Farhan: Between Two Walls.

Sabita menghampiri gue dengan langkah tergesa, dari radius dua meter pun gue bisa merasakan jika perempuan itu menyimpan sejuta tanya untuk gue jawab dan jelaskan. Gue menghabiskan sisa air mineral yang kebetulan gue beli di warung tempat gue berada sekarang, setelah insiden di rumah Sabita tadi energi gue benar-benar terkuras ditambah mungkin setelah ini Joshua akan mengirimi gue pesan singkat perihal tagihan kerusakan spion yang tidak sengaja gue patahkan itu.

Kedua mata kami bertemu. Pada legam netra nya terselip sebuah kesedihan yang mendalam. Getar nya terasa hingga ulu hati gue ikut ngilu mengingat ketololan gue lah yang membuat dia seperti ini.

“Bi..”

Panggil gue lirih, rasanya seperti sudah satu dasawarsa gue tidak melihat dia. Ada perasaan yang berkecamuk, ingin membayar semua kerinduan ini dengan tuntas tapi di satu sisi situasi yang tidak mendukung membuat gue terpaksa memendamnya—hingga waktu yang tidak bisa gue prediksikan kapan datang saatnya,

Atau mungkin memang tidak akan pernah terjadi karena kami terlanjur menemui ujung dari buntu nya semua keresahan.

Hanya ada respon dingin dan asing yang mengisi keheningan kami, gue belum pernah se-canggung ini ketika bertemu Sabita, lidah gue seperti kelu untuk melontarkan kalimat-kalimat lain karena rasanya gue seperti tersangka yang akan diadili dengan hukum cambuk sebagai ganjaran nya,

“Aku bilang kan gak usah kesini. Joshua nya jadi kamu tinggal.”

“Farhan stop?”

Atau mungkin hukuman mati? Karena demi Tuhan, Farhan you fucking stupid! malah kalimat terlarang itu yang gue ucapkan.

“Maaf.” Ujar gue penuh penyesalan, saat ini gue malah makin menciut takut jika gue kembali bersuara keadaan nya bisa saja makin keruh.

“Kamu masih bisa bawa-bawa Joshua? Di situasi kayak begini?” Perempuan itu menghela nafas nya kasar, menyibakkan rambut panjang nya ke belakang, ingin sekali gue ikatkan dengan ikat rambut yang selalu gue bawa di saku celana, seperti kebiasaan yang selalu gue lakukan dulu ketika melihat Sabita menggerai rambut nya.

“Bi aku—”

“Kamu kenapa pergi sama Tera gak bilang dulu sama aku?”

“Aku kira kamu lagi gak pengen diganggu makanya aku gak bilang.”

Sabita melebarkan matanya, menatap gue tidak percaya dengan mulut sedikit terbuka. Please, hanya ini yang bisa gue lakukan untuk setidaknya sedikit mempertahankan harga diri gue sebelum gue benar-benar di caci maki oleh dia, sebuah upaya pembelaan diri yang sebenarnya jika dilihat dari sudut pandang mana pun tetaplah gue yang salah,

Dan gue memang mengakuinya.

“Yang tiba-tiba susah dihubungi tuh siapa? Chat bahkan telfon aku selalu kamu hindarin, Han. Kamu ngerasa gak sih? Sampe kapan aku harus ngemaklumin sikap kamu?”

Sabita meledak dengan rentetan pertanyaan yang sangat menyudutkan gue. Hati gue benar-benar perih, bukan dengan kata-katanya—karena semua yang dia ucapkan memang sebuah kebenaran, tapi cara ia marah dan cara ia menatap gue sekarang adalah hal yang tidak pernah gue lihat sebelumnya.

“Setidaknya beresin dulu semuanya. Aku gak mau kalo kita udahan dengan cara yang gak jelas kayak begini.”

Beberapa manusia memilih menghindari suatu masalah untuk tetap merasa aman tanpa tahu jika ada manusia lain juga yang digantung oleh ketidakpastian.

Gue memang benar-benar sebrengsek itu.

“Aku bener-bener pengecut ya, Bi?”

“Yes you are.”

Cairan bening di pelupuk matanya sudah bisa menyimpulkan perasaan seperti apa yang Sabita rasakan saat ini. Ingin gue tarik tangan nya lalu gue rengkuh tubuh nya yang terlihat rapuh itu kedalam pelukan gue, tapi sekali lagi...

Gue bahkan tidak ada kuasa untuk melakukan itu.

“Seharusnya kita udah tau gak sih kalo semua ini bakal dibawa kemana pada akhirnya?” Lanjutnya dengan suara sedikit tercekat, masih mati-matian menahan tangis,

“There is a way, Bi.”

A stupid denial.

A way? Jalan yang kayak gimana yang kamu maksud, Han? It's not working anymore kamu tau gak? Kamu bahkan selalu kabur disaat aku lagi butuh jawaban.”

A stupid denial that kills me inside.

“Although we never said it to each other, I think we both know...” Gue menghela nafas panjang, “The ending.”

“You're right. We both know everything. The possibilities that don't ever happen to us.”

Tears are meltdown through her cheeks. Jika memang ini akhirnya, gue tidak mau kalau harus melihat Sabita menangis bahkan untuk yang terakhir kali. Walaupun hati gue benar-benar berontak menyangkal semua prasangka-prasangka buruk yang akan segera terjadi tapi nalar gue merasa perlu untuk tetap rasional, karena baik gue dan Sabita tidak akan pernah menemukan terang yang sama.

Karena kami memang sudah berbeda di awal.

“Kita bakal nabung sakit hati kalo terlalu lama. Mau dipertahanin pun ujung-ujung nya bakal kayak gini juga. Aku gak mau ada yang berubah, begitupun kamu. Maaf, kalo aku ngelakuin hal-hal nyebelin dulu—”

“Biar aku kecewa terus kita pisah dengan mudah?”

Gue benar-benar tertohok. Lagi-lagi jawabannya tepat sasaran.

“Pertama kamu emang bener-bener pengecut dan kedua...” Ucapan nya tertahan, mengigit bibir bawah nya berusaha untuk tidak menangis padahal air mata nya sudah mengalir di pipi bersemu merah itu, “Dan yang kedua.... kamu berhasil bikin aku kecewa.”

Botol air mineral yang sudah gue habiskan isinya tadi remuk karena gue cengkram terlalu kuat. Dada gue benar-benar sesak, karena niat awal kedatangan gue menemui Sabita adalah untuk meluruskan apa yang seharusnya diluruskan. Kembali bersembunyi dalam kebahagiaan semu, yang kami gunakan untuk menutupi semua kemungkinan-kemungkinan paling menyakitkan seperti hal nya perpisahan.

Mata gue menangkap bayangan seseorang di ujung jalan, walaupun hanya disinari remang nya cahaya lampu gue bisa dengan yakin menjawab jika itu adalah Joshua. Berdiri melihat kami berdua, mungkin khawatir karena ditinggal Sabita terlalu lama, mungkin juga untuk menjemput Sabita kembali ke rumah nya.

Bahu Sabita bergetar dan tangis nya akhirnya pecah, Joshua yang melihat itu mulai menghampiri kami berdua, namun sebelum langkah kaki laki-laki itu mendekat dengan cepat gue tarik Sabita kedalam pelukan gue.

Gue menatap Joshua dingin lalu mendekap tubuh Sabita semakin erat seraya bergumam lirih,

“Please don't fall in love with someone else.”

Mungkin tidak hari ini. Izinkan gue menjadi egois untuk sekali lagi sebelum akhirnya gue dan Sabita sama-sama memilih jalan yang berbeda.