Awal Baru

Wisnu pikir jika hidup nya sudah hancur sejak terakhir kali ia menerima kelabu bertubi-tubi.

Di hari dimana ia akhirnya melangkahkan kaki, meninggalkan rumah yang belum lama ia huni bersama anaknya Nirina dengan perasaan ragu yang meluap-luap. Ragu yang berasal dari rasa takutnya yang masih ia simpan dan bisa kapan saja melahap nya utuh untuk selanjutnya kembali di rengkuh kelabu berkepanjangan.

Namun Wisnu pikir jika tidak hari ini, kapan lagi?

Kapan lagi ada hari dimana ia bisa dengan siap untuk melakukan hal-hal baru yang sebenarnya belum tuntas ia lakukan dulu, atau kapan lagi ada hari dimana ia sedikit melunak pada ego nya sendiri dengan mempercayai semua yang teman-teman nya katakan, Dianisa dan Icangㅡsapaan akrab Icarus, yang masih tersisa. Bahwa Wisnu bisa. Bahwa Wisnu mampu untuk pelan-pelan menata kembali hidupnya walau hanya puing-puing yang entah bisa disusun kembali atau tidak.

“Gue gak tau bakal bisa apa nggak.” Ujar Wisnu gamang, menyisakan mangkok bubur ayam yang tandas, didepan nya Dianisa yang sekarang rumah nya bersebelahan dengan rumah Wisnu itu mengangguk paham,

“Boleh kok kalo lo gak yakin sama sesuatu yang lagi berjalan di hidup lo sekarang, tapi gue liat, lo tuh udah percaya, Nu.” Nisa mengacungkan sendok ke udara, menunjuk-nunjuk Wisnu dengan sendok nya seakan yang bersangkutan sedang diberi mantra, “Seenggaknya lo masih percaya bahwa hidup lo masih bisa terus berjalan walaupun lo gak yakin, karena urusan nanti biarin buat entar aja. Asal percaya dulu.”

“Bedanya apa sih emang? Percaya sama yakin tuh sama aja.”

“Ih, beda tau.” Nisa memundurkan kursi, meraih ponsel nya dan mulai mengetikkan kata kunci pada pramban, “Kalo percaya belom tentu yakin, kalo udah yakin berarti udah percaya. Udah mantep sama pilihannya. Jangan tanya kenapa, karena gue juga tau dari Quora.

Kedua nya berseloroh riuh, langit masih gelap dan udara nya masih menusuk tulang namun Wisnu dan Nisa sudah selesai dengan bubur ayam nya masing-masing, agenda sarapan terakhir sebelum Wisnu pergi ke seberang.

Di detik selanjutnya Wisnu bergeming, memaknai apa yang Nisa katakan karena percaya yang sekarang ia pegang erat hanyalah percaya yang ia taruh untuk orang-orang yang masih menganggap nya ada, pada percaya yang membuat Wisnu bertahan dengan segala keterbatasan untuk hidup.

“Lo bisa kok, Nu. You can through this.” Nisa menepuk pundak nya yang tersampir ransel hitam, sekarang keduanya sedang berpamitan di ambang pintu, “Semester ini pasti bakal lo lewati dengan baik. Semangat mahasiswa baru!” Seakan memberi Wisnu kekuatan dan menenangkan sementara hati nya yang bergemuruh, Nisa mengepalkan kedua tangan menularkan semangat.

“Nitip Nirina ya, Nis.” Nisa membalasnya dengan acungan jempol,

“Nirina bangga sama lo, Nu.” Wisnu mengangguk lalu melambaikan tangan untuk terakhir kali sebelum langkah nya semakin jauh.

“Jangan lupa anter Nirina sekolah!” Teriak nya lagi dari ujung persimpangan komplek, sebelum benar-benar hilang dari pandangan Nisa juga balas berteriak,

“Hati-hati di jalan!”

Wisnu percaya Nirina, Wisnu percaya Nisa, Wisnu percaya Icang,

Wisnu percaya namun tidak pada dirinya sendiri.

Sebab potongan sesal itu masih menghantui nya, membayangi ekor mata nya ketika ia melempar pandang pada sesuatu yang lain, ia terlalu rapuh untuk sekedar dipaksakan percaya pada diri sendiri.

Hanya tulis hal-hal menyenangkan. Mungkin bisa jadi awal yang baik bagi Wisnu.