<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>plutoprojector</title>
    <link>https://plutoprojector.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sun, 05 Apr 2026 01:56:08 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Awal Baru</title>
      <link>https://plutoprojector.writeas.com/awal-baru?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Wisnu pikir jika hidup nya sudah hancur sejak terakhir kali ia menerima kelabu bertubi-tubi.&#xA;&#xA;Di hari dimana ia akhirnya melangkahkan kaki, meninggalkan rumah yang belum lama ia huni bersama anaknya Nirina dengan perasaan ragu yang meluap-luap. Ragu yang berasal dari rasa takutnya yang masih ia simpan dan bisa kapan saja melahap nya utuh untuk selanjutnya kembali di rengkuh kelabu berkepanjangan.&#xA;&#xA;Namun Wisnu pikir jika tidak hari ini, kapan lagi?&#xA;&#xA;Kapan lagi ada hari dimana ia bisa dengan siap untuk melakukan hal-hal baru yang sebenarnya belum tuntas ia lakukan dulu, atau kapan lagi ada hari dimana ia sedikit melunak pada ego nya sendiri dengan mempercayai semua yang teman-teman nya katakan, Dianisa dan Icangㅡsapaan akrab Icarus, yang masih tersisa. Bahwa Wisnu bisa. Bahwa Wisnu mampu untuk pelan-pelan menata kembali hidupnya walau hanya puing-puing yang entah bisa disusun kembali atau tidak.&#xA;&#xA;&#34;Gue gak tau bakal bisa apa nggak.&#34; Ujar Wisnu gamang, menyisakan mangkok bubur ayam yang tandas, didepan nya Dianisa yang sekarang rumah nya bersebelahan dengan rumah Wisnu itu mengangguk paham,&#xA;&#xA;&#34;Boleh kok kalo lo gak yakin sama sesuatu yang lagi berjalan di hidup lo sekarang, tapi gue liat, lo tuh udah percaya, Nu.&#34; Nisa mengacungkan sendok ke udara, menunjuk-nunjuk Wisnu dengan sendok nya seakan yang bersangkutan sedang diberi mantra, &#34;Seenggaknya lo masih percaya bahwa hidup lo masih bisa terus berjalan walaupun lo gak yakin, karena urusan nanti biarin buat entar aja. Asal percaya dulu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bedanya apa sih emang? Percaya sama yakin tuh sama aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ih, beda tau.&#34; Nisa memundurkan kursi, meraih ponsel nya dan mulai mengetikkan kata kunci pada pramban, &#34;Kalo percaya belom tentu yakin, kalo udah yakin berarti udah percaya. Udah mantep sama pilihannya. Jangan tanya kenapa, karena gue juga tau dari Quora.&#34;&#xA;&#xA;Kedua nya berseloroh riuh, langit masih gelap dan udara nya masih menusuk tulang namun Wisnu dan Nisa sudah selesai dengan bubur ayam nya masing-masing, agenda sarapan terakhir sebelum Wisnu pergi ke seberang.&#xA;&#xA;Di detik selanjutnya Wisnu bergeming, memaknai apa yang Nisa katakan karena percaya yang sekarang ia pegang erat hanyalah percaya yang ia taruh untuk orang-orang yang masih menganggap nya ada, pada percaya yang membuat Wisnu bertahan dengan segala keterbatasan untuk hidup.  &#xA;&#xA;&#34;Lo bisa kok, Nu. You can through this.&#34; Nisa menepuk pundak nya yang tersampir ransel hitam, sekarang keduanya sedang berpamitan di ambang pintu, &#34;Semester ini pasti bakal lo lewati dengan baik. Semangat  mahasiswa baru!&#34; Seakan memberi Wisnu kekuatan dan menenangkan sementara hati nya yang bergemuruh, Nisa mengepalkan kedua tangan menularkan semangat. &#xA;&#xA;&#34;Nitip Nirina ya, Nis.&#34; Nisa membalasnya dengan acungan jempol,&#xA;&#xA;&#34;Nirina bangga sama lo, Nu.&#34; Wisnu mengangguk lalu melambaikan tangan untuk terakhir kali sebelum langkah nya semakin jauh. &#xA;&#xA;&#34;Jangan lupa anter Nirina sekolah!&#34; Teriak nya lagi dari ujung persimpangan komplek, sebelum benar-benar hilang dari pandangan Nisa juga balas berteriak,&#xA;&#xA;&#34;Hati-hati di jalan!&#34; &#xA;&#xA;Wisnu percaya Nirina, Wisnu percaya Nisa, Wisnu percaya Icang, &#xA;&#xA;Wisnu percaya namun tidak pada dirinya sendiri. &#xA;&#xA;Sebab potongan sesal itu masih menghantui nya, membayangi ekor mata nya ketika ia melempar pandang pada sesuatu yang lain, ia terlalu rapuh untuk sekedar dipaksakan percaya pada diri sendiri.&#xA;&#xA;Hanya tulis hal-hal menyenangkan. Mungkin bisa jadi awal yang baik bagi Wisnu. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Wisnu pikir jika hidup nya sudah hancur sejak terakhir kali ia menerima kelabu bertubi-tubi.</p>

<p>Di hari dimana ia akhirnya melangkahkan kaki, meninggalkan rumah yang belum lama ia huni bersama anaknya Nirina dengan perasaan ragu yang meluap-luap. Ragu yang berasal dari rasa takutnya yang masih ia simpan dan bisa kapan saja melahap nya utuh untuk selanjutnya kembali di rengkuh kelabu berkepanjangan.</p>

<p>Namun Wisnu pikir jika tidak hari ini, kapan lagi?</p>

<p>Kapan lagi ada hari dimana ia bisa dengan siap untuk melakukan hal-hal baru yang sebenarnya belum tuntas ia lakukan dulu, atau kapan lagi ada hari dimana ia sedikit melunak pada ego nya sendiri dengan mempercayai semua yang teman-teman nya katakan, Dianisa dan Icangㅡsapaan akrab Icarus, yang masih tersisa. Bahwa Wisnu bisa. Bahwa Wisnu mampu untuk pelan-pelan menata kembali hidupnya walau hanya puing-puing yang entah bisa disusun kembali atau tidak.</p>

<p>“Gue gak tau bakal bisa apa nggak.” Ujar Wisnu gamang, menyisakan mangkok bubur ayam yang tandas, didepan nya Dianisa yang sekarang rumah nya bersebelahan dengan rumah Wisnu itu mengangguk paham,</p>

<p>“Boleh kok kalo lo gak yakin sama sesuatu yang lagi berjalan di hidup lo sekarang, tapi gue liat, lo tuh udah percaya, Nu.” Nisa mengacungkan sendok ke udara, menunjuk-nunjuk Wisnu dengan sendok nya seakan yang bersangkutan sedang diberi mantra, “Seenggaknya lo masih percaya bahwa hidup lo masih bisa terus berjalan walaupun lo gak yakin, karena urusan nanti biarin buat entar aja. Asal percaya dulu.”</p>

<p>“Bedanya apa sih emang? Percaya sama yakin tuh sama aja.”</p>

<p>“Ih, beda tau.” Nisa memundurkan kursi, meraih ponsel nya dan mulai mengetikkan kata kunci pada pramban, “Kalo percaya belom tentu yakin, kalo udah yakin berarti udah percaya. Udah mantep sama pilihannya. Jangan tanya kenapa, karena gue juga tau dari <em>Quora.</em>“</p>

<p>Kedua nya berseloroh riuh, langit masih gelap dan udara nya masih menusuk tulang namun Wisnu dan Nisa sudah selesai dengan bubur ayam nya masing-masing, agenda sarapan terakhir sebelum Wisnu pergi ke seberang.</p>

<p>Di detik selanjutnya Wisnu bergeming, memaknai apa yang Nisa katakan karena percaya yang sekarang ia pegang erat hanyalah percaya yang ia taruh untuk orang-orang yang masih menganggap nya ada, pada percaya yang membuat Wisnu bertahan dengan segala keterbatasan untuk hidup.</p>

<p>“Lo bisa kok, Nu. <em>You can through this.</em>” Nisa menepuk pundak nya yang tersampir ransel hitam, sekarang keduanya sedang berpamitan di ambang pintu, “Semester ini pasti bakal lo lewati dengan baik. Semangat  mahasiswa baru!” Seakan memberi Wisnu kekuatan dan menenangkan sementara hati nya yang bergemuruh, Nisa mengepalkan kedua tangan menularkan semangat.</p>

<p>“Nitip Nirina ya, Nis.” Nisa membalasnya dengan acungan jempol,</p>

<p>“Nirina bangga sama lo, Nu.” Wisnu mengangguk lalu melambaikan tangan untuk terakhir kali sebelum langkah nya semakin jauh.</p>

<p>“Jangan lupa anter Nirina sekolah!” Teriak nya lagi dari ujung persimpangan komplek, sebelum benar-benar hilang dari pandangan Nisa juga balas berteriak,</p>

<p>“Hati-hati di jalan!”</p>

<p>Wisnu percaya Nirina, Wisnu percaya Nisa, Wisnu percaya Icang,</p>

<p>Wisnu percaya namun tidak pada dirinya sendiri.</p>

<p>Sebab potongan sesal itu masih menghantui nya, membayangi ekor mata nya ketika ia melempar pandang pada sesuatu yang lain, ia terlalu rapuh untuk sekedar dipaksakan percaya pada diri sendiri.</p>

