya, Aji. Laki-laki yang enggak peduli sama impresi pertama itu. Sepuluh menit berikutnya aku habiskan dengan