Cerita Visit dan Program Kerja
Idiosin coffee malam ini tidak ramai seperti biasanya padahal akhir pekan trafik pengunjung akan selalu melonjak dua bahkan tiga kali lipat tidak jarang Nata dan kawan-kawan Idiosin lain akan menyediakan tempat dadakan untuk pelanggan yang harus waiting list. Asumsi nya sih karena tidak ada sosok yang menjadi magnet Idiosin coffee, si pegawai teladan nan ramah, Senandika.
Posisi Dika hari ini diganti sementara oleh Gemintang karena kebijakan dari bapak ketua yang mengharuskan para anggota Idiosin lebih fleksibel dengan memasuki berbagai sektor program kerja. Walaupun agak sepi masih ada pelanggan yang mengunjungi kedai untuk sekedar nongkrong atau mengerjakan tugas dengan laptop dan setumpuk buku-buku tebal di sudut meja.
“Bang Nat, meja nomor tiga pesen hot latte sama cemilan nya tahu cabe garam. Buat tahu nya tinggal goreng aja kan? Di kulkas?” Walaupun jadi pegawai magang Gemintang sangat cekatan dan tanggap meski ada beberapa pertanyaan yang selalu dia pastikan sebelum mengerjakan tugas nya. Maklum Nata kalau sama Gemintang emang jadi super duper pendiem, ngejawab kalau ditanya aja.
Nata merespon pertanyaan Gemintang dengan anggukan lalu kembali ke counter nya untuk membuat latte, sebelum itu ia berbalik melirik Gemintang yang juga sedang sibuk menyiapkan pesanan. Ucapan dari Farhan siang tadi sedikit membuyarkan fokus nya sekarang. Dia bukan tipikal laki-laki yang pintar membaca gelagat lawan jenis, pengetahuan nya soal perempuan nol besar pun perasaan nya masih tidak karuan antara suka atau tidak.
“Ge?”
“Yap?”
Ada yang aneh pikir Nata, seperti hangat di dada dan perut nya ketika dua manik mata mereka bertemu, “Kalo ada yang susah atau gak bisa lo kerjain, bilang aja ya?”
Gemintang mengacungkan jempol nya lalu tersenyum lebar membuat Nata sedikit salah tingkah, ia memang pintar dalam apapun tapi untuk menyembunyikan perihal isi hati sepertinya ia benar-benar jadi ciut dipecundangi rasa gugup. Tidak lama setelah nya anggota Idiosin yang lain datang, Farhan yang tiba lebih awal dari jam janjian dan disusul duo rusuh yang sepertinya udah kecapean banget gara-gara visit empat panti asuhan dalam sehari. Idiosin punya tempat khusus di kedai, kursi dekat kasir jadi spot mutlak mereka untuk diskusi atau evaluasi mengenai progress program kerja.
“Mbak, saya mau kopi dong” Dika mendekati Gemintang yang sekarang sedang mengelap gelas-gelas yang baru saja dicuci, sudah keliatan jelas orang ini emang cuma becandain Gemintang doang.
“Boleh mas, tapi buat mas nya kopi sianida aja ya”
“Weits padahal saya mau nya kopinang kamu dengan bismillah, jiah”
Satu detik.
Dua detik
Lap serbet sudah mendarat mulus di wajah laki-laki itu. Dan sudah bisa ditebak kini giliran Gemintang yang kepayahan menata hati nya yang porak-poranda akibat cheesy pick up line Dika itu, padahal ia sudah tau konteks nya hanya untuk lucu-lucuan saja tapi Gemintang kepalang menganggapnya sebagai hal yang serius, yang mana sangat berbahaya untuk perasaan nya.
“Gak jelas dih asuuu”
“Mulut lo tuh” Dika menyampirkan lap serbet ke atas kepala Gemintang, lalu berjalan kearah kulkas masih dengan kekehan khas nya.
“Es kopi dong oi, Dik dik bikinin dua buat gua ama Bang Han” Perintah Acip yang sekarang lagi tepar diatas lantai, energi nya terkuras baik jiwa dan raga karena biasa dapet jobdesk mengobrol bersama para orangtua sekarang harus mengeluarkan effort lebih karena yang ia hadapi adalah anak-anak dari empat panti berbeda,
“Capek banget ya Bang Cip?” Tanya Gemintang meledek melihat keadaan Acip seperti tidak bernyawa, apalagi cowok berzodiak gemini itu memang memiliki semangat yang meluap-luap.
“Asliiii Geeeeew... Haaaa.. Serius capek banget. No wonder maneh selalu ngeluh kalo abis pulang visit. Apalagi tuh ye... Panti Mekarwangi...” Nafas Acip kini tersengal-sengal membuat Dika mendekatinya, berpura-pura seperti orang yang akan memberi CPR plus dengan nafas buatan,
“ANJIIIING EUNGAP GOBLOOOG” (anjing, sesek bego).
Teriakan frustasi dari Acip membuat tawa mereka seketika pecah, memang kelakuan biang rusuh ini sangatlah menghibur walau tidak jarang malah seperti dua orang aneh yang tercipta untuk saling melengkapi satu sama lain.