<p><em>Hanya tulis hal-hal menyenangkan.</em> Mungkin bisa jadi awal yang baik bagi Wisnu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://plutoprojector.writeas.com/awal-baru</guid>
      <pubDate>Sat, 08 Apr 2023 18:54:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>pillow talk.</title>
      <link>https://plutoprojector.writeas.com/pillow-talk?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Selalu ada khawatir berlebih yang Zea rasakan ketika Oryza berada di apartement seorang diri.&#xA;&#xA;Kompor yang lupa dimatikan, handuk basah yang ia taruh sembarang, pakaian yang terlipat dengan bentuk tidak karuan atau ketika Oryza sakit dan harus berada disana sendirian. &#xA;&#xA;Zea sudah seperti induk yang mengerami anak nya, harus berada dijangkauan mata Oryza karena ketika sakit laki-laki itu hampir tidak bisa melakukan apa-apa sendiri, lebih tepatnya tidak bisa bisa apa-apa tanpa ada Zea disisi nya.&#xA;&#xA;Kita bisa sepakat kalau Oryza dan gym adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, workout suatu keharusan baginya namun untuk urusan jaga kesehatan sepertinya laki-laki itu tidak bisa diandalkan, tapi untung nya berkat dari rajin berolahraga separah-parah nya sakit cuman sampai demam dan flu saja. &#xA;&#xA;Zea melongokkan kepala nya dari balik pintu, membawa nampan berisi sup ayam beserta bubur sesuai permintaan Iza tadi siang lalu berjalan mengendap-endap melewati Iza yang tidur dengan posisi terlentang, berbalut selimut super tebal dan tisu yang ia pegang di tangan nya. Perempuan itu terkikik geli karena laki-laki nya harus bersusah payah bernafas lewat mulut.&#xA;&#xA;&#34;Za, makan dulu yuk.&#34; Sehabis menaruh makanan di meja sebelah ranjang, Zea mengguncang tubuh Iza pelan, mengelus pipi nya yang kemerahan itu dengan lembut, yang lalu dibalas dengan erangan khas bangun tidur, mengerjapkan mata sayu nya berkali-kali.&#xA;&#xA;&#34;Hmmm..&#34; Suara nya parau, mengambil handphone nya untuk melihat pukul berapa saat itu, &#34;Kok udah pulang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku izin pulang cepet.&#34; Tangan nya menyisir rambut panjang Iza lalu diselipkannya ke belakang telinga, &#34;Makan dulu yah, abis itu minum obat.&#34;&#xA;&#xA;Dengan sisa-sisa tenaga nya Iza berusaha untuk bangun, menopang badan nya dengan susah payah namun karena terlalu lemas ia kembali terhempas ke tempat tidur, Zea ikut meringis melihat Iza yang kesulitan untuk sekedar bangun lalu dengan cekatan ia mengambil posisi duduk ditepi ranjang dan bersiap untuk menyuapi laki-laki itu,&#xA;&#xA;&#34;Baju kamu..&#34; Iza menyentuh ujung blouse biru muda Zea, &#34;Kenapa gak diganti dulu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu kan belum makan, jadi aku buru-buru masak dan belum sempet ganti baju.&#34; Jelas nya yang diberi penjelasan cuma mengangguk lucu, dengan semburat yang makin memerah di pipi, Iza menarik ingus nya dalam-dalam sebagai bentuk kamuflase agar tidak terlihat salah tingkah.&#xA;&#xA;&#34;Kamu bersih-bersih dulu aja, aku bisa makan sendiri.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku bau ya?&#34; Tanya nya dengan bibir mengerucut, &#34;Abis dari luar terus masak, bau-bau nya jadi makin aneh gak sih...&#34; &#xA;&#xA;Iza menggelengkan kepala nya lemah, &#34;Biar kamu nya segeran, pasti gerah banget kan?&#34; Untuk kedua kalinya ia berusaha untuk bangkit dari tempat tidur, dibantu Zea dan akhirnya Iza bisa menyandarkan punggung nya pada permukaan headboard. &#xA;&#xA;&#34;Beneran gapapa?&#34; Zea kembali memastikan terlalu khawatir apalagi ketika melihat Iza memegang sendok dengan tangan gemetar. Pertanyaan nya dibalas anggukan kecil oleh Iza, mulai menyendokkan bubur nya sedikit untuk ia masukan kedalam mulut nya yang masih terasa pahit.&#xA;&#xA;&#34;Aku mandi nya cepet. Dua puluh- Oh, enggak! Sepuluh menit, janji sepuluh menit aja!&#34; Iza terkekeh lalu kembali menganggukkan kepala nya. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Enak gak?&#34;&#xA;&#xA;Tanya Zea sesaat setelah ia masuk kembali ke kamar Iza, matanya menangkap dua mangkok yang tandas menyisakan kuah saja, lalu mengambil posisi duduk di tepi ranjang dan mengambil termometer yang Iza taruh asal di tempat tidur,&#xA;&#xA;&#34;Enak. Tapi..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pait.&#34;&#xA;&#xA;Satu usapan mendarat di kepala Iza, mengelus nya dengan sayang Zea terkekeh girang, &#34;Makasih, ganteng.&#34; Ia memasukkan termometer itu kedalam kaus Iza, menjepit diantara ketiak nya, &#34;Obat nya udah diminum kan?&#34;&#xA;&#xA;Hanya ada dehaman singkat dari yang bersangkutan, kedua matanya masih terpejam, &#34;Semoga turun...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mau aku bikin panas nya turun cepet gak?&#34; Jari-jari lentik Zea mengelus dada Iza pelan diikuti dengan senyum yang terlihat seperti sebuah seringai pada bibir nya.&#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34; Tidak mengindahkan sentuhan Zea pada dada nya Iza balik bertanya penasaran, urgensi nya saat ini adalah bagaimana menurunkan demam nya dengan cepat karena suhu badan nya yang tinggi benar-benar membuat nya serasa seperti sebuah hotplate.&#xA;&#xA;Zea memasukkan kembali tangan nya untuk mengambil termometer, tersenyum saat melihat hasilnya merasa senang karena suhu badan Iza sudah tidak setinggi pagi tadi, &#34;Pernah denger skin to skin gak, Za?&#34;&#xA;&#xA;Mata laki-laki itu sedikit terbuka mengekor jari-jari Zea yang masih berada di tempat semula, &#34;Nggak. Apaan tuh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Berpelukan, biar suhu badan nya turun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak pake baju tapi..&#34;&#xA;&#xA;Sentuhan yang diberikan Zea mulai bergerak menuju lekukan leher lalu naik sampai pipi, ia benar-benar suka melihat bagaimana kedua pipi Iza yang merekah kemerahan itu seperti diberi olesan blush on, &#34;Mau coba?&#34;&#xA;&#xA;Iza mengangguk, langsung melepas kaus nya sendiri menyisakan dada bidang nya dan Zea yang melihat itu harus bersusah payah menelan ludah. Mengikuti yang Iza lakukan, ia juga membuka piyama nya yang secara-kebetulan tidak menyisakan apapun selain dada yang sama-sama terekspose.&#xA;&#xA;Zea merangkak menuju tempat kosong disebelah Iza, memposisikan badan nya lebih tinggi, menaruh lengan nya kebawah kepala laki-laki itu untuk selanjutnya ia peluk erat. Iza bisa mencium aroma tubuh Zea dengan jelas, hidung yang beradu dengan lekukan leher Zea membuatnya harus membuka mata dan seketika mematung beberapa detik karena baru menyadari sesuatu yang menurutnya janggal,&#xA;&#xA;&#34;Zea..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok gini?&#34; Iza menengadah untuk melihat wajah Zea, dengan jarak bebera senti ia bisa merasakan nafas perempuan itu memburu sedikit menerpa wajah nya, Iza menatap nya tidak percaya, &#34;Aku lagi sakit. Jangan begini dulu bisa?&#34;&#xA;&#xA;Zea memundurkan wajah nya, menatap Iza dengan ekspresi nya... yang tidak bisa ia baca, &#34;Apa? Kan kamu ngeiyain tadi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya, aku kira kamu nya gak ikut buka baju juga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya, menurut kamu tuh skin to skin kayak gimana emang? Jadi aku pake baju lagi nih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gausah.&#34; Dasar. Zea memutar bola mata nya malas, dengan sengaja menarik kepala Iza menuju ke pelukannya hingga laki-laki itu berdecak kesal.&#xA;&#xA;Iza sebenarnya sedang tidak ingin melakukan hal-hal lain selain tidur dan berusaha menurunkan suhu badan yang sedang tinggi-tinggi nya, namun seonggok hawa yang sepertinya mencoba menggoda nya ini sedang menyusun rencana-rencana kotor di balik kepala nya. Dada nya ikut bergemuruh tidak karuan apalagi ketika benda kenyal dibawah sana ikut menyentuh permukaan kulit nya dengan jahil,&#xA;&#xA;&#34;Kamu horny?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sembarangan.&#34; Elak Zea membenamkan wajah nya pada rambut ikal Iza, &#34;Kamu tuh apa-apa horny, emang keliatannya aku sepengen itu kah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Heem.&#34; Disusul satu dorongan di dahi nya, yang hanya Iza balas dengan tawa renyah dari suara serak nya, &#34;Jangan aneh-aneh dulu deh. Aku beneran lagi sakit, entar lama lagi sembuh nya.&#34;&#xA;&#xA;Setelah itu hanya ada sunyi yang mengisi keheningan mereka, Iza kembali terlelap sedangkan Zea masih terjaga karena pikiran-pikiran intrusif mengusik kepala nya.&#xA;&#xA;Apakah malam ini hanya akan berakhir dengan berpelukan? Atau yang lain? Tapi mengingat kondisi laki-laki itu yang belum stabil Zea merasa perlu untuk memikirkan matang-matang niat nya.&#xA;&#xA;Ia memperhatikan wajah Iza lekat, pipi nya masih bersemu persis mochi stroberi yang ingin ia lahap di detik itu juga, mata yang terpejam dan bibir yang selalu berceloteh kini dingin tampak pucat. &#xA;&#xA;Ada dorongan yang terus menyuruhnya untuk menempelkan bibir nya diatas bibir Iza, menghangatkan setiap inchi permukaan nya, memberi lumatan-lumatan lembut untuk membuat nya nyaman, namun belum sempat niat nya terlaksana laki-laki itu membuka mata menatap penuh curiga,&#xA;&#xA;&#34;Jangan cium-cium, nanti ketularan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Deket-deketan begini juga pasti nular gak sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kemungkinan nya gak segede kalau ciuman. Kontak langsung  kan bahaya.&#34; Perempuan itu mencibir, lalu kembali menggoda Iza dengan sengaja menarik tengkuk nya hingga ujung hidung Iza sedikit mengenai dada Zea.&#xA;&#xA;&#34;Kamu itu gak pengen aku sembuh ya? Kenapa sengaja kayak gini sih? Aku percaya pas kamu bilang pengen bikin badan aku gak panas lagi, kok jadi malah melenceng gini sih? Aku lagi gak mau main-main, Ze. Aku beneran pengen sembuh.&#34; Jelasnya panjang lebar dan menggebu, seolah perkataan nya akan membuat Zea tersinggung, Iza kembali mengangkat kepala nya untuk melihat reaksi Zea namun yang ia dapati justru kekehan geli dari seberang sana.&#xA;&#xA;&#34;Weits, iya-iya. Jangan marah-marah begitu dong, jadi malah tambah hot tau gak. Makin pengen aku makan...&#34; Giliran Iza yang bergedik ngeri, Malam ini perempuan nya benar-benar seperti predator yang siap menelan bulat mangsa nya kapan saja. Buas dan Liar. &#xA;&#xA;&#34;Za, kamu pernah nangis gak sih?&#34; Tanya nya tiba-tiba, &#34;Selama kenal kamu aku belum pernah liat kamu nangis nangis deh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya, pernah. Kalopun nangis ngapain di depan kamu.&#34;&#xA;&#xA;Zea menyamakan posisi nya agar bisa berhadapan dengan wajah Iza, menatapnya dalam seolah topik pembicaraan nya akan jadi sesi yang serius dan menguras emosi, &#34;Kok gitu? Kenapa kalo nangis nya didepan aku? Malu?&#34; Za-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya malu. Aku nangis nya karena hal sepele jadi ngapain nangis nya diliatin ke banyak orang.&#34; Pungkas nya masih dengan suara ingus yang ia tarik dalam-dalam.&#xA;&#xA;&#34;Emang nangis gara-gara apa sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;AOT.&#34;&#xA;&#xA;Satu alis nya terangkat lantas menjentikkan jarinya didepan Iza, &#34;Oh? That porn?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Who the fuck crying over porn?&#34; Sungut nya sebal lalu memutar bola mata malas, &#34;Attack On Titan. Gak pernah denger?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, agenda wibu. Emang nangisin apa sih?&#34; Iza membenarkan posisi nya bersiap untuk bercerita, mata yang sedari tadi terpejam terbuka lebar.&#xA;&#xA;&#34;Jadi, ada yang namanya Hange, Hange Zoe. Dia mati gara-gara ngelawan wall titan biar pesawat regu nya itu selamat. Sedih nya tuh dia sacrifice hidupnya buat team nya... Nyesek gak sih?&#34; Zea bisa melihat bagaimana sorot mata Iza berbinar jika sedang membicarakan hal-hal yang ia sukai. &#xA;&#xA;&#34;Aku gak ngerti sebenernya kamu ngomong apa tapi aku berusaha buat paham-pahamin aja. Karena nangis kan gak butuh alasan yang logis juga... Iya gak sih?&#34; Zea menarik nafas sebelum melanjutkan kata-katanya, &#34;Jadi, kalo kamu mau nangis karena hal apapun, gak peduli itu karena anime, karena kerjaan kamu yang lagi kacau aku bersedia dengerin tangisan kamu, lap air mata dan ingus kamu. Jangan malu hanya karena nangis, ya? Kamu harus memvalidasi segala bentuk emosi, jangan ditahan dan jangan dihindari.&#34;&#xA;&#xA;Setelah mengakhiri sesi ceramah nya Zea mendapati Iza (dengan sengaja) tertidur kembali, mendadak ia ingin sekali mendorong tubuh laki-laki itu hingga terjungkal ke lantai, &#34;Emang kelakuan lu tuh ye, gak ada bagus-bagus nya. Udah dikasih kata-kata baik malah molor. Keren lu begitu?&#34;&#xA;&#xA;Tangan Iza mengelus punggung Zea lalu tersenyum, seakan memberi isyarat jika ia mendengarkan semua yang Zea katakan, &#34;I will do.&#34; Lanjut nya sambil mengeratkan kembali pelukan nya. Dari seberang sana, Zea mati-matian agar jantung nya tidak mencelos, ikut meletup bersama perasaan-perasaan geli yang memenuhi perut nya. Selalu ada cara untuk Iza membuat perempuan nya jatuh hati, berkali-kali dan tanpa henti.&#xA;&#xA;Nekat, Zea kembali mendekati wajah nya lalu tanpa aba-aba mencium Iza tepat di bibir nya, namun dengan tepisan kilat Iza kembali menghindar dan memberinya tatapan tajam juga desisan persis seperti seekor kucing yang sedang mengamuk, &#34;Kenapa batu banget sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku mau sun... Hum?&#34; Zea memberinya serangan balik yang mana mungkin bisa Iza abaikan, laki-laki itu meringis menggigit bibir bawah nya.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah, boleh. Pipi aja, jangan yang lain.&#34; Dalam hitungan detik Zea menciumi pipi Iza dengan semangat, kadang sengaja ia gigit karena terlalu gemas, yang diciumi hanya bisa terdiam pasrah.&#xA;&#xA;&#34;Nghhh..&#34; Tidak mau kalah, Iza sama-sama melancarkan manuver nya, diam-diam memilin puting Zea hingga satu desahan berhasil lolos dari mulutnya.&#xA;&#xA;&#34;Emang nya udah sembuh?&#34; Tanya Zea dengan nada sensual, jari-jari lentik nya menari indah mengelus dada bidang Iza, seringai tersungging pada bibir nya, Iza semakin mengikis jarak diantara mereka, &#xA;&#xA;&#34;Unless you want me to fuck you out?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Selalu ada khawatir berlebih yang Zea rasakan ketika Oryza berada di apartement seorang diri.</p>

<p>Kompor yang lupa dimatikan, handuk basah yang ia taruh sembarang, pakaian yang terlipat dengan bentuk tidak karuan atau ketika Oryza sakit dan harus berada disana sendirian.</p>

<p>Zea sudah seperti induk yang mengerami anak nya, harus berada dijangkauan mata Oryza karena ketika sakit laki-laki itu hampir tidak bisa melakukan apa-apa sendiri, lebih tepatnya tidak bisa bisa apa-apa tanpa ada Zea disisi nya.</p>

<p>Kita bisa sepakat kalau Oryza dan <em>gym</em> adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, <em>workout</em> suatu keharusan baginya namun untuk urusan jaga kesehatan sepertinya laki-laki itu tidak bisa diandalkan, tapi untung nya berkat dari rajin berolahraga separah-parah nya sakit cuman sampai demam dan flu saja.</p>

<p>Zea melongokkan kepala nya dari balik pintu, membawa nampan berisi sup ayam beserta bubur sesuai permintaan Iza tadi siang lalu berjalan mengendap-endap melewati Iza yang tidur dengan posisi terlentang, berbalut selimut super tebal dan tisu yang ia pegang di tangan nya. Perempuan itu terkikik geli karena laki-laki nya harus bersusah payah bernafas lewat mulut.</p>

<p>“Za, makan dulu yuk.” Sehabis menaruh makanan di meja sebelah ranjang, Zea mengguncang tubuh Iza pelan, mengelus pipi nya yang kemerahan itu dengan lembut, yang lalu dibalas dengan erangan khas bangun tidur, mengerjapkan mata sayu nya berkali-kali.</p>

<p>“Hmmm..” Suara nya parau, mengambil <em>handphone</em> nya untuk melihat pukul berapa saat itu, “Kok udah pulang?”</p>

<p>“Aku izin pulang cepet.” Tangan nya menyisir rambut panjang Iza lalu diselipkannya ke belakang telinga, “Makan dulu yah, abis itu minum obat.”</p>

<p>Dengan sisa-sisa tenaga nya Iza berusaha untuk bangun, menopang badan nya dengan susah payah namun karena terlalu lemas ia kembali terhempas ke tempat tidur, Zea ikut meringis melihat Iza yang kesulitan untuk sekedar bangun lalu dengan cekatan ia mengambil posisi duduk ditepi ranjang dan bersiap untuk menyuapi laki-laki itu,</p>

<p>“Baju kamu..” Iza menyentuh ujung <em>blouse</em> biru muda Zea, “Kenapa gak diganti dulu?”</p>

<p>“Kamu kan belum makan, jadi aku buru-buru masak dan belum sempet ganti baju.” Jelas nya yang diberi penjelasan cuma mengangguk lucu, dengan semburat yang makin memerah di pipi, Iza menarik ingus nya dalam-dalam sebagai bentuk kamuflase agar tidak terlihat salah tingkah.</p>

<p>“Kamu bersih-bersih dulu aja, aku bisa makan sendiri.”</p>

<p>“Aku bau ya?” Tanya nya dengan bibir mengerucut, “Abis dari luar terus masak, bau-bau nya jadi makin aneh gak sih...”</p>

<p>Iza menggelengkan kepala nya lemah, “Biar kamu nya segeran, pasti gerah banget kan?” Untuk kedua kalinya ia berusaha untuk bangkit dari tempat tidur, dibantu Zea dan akhirnya Iza bisa menyandarkan punggung nya pada permukaan <em>headboard</em>.</p>

<p>“Beneran gapapa?” Zea kembali memastikan terlalu khawatir apalagi ketika melihat Iza memegang sendok dengan tangan gemetar. Pertanyaan nya dibalas anggukan kecil oleh Iza, mulai menyendokkan bubur nya sedikit untuk ia masukan kedalam mulut nya yang masih terasa pahit.</p>

<p>“Aku mandi nya cepet. Dua puluh- Oh, enggak! Sepuluh menit, janji sepuluh menit aja!” Iza terkekeh lalu kembali menganggukkan kepala nya.</p>

<hr/>

<p>“Enak gak?”</p>

<p>Tanya Zea sesaat setelah ia masuk kembali ke kamar Iza, matanya menangkap dua mangkok yang tandas menyisakan kuah saja, lalu mengambil posisi duduk di tepi ranjang dan mengambil termometer yang Iza taruh asal di tempat tidur,</p>

<p>“Enak. Tapi..”</p>

<p>“Tapi?”</p>

<p>“Pait.”</p>

<p>Satu usapan mendarat di kepala Iza, mengelus nya dengan sayang Zea terkekeh girang, “Makasih, ganteng.” Ia memasukkan termometer itu kedalam kaus Iza, menjepit diantara ketiak nya, “Obat nya udah diminum kan?”</p>

<p>Hanya ada dehaman singkat dari yang bersangkutan, kedua matanya masih terpejam, “Semoga turun...”</p>

<p>“Mau aku bikin panas nya turun cepet gak?” Jari-jari lentik Zea mengelus dada Iza pelan diikuti dengan senyum yang terlihat seperti sebuah seringai pada bibir nya.</p>

<p>“Hm?” Tidak mengindahkan sentuhan Zea pada dada nya Iza balik bertanya penasaran, urgensi nya saat ini adalah bagaimana menurunkan demam nya dengan cepat karena suhu badan nya yang tinggi benar-benar membuat nya serasa seperti sebuah <em>hotplate</em>.</p>

