Aji dan pikirannya, sulit untuk diterka.
Isi kepalanya hampir setara semesta. Laki-laki itu memang luar biasa, disamping keahliannya membuat bait serta nada.
“Kala, saya memang tidak punya kapasitas untuk menarik tangan kamu menuju tempat yang lebih baik”
Aji, mengambil jeda diantara kalimat nya. Menatap kedua mata saya dengan teduh,
“Tapi, jika kamu butuh teman di tempat gelap itu, saya dengan senang hati akan menemani”
Aji, tidak mau dipanggil rumah.
Dia tidak mau menjadi tempat bagi seseorang untuk mengharapkan cerah. Menurutnya, ia masih butuh banyak waktu untuk berbenah.
Tapi, Aji.
Jika bukan karena kamu, perempuan ini mungkin akan membenci sisa hidupnya, lalu mati kesepian bersama luka nya.