ㅡ
“Oke, untuk team panti werdha, yaitu gue dan Nata bakal ada beberapa hal yang perlu disampaikan baik progress program kerja dan hal-hal pendukung lainnya. Silahkan saudara Adinata” Ujar Farhan membuat Nata mematung sesaat karena pikirnya laporan visit akan sekalian disampaikan oleh sang ketua, tapi nyatanya tidak,
“Ohiya— jadi gini,” Nata membenarkan letak kacamata nya lalu duduk dengan posisi lebih tegak “Dari tiga panti werdha, Bakti sukma, Wisma mulia sama Kasih yang dapet keluhan paling banyak tuh Bakti sukma. Ada satu donatur tetap mereka yang mendadak mogok gak ngasih tunjangan tiga bulan, alhasil pendanaan mereka agak— ah bukan agak lagi tapi seret banget. Luckily, masih ada donatur kecil-kecilan kayak kita gini nih, seenggaknya buat sebulan kedepan kebutuhan masih bisa ter-cover.” Jelas Nata panjang lebar membuat anggota Idiosin spontan kompak bertepuk tangan,
“Sorry nih, gue bukannya gak merhatiin substansi nya tapi men— Aaargh bangga banget aing sama maneh, public speaking lo udah mulai bagus” Ucap Acip tampak terharu dengan kemajuan teman sejawat nya itu. Nata tersenyum malu-malu, mungkin dirinya sendiri juga sadar sekarang bakat bercuap-cuapnya sudah sedikit mengalami kemajuan dibandingkan dulu.
“Heem, mantep dah lo Nat. Jadi.. apa yang dibilang Nata tadi bener ya, panti Bakti sukma lagi mengalami kendala sama pendanaan so tadi gue langsung nyerahin bantuan lebih cepet dari waktu seharusnya, tolong Gew dicatet di pengeluaran biar transparansi nya gak bikin bingung. Kalo bisa dirinciin aja ya Gew?” Ujar Farhan yang langsung mendapat anggukan dari Gemintang, dengan sigap perempuan itu langsung mengetikkan beberapa laporan penting di laptop nya.
Setelah sesi serius-serius dengan evaluasi visit panti, Idiosin mulai membahas tentang serangkaian program kerja mereka, bisa ditebak talent paling laris manis yaitu boyfriend rent masih memiliki animo yang cukup tinggi dibandingkan talent-talent lainnya,
“Yeah, padet lagi deh aku” Tersirat kesombongan pada perkataan Acip barusan. Ya, lagi-lagi Acip si cowok wangi itu menduduki peringkat pertama.
“YaAllah. KenapaAAAAAaaaAA..” Dika mulai mengerang frustasi pasalnya job gigs kini sepi peminat, bahkan dua minggu kemarin saja hanya ada satu event yang ia datangi, “Eh gue pindah beneran boleh gak sih?”
“Alah seriusan nying? Tar dideketin cewek duluan nangeeees”
“Takutnya lo malah trauma nih, Dik. Kasian psikis lo terguncang” Acip dan Nata kompak mencibir Dika yang emang agak kikuk kalau ketemu sama cewek. Gemintang is exceptions.
“Jaaah, Nata. Ngomong begitu tapi sendirinya tremor juga kan ngobrol sama cewek?” Alah skakmat. Ucapan Nata ternyata jadi boomerang buat dirinya sendiri. Pada dasarnya Dika dan Nata adalah dua entitas yang enggan untuk dekat dengan seorang perempuan.
“Wahahaha, sama si Gew aja Nata jadi menciut tuh” Timpal Acip makin membuat Nata semakin tersudut, bisa-bisanya orang ini adalah orang yang sama dengan yang memujinya tadi. Manusia memang gak ada yang bisa dipercaya. Huft.
“Eeeh udah dong, jadi melebar begini pembahasan nya” Kini Gemintang yang angkat suara mencoba menyelamatkan suasana juga menyelamatkan Nata dan Dika perihal masalah nya dengan perempuan, “Selain BF rent yang dapet job apa lagi nih bang Han?”
“Heeeeem banyak sih yang lain, bisa aja Dika kita oper ke sektor lain dulu sambil nunggu panggilan gigs” Farhan memeriksa beberapa DM yang masuk ke akun base Idiosin, para calon pengguna biasanya menghubungi base terlebih dahulu, menanyakan slot talent mana yang kosong atau sekedar DM gabut nanyain Acip udah punya pacar beneran apa belum. Duh, ya kali pacar si Acip bakal secara sukarela begitu liat cowoknya digilir tiap minggu, “Oke nih ada beberapa, Gew ada callingan jadi model buat produk lokal clothing line nanti rincian sama MOU nya gue kirim personal ya. Terus.. Nata design buat pamflet acara nya anak FTMD, terakhir.... gak ada”
“Jing, libur aja apa gua” Sahut Dika kini makin bete karena talent nya lagi gak ada yang butuhin.
“Temenin Gew aja sih Dik”
“Lah? Biasanya sendirian juga”
“Ngeri, yang pake jasa dia ketua aligator soalnya” Farhan menyimpan ponsel nya diatas meja “Si Mario, anak Teksip itu”
Nama itu sangat familiar khususnya untuk para anggota Idiosin, terkenal dengan kegantengan nya seantero FTSL bahkan ITB, membuat Mario mendapat julukan si Jago Penangkaran alias aligator. Iya, mantan nya banyak banget kayak biji sempoa.