<p>Zea memasukkan kembali tangan nya untuk mengambil termometer, tersenyum saat melihat hasilnya merasa senang karena suhu badan Iza sudah tidak setinggi pagi tadi, “Pernah denger <em>skin to skin</em> gak, Za?”</p>

<p>Mata laki-laki itu sedikit terbuka mengekor jari-jari Zea yang masih berada di tempat semula, “Nggak. Apaan tuh?”</p>

<p>“Berpelukan, biar suhu badan nya turun.”</p>

<p>“Ngh?”</p>

<p>“Gak pake baju tapi..”</p>

<p>Sentuhan yang diberikan Zea mulai bergerak menuju lekukan leher lalu naik sampai pipi, ia benar-benar suka melihat bagaimana kedua pipi Iza yang merekah kemerahan itu seperti diberi olesan <em>blush on</em>, “Mau coba?”</p>

<p>Iza mengangguk, langsung melepas kaus nya sendiri menyisakan dada bidang nya dan Zea yang melihat itu harus bersusah payah menelan ludah. Mengikuti yang Iza lakukan, ia juga membuka piyama nya yang secara-<em>kebetulan</em> tidak menyisakan apapun selain dada yang sama-sama terekspose.</p>

<p>Zea merangkak menuju tempat kosong disebelah Iza, memposisikan badan nya lebih tinggi, menaruh lengan nya kebawah kepala laki-laki itu untuk selanjutnya ia peluk erat. Iza bisa mencium aroma tubuh Zea dengan jelas, hidung yang beradu dengan lekukan leher Zea membuatnya harus membuka mata dan seketika mematung beberapa detik karena baru menyadari sesuatu yang menurutnya janggal,</p>

<p>“Zea..”</p>

<p>“Hmm..”</p>

<p>“Kok gini?” Iza menengadah untuk melihat wajah Zea, dengan jarak bebera senti ia bisa merasakan nafas perempuan itu memburu sedikit menerpa wajah nya, Iza menatap nya tidak percaya, “Aku lagi sakit. Jangan begini dulu bisa?”</p>

<p>Zea memundurkan wajah nya, menatap Iza dengan ekspresi nya... yang tidak bisa ia baca, “Apa? Kan kamu ngeiyain tadi?”</p>

<p>“Ya, aku kira kamu nya gak ikut buka baju juga?”</p>

<p>“Ya, menurut kamu tuh <em>skin to skin</em> kayak gimana emang? Jadi aku pake baju lagi nih?”</p>

<p>“Gausah.” <em>Dasar.</em> Zea memutar bola mata nya malas, dengan sengaja menarik kepala Iza menuju ke pelukannya hingga laki-laki itu berdecak kesal.</p>

<p>Iza sebenarnya sedang tidak ingin melakukan hal-hal lain selain tidur dan berusaha menurunkan suhu badan yang sedang tinggi-tinggi nya, namun seonggok hawa yang sepertinya mencoba menggoda nya ini sedang menyusun rencana-rencana kotor di balik kepala nya. Dada nya ikut bergemuruh tidak karuan apalagi ketika benda kenyal dibawah sana ikut menyentuh permukaan kulit nya dengan jahil,</p>

<p>“Kamu <em>horny</em>?”</p>

<p>“Sembarangan.” Elak Zea membenamkan wajah nya pada rambut ikal Iza, “Kamu tuh apa-apa horny, emang keliatannya aku sepengen itu kah?”</p>

<p>“Heem.” Disusul satu dorongan di dahi nya, yang hanya Iza balas dengan tawa renyah dari suara serak nya, “Jangan aneh-aneh dulu deh. Aku beneran lagi sakit, entar lama lagi sembuh nya.”</p>

<p>Setelah itu hanya ada sunyi yang mengisi keheningan mereka, Iza kembali terlelap sedangkan Zea masih terjaga karena pikiran-pikiran intrusif mengusik kepala nya.</p>

<p>Apakah malam ini hanya akan berakhir dengan berpelukan? Atau yang lain? Tapi mengingat kondisi laki-laki itu yang belum stabil Zea merasa perlu untuk memikirkan matang-matang niat nya.</p>

<p>Ia memperhatikan wajah Iza lekat, pipi nya masih bersemu persis mochi stroberi yang ingin ia lahap di detik itu juga, mata yang terpejam dan bibir yang selalu berceloteh kini dingin tampak pucat.</p>

<p>Ada dorongan yang terus menyuruhnya untuk menempelkan bibir nya diatas bibir Iza, menghangatkan setiap inchi permukaan nya, memberi lumatan-lumatan lembut untuk membuat nya nyaman, namun belum sempat niat nya terlaksana laki-laki itu membuka mata menatap penuh curiga,</p>

<p>“Jangan cium-cium, nanti ketularan.”</p>

<p>“Deket-deketan begini juga pasti nular gak sih?”</p>

<p>“Kemungkinan nya gak segede kalau ciuman. Kontak langsung  kan bahaya.” Perempuan itu mencibir, lalu kembali menggoda Iza dengan sengaja menarik tengkuk nya hingga ujung hidung Iza sedikit mengenai dada Zea.</p>

<p>“Kamu itu gak pengen aku sembuh ya? Kenapa sengaja kayak gini sih? Aku percaya pas kamu bilang pengen bikin badan aku gak panas lagi, kok jadi malah melenceng gini sih? Aku lagi gak mau main-main, Ze. Aku beneran pengen sembuh.” Jelasnya panjang lebar dan menggebu, seolah perkataan nya akan membuat Zea tersinggung, Iza kembali mengangkat kepala nya untuk melihat reaksi Zea namun yang ia dapati justru kekehan geli dari seberang sana.</p>

<p>“Weits, iya-iya. Jangan marah-marah begitu dong, jadi malah tambah <em>hot</em> tau gak. Makin pengen aku makan...” Giliran Iza yang bergedik ngeri, Malam ini perempuan nya benar-benar seperti predator yang siap menelan bulat mangsa nya kapan saja. Buas dan Liar.</p>

<p>“Za, kamu pernah nangis gak sih?” Tanya nya tiba-tiba, “Selama kenal kamu aku belum pernah liat kamu nangis nangis deh.”</p>

<p>“Ya, pernah. Kalopun nangis ngapain di depan kamu.”</p>

<p>Zea menyamakan posisi nya agar bisa berhadapan dengan wajah Iza, menatapnya dalam seolah topik pembicaraan nya akan jadi sesi yang serius dan menguras emosi, “Kok gitu? Kenapa kalo nangis nya didepan aku? Malu?” Za-”</p>

<p>“Iya malu. Aku nangis nya karena hal sepele jadi ngapain nangis nya diliatin ke banyak orang.” Pungkas nya masih dengan suara ingus yang ia tarik dalam-dalam.</p>

<p>“Emang nangis gara-gara apa sih?”</p>

<p>“AOT.”</p>

<p>Satu alis nya terangkat lantas menjentikkan jarinya didepan Iza, “Oh? <em>That porn?</em>“</p>

<p>“<em>Who the fuck crying over porn</em>?” Sungut nya sebal lalu memutar bola mata malas, “Attack On Titan. Gak pernah denger?”</p>

<p>“Ah, agenda wibu. Emang nangisin apa sih?” Iza membenarkan posisi nya bersiap untuk bercerita, mata yang sedari tadi terpejam terbuka lebar.</p>

<p>“Jadi, ada yang namanya Hange, Hange Zoe. Dia mati gara-gara ngelawan wall titan biar pesawat regu nya itu selamat. Sedih nya tuh dia <em>sacrifice</em> hidupnya buat team nya... Nyesek gak sih?” Zea bisa melihat bagaimana sorot mata Iza berbinar jika sedang membicarakan hal-hal yang ia sukai.</p>

<p>“Aku gak ngerti sebenernya kamu ngomong apa tapi aku berusaha buat paham-pahamin aja. Karena nangis kan gak butuh alasan yang logis juga... Iya gak sih?” Zea menarik nafas sebelum melanjutkan kata-katanya, “Jadi, kalo kamu mau nangis karena hal apapun, gak peduli itu karena anime, karena kerjaan kamu yang lagi kacau aku bersedia dengerin tangisan kamu, lap air mata dan ingus kamu. Jangan malu hanya karena nangis, ya? Kamu harus memvalidasi segala bentuk emosi, jangan ditahan dan jangan dihindari.”</p>

<p>Setelah mengakhiri sesi ceramah nya Zea mendapati Iza (dengan sengaja) tertidur kembali, mendadak ia ingin sekali mendorong tubuh laki-laki itu hingga terjungkal ke lantai, “Emang kelakuan lu tuh ye, gak ada bagus-bagus nya. Udah dikasih kata-kata baik malah molor. Keren lu begitu?”</p>

<p>Tangan Iza mengelus punggung Zea lalu tersenyum, seakan memberi isyarat jika ia mendengarkan semua yang Zea katakan, <em>“I will do.”</em> Lanjut nya sambil mengeratkan kembali pelukan nya. Dari seberang sana, Zea mati-matian agar jantung nya tidak mencelos, ikut meletup bersama perasaan-perasaan geli yang memenuhi perut nya. Selalu ada cara untuk Iza membuat perempuan nya jatuh hati, berkali-kali dan tanpa henti.</p>

<p>Nekat, Zea kembali mendekati wajah nya lalu tanpa aba-aba mencium Iza tepat di bibir nya, namun dengan tepisan kilat Iza kembali menghindar dan memberinya tatapan tajam juga desisan persis seperti seekor kucing yang sedang mengamuk, “Kenapa batu banget sih?”</p>

<p>“Aku mau sun... Hum?” Zea memberinya serangan balik yang mana mungkin bisa Iza abaikan, laki-laki itu meringis menggigit bibir bawah nya.</p>

<p>“Yaudah, boleh. Pipi aja, jangan yang lain.” Dalam hitungan detik Zea menciumi pipi Iza dengan semangat, kadang sengaja ia gigit karena terlalu gemas, yang diciumi hanya bisa terdiam pasrah.</p>

<p>“Nghhh..” Tidak mau kalah, Iza sama-sama melancarkan manuver nya, diam-diam memilin puting Zea hingga satu desahan berhasil lolos dari mulutnya.</p>

<p>“Emang nya udah sembuh?” Tanya Zea dengan nada sensual, jari-jari lentik nya menari indah mengelus dada bidang Iza, seringai tersungging pada bibir nya, Iza semakin mengikis jarak diantara mereka,</p>

<p><em>“Unless you want me to fuck you out?”</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://plutoprojector.writeas.com/pillow-talk</guid>
      <pubDate>Fri, 17 Mar 2023 11:53:23 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>&#34;Kalau orang-orang bertanya pekerjaan Ibu, Nirina akan jawab apa?&#34;</title>
      <link>https://plutoprojector.writeas.com/kalau-orang-orang-bertanya-pekerjaan-ibu-nirina-akan-jawab-apa?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Kalau orang-orang bertanya pekerjaan Ibu, Nirina akan jawab apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Garden Fairy.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Tangan mungil nya merangkak diantara pelataran blok tanah, mencabuti rumput-rumput liar yang sudah tumbuh panjang menutupi kepala nisan, begitu pula dengan mulut nya yang tidak berhenti berceloteh perihal kejadian lucu di sekolah, perihal lomba IPA yang diikuti nya minggu lalu dan juga perihal Ayah nya yang baru bisa berkunjung satu minggu setelahnya.&#xA;&#xA;Wisnu dan Dianisa berdiri mengamati gadis kecil itu dari jauh, Nirina bilang, kalau hari ini hanya ingin berduaan saja bersama Ibu.&#xA;&#xA;&#34;Kayaknya yang harus lo panggil wanita kuat tuh anak lo deh, Nu.&#34;&#xA;&#xA;Wisnu mencengkram kantung plastik berisi dua kotak barbie itu dengan erat, menelan ludah nya yang terasa lebih pahit hari ini,&#xA;&#xA;&#34;She is.&#34;&#xA;&#xA;Melupakan bukanlah perkara mudah bagi Wisnu, butuh waktu hampir belasan tahun hingga akhirnya ia bisa berkunjung menemui Shanin yang sekarang makam nya dihiasi bunga biru oleh anak perempuan mereka. Nyata nya walaupun sudah satu dasawarsa lebih bayang-bayang Shanin masih ada di ujung mata nya, dalam wujud Nirina.&#xA;&#xA;&#34;Kalo aja waktu bisa diulang, kayaknya dulu gua bakal biarin Shanin ikut ke Jepang deh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nu, really?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Harusnya gua biarin dia ikutan olimpiade itu, harusnya gak gua tahan-tahan dia buat pergi, harusnya gua gak sakit pas hari keberangkatan nya....&#34; Bibir Wisnu mendadak kelu untuk melanjutkan ucapan nya, &#xA;&#xA;&#34;Andai aja waktu itu lo gak nyuruh Shanin buat ke kosan lo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nis...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kalo gak gitu jalan nya, Nirina gak bakal ada di dunia ini, Nu. Come on, lo harus keluar dari penyesalan itu, it&#39;s been 10 yearsㅡ&#34;&#xA;&#xA;&#34;11 years.&#34;&#xA;&#xA;&#34;ㅡOkay, 11 years. Lo harus merasa cukup dengan masa lalu lo karena sekarang lo udah punya Nirina, gue gak mau lo nyesel buat kedua kali nya, Nu. Gue juga gak mau Shanin nyesel karena udah nitipin Nirina ke elo.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Nirina, memang ada ya pekerjaan jadi seorang Garden Fairy?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ada. Ibu Nirina Garden Fairy, Ibu menanam banyak bunga di surga.&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>“Kalau orang-orang bertanya pekerjaan Ibu, Nirina akan jawab apa?”</em></p>

<p><em>“Garden Fairy.”</em></p>

<hr/>

<p>Tangan mungil nya merangkak diantara pelataran blok tanah, mencabuti rumput-rumput liar yang sudah tumbuh panjang menutupi kepala nisan, begitu pula dengan mulut nya yang tidak berhenti berceloteh perihal kejadian lucu di sekolah, perihal lomba IPA yang diikuti nya minggu lalu dan juga perihal Ayah nya yang baru bisa berkunjung satu minggu setelahnya.</p>

<p>Wisnu dan Dianisa berdiri mengamati gadis kecil itu dari jauh, Nirina bilang, kalau hari ini hanya ingin berduaan saja bersama Ibu.</p>

<p>“Kayaknya yang harus lo panggil wanita kuat tuh anak lo deh, Nu.”</p>

<p>Wisnu mencengkram kantung plastik berisi dua kotak barbie itu dengan erat, menelan ludah nya yang terasa lebih pahit hari ini,</p>

<p><em>“She is.”</em></p>

<p>Melupakan bukanlah perkara mudah bagi Wisnu, butuh waktu hampir belasan tahun hingga akhirnya ia bisa berkunjung menemui Shanin yang sekarang makam nya dihiasi bunga biru oleh anak perempuan mereka. Nyata nya walaupun sudah satu dasawarsa lebih bayang-bayang Shanin masih ada di ujung mata nya, dalam wujud Nirina.</p>

<p>“Kalo aja waktu bisa diulang, kayaknya dulu gua bakal biarin Shanin ikut ke Jepang deh.”</p>

<p>“Nu, <em>really?</em>“</p>

<p>“Harusnya gua biarin dia ikutan olimpiade itu, harusnya gak gua tahan-tahan dia buat pergi, harusnya gua gak sakit pas hari keberangkatan nya....” Bibir Wisnu mendadak kelu untuk melanjutkan ucapan nya,</p>

