Adinata: Is It Wrong To Loving You?
Meski bisa mengerjakan semua hal, gue bukanlah tipikal orang yang akan mau melakukan sesuatu diluar jobdesk nya dan jika bukan karena Gemintang maka gue enggan melakukannya.
Manusia setengah kumbang—kalau kata Farhan, alias lebih suka menyendiri dan berlama-lama di kamar kosan nya. Bukan untuk bermalas-malasan atau sekedar gabut scrolling media sosial, justru gue akan lebih produktif jika berada di zona nyaman.
Sore ini akhirnya seorang Adinata Cakrawala bisa kembali mencicipi sesi pemotretan; mempromosikan suatu produk dengan pose sok keren dan menjajakan wajah yang cukup menjual bagi seorang model dadakan. Ditemani Gemintang dan Dika malah bikin gue makin gugup. Pertama, karena harus memperlihatkan sisi dari diri gue yang asing dan mungkin kurang familiar untuk mereka dan kedua adalah gue harus melakukan ini bersama Gemintang dan Dika, meski gue gak tahu alur pemotretan nya bakal seperti apa tapi yang jelas pasti akan ada sesi yang mengharuskan kami bertiga berfoto bersama.
Ugh, ngebayanginnya aja udah bikin gue cringe setengah mati.
“Yuk, kakak-kakak. Bisa masuk ke studio duluan, nanti akan ada staff yang mengarahkan untuk ganti outfit dan make up.” Ujar perempuan berlanyard biru dengan name tag bertuliskan Social Media Manager mungkin dia bagian dari team The Glorify.
“Eh, laper gak? Kalo gue sih iya.” Tanya Dika tiba-tiba, ya kalau bukan random bukan Dika sih namanya, “Boleh melipir dulu gak sih? Gua mau beli batagor dulu.”
“Diiiiiiiikkk” Pekik Gemintang sambil menyikut lengan Dika, lalu beralih menatap gue yang kini tertawa geli karena kelakuan nya.
“Minta aja sih, Dik. Biasanya suka dikasih nasi box sebelum mulai sesi.”
“Wah, yang bener bang? Gue minta dua dikasih gak ya?”
“Lo tuh. Kerjaannya aja belom dilakuin malah udah mikirin jatah nasi box. Mana minta dua. Gak usah bikin malu.”
“Idiiiih kenape sih lu? Bang Nat aja santai. Elu tuh harusnya yang mintain jatah nasi box, karena ini kan kerjaan elu. Kita mah supporting cast.”
“Eh, anjing—”
Buru-buru gue tengahi mereka dengan menarik mundur Gemintang ke belakang. Duh, apa hari ini jobdesk gue juga adalah sekalian untuk jadi penjaga mereka ya? Ini anak dua bener-bener akur nya cuma 5 menit doang, sisanya ribut sama adu bacot.
Setelah memasuki studio, kami ke ruang wardrobe untuk berganti pakaian dan di make up. Dika dan gue beres duluan karena outfit nya cukup simpel, cuma setelan casual kaos, outer dan juga celana jeans. The Glorify ini memang brand yang fokus pada daily wear cocok-cocok aja sama gue yang memang sebenernya agak picky kalau disuruh ngisi jobdesk model. Gue akan menolak jika produk yang akan gue pakai itu bikin gue gak nyaman dan bikin gue malu. Bukan apa-apa, tapi ini kan buat charity ya, harus dikerjakan atas dasar ikhlas dan dengan perasaan senang dong?
Lalu Gemintang keluar dengan outfit serupa. Untuk sepersekian detik dada gue seperti menghangat, meletup bersama ratusan—atau mungkin ribuan kupu-kupu yang berterbangan didalam perut, sensasi aneh yang diberikan itu cukup menggelikan tapi entah kenapa aura yang dipancarkan begitu kuat. Padahal pemandangan seperti ini amat sering gue lihat, karena itulah gaya Gemintang sehari-hari, outfit super simpel tapi tetap punya daya tariknya tersendiri.
Harus gue akui berkali-kali, Gemintang hari ini seribu kali lebih cantik.
Tanpa sadar kedua ujung bibir gue terangkat, melengkung keatas. Tersenyum bodoh.
“Cantik ya bang?”
Shit, kayaknya pas senyum tadi gue diliatin Dika deh.
“Hahㅡha, Iㅡiya. Cantik.” Sialan, jatuh cinta tuh bikin fungsi otak jadi menurun apa ya? Bisa-bisanya gue gak bisa ngendaliin diri dan malah terlena kebawa sama suasana.
Dika terkekeh geli, lalu menepuk pundak gue perlahan, “Sukses ye bang” Lalu dia berlalu, meninggalkan gue dengan wajah bertanya-tanya, perihal ucapan nya itu. Sukses apaan anjrit.
Setelah semua setting siap, kini Gemintang yang jadi kandidat pertama yang di foto, sementara itu gue dan Dika menunggu dibelakang operator yang ditemani tiang-tiang lampu besar serta monitor yang digunakan untuk preview singkat hasil dari pemotretan. Ketika foto pertama muncul di layar monitor, perasaan aneh kembali muncul di dada gue.
Kini detak nya makin kencang hingga gue bisa merasakan nya dari luar outer yang gue pakai, sepertinya gue bisa meledak kapan saja jika terus-terusan menatap monitor yang menampilkan wajah Gemintang dengan riasan make up ringan itu. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, gue diam-diam memfoto monitor dan laptop salah satu seorang staff yang kini sama-sama menampilkan preview dari foto-foto Gemintang.
“Bang, Gew sukanya musik indie” Tiba-tiba Dika menginterupsi lamunan indah gue ini, “Lebih prefer makan di warung kaki lima ketimbang di cafe. Soalnya lebih romantis, katanya.” Ujar Dika lagi yang sekarang sambil cekikikan juga ikut memperhatikan layar monitor.
“Hah?”
“Hah, heh, hoh. Bang, deketin aja gih. Diliatin mulu, kabur entar” Dika masih berujar sambil tertawa kecil lalu berjalan kearah tempat pemotretan, karena sekarang giliran dia yang di foto. Gue masih mematung dengan handphone di tangan, berusaha mencerna perlahan dari semua ucapan yang Dika katakan.
“Bang Nat!” Sapa Gemintang sambil berjalan kearah gue lalu tersenyum lebar, “Hehehe, seru gak? Jujur deh, staff-staff nya pada bae banget, ramah juga. Tiap gue diem suka ditanya duluan biar gak tegang.”
Gue hanya mengangguk-ngangguk kikuk dan kini pura-pura ngeliatin Dika yang lagi di foto, berusaha untuk tidak terdistraksi dengan kehadiran Gemintang dan diam-diam menata hati kembali karena sempat luluh lantak karena ulah si yang punya senyuman.
Dalam radius setengah meter gue masih bisa melihat dia dari sudut mata gue, memperhatikan nya masih dalam mode siaga. Perempuan itu sekarang lagi ngeliatin Dika yang sedang berpose didepan kamera, namun lagi-lagi ada yang aneh. Gue makin lekat memperhatikan Gemintang, cara dia menatap Dika agak berbeda. Tatapan yang sulit diartikan, namun yang jelas..
...Tatapan itu sama seperti tatapan yang gue berikan untuk dia.
Gemintang, is it wrong to loving you?