Farhan: Cemburu.
Untuk pertama kalinya gue merasakan keresahan dalam menjalani suatu hubungan. Gue bukanlah tipikal laki-laki yang suka meributkan sesuatu dalam sebuah relasi apalagi perkara hal sepele yang sepertinya minim substansi untuk diperdebatkan.
Kali ini berbeda. Iya, ada sesuatu yang meletup di dada, sesuatu yang tidak bisa gue deskripsikan rasanya seperti apa yang jelas,
Sepertinya gue cemburu.
Dalam tahap ini gue masih berusaha denial, enggan mengakuinya karena seumur-umur berburuk sangka sama pasangan baru kali ini gue alami. Walaupun kebenarannya masih abu-abu, membuat gue resah dan sedikit waspada takut-takut sesuatu yang tidak gue inginkan terjadi. Apalagi ketika melihat dua entitas yang sejak tadi membuat pikiran gue gundah itu datang beriringan, Sabita dan Joshua dengan sangat kebetulan memakai baju dengan warna yang sama. Jangan tanya pendapat gue, yang jelas gue ingin sekali menarik baju yang dikenakan laki-laki itu, tapi gue sadar itu adalah alasan yang terlampau tolol untuk jadi sebuah first impression.
“Halo semuanya.” Sapa Sabita sesaat ia sampai dan langsung duduk disebelah gue, melempar senyum manis nya dan harus gue akui lagi-lagi seorang Farhan Oktara harus luluh karena nya.
Butuh lima detik untuk gue kembali tersadar dan bergantian menatap Joshua, penampilan nya memang oke banget gue mengakuinya, terus beuh wangi banget kayak kuburan baru.
“Bang Han?” Ujar Gemintang membuyarkan lamunan gue, raut wajah nya memberi isyarat kalau gue harus segera membuka rapat dan menyampaikan satu-dua patah kata untuk Joshua agar keadaan nya gak jadi canggung-canggung banget,
“Oh iya, sorry haha.” Gue berdiri tanpa melepaskan atensi pada Joshua, “Oke. Pertama, gue ucapkan terimakasih sama anggota idiosinkrasi yang sudah mau meluangkan waktu malam minggu nya untuk hadir di rapat mingguan ini dan gue ucapkan selamat datang juga buat Joshua yang malam ini dateng hehe. Ganteng, ya?”
Goblok. Kenapa harus itu yabg keluar dari mulut gue.
Keadaan jadi makin canggung karena gue malah beromong kosong, tapi jujur ni cowok emang cakep banget? Koor tawa dan tepuk tangan akhirnya memecah keheningan, berkat Acip dan Dika yang seakan mengerti bahwa ketua nya ini sedang mengalami pergolakkan batin. Huft.
Tiga puluh menit berlalu setelah para anggota idiosinkrasi selesai menyampaikan progress proker masing-masing yang sedang dikerjakan. Masih juara bertahan Acip dengan boyfriend rent andalan nya yang minggu ini mendapat rekor client terbanyak, memang gak salah sektor ini jadi andalan.
Ohiya, soal Joshua. Sekarang giliran dia yang memaparkan program kerja yang akan dijadikan project collab antara idiosinkrasi dan kelompok sosial nya sendiri yaitu 'Serenity'.
“Terimakasih banyak temen-temen sudah menyambut saya dengan baik disini. Kayaknya saya harus memperkenalkan diri lagi just in case temen-temen kurang familiar sama saya hehe.”
Alah. Caper banget.
“Perkenalkan nama saya Joshua Daniel Hartanto bisa dipanggil Joshua atau Jo, jurusan arsitektur angkatan 2017 dan disini saya mewakili social project milik saya yaitu 'Serenity'. Terimakasih.”
Iye dah iye elu yang paling arsitektur. Eh wait... cewek gue juga kan anak arsi, anjrit.
Omong-omong, maaf jika gue terdengar urakan. Mohon dimaklum karena gue baru pertama kali merasakan cemburu.
“Boleh langsung aja saya jelasin, Han?” Joshua menginterupsi sesi overthinking gue,
“Oohㅡ Iㅡiya, silahkan, Jo.”
Fokus Han fokus. Lu boleh panas tapi jangan sampai citra dan martabat lu sebagai presiden idiosinkrasi jadi jelek gara-gara kebanyakan ngelamun bego, mikirin hal-hal yang seharusnya enggak dipikirin.
“Bi, pulang?”
Gue mengusap tengkuk dengan kikuk begitupun dengan Sabita, percakapan perihal Joshua sore tadi masih membuat kami sama-sama canggung pun gue belum mendapatkan penjelasan yang konkret karena udah keburu malem dan gak mungkin banget gue harus mengajak dia ke suatu tempat untuk membicarakan masalah ini, urgensi nya tidak seburu-buru itu.
“Iya, Han. Kamu abis ini mau kemana?”
“Kayaknya mau pulang juga deh.”
“Oh, okay.”
Hening kembali menyelimuti kami berdua.
“Biㅡ”
Ucapan gue terpotong oleh bunyi klakson dari fortuner hitam dengan kaca depan yang tebuka dan sudah bisa gue tebak itu milik Joshua karena gue melihat si empu nya sedang tersenyum kearah gue dan Bita dari balik jok kemudi,
“Kenapa, Han?”
Ragu, tadinya mau gue anterin pulang tapi gak jadi karena sepertinya cewek gue lebih aman dianter pake fortuner daripada pake scoopy. Shit, the gap is real.
“Enggak, Bi. Tar kalo nyampe rumah kabarin aku ya.”
“Iya, Han. Aku pulang ya.”
Gue mengangguk, melihat punggung nya berbalik dan mulai menjauh jika ini adegan pada sebuah drama mungkin sudah gue peluk erat tubuhnya tapi lagi-lagi nalar gue lebih bisa mengendalikan hati gue yang sedang panas-panasnya. Gue melirik Joshua lagi, melambaikan tangan nya seakan memberi kode kalau Bita akan diantarkan nya selamat sampai tujuan. Gue mengangguk dan melambaikan tangan juga.
Setelahnya gue masih merasa kalut, bahkan ketika fortuner hitam itu sudah melaju jauh gue masih teramat kalut.