<p>“Andai aja waktu itu lo gak nyuruh Shanin buat ke kosan lo?”</p>

<p>“Nis...”</p>

<p>“Kalo gak gitu jalan nya, Nirina gak bakal ada di dunia ini, Nu. <em>Come on,</em> lo harus keluar dari penyesalan itu, <em>it&#39;s been 10 years</em>ㅡ”</p>

<p><em>“11 years.”</em></p>

<p>“ㅡ<em>Okay, 11 years.</em> Lo harus merasa cukup dengan masa lalu lo karena sekarang lo udah punya Nirina, gue gak mau lo nyesel buat kedua kali nya, Nu. Gue juga gak mau Shanin nyesel karena udah nitipin Nirina ke elo.”</p>

<hr/>

<p><em>“Nirina, memang ada ya pekerjaan jadi seorang Garden Fairy?”</em></p>

<p><em>“Ada. Ibu Nirina Garden Fairy, Ibu menanam banyak bunga di surga.”</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://plutoprojector.writeas.com/kalau-orang-orang-bertanya-pekerjaan-ibu-nirina-akan-jawab-apa</guid>
      <pubDate>Wed, 25 Jan 2023 12:15:40 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>duapuluh empat.</title>
      <link>https://plutoprojector.writeas.com/duapuluh-empat?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[you did not expect that we can meet again.&#xA;&#xA;so, hi 24?&#xA;&#xA;it is still bizarre because you are still standing on your two bare feet, even though there are a little bloody, some cuts and abrasions &#xA;you are still gripping on hoping that your pedestal will become stronger as time goes by &#xA;there is no cake anymore, nor surprises after waking up, or greetings at home &#xA;favorably you still can celebrate alone even though it feels a bit reluctant and circumspect&#xA; &#xA;met several people who broke your heart, incised wounds repeatedly, and hurt so much that you fell over and over again &#xA;a ghosted-anime-weebs that still haunt you for years, a rockstar that made you confess, or that Scorpio guy who breaks your heart into pieces, ugly crying till seek professional help because you cannot handle it anymore&#xA;or someone who should be a good example, who should be your first love, but turns out the one you fought coldly because he made you feel like you failed to be the eldest&#xA;&#xA;men are really disappointing.&#xA;&#xA;was diagnosed as psychosomatic back then because the tightness could no longer be endured, as time went on it turned into a very painful pain on one side of the head &#xA;you have to manage your emotions amidst the onslaught of a family that seems to forget that you have limitations&#xA;latch yourself up in a dim room, cry out until your lungs out your breath is getting shallower&#xA;have nothing to dream about because for a moment the future seems so gray and blurred &#xA;&#xA;should you give up?&#xA;&#xA;leaving those who at least still care about you&#xA;giving their support, and kind words that strengthen you every day&#xA;some hopes that actually still spark at the end of your heart&#xA;&#xA;at least, survive for yourself as well as the people who want to see you alive]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>you did not expect that we can meet again.</p>

<p><em>so, hi 24?</em></p>

<p>it is still bizarre because you are still standing on your two bare feet, even though there are a little bloody, some cuts and abrasions
you are still gripping on hoping that your pedestal will become stronger as time goes by
there is no cake anymore, nor surprises after waking up, or greetings at home
favorably you still can celebrate alone even though it feels a bit reluctant and circumspect</p>

<p>met several people who broke your heart, incised wounds repeatedly, and hurt so much that you fell over and over again
a ghosted-anime-weebs that still haunt you for years, a rockstar that made you confess, or that Scorpio guy who breaks your heart into pieces, ugly crying till seek professional help because you cannot handle it anymore
or someone who should be a good example, who should be your first love, but turns out the one you fought coldly because he made you feel like you failed to be the eldest</p>

<p><em>men are really disappointing.</em></p>

<p>was diagnosed as psychosomatic back then because the tightness could no longer be endured, as time went on it turned into a very painful pain on one side of the head
you have to manage your emotions amidst the onslaught of a family that seems to forget that you have limitations
latch yourself up in a dim room, cry out until your lungs out your breath is getting shallower
have nothing to dream about because for a moment the future seems so gray and blurred</p>

<p><em>should you give up?</em></p>

<p>leaving those who at least still care about you
giving their support, and kind words that strengthen you every day
some hopes that actually still spark at the end of your heart</p>

<p>at least, survive for yourself as well as the people who want to see you <em><em>alive</em></em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://plutoprojector.writeas.com/duapuluh-empat</guid>
      <pubDate>Fri, 06 Jan 2023 03:19:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Topik Semalam</title>
      <link>https://plutoprojector.writeas.com/topik-semalam?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Perjalanan pulang Zea malam ini tidak sendiri, tidak sepi karena ada Oryza menemani. Tidak beriringan tapi dalam satu langkah bersamaan. Oryza selalu didepan karena jalan nya cepat dan Zea yang terlalu banyak salah fokus jalan nya lambat. &#xA;&#xA;Tanpa mobil sport keluaran anyar, tanpa motor bermesin kuda berharga tiga digit, keduanya lebih memilih menjadi pedestrian yang menyusuri trotoar, sambil melihat kendaraan berlalu lalang, semak belukar yang menjadi pembatas area pejalan kaki dengan taman kota serta pemandangan lainnya yang mungkin tidak akan didapatkan jika menaiki benda beroda. &#xA;&#xA;Bukannya tidak sanggup membeli kendaraan pribadi (karena tentu saja kehidupan seorang produser musik terkenal sangat bergelimang harta) justru Oryza berkelit jika alasan nya adalah untuk mengurangi angka kemacetan dan polusi kota. &#xA;&#xA;Terdengar bijak, bukan? Walaupun pada akhirnya Zea selalu mengolok-olokkan nya dengan sebutan si-orang-kaya-pelit.&#xA;&#xA;&#34;Ini gak bakal pesen grabcar?&#34; Tanya Zea dengan nafas terengah, &#34;Kita udah jalan setengah nya, Za.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tanggung lah, sekalian olahraga.&#34; Balas Oryza yang sepertinya tampak bersemangat dengan agenda jalan kaki mereka, dalam perjalanan menuju apartemen dari kantor Zea, nyatanya perkiraan yang ia pertimbangkan dengan estimasi lima menit justru meleset karena jarak nya jadi dua kali lipatㅡbahkan tiga kali jika Zea banyak berhenti nya. &#xA;&#xA;&#34;Olahraga apaan! Gue masih harus lembur besok!&#34; Sungut perempuan itu tidak terima, &#34;Kalo lo gendong gue sih ya gapapa.&#34;&#xA;&#xA;Dari jarak kurang lebih dua meter yang membagi keduanya sekarang, Oryza berbalik untuk sekali lagi mendengar lebih jelas ucapan Zea, yang bersangkutan cuma bisa cengengesan memperlihatkan barisan gigi rapih nya sedangkan Oryza menghela nafas sambil memutar bola mata malas,&#xA;&#xA;&#34;Izaaaaaa&#34; Seru Zea, yang lagi-lagi harus menginterupsi Oryza diseberang sana. &#xA;&#xA;&#34;Apa lagi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue serius... Capek...&#34; Kini nada nya merajuk, bibir nya mengerucut membuat Oryza sedikit meringis karena perempuan didepan nya ini jadi lebih menggemaskan dan tentu saja tanpa disuruh Oryza akan dengan senang hati menuruti semua perintah nya dalam rangka mengambil hati nya kembali. Tapi Oryza bukan Oryza namanya jika tidak diselingi drama si paling tsundere nya,&#xA;&#xA;&#34;Emang nya gak malu di gendong?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kenapa pake malu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Takutnya dikiraㅡ&#34; &#xA;&#xA;&#34;Malu karena di gendong mantan nya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Heck...&#34;&#xA;&#xA;Tawa Zea pecah, selalu ada cara untuk membuat laki-laki berzodiak sagitarius itu merasa dicemooh harga dirinya.&#xA;&#xA;&#34;Well, orang-orang gak bakal tau juga sih lo mantan gue apa bukan. Ya kan?&#34; &#xA;&#xA;Oryza mengangkat bahu nya acuh menanggapi pertanyaan Zea dan tanpa pikir panjang langsung mengambil posisi berjongkok, &#34;Mau mantan kek mau suami istri kek, kumpul kebo pun orang-orang gak bakal tau, Ze. Jadi, mending buruan naek aja sebelum gua yang malu karena jongkok begini.&#34; Omel nya terdengar sedikit kesal dan Zea yang sekali lagi tidak bisa menahan gelak nya.&#xA;&#xA;Zea melingkarkan tangan nya pada bahu tegap milik Iza, merangkak di punggung nya yang kokoh dan dalam hitungan detik Zea sudah diangkat Iza layaknya bayi koala yang di gendong induk nya.&#xA;&#xA;&#34;Berat gak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biasa aja.&#34;&#xA;&#xA;Oryza yang belakangan ini memang intens bolak-balik gym, tentu bukan suatu masalah jika harus menggendong Zea yang memiliki badan lebih kecil dibandingkan milik nya. Zea membenamkan wajah nya pada lekuk leher Iza, menghirup aroma yang sangat familiar bagi indra penciuman nya; aroma yang biasa menempel pada hoodie yang selalu dipakai nya, pada sarung bantal di kamar nya dan pada aroma ruang tengah yang selalu Iza jadikan tempat kerja dadakan. Aroma yang selalu mengingatkan Zea tentang bagaimana Oryza memiliki presensi berarti di lembar hidupnya.&#xA;&#xA;Dalam perjalanan pulang menuju apartemen ditemani malam yang kian riuh dengan bunyi klakson saling bersautan, keduanya larut dalam hening masing-masing.&#xA;&#xA;&#34;Ze.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mungkin gua bakal pertimbangin beli mobil.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tiba-tiba?&#34;&#xA;&#xA;Dari balik lengan nya yang melingkar di leher Iza, Zea bisa melihat jika telinga lawan bicaranya itu tiba-tiba memerah,&#xA;&#xA;&#34;Ya, tapi tergantung sih. Kalo lu nya mau apa nggak.&#34; Pernyataan yang cukup membuat Zea bingung, ada hubungan apa antara dirinya dengan keinginan laki-laki ini untuk memiliki sebuah mobil.&#xA;&#xA;&#34;Kalo gue mau, gimana? Dan kalo misalnya gue gak mau, itu gimana juga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pilih satu lah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gimana mau milih, konteks aja gue gak tau!&#34; Semprot Zea membuat Iza tergelak,&#xA;&#xA;&#34;Gue bakal beli mobil kalo misalnya lu mau tinggal bareng.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kan udah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Like, together.&#34;&#xA;&#xA;&#34;You mean married?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hahahaha.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Malah ketawa.&#34; Zea memukul bahu Iza gemas, &#34;Jawab yang bener gak!&#34;&#xA;&#xA;Oryza menghentikan langkah nya, degup jantung nya mungkin sudah bisa terdengar sekarang seiring dengan lengan Zea yang turun menyentuh dada nya,&#xA;&#xA;&#34;Gue seriusㅡ I mean, about married... yeah... karena kita udah tinggal bareng bertahun-tahun, is it possible if weㅡ yeah... tau lah ya...&#34;&#xA;&#xA;Kini giliran tawa Zea yang meledak, lamaran yang terdengar sangat tidak proper untuk disebut sebuah lamaran tetapi bukan pula sebuah keheranan karena datang nya dari mulut seorang Oryza; si paling tsundere dan banyak ngeles nya.&#xA;&#xA;&#34;Cerita nya lagi propose?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hahㅡ Ehㅡ Maksudnya tuh... Aduh gimana ya...&#34; Jawabnya gelagapan, &#xA;&#xA;&#34;Lo bakal beli mobil, andai kata kalo gue mau nikah sama lo, gitu kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kind of...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya, berarti tadi tuh lo lagi ngelamar, dodol.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi maksud gua tuh, gak sekarang juga... Jadinya yang tadi gak termasuk propose lah..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Okay. Got it. Lo cuma nanya aja kan? Semacam ngasih offer?&#34; Kini intonasi Zea sedikit dinaikan, menekankan di tiap kata nya untuk memberi tahu jika ia memang paham dengan maksud yang Iza sampaikan, yang didepan hanya menganggukkan kepala seraya melanjutkan kembali perjalanan dan tanpa Oryza tahu jika Zea pun sama-sama salah tingkah, semburat kemerahan merekah di kedua pipi nya,&#xA;&#xA;&#34;Tungguin dulu, kalo lu mau. Gua udah berani kalo urusannya soal materi, tapi ada beberapa hal yang harus gua persiapkan matang-matang dan mungkin lu pun sama,  Ze.&#34;&#xA;&#xA;Zea menggigit bibir bawah nya, selama hampir lima tahun tinggal bersama, melewati berbagai fase hubungan dari mulai pacaran-putus-pacaran-sampai saat ini dengan status yang masih dipertanyakan karena keputusan untuk tetap tinggal bersama ber-alibi-kan sewa apartemen yang masih tersisa satu tahun, jauh dari lubuk hati Zea dan mungkin Oryza, jika mereka masih merasakan getar dan debar yang sama, yang menjadi urgensi utama jika bayang nya tidak tertangkap  ujung mata masing-masing dan hal-hal lainnya yang membuktikan jika Zea masih menyimpan rasa besar itu di sudut hati nya,&#xA;&#xA;Pernikahan adalah keputusan yang sangat besar dan bagi Zea pernikahan merupakan opsi yang ia simpan bawah-bawah, meski sudah tinggal satu atap dengan mantan kekasih slash roomate nya, namun tetap saja hal tersebut adalah dua hal yang berbeda. Pernah terbersit dalam benak nya namun belum sekalipun dibahas bersama secara serius dan tentu untuk kali ini Oryza benar-benar serius membicarakan rencana untuk kedepannya.&#xA;&#xA;Zea ingin kembali menyimpan percaya nya, ingin kembali menaruh separuh nya untuk dibuat utuh dan ingin sekali lagi memberi kesempatan kepada dirinya untuk bisa mengenal Oryza lebih baik lagi, begitupun sebaliknya. &#xA;&#xA;&#34;Boleh gak kalo kita pulang dulu baru ngomongin soal ini?&#34; &#xA;&#xA;Gelak tawa dari keduanya mengiringi perjalanan pulang malam ini, ditemani juga dengan perasaan-perasaan meletup dari sebuah hubungan layu yang mungkin akan kembali merekah dalam waktu dekat. &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Perjalanan pulang Zea malam ini tidak sendiri, tidak sepi karena ada Oryza menemani. Tidak beriringan tapi dalam satu langkah bersamaan. Oryza selalu didepan karena jalan nya cepat dan Zea yang terlalu banyak salah fokus jalan nya lambat.</p>

<p>Tanpa mobil sport keluaran anyar, tanpa motor bermesin kuda berharga tiga digit, keduanya lebih memilih menjadi pedestrian yang menyusuri trotoar, sambil melihat kendaraan berlalu lalang, semak belukar yang menjadi pembatas area pejalan kaki dengan taman kota serta pemandangan lainnya yang mungkin tidak akan didapatkan jika menaiki benda beroda.</p>

<p>Bukannya tidak sanggup membeli kendaraan pribadi (karena tentu saja kehidupan seorang produser musik terkenal sangat bergelimang harta) justru Oryza berkelit jika alasan nya adalah untuk mengurangi angka kemacetan dan polusi kota.</p>

<p>Terdengar bijak, bukan? Walaupun pada akhirnya Zea selalu mengolok-olokkan nya dengan sebutan <em>si-orang-kaya-pelit.</em></p>

<p>“Ini gak bakal pesen <em>grabcar</em>?” Tanya Zea dengan nafas terengah, “Kita udah jalan setengah nya, Za.”</p>

<p>“Tanggung lah, sekalian olahraga.” Balas Oryza yang sepertinya tampak bersemangat dengan agenda jalan kaki mereka, dalam perjalanan menuju apartemen dari kantor Zea, nyatanya perkiraan yang ia pertimbangkan dengan estimasi lima menit justru meleset karena jarak nya jadi dua kali lipatㅡbahkan tiga kali jika Zea banyak berhenti nya.</p>

<p>“Olahraga apaan! Gue masih harus lembur besok!” Sungut perempuan itu tidak terima, “Kalo lo gendong gue sih ya gapapa.”</p>

<p>Dari jarak kurang lebih dua meter yang membagi keduanya sekarang, Oryza berbalik untuk sekali lagi mendengar lebih jelas ucapan Zea, yang bersangkutan cuma bisa cengengesan memperlihatkan barisan gigi rapih nya sedangkan Oryza menghela nafas sambil memutar bola mata malas,</p>

<p>“Izaaaaaa” Seru Zea, yang lagi-lagi harus menginterupsi Oryza diseberang sana.</p>

<p>“Apa lagi?”</p>

<p>“Gue serius... Capek...” Kini nada nya merajuk, bibir nya mengerucut membuat Oryza sedikit meringis karena perempuan didepan nya ini jadi lebih menggemaskan dan tentu saja tanpa disuruh Oryza akan dengan senang hati menuruti semua perintah nya dalam rangka mengambil hati nya kembali. Tapi Oryza bukan Oryza namanya jika tidak diselingi drama <em>si paling tsundere</em> nya,</p>

<p>“Emang nya gak malu di gendong?”</p>

<p>“Kenapa pake malu?”</p>

<p>“Takutnya dikiraㅡ”</p>

<p>“Malu karena di gendong mantan nya?”</p>

<p><em>“Heck...”</em></p>

<p>Tawa Zea pecah, selalu ada cara untuk membuat laki-laki berzodiak sagitarius itu merasa dicemooh harga dirinya.</p>

<p>“<em>Well,</em> orang-orang gak bakal tau juga sih lo mantan gue apa bukan. Ya kan?”</p>

<p>Oryza mengangkat bahu nya acuh menanggapi pertanyaan Zea dan tanpa pikir panjang langsung mengambil posisi berjongkok, “Mau mantan kek mau suami istri kek, kumpul kebo pun orang-orang gak bakal tau, Ze. Jadi, mending buruan naek aja sebelum gua yang malu karena jongkok begini.” Omel nya terdengar sedikit kesal dan Zea yang sekali lagi tidak bisa menahan gelak nya.</p>

<p>Zea melingkarkan tangan nya pada bahu tegap milik Iza, merangkak di punggung nya yang kokoh dan dalam hitungan detik Zea sudah diangkat Iza layaknya bayi koala yang di gendong induk nya.</p>

<p>“Berat gak?”</p>

<p>“Biasa aja.”</p>

<p>Oryza yang belakangan ini memang intens bolak-balik gym, tentu bukan suatu masalah jika harus menggendong Zea yang memiliki badan lebih kecil dibandingkan milik nya. Zea membenamkan wajah nya pada lekuk leher Iza, menghirup aroma yang sangat familiar bagi indra penciuman nya; aroma yang biasa menempel pada hoodie yang selalu dipakai nya, pada sarung bantal di kamar nya dan pada aroma ruang tengah yang selalu Iza jadikan tempat kerja dadakan. Aroma yang selalu mengingatkan Zea tentang bagaimana Oryza memiliki presensi berarti di lembar hidupnya.</p>

<p>Dalam perjalanan pulang menuju apartemen ditemani malam yang kian riuh dengan bunyi klakson saling bersautan, keduanya larut dalam hening masing-masing.</p>

<p>“Ze.”</p>

<p>“Hm?”</p>

<p>“Mungkin gua bakal pertimbangin beli mobil.”</p>

<p>“Tiba-tiba?”</p>

<p>Dari balik lengan nya yang melingkar di leher Iza, Zea bisa melihat jika telinga lawan bicaranya itu tiba-tiba memerah,</p>

<p>“Ya, tapi tergantung sih. Kalo lu nya mau apa nggak.” Pernyataan yang cukup membuat Zea bingung, ada hubungan apa antara dirinya dengan keinginan laki-laki ini untuk memiliki sebuah mobil.</p>

<p>“Kalo gue mau, gimana? Dan kalo misalnya gue gak mau, itu gimana juga?”</p>

<p>“Pilih satu lah.”</p>

<p>“Gimana mau milih, konteks aja gue gak tau!” Semprot Zea membuat Iza tergelak,</p>

<p>“Gue bakal beli mobil kalo misalnya lu mau tinggal bareng.”</p>

<p>“Kan udah?”</p>

<p><em>“Like, together.”</em></p>

<p><em>“You mean married?”</em></p>

<p>“Hahahaha.”</p>

<p>“Malah ketawa.” Zea memukul bahu Iza gemas, “Jawab yang bener gak!”</p>

<p>Oryza menghentikan langkah nya, degup jantung nya mungkin sudah bisa terdengar sekarang seiring dengan lengan Zea yang turun menyentuh dada nya,</p>

<p>“Gue seriusㅡ <em>I mean, about married... yeah...</em> karena kita udah tinggal bareng bertahun-tahun, <em>is it possible if weㅡ yeah...</em> tau lah ya...”</p>

<p>Kini giliran tawa Zea yang meledak, lamaran yang terdengar sangat tidak <em>proper</em> untuk disebut sebuah lamaran tetapi bukan pula sebuah keheranan karena datang nya dari mulut seorang Oryza; <em>si paling tsundere</em> dan banyak ngeles nya.</p>

<p>“Cerita nya lagi <em>propose</em>?”</p>

<p>“Hahㅡ Ehㅡ Maksudnya tuh... Aduh gimana ya...” Jawabnya gelagapan,</p>

<p>“Lo bakal beli mobil, andai kata kalo gue mau nikah sama lo, gitu kan?”</p>

<p><em>“Kind of...”</em></p>

<p>“Ya, berarti tadi tuh lo lagi ngelamar, dodol.”</p>

<p>“Tapi maksud gua tuh, gak sekarang juga... Jadinya yang tadi gak termasuk <em>propose</em> lah..”</p>

<p>“<em>Okay. Got it.</em> Lo cuma nanya aja kan? Semacam ngasih <em>offer</em>?” Kini intonasi Zea sedikit dinaikan, menekankan di tiap kata nya untuk memberi tahu jika ia memang paham dengan maksud yang Iza sampaikan, yang didepan hanya menganggukkan kepala seraya melanjutkan kembali perjalanan dan tanpa Oryza tahu jika Zea pun sama-sama salah tingkah, semburat kemerahan merekah di kedua pipi nya,</p>

<p>“Tungguin dulu, kalo lu mau. Gua udah berani kalo urusannya soal materi, tapi ada beberapa hal yang harus gua persiapkan matang-matang dan mungkin lu pun sama,  Ze.”</p>

<p>Zea menggigit bibir bawah nya, selama hampir lima tahun tinggal bersama, melewati berbagai fase hubungan dari mulai pacaran-putus-pacaran-sampai saat ini dengan status yang masih dipertanyakan karena keputusan untuk tetap tinggal bersama ber-alibi-kan sewa apartemen yang masih tersisa satu tahun, jauh dari lubuk hati Zea dan mungkin Oryza, jika mereka masih merasakan getar dan debar yang sama, yang menjadi urgensi utama jika bayang nya tidak tertangkap  ujung mata masing-masing dan hal-hal lainnya yang membuktikan jika Zea masih menyimpan rasa besar itu di sudut hati nya,</p>

<p>Pernikahan adalah keputusan yang sangat besar dan bagi Zea pernikahan merupakan opsi yang ia simpan bawah-bawah, meski sudah tinggal satu atap dengan mantan kekasih <em>slash roomate</em> nya, namun tetap saja hal tersebut adalah dua hal yang berbeda. Pernah terbersit dalam benak nya namun belum sekalipun dibahas bersama secara serius dan tentu untuk kali ini Oryza benar-benar serius membicarakan rencana untuk kedepannya.</p>

<p>Zea ingin kembali menyimpan percaya nya, ingin kembali menaruh separuh nya untuk dibuat utuh dan ingin sekali lagi memberi kesempatan kepada dirinya untuk bisa mengenal Oryza lebih baik lagi, begitupun sebaliknya.</p>

<p>“Boleh gak kalo kita pulang dulu baru ngomongin soal ini?”</p>

<p>Gelak tawa dari keduanya mengiringi perjalanan pulang malam ini, ditemani juga dengan perasaan-perasaan meletup dari sebuah hubungan layu yang mungkin akan kembali merekah dalam waktu dekat.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://plutoprojector.writeas.com/topik-semalam</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Nov 2022 18:37:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kala dan Rumahnya.</title>
      <link>https://plutoprojector.writeas.com/kala-dan-rumahnya?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Deru mesin mobil mengisi keheninganku dan Aji. Ada tanya ku tergantung disana dan mungkin tanya Aji yang ikut serta didalamnya, bersama dengan semua kebetulan-kebetulan yang terjadi sebelumnya. &#xA;&#xA;Namun setelah lima belas menit berlalu baik aku dan Aji sama-sama enggan bersuara, tidak tahu pasti apa yang ada dibenak nya saat ini tapi jika boleh berasumsi, mungkin Aji masih merasa keberatan dengan keberadaan ku yang lagi-lagi harus merepotkan nya dua kali untuk hari ini. Sebenarnya aku menyesal setelah sebelumnya menyumpah serapahi dia karena terlihat tidak ikhlas ketika mengantarku pergi survey. Meski untuk kebetulan kedua ini atas pesan dari Saga tetap saja rasanya kepalang malu dan sungkan bahkan untuk sekedar meminta maaf.&#xA;&#xA;Satu dehaman dari kursi kemudi membuyarkan lamunan ku, Aji yang masih fokus pada setir akhirnya berinisiatif membuka percakapan,&#xA;&#xA;&#34;Temen nya, Mbak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan, Mas.&#34;&#xA;&#xA;Hening kembali. Tidak ada pertanyaan lain, Aji hanya mengangguk-ngangguk sambil mengetuk-ngetukan jari nya diatas kemudi, sebelum aku menambahkan jawaban Aji tiba-tiba berujar kembali,&#xA;&#xA;&#34;Hati-hati, Mbak.&#34;&#xA;&#xA;Bersamaan dengan Yaris putih yang kami tumpangi terhenti di sebuah persimpangan lampu merah dan disaat itu pula aku merasakan debaran tidak karuan yang membuat sebagian wajahku mendadak hangat. Aku tidak tahu ada makna apa dibalik kata-katanya barusan tapi mari berbaik sangka saja jika Aji hanya ingin memintaku untuk tetap waspada.&#xA;&#xA;&#34;Iya Mas, terimakasih.&#34;&#xA;&#xA;Entah cuma perasaan ku atau keadaan nya jadi makin canggung, sebelum lampu merah berubah menjadi hijau Aji lagi-lagi membuka obrolan,&#xA;&#xA;&#34;Boleh?&#34; Tanya nya dengan satu tangan bersiap menyentuh layar  perangkat audio player  namun sebelum benar-benar menekan tombol play nya Aji memutar wajah nya untuk menatapku, &#34;Kalo gak keberatan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;S-ssi-silahkan, Mas.&#34;&#xA;&#xA;Rasanya aku ingin berubah jadi wiper di detik berikut nya. Jawaban yang teramat sangat payah. Ya Tuhan, kenapa sih hamba harus ada di situasi seperti ini.&#xA;&#xA;Terdengar kekehan kecil dari seberang sana kekehan yang hampir membuat jantung ku melorot hingga jatuh ke perut. Hiperbola memang, tapi respon nya itu membuatku mempertanyakan impresi seperti apa yang Aji tangkap tentang ku hingga harus ditertawakan? Apa aku terlihat bodoh karena bersikap demikian? Huh.&#xA;&#xA;Sementara aku masih tenggelam bersama pikiran ku sendiri, intro lagu yang sangat familiar mulai terdengar membuat atensi ku teralihkan sepenuhnya, secara kebetulan lagu yang menjadi on repeat ku belakangan ini tiba-tiba di mainkan.&#xA;&#xA;&#34;Wah.. You&#39;re My Home..&#34; Seru ku pelan sembari melihat judul serta nama penyanyi yang terpampang di display audio player, aku tersenyum lebar, lagu yang seakan merengkuhku kedalam peluk hangat setelah berjibaku menghadapi hari yang sangat melelahkan ini.&#xA;&#xA;&#34;Tau lagu nya, Mbak?&#34;&#xA;&#xA;Namun belum sempat menjawab pertanyaan Aji, bunyi notifikasi chat yang masuk sukses membuatku mematung beberapa saat,&#xA;&#xA;Pesan dari Ibu.&#xA;&#xA;Aku hanya berani melihat preview nya dari lockscreen saja, tanpa perlu membukanya bisa dipastikan aku akan berakhir mengenaskan didalam mobil dan menjadi tontonan Aji. &#xA;&#xA;Chat lainnya masuk, kini dengan isi yang lebih menohok membuat kedua mata ku memanas, aku harus bersusah payah menahan tangis tapi sesak nya semakin menjadi dan tanpa disadari satu bulir air lolos meluncur dari ujung mata ku.&#xA;&#xA;&#39;Things might seem hard but i&#39;ll always be here.&#39;&#xA;&#39;So, don&#39;t think too difficulty&#39;.&#xA;&#xA;Alunan lagu Sadawira mengiringi pesan Ibu yang kian emosional dan mengharu biru, betapa kesepian dan sedih nya harus mulai hidup terbiasa terbentang jarak dengan rumah, dengan Surabaya dan juga dengan Ibu. Hari ini belum genap satu minggu tapi rindu untuk Ibu sudah sangat menggebu-gebu. &#xA;&#xA;Aku menyerah untuk bertahan, bersama dengan tangis yang pecah ruah beserta semua perasaan-perasaan yang berkecamuk, tentang rumah, tentang belajar mandiri, tentang mencari uang, tentang menjadi tulang punggung, tentang kuat, tentang tanggung jawab, tentang Ibu dan tentang semua ketakutan ku.&#xA;&#xA;&#39;Cause I&#39;m your home, a place you can come to.&#39;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Deru mesin mobil mengisi keheninganku dan Aji. Ada tanya ku tergantung disana dan mungkin tanya Aji yang ikut serta didalamnya, bersama dengan semua kebetulan-kebetulan yang terjadi sebelumnya.</p>

<p>Namun setelah lima belas menit berlalu baik aku dan Aji sama-sama enggan bersuara, tidak tahu pasti apa yang ada dibenak nya saat ini tapi jika boleh berasumsi, mungkin Aji masih merasa keberatan dengan keberadaan ku yang lagi-lagi harus merepotkan nya dua kali untuk hari ini. Sebenarnya aku menyesal setelah sebelumnya menyumpah serapahi dia karena terlihat tidak ikhlas ketika mengantarku pergi survey. Meski untuk kebetulan kedua ini atas pesan dari Saga tetap saja rasanya kepalang malu dan sungkan bahkan untuk sekedar meminta maaf.</p>

<p>Satu dehaman dari kursi kemudi membuyarkan lamunan ku, Aji yang masih fokus pada setir akhirnya berinisiatif membuka percakapan,</p>

<p>“Temen nya, Mbak?”</p>

<p>“Bukan, Mas.”</p>

<p>Hening kembali. Tidak ada pertanyaan lain, Aji hanya mengangguk-ngangguk sambil mengetuk-ngetukan jari nya diatas kemudi, sebelum aku menambahkan jawaban Aji tiba-tiba berujar kembali,</p>

<p>“Hati-hati, Mbak.”</p>

<p>Bersamaan dengan Yaris putih yang kami tumpangi terhenti di sebuah persimpangan lampu merah dan disaat itu pula aku merasakan debaran tidak karuan yang membuat sebagian wajahku mendadak hangat. Aku tidak tahu ada makna apa dibalik kata-katanya barusan tapi mari berbaik sangka saja jika Aji hanya ingin memintaku untuk tetap waspada.</p>

<p>“Iya Mas, terimakasih.”</p>

<p>Entah cuma perasaan ku atau keadaan nya jadi makin canggung, sebelum lampu merah berubah menjadi hijau Aji lagi-lagi membuka obrolan,</p>

<p>“Boleh?” Tanya nya dengan satu tangan bersiap menyentuh layar  perangkat <em>audio player</em>  namun sebelum benar-benar menekan tombol <em>play</em> nya Aji memutar wajah nya untuk menatapku, “Kalo gak keberatan.”</p>

<p>“S-ssi-silahkan, Mas.”</p>

<p>Rasanya aku ingin berubah jadi <em>wiper</em> di detik berikut nya. Jawaban yang teramat sangat payah. Ya Tuhan, kenapa sih hamba harus ada di situasi seperti ini.</p>

<p>Terdengar kekehan kecil dari seberang sana kekehan yang hampir membuat jantung ku melorot hingga jatuh ke perut. Hiperbola memang, tapi respon nya itu membuatku mempertanyakan impresi seperti apa yang Aji tangkap tentang ku hingga harus ditertawakan? Apa aku terlihat bodoh karena bersikap demikian? Huh.</p>

<p>Sementara aku masih tenggelam bersama pikiran ku sendiri, <em>intro</em> lagu yang sangat familiar mulai terdengar membuat atensi ku teralihkan sepenuhnya, secara kebetulan lagu yang menjadi <em>on repeat</em> ku belakangan ini tiba-tiba di mainkan.</p>

<p>“Wah.. <em>You&#39;re My Home</em>..” Seru ku pelan sembari melihat judul serta nama penyanyi yang terpampang di <em>display audio player,</em> aku tersenyum lebar, lagu yang seakan merengkuhku kedalam peluk hangat setelah berjibaku menghadapi hari yang sangat melelahkan ini.</p>

<p>“Tau lagu nya, Mbak?”</p>

<p>Namun belum sempat menjawab pertanyaan Aji, bunyi notifikasi <em>chat</em> yang masuk sukses membuatku mematung beberapa saat,</p>

<p>Pesan dari Ibu.</p>

<p>Aku hanya berani melihat <em>preview</em> nya dari <em>lockscreen</em> saja, tanpa perlu membukanya bisa dipastikan aku akan berakhir mengenaskan didalam mobil dan menjadi tontonan Aji.</p>

<p>Chat lainnya masuk, kini dengan isi yang lebih menohok membuat kedua mata ku memanas, aku harus bersusah payah menahan tangis tapi sesak nya semakin menjadi dan tanpa disadari satu bulir air lolos meluncur dari ujung mata ku.</p>

<p><em><em>&#39;Things might seem hard but i&#39;ll always be here.&#39;
&#39;So, don&#39;t think too difficulty&#39;.</em></em></p>

<p>Alunan lagu Sadawira mengiringi pesan Ibu yang kian emosional dan mengharu biru, betapa kesepian dan sedih nya harus mulai hidup terbiasa terbentang jarak dengan rumah, dengan Surabaya dan juga dengan Ibu. Hari ini belum genap satu minggu tapi rindu untuk Ibu sudah sangat menggebu-gebu.</p>

<p>Aku menyerah untuk bertahan, bersama dengan tangis yang pecah ruah beserta semua perasaan-perasaan yang berkecamuk, tentang rumah, tentang belajar mandiri, tentang mencari uang, tentang menjadi tulang punggung, tentang kuat, tentang tanggung jawab, tentang Ibu dan tentang semua ketakutan ku.</p>

<p><em><em>&#39;Cause I&#39;m your home, a place you can come to.&#39;</em></em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://plutoprojector.writeas.com/kala-dan-rumahnya</guid>
      <pubDate>Sat, 22 Oct 2022 20:11:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>The Barriers.</title>
      <link>https://plutoprojector.writeas.com/the-barriers?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Gue terdiam memperhatikan Sabita dari kejauhan, perempuan itu benar-benar menunggu gue hingga hampir empat jam lamanya. Sibuk dengan laptop nya dibawah pohon beringin ditemani seorang penjual cuangki. &#xA;&#xA;Bukan cuma mendatangi geladiresik untuk wisuda esok hari tapi gue merasa jika ajakkan Sabita untuk bertemu lagi di Sabuga adalah sebagai bentuk wisata masa lalu karena dulu gue dan dia sering menghabiskan waktu di tempat ini, bertemankan dua mangkok cuangki dengan pemandangan orang-orang yang berolahraga di lapangan bola Sabuga, &#xA;&#xA;Sekelebat kenangan itu samar-samar terputar di kepala gue. Bagaimana gue akan menghadapi perpisahan jika kebiasaan-kebiasaan kecil yang sudah kami lalui saja terkunci begitu erat. &#xA;&#xA;Sabita melambaikan tangan nya, senyumnya merekah ketika mata kami akhirnya bertemu kembali. &#xA;&#xA;‘Apa masih ada kesedihan yang mengawang diantara binar mata itu?’&#xA;&#xA;Gumam gue meremas tote bag berisi jubah wisuda dan toga. Padahal dulu gue dan dia bermimpi untuk di wisuda di bulan yang sama dan setelah semuanya terwujud, giliran hubungan kami yang sudah tidak lagi sama-sama.&#xA;&#xA;&#34;Maaf ya Bi nunggu lama.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gapapa kok, disini wifi nya kenceng.&#34;&#xA;&#xA;Masih dengan senyum nya Sabita menjawab dengan lembut.&#xA;&#xA;Kondisi kami sudah bisa dikatakan lebih tenang dari pertemuan sebelumnya. Gue tidak bisa mengelak jika perasaan gue masih sama carut marut nya seperti kemarin, masih ingin gue rengkuh Sabita kedalam peluk gue sebelum ia pergi jauh, &#xA;&#xA;&#34;Ada apa, Bi?&#34;&#xA;&#xA;Angin berembus menerbangkan surai indah perempuan cantik itu, legam nya berkilauan dipantulkan sinar matahari yang menembus celah-celah pohon beringin. Oh jika gue bisa... ingin diikat nya rambut itu dengan karet rambut yang selalu gue bawa kemana-mana di saku celana, bahkan sampai sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Mau ngobrol aja sih, boleh?&#34;&#xA;&#xA; &#xA;Gue mengangguk lalu duduk disebelah Sabita, di dalam benak terbersit berbagai pertanyaan menebak-nebak jika Sabita memang sudah move on duluan, dibuktikan dengan tidak ada raut kesedihan di air muka nya. Rasanya pilu bagaimana hubungan yang bertahan hampir empat tahun itu sudah dilupakan nya hanya dalam kurun waktu dua bulan saja,&#xA;&#xA;&#34;Sebenernya aku udah gamau ngomongin ini lagi, tapi enaknya di bicarakan pake kepala dingin gak sih, Han? Dulu kan kita sama-sama lagi meledak.&#34;&#xA;&#xA;Jika keputusan akhir nya masih tetap sama, maka gue enggan melanjutkan obrolan ini dan memilih untuk pergi demi menyelamatkan mood gue untuk wisuda besok.&#xA;&#xA;&#34;Ya... boleh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maafin aku ya?&#34;&#xA;&#xA;Secepat kilat gue memutar kepala menghadap Sabita, ucapan nya begitu lirih hingga membuat gue waspada karena bisa saja percakapan ini memancing tangis terlebih untuk kami berdua,&#xA;&#xA;&#34;Feels like it isn&#39;t fair ya? Aku ngerasa kita gak punya salah sampe harus ngorbanin hubungan ini. But in the other hand, this is my fault too for not being honest and realistic about ourselvesㅡ&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bi..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cinta gak ada yang realistis.&#34;&#xA;&#xA;Told you, pasangan yang dimabuk asmara akan menaruh realistis dibawah segala nya. Sama seperti gue dan Bita ketika masih berstatus mahasiswa baru empat tahun lalu, bagaimana gue mempercayai bahwa cinta pada pandangan pertama itu memang benar ada nya, tidak hanya Bita bahkan teman-teman kelompok ospek kami saat itu tercengang ketika dengan tidak tahu malu nya gue menyatakan perasaan pada Bita lantang-lantang di hari terakhir inagurasi,&#xA;&#xA;&#34;Gak ada yang salah, Bi. Gak ada yang harus disalah kan juga, karena jalan nya emang harus begini aja. Masa kita mau nyalahin Tuhan kita masing-masing sih?&#34; Kekeh gue terdengar agak sarcastic, walaupun tidak ada yang bisa disalahkan tapi rasanya memang benar-benar nggak adil buat gue.&#xA;&#xA;&#34;Han... ih aku serius..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lah aku serius juga? Gini deh bi, aku beruntung karena bisa kenal sama kamu, menjadikan kamu bagian dari hidup aku dan hal-hal bahagia diluar semua keterbatasan kita.&#34; Tangan gue gatal ingin menangkup wajah nya yang memulai memerah itu, &#xA;&#xA;&#34;Cinta itu gak mengenal apa, siapa, bagaimana dan 5W+1H lainnya, Bi. Hubungan kita gak dibangun sama yang kayak begitu juga kan? Aneh kalo misalnya dulu pas PDKT aku tiba-tiba nanya soal agama, emang aku petugas disdukcapil apa?&#34;&#xA;&#xA;Gelak keluar dari mulut Sabita, sebisa mungkin gue tidak ingin menjadikan percakapan ini ber-genre angst, apalagi ini adalah pertemuan terakhir kami. Padahal kalau boleh jujur gue berusaha mati-matian menahan tangis dari tadi.&#xA;&#xA;&#34;But we lived in the barrier... don&#39;t we?&#34;&#xA;&#xA;Senyum gue memudar. Ucapan nya seperti memaksa gue untuk skak mat pada saat itu juga, gue terdiam semua kata-kata yang akan gue ucapkan lenyap begitu saja hingga membuat mulut gue bisu untuk bersuara,&#xA;&#xA;Damn it hubungan beda agama.&#xA;&#xA;&#34;Or maybe... we need realistic for this, Han.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yeah... perhaps..&#34;&#xA;&#xA;Jika disuruh memilih, sepertinya gue lebih mau jika membicarakan soal ini dalam keadaan emosi yang meluap-luap daripada dalam keadaan stabil tapi rasa sakit nya menyerang perlahan-lahan.&#xA;&#xA;&#34;Aku tau, manusia punya hak nya untuk memilih orang yang dia cintai, terlepas dari perbedaan suku, ras dan agama sekalipun. Kalo ambil studi kasus, banyak kok yang tetap bertahan sekalipun ada perbedaan, tapi bedanya kita gak bisa kayak gitu kan, Han?&#34;&#xA;&#xA;Sabita, if love is just bullshit that turns me into a dumbass who is not afraid of sins, i deff to choose stick with you and don&#39;t give a single fuck to our barriers.&#xA;&#xA;And it kinda make sense when i said love isn&#39;t realistic.&#xA;&#xA;&#34;It sounds pathetic...&#34;&#xA;&#xA;&#34;It is... tapi kita bisa apa, Han?&#34;&#xA;&#xA;Gue menelan ludah, sebelum Sabita melanjutkan ucapan nya gue mengalihkan pandangan kemana saja asal tidak beradu dengan kedua netra itu, takutnya gue yang akan hilang kendali duluan,&#xA;&#xA;&#34;Seenggaknya kita udah usaha, Han. Our four years were not in vain. Sama seperti yang kamu katakan tadi, aku juga beruntung kenal dan menjadikan kamu bahagia nya aku...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bi, don&#39;t make it hard...&#34; &#xA;&#xA;&#34;No, it&#39;s not. Bukan maksud aku jadi mempersulit perpisahan ini, tapiㅡokay perpisahan dimana-mana emang sulit, but i just explain as realistic as possible.” &#xA;&#xA;Suara Sabita kini terdengar putus asa, sama hal nya dengan gue. Jika memang baik nya harus seperti ini, dengan hati yang lapang gue bersedia untuk melepasnya… karena baik gue dan dia sama-sama tidak mau ada yang berubah.&#xA;&#xA;Demi keluarga...&#xA;Dan mungkin demi kami berdua...&#xA;&#xA;Probably. &#xA;&#xA;Masuk akal dan tidak masuk akal, bisa saja baik gue dan Bita tetap nekat dan mengorbankan semuanya demi hubungan ini, namun sekali lagi, agaknya halangan ini masih begitu besar untuk sekedar kami hadapi, untuk kami lewati.&#xA;&#xA;Lagi-lagi remuk, lagi-lagi pahit dan lagi-lagi mengulang sakit hati.&#xA;&#xA;Sore itu, dengan semburat jingga di bentang langit kota Bandung, tidak dengan dua mangkok cuangki tapi masih dibawah pohon beringin yang sama menjadi saksi bisu bahwasanya hubungan gue dan bita haruslah menemui akhir yang buntu.&#xA;&#xA;Sore itu, gue resmi melepas nya pergi jauh untuk tidak lagi gue rengkuh kedalam peluk gue kembali.&#xA;&#xA;Tenang dan tanpa air mata.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Gue terdiam memperhatikan Sabita dari kejauhan, perempuan itu benar-benar menunggu gue hingga hampir empat jam lamanya. Sibuk dengan laptop nya dibawah pohon beringin ditemani seorang penjual cuangki.</p>

<p>Bukan cuma mendatangi geladiresik untuk wisuda esok hari tapi gue merasa jika ajakkan Sabita untuk bertemu lagi di Sabuga adalah sebagai bentuk wisata masa lalu karena dulu gue dan dia sering menghabiskan waktu di tempat ini, bertemankan dua mangkok cuangki dengan pemandangan orang-orang yang berolahraga di lapangan bola Sabuga,</p>

<p>Sekelebat kenangan itu samar-samar terputar di kepala gue. Bagaimana gue akan menghadapi perpisahan jika kebiasaan-kebiasaan kecil yang sudah kami lalui saja terkunci begitu erat.</p>

<p>Sabita melambaikan tangan nya, senyumnya merekah ketika mata kami akhirnya bertemu kembali.</p>

<p>‘<em>Apa masih ada kesedihan yang mengawang diantara binar mata itu?’</em></p>

<p>Gumam gue meremas tote bag berisi jubah wisuda dan toga. Padahal dulu gue dan dia bermimpi untuk di wisuda di bulan yang sama dan setelah semuanya terwujud, giliran hubungan kami yang sudah tidak lagi sama-sama.</p>

<p>“Maaf ya Bi nunggu lama.”</p>

<p>“Gapapa kok, disini wifi nya kenceng.”</p>

<p>Masih dengan senyum nya Sabita menjawab dengan lembut.</p>

<p>Kondisi kami sudah bisa dikatakan lebih tenang dari pertemuan sebelumnya. Gue tidak bisa mengelak jika perasaan gue masih sama carut marut nya seperti kemarin, masih ingin gue rengkuh Sabita kedalam peluk gue sebelum ia pergi jauh,</p>

<p>“Ada apa, Bi?”</p>

<p>Angin berembus menerbangkan surai indah perempuan cantik itu, legam nya berkilauan dipantulkan sinar matahari yang menembus celah-celah pohon beringin. <em>Oh jika gue bisa...</em> ingin diikat nya rambut itu dengan karet rambut yang selalu gue bawa kemana-mana di saku celana, bahkan sampai sekarang.</p>

<p>“Mau ngobrol aja sih, boleh?”</p>

<p>Gue mengangguk lalu duduk disebelah Sabita, di dalam benak terbersit berbagai pertanyaan menebak-nebak jika Sabita memang sudah <em>move on</em> duluan, dibuktikan dengan tidak ada raut kesedihan di air muka nya. Rasanya pilu bagaimana hubungan yang bertahan hampir empat tahun itu sudah dilupakan nya hanya dalam kurun waktu dua bulan saja,</p>

<p>“Sebenernya aku udah gamau ngomongin ini lagi, tapi enaknya di bicarakan pake kepala dingin gak sih, Han? Dulu kan kita sama-sama lagi meledak.”</p>

<p>Jika keputusan akhir nya masih tetap sama, maka gue enggan melanjutkan obrolan ini dan memilih untuk pergi demi menyelamatkan mood gue untuk wisuda besok.</p>

<p>“Ya... boleh.”</p>

<p>“Maafin aku ya?”</p>

<p>Secepat kilat gue memutar kepala menghadap Sabita, ucapan nya begitu lirih hingga membuat gue waspada karena bisa saja percakapan ini memancing tangis terlebih untuk kami berdua,</p>

<p><em>“Feels like it isn&#39;t fair ya?</em> Aku ngerasa kita gak punya salah sampe harus ngorbanin hubungan ini. <em>But in the other hand, this is my fault too for not being honest and realistic about ourselvesㅡ</em>“</p>

<p>“Bi..”</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“Cinta gak ada yang realistis.”</p>

<p><em>Told you,</em> pasangan yang dimabuk asmara akan menaruh realistis dibawah segala nya. Sama seperti gue dan Bita ketika masih berstatus mahasiswa baru empat tahun lalu, bagaimana gue mempercayai bahwa cinta pada pandangan pertama itu memang benar ada nya, tidak hanya Bita bahkan teman-teman kelompok ospek kami saat itu tercengang ketika dengan tidak tahu malu nya gue menyatakan perasaan pada Bita lantang-lantang di hari terakhir inagurasi,</p>

<p>“Gak ada yang salah, Bi. Gak ada yang harus disalah kan juga, karena jalan nya emang harus begini aja. Masa kita mau nyalahin Tuhan kita masing-masing sih?” Kekeh gue terdengar agak <em>sarcastic</em>, walaupun tidak ada yang bisa disalahkan tapi rasanya memang benar-benar nggak adil buat gue.</p>

<p>“Han... ih aku serius..”</p>

<p>“Lah aku serius juga? Gini deh bi, aku beruntung karena bisa kenal sama kamu, menjadikan kamu bagian dari hidup aku dan hal-hal bahagia diluar semua keterbatasan kita.” Tangan gue gatal ingin menangkup wajah nya yang memulai memerah itu,</p>

<p>“Cinta itu gak mengenal apa, siapa, bagaimana dan 5W+1H lainnya, Bi. Hubungan kita gak dibangun sama yang kayak begitu juga kan? Aneh kalo misalnya dulu pas PDKT aku tiba-tiba nanya soal agama, emang aku petugas disdukcapil apa?”</p>

<p>Gelak keluar dari mulut Sabita, sebisa mungkin gue tidak ingin menjadikan percakapan ini <em>ber-genre angst</em>, apalagi ini adalah pertemuan terakhir kami. Padahal kalau boleh jujur gue berusaha mati-matian menahan tangis dari tadi.</p>

<p>“<em>But we lived in the barrier... don&#39;t we?”</em></p>

<p>Senyum gue memudar. Ucapan nya seperti memaksa gue untuk skak mat pada saat itu juga, gue terdiam semua kata-kata yang akan gue ucapkan lenyap begitu saja hingga membuat mulut gue bisu untuk bersuara,</p>

<p><em>Damn it hubungan beda agama.</em></p>

<p><em>“Or maybe... we need realistic for this, Han.”</em></p>

<p><em>“Yeah... perhaps..”</em></p>

<p>Jika disuruh memilih, sepertinya gue lebih mau jika membicarakan soal ini dalam keadaan emosi yang meluap-luap daripada dalam keadaan stabil tapi rasa sakit nya menyerang perlahan-lahan.</p>

<p>“Aku tau, manusia punya hak nya untuk memilih orang yang dia cintai, terlepas dari perbedaan suku, ras dan agama sekalipun. Kalo ambil studi kasus, banyak kok yang tetap bertahan sekalipun ada perbedaan, tapi bedanya kita gak bisa kayak gitu kan, Han?”</p>

<p><em>Sabita, if love is just bullshit that turns me into a dumbass who is not afraid of sins, i deff to choose stick with you and don&#39;t give a single fuck to our barriers.</em></p>

<p><em>And it kinda make sense when i said love isn&#39;t realistic</em>.</p>

<p><em>“It sounds pathetic...”</em></p>

<p><em>“It is...</em> tapi kita bisa apa, Han?”</p>

<p>Gue menelan ludah, sebelum Sabita melanjutkan ucapan nya gue mengalihkan pandangan kemana saja asal tidak beradu dengan kedua netra itu, takutnya gue yang akan hilang kendali duluan,</p>

<p>“Seenggaknya kita udah usaha, Han. <em>Our four years were not in vain.</em> Sama seperti yang kamu katakan tadi, aku juga beruntung kenal dan menjadikan kamu bahagia nya aku...”</p>

<p>“Bi, <em>don&#39;t make it hard...”</em></p>

<p>“<em>No, it&#39;s not.</em> Bukan maksud aku jadi mempersulit perpisahan ini, tapiㅡokay perpisahan dimana-mana emang sulit, <em>but i just explain as realistic as possible.</em>”</p>

<p>Suara Sabita kini terdengar putus asa, sama hal nya dengan gue. Jika memang baik nya harus seperti ini, dengan hati yang lapang gue bersedia untuk melepasnya… karena baik gue dan dia sama-sama tidak mau ada yang berubah.</p>

<p>Demi keluarga...
Dan mungkin demi kami berdua...</p>

<p><em>Probably</em>.</p>

<p>Masuk akal dan tidak masuk akal, bisa saja baik gue dan Bita tetap nekat dan mengorbankan semuanya demi hubungan ini, namun sekali lagi, agaknya halangan ini masih begitu besar untuk sekedar kami hadapi, untuk kami lewati.</p>

<p>Lagi-lagi remuk, lagi-lagi pahit dan lagi-lagi mengulang sakit hati.</p>

<p>Sore itu, dengan semburat jingga di bentang langit kota Bandung, tidak dengan dua mangkok cuangki tapi masih dibawah pohon beringin yang sama menjadi saksi bisu bahwasanya hubungan gue dan bita haruslah menemui akhir yang buntu.</p>

<p>Sore itu, gue resmi melepas nya pergi jauh untuk tidak lagi gue rengkuh kedalam peluk gue kembali.</p>

<p><em>Tenang dan tanpa air mata.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://plutoprojector.writeas.com/the-barriers</guid>
      <pubDate>Sun, 31 Jul 2022 16:48:02 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>hafidz: fall for you.</title>
      <link>https://plutoprojector.writeas.com/hafidz-fall-for-you?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Kadang gue tidak pernah menyangka jika cara kerja Semesta bisa menarik gue dalam sebuah kebingungan tidak berujung. Contoh keisengan Semesta yang tentunya merepotkan gue adalah bagaimana seorang perempuan bisa meluluh lantakkan dunia seorang Hafidz Frimawan seperti sekarang ini.&#xA;&#xA;Lucu ya. Awal yang gue kira hubungan profesional antara talent dan client menjadi suatu hal yang tidak bisa gue atasi dengan cara profesional lagi. Padahal yang punya prinsip; gak-akan-pernah-baper-pas-on duty tuh gue tapi memang bisa disimpulkan jika manusia sukanya minum ludah sendiri.&#xA;&#xA;Jasmine Amanda...&#xA;&#xA;Ah, kadang menyebut namanya aja bikin mulut gue mendadak kelu. Rasanya belum terbiasa (dan masih gak percaya) jika gue bisa jatuh hati pada entitas yang membuat gue hampir meregang nyawa.&#xA;&#xA;Kini, lagi-lagi gue harus bersusah payah untuk bersikap tenang dan tidak terlihat salah tingkah didepan dia karena, Demi Tuhan, Jasmine tampak lucu dengan rambut dikepang dua serta riasan sederhana membuat gue harus mengalihkan pandangan ke arah mana saja agar gue tidak bertatapan langsung dengan sepasang mata bulat lucu itu.&#xA;&#xA;&#34;Cip, itu namanya Oma siapa ya?&#34; Tanya nya dengan nada penasaran tapi begitu geli di telinga, rasanya seperti ada embusan angin yang tertiup dari arah kiri. Gue seperti baru tersadar jika suara Jasmine bisa selembut dan setenang itu,&#xA;&#xA;&#34;A- aah... i- itu.. anu-&#34; Kemampuan dasar gue sebagai mahluk hidup yaitu berbicara sepertinya dipertanyakan disini. Shit, ini nih yang gak bisa gue tolerir dari kasmaran adalah bumbu-bumbu bego yang membuat sebagian panca indra dan skill bersosialisasi jadi tumpul.&#xA;&#xA;Sekarang gue dan dia berada di panti werdha Bakti Senja, sebagai agenda akhir dari rangkaian boyfriend rent dengan periode paling panjang yang pernah gue handle ini gue mengajak dia untuk visit sekalian jenguk Oma dan Opa yang mungkin sudah beberapa minggu tidak pernah gue sambangi lagi. Gue gak yakin jika nantinya Jasmine akan nyaman berada diantara lansia-lansia ini, tapi semoga aja karena gue sudah memilih tempat yang setidaknya bisa didatangi orang baru yang mau bersosialisasi dengan para manula.&#xA;&#xA;Omong-omong soal Bakti Senja, panti yang menjadi comfort place gue ketika bertandang untuk visit mingguan, bukan berarti panti werdha yang lain tidak membuat gue nyaman namun Bakti Senja punya makna dan kesan tersendiri. Suatu kesempatan istimewa tentunya jika ada orang yang gue ajak kesini dan Jasmine lah yang beruntung diantara yang lainnya. &#xA;Bukan Farhan si presiden The Panas Tiris, bukan pula anak-anak Idiosin yang lain. Baru Jasmine. Dia yang pertama.&#xA;&#xA;&#34;Hmmm?&#34; Kepala nya memutar menghadap gue yang berada dibelakang nya, dan ya, satu umpatan kecil berhasil lolos dari mulut gue membuat raut wajah nya semakin lucu dalam jarak beberapa centi dari wajah gue, &#34;Kenapa Cip?&#34;&#xA;&#xA;Tanya nya lagi. Aduh, kenapa ya. Gak bisa banget nih begini masa iya ketika moment-moment cinta monyet kayak gini kilas balik soal dia yang secara sengaja masukin obat tidur kedalam whiskey gue tiba-tiba menghilang. Justru hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut kini digantikan oleh sensasi aneh yang mengalir dari ujung kepala hingga pangkal ulu hati- ah, mungkin jantung? Atau lambung? Entahlah, yang jelas dari dada hingga ke perut, gue bisa merasakan sensasi yang teramat geli.&#xA;&#xA;&#34;Na- na- namanya Oma Sinta! I- iya Oma Sinta. Hehehe, baru inget gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue denger loh, lo bilang shit kan tadi? Ada apa? Gue ada salah kah Cip?&#34;&#xA;&#xA;Argh, Jasmine. Mending lu mundurin dulu dah muka lu itu jangan sampe gue tiba-tiba kelepasan.&#xA;&#xA;&#34;Salah denger kali lu, Jas?&#34; Gue mengambil langkah mundur untuk sedikit menjauhi dia. Lalu Jasmine dengan sigap menghampiri Oma Sinta dengan senyuman manisnya,&#xA;&#xA;&#34;Oma~ Oma lagi apa?&#34; Butuh beberapa detik untuk gue bisa memproses pemandangan yang tentunya belum pernah gue lihat ini. Perempuan yang gue kira psiko ternyata bisa memperlihatkan sisi nya yang lain,&#xA;&#xA;&#34;Alah, ini teh siapa yah? Kok baru liat. Meni Geulis kieu.&#34;&#xA;&#xA;Satu tarikan diujung bibir gue. Betul, Oma Sinta berbicara fakta gue dua puluh juta persen setuju.&#xA;&#xA;&#34;Apa katanya, Cip?&#34; Ujar Jasmine tanpa melepaskan pandangan nya, gue lupa jika Jasmine bukan orang sunda tapi masa iya pujian sepopuler itu aja dia gak ngerti?&#xA;&#xA;&#34;Cantik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eee- eh..&#34; Gue mengusap tengkuk dengan panik, &#34;Kata Oma nya, lu cantik, Jas. Gitu hehe.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dih boong ya? Jangan mentang-mentang gue gak bisa bahasa sunda ya lo bisa boongin gue.&#34;&#xA;&#xA;YAELAH LU PAKE ACARA NGAMBEK-NGAMBEK LUCU BEGITU LAGI. NGEREPOTIN PERASAAN GUE AJA.&#xA;&#xA;Sesuatu dari dalam diri gue sedang berteriak ketika Jasmine merajuk dengan ekspresi lucu. Jika ada kamera disini mungkin dari tadi sudah gue lambaikan tangan tanda menyerah. Sesungguhnya, kelemahan terbesar gue adalah cewek agresif yang bisa jadi lucu dalam satu waktu. Mmm, mungkin Jasmine orang nya.&#xA;&#xA;&#34;Eh, enggak neng, bener itu kata Acip. Kamu teh geulis, indonesia nya mah kamu itu cantik.&#34;&#xA;&#xA;Baru dari situ si perempuan yang Oma panggil cantik itu bisa tersenyum. Senyum yang lagi-lagi gue akui jika itu adalah senyum paling manis yang pernah gue lihat.&#xA;&#xA;&#34;Hehehe Oma bisa aja. Makasih yah Oma.&#34; Gue pikir Jasmine berkenalan dengan orang yang tepat, karena Oma Sinta memang terkenal friendly dengan orang baru dan gue tidak kaget juga jika beliau mudah akrab bersama Jasmine.&#xA;&#xA;Dari hati gue yang paling dalam, semoga diajaknya Jasmine kesini bukan semata-mata untuk jadi last service gue sebagai cowok boongan nya, jauh dari itu, gue harap Jasmine bisa lebih merasa dicintai oleh orang-orang disekitarnya seperti sekarang ini,&#xA;&#xA;Termasuk juga bisa dicintai oleh dirinya sendiri.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Tigapuluh menit berlalu, gue meninggalkan Jasmine bersama Oma Sinta karena tadi gue harus dipanggil oleh pihak panti untuk membahas kelanjutan program kerja dari Idiosinkrasi yang memilih Bakti Senja menjadi salah satu panti binaan nya,&#xA;&#xA;&#34;Jas...&#34;&#xA;&#xA;Panggil gue lirih melihat Jasmine menangis tersedu-sedu sambil dipeluk Oma Sinta. Begitu pilu dan hangat di saat bersamaan. Moment yang mungkin belum pernah dia rasakan, dimana sosok Ibu begitu jauh dari jangkauan nya. Walaupun gue tidak tahu apa yang mereka bicarakan hingga Jasmine bisa selepas itu untuk menangis, tapi seolah ngilu nya bisa gue rasakan dengan amat nyata, bagaimana Jasmine menanggung luka-luka nya sendirian tanpa sosok yang seharusnya jadi panutan, agaknya mendambakan hidup tenang saja bagi Jasmine adalah sebuah kemewahan. &#xA;&#xA;Jasmine, seberat dan sebanyak apapun luka yang lu tanggung semoga semuanya bisa terbalas menjadi hal-hal indah yang bisa lu syukuri untuk terus memaknai hidup.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Tadi ngomongin apaan sama Oma? Sampe nangis-nangis begitu?&#34;&#xA;&#xA;Angin malam Lembang menerpa lembut wajah gue, dihadapan kelap-kelip lampu, yang terlihat seperti hamparan langit bertabur bintang dari kejauhan. Gue mengajak dia ke bukit Moko, duduk diatas bangku kayu dengan dua cangkir bandrek hangat, melihat night view kota Bandung dari ketinggian, dengan harapan bisa membuat perasaannya sedikit membaik.&#xA;&#xA;&#34;Banyak.&#34; Dia menyesap bandrek dari cangkir berwarna putih itu, lalu kembali memeluk kedua lututnya menatap hamparan lampu-lampu itu dengan tatapan sendu, &#34;Mami, Papi dan hidup gue.&#34;&#xA;&#xA;Sebenarnya, gue tidak mau jika harus bertanya kembali tentang hal-hal yang mungkin sudah ia kubur dalam-dalam dibagian mana saja pada hati nya, karena gue tahu betul mengorek kenangan-kenangan menyakitkan sama saja me-reka adegan seperti sebuah roll film yang berputar pada ingatan.&#xA;&#xA;&#34;It feels like i don&#39;t deserve everything in this world. Semuanya jadi terasa asing, Cip. Bahkan orangtua gue sendiri. Rasanya hanya raga gue aja yang hidup, perasaan gue udah mati.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jas-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue masih ingat dengan jelas gimana Mami nyalahin gue karena Michael minta putus, padahal posisi nya udah jelas kalo Michael did a harassment. Isn&#39;t that funny, Cip? Mami yang gue kira adalah orang yang sangat menyayangi gue tega ngelakuin itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Papi? Papi lu gimana emang?&#34; Kayaknya udah kagok juga, suasana nya lagi deeptalk begini sekalian gue tanya-tanya yang lain biar dia nya juga lega bisa ngeluarin semua beban-beban yang selama ini menyesakkan dada nya,&#xA;&#xA;&#34;Gak ada yang bisa diharepin lagi, Cip. Justru papi yang gue benci pertama kali. Dari kecil gue gak deket sama dia- Oh, bahkan waktu kecil gue di asuh mbok Yati yang udah berpuluh-puluh tahun kerja di rumah, jadi bisa lo liat sendiri lah ya tadi, gue kayak ngeliat sosok mbok Yati pas liat Oma Sinta.&#34; Jasmine merapatkan pelukan pada lututnya, tersenyum getir dengan udara yang semakin dingin,&#xA;&#xA;&#34;Orangtua gue mana pernah peduli.&#34;&#xA;&#xA;Perih, gue bisa melihat gurat penuh kekecewaan terpancar dari tatapan sendu nya,&#xA;&#xA;&#34;That&#39;s why you work as model and stuff to provide your own life. Am i right?&#34;&#xA;&#xA;Dia mengangguk. &#xA;&#xA;&#34;And also, your relationship with Arumi-&#34;&#xA;&#xA;Keceplosan, harusnya gue tidak bertanya hal-hal percintaan nya itu, karena urusan orientasi seksual seseorang bukanlah jadi sesuatu yang harus dijelaskan pada semua orang, &#xA;&#xA;&#34;You right, Cip. Gara-gara harassment itu gue menganggap semua cowok sama sampahnya kayak Michael. Dari situ juga gue dipertemukan sama Arumi. We connected to the each other. Rasanya sebagian dari diri gue yang hilang bisa lengkap ketika sama Arumi and i don&#39;t know it turned out to be romantically ships.&#34;&#xA;&#xA;Kini giliran gue yang mengangguk. Asumsi gue ternyata benar, hal yang terjadi pada Jasmine ini memang tercetus karena adanya kebencian pada lawan jenis. Jika Jasmine melakukan ini hanya untuk melampiaskan lukanya... gue kurang yakin juga dengan itu.&#xA;&#xA;&#34;You love her- i mean, Arumi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maybe for some purposes...&#34; Jasmine beralih menatap gue ragu, &#34;Mungkin aja gue gak pernah benar-benar mencintai Arumi sebagaimana seseorang yang harus gue cintai.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Masih berpikir semua cowok sama sampah nya kayak mantan lu itu?&#34;&#xA;&#xA;Suara gue jadi lebih parau, mungkin karena udara dingin yang makin mencekat.&#xA;&#xA;&#34;Cip...&#34; Jasmine menggigit bibir bawah nya, dengan penuh kebimbangan Jasmine mungkin menghindari pertanyaan gue itu. Jelas, luka nya memang belum benar-benar pulih dan hal ini tidak lantas membuat gue terburu-buru untuk menjadi sosok penyelamat yang menarik tangan nya dari tempat gelap ke tempat benderang. Konsep nya tidak sesederhana itu, &#34;Gue gatau.&#34;&#xA;&#xA;Gue menatap nya dalam. Kesedihan masih ada diujung netra perempuan itu.&#xA;&#xA;Kepala gue mendadak jadi berat. Rasanya seperti ada puluhan batu-batu asteroid yang berjatuhan menerpa seluruh badan gue. Pulang dari sini gue bisa saja pilek gara-gara kelamaan kena angin malam.&#xA;&#xA;&#34;Lu sangat amat berhak untuk dicintai, Jas. Bahkan jika tidak ada yang bisa lu cintai, lu masih punya diri lu sendiri.&#34; Ada dorongan yang membuat gue tiba-tiba memajukan badan untuk mengikis jarak diantara kami berdua. Gue sudah tidak bisa merasakan lagi deg-degan ataupun perasaan salah tingkah lainnya ketika gue bisa melihat dengan sangat jelas wajah dia yang memerah menahan tangis,&#xA;&#xA;&#34;Dan juga gue...&#34;&#xA;&#xA;Gue tatap mata nya dengan teduh, beralih menatap bibir ranum merah ceri nya yang sejak siang membuat gue salah fokus. Entah dorongan dari mana gue semakin berani untuk menangkup wajah nya dengan kedua tangan gue, mencoba menyalurkan hangat untuk setidaknya membuat dia tidak terlalu kedinginan,&#xA;&#xA;Perasaan bandrek yang gua pesan tadi gak dimasukin apa-apa tapi sensasi nya mirip ketika whiskey yang gue minum dicampuri obat tidur tempo hari lalu. Gravitasi seperti menipis dan dengan kesadaran yang masih dipertanyakan,&#xA;&#xA;I kissed her.&#xA;&#xA;Bibir merah ceri itu terasa begitu nyata ketika bersentuhan dengan bibir gue yang dingin.&#xA;&#xA;Manis dan lembut.&#xA;&#xA;Sebelum benar-benar tidak sadar dengan situasi ini, hal terakhir yang gue ingat adalah bagaimana airmata nya yang meluruh jatuh ikut membasahi pipi gue.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Kadang gue tidak pernah menyangka jika cara kerja Semesta bisa menarik gue dalam sebuah kebingungan tidak berujung. Contoh keisengan Semesta yang tentunya merepotkan gue adalah bagaimana seorang perempuan bisa meluluh lantakkan dunia seorang Hafidz Frimawan seperti sekarang ini.</p>

<p>Lucu ya. Awal yang gue kira hubungan profesional antara <em>talent</em> dan <em>client</em> menjadi suatu hal yang tidak bisa gue atasi dengan cara profesional lagi. Padahal yang punya prinsip; <em>gak-akan-pernah-baper-pas-on duty</em> tuh gue tapi memang bisa disimpulkan jika manusia sukanya minum ludah sendiri.</p>

<p><em>Jasmine Amanda...</em></p>

<p>Ah, kadang menyebut namanya aja bikin mulut gue mendadak kelu. Rasanya belum terbiasa (dan masih gak percaya) jika gue bisa jatuh hati pada entitas yang membuat gue hampir meregang nyawa.</p>

<p>Kini, lagi-lagi gue harus bersusah payah untuk bersikap tenang dan tidak terlihat salah tingkah didepan dia karena, Demi Tuhan, Jasmine tampak lucu dengan rambut dikepang dua serta riasan sederhana membuat gue harus mengalihkan pandangan ke arah mana saja agar gue tidak bertatapan langsung dengan sepasang mata bulat lucu itu.</p>

<p>“Cip, itu namanya Oma siapa ya?” Tanya nya dengan nada penasaran tapi begitu geli di telinga, rasanya seperti ada embusan angin yang tertiup dari arah kiri. Gue seperti baru tersadar jika suara Jasmine bisa selembut dan setenang itu,</p>

<p>“A- aah... i- itu.. anu-” Kemampuan dasar gue sebagai mahluk hidup yaitu berbicara sepertinya dipertanyakan disini. <em>Shit</em>, ini nih yang gak bisa gue tolerir dari kasmaran adalah bumbu-bumbu bego yang membuat sebagian panca indra dan <em>skill</em> bersosialisasi jadi tumpul.</p>

<p>Sekarang gue dan dia berada di panti werdha Bakti Senja, sebagai agenda akhir dari rangkaian <em>boyfriend rent</em> dengan periode paling panjang yang pernah gue <em>handle</em> ini gue mengajak dia untuk <em>visit</em> sekalian jenguk Oma dan Opa yang mungkin sudah beberapa minggu tidak pernah gue sambangi lagi. Gue gak yakin jika nantinya Jasmine akan nyaman berada diantara lansia-lansia ini, tapi semoga aja karena gue sudah memilih tempat yang setidaknya bisa didatangi orang baru yang mau bersosialisasi dengan para manula.</p>

<p>Omong-omong soal Bakti Senja, panti yang menjadi <em>comfort place</em> gue ketika bertandang untuk <em>visit</em> mingguan, bukan berarti panti werdha yang lain tidak membuat gue nyaman namun Bakti Senja punya makna dan kesan tersendiri. Suatu kesempatan istimewa tentunya jika ada orang yang gue ajak kesini dan Jasmine lah yang beruntung diantara yang lainnya.
Bukan Farhan si presiden The Panas Tiris, bukan pula anak-anak Idiosin yang lain. Baru Jasmine. Dia yang pertama.</p>

<p>“Hmmm?” Kepala nya memutar menghadap gue yang berada dibelakang nya, dan ya, satu umpatan kecil berhasil lolos dari mulut gue membuat raut wajah nya semakin lucu dalam jarak beberapa centi dari wajah gue, “Kenapa Cip?”</p>

<p>Tanya nya lagi. Aduh, kenapa ya. Gak bisa banget nih begini masa iya ketika moment-moment cinta monyet kayak gini kilas balik soal dia yang secara sengaja masukin obat tidur kedalam whiskey gue tiba-tiba menghilang. Justru hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut kini digantikan oleh sensasi aneh yang mengalir dari ujung kepala hingga pangkal ulu hati- ah, mungkin jantung? Atau lambung? Entahlah, yang jelas dari dada hingga ke perut, gue bisa merasakan sensasi yang teramat geli.</p>

<p>“Na- na- namanya Oma Sinta! I- iya Oma Sinta. Hehehe, baru inget gue.”</p>

<p>“Gue denger loh, lo bilang <em>shit</em> kan tadi? Ada apa? Gue ada salah kah Cip?”</p>

<p><em>Argh, Jasmine. Mending lu mundurin dulu dah muka lu itu jangan sampe gue tiba-tiba kelepasan.</em></p>

<p>“Salah denger kali lu, Jas?” Gue mengambil langkah mundur untuk sedikit menjauhi dia. Lalu Jasmine dengan sigap menghampiri Oma Sinta dengan senyuman manisnya,</p>

<p>“Oma~ Oma lagi apa?” Butuh beberapa detik untuk gue bisa memproses pemandangan yang tentunya belum pernah gue lihat ini. Perempuan yang gue kira psiko ternyata bisa memperlihatkan sisi nya yang lain,</p>

<p>“Alah, ini teh siapa yah? Kok baru liat. <em>Meni Geulis kieu.</em>“</p>

<p>Satu tarikan diujung bibir gue. Betul, Oma Sinta berbicara fakta gue dua puluh juta persen setuju.</p>

<p>“Apa katanya, Cip?” Ujar Jasmine tanpa melepaskan pandangan nya, gue lupa jika Jasmine bukan orang sunda tapi masa iya pujian sepopuler itu aja dia gak ngerti?</p>

<p>“Cantik.”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>“Eee- eh..” Gue mengusap tengkuk dengan panik, “Kata Oma nya, lu cantik, Jas. Gitu hehe.”</p>

<p>“Dih boong ya? Jangan mentang-mentang gue gak bisa bahasa sunda ya lo bisa boongin gue.”</p>

<p><em>YAELAH LU PAKE ACARA NGAMBEK-NGAMBEK LUCU BEGITU LAGI. NGEREPOTIN PERASAAN GUE AJA.</em></p>

<p>Sesuatu dari dalam diri gue sedang berteriak ketika Jasmine merajuk dengan ekspresi lucu. Jika ada kamera disini mungkin dari tadi sudah gue lambaikan tangan tanda menyerah. Sesungguhnya, kelemahan terbesar gue adalah cewek agresif yang bisa jadi lucu dalam satu waktu. Mmm, mungkin Jasmine orang nya.</p>

<p>“Eh, enggak neng, bener itu kata Acip. Kamu <em>teh geulis</em>, indonesia nya <em>mah</em> kamu itu cantik.”</p>

<p>Baru dari situ si perempuan yang Oma panggil cantik itu bisa tersenyum. Senyum yang lagi-lagi gue akui jika itu adalah senyum paling manis yang pernah gue lihat.</p>

<p>“Hehehe Oma bisa aja. Makasih yah Oma.” Gue pikir Jasmine berkenalan dengan orang yang tepat, karena Oma Sinta memang terkenal <em>friendly</em> dengan orang baru dan gue tidak kaget juga jika beliau mudah akrab bersama Jasmine.</p>

<p>Dari hati gue yang paling dalam, semoga diajaknya Jasmine kesini bukan semata-mata untuk jadi <em>last service</em> gue sebagai cowok boongan nya, jauh dari itu, gue harap Jasmine bisa lebih merasa dicintai oleh orang-orang disekitarnya seperti sekarang ini,</p>

<p>Termasuk juga bisa dicintai oleh dirinya sendiri.</p>

<hr/>

<p>Tigapuluh menit berlalu, gue meninggalkan Jasmine bersama Oma Sinta karena tadi gue harus dipanggil oleh pihak panti untuk membahas kelanjutan program kerja dari Idiosinkrasi yang memilih Bakti Senja menjadi salah satu panti binaan nya,</p>

<p>“Jas...”</p>

<p>Panggil gue lirih melihat Jasmine menangis tersedu-sedu sambil dipeluk Oma Sinta. Begitu pilu dan hangat di saat bersamaan. Moment yang mungkin belum pernah dia rasakan, dimana sosok Ibu begitu jauh dari jangkauan nya. Walaupun gue tidak tahu apa yang mereka bicarakan hingga Jasmine bisa selepas itu untuk menangis, tapi seolah ngilu nya bisa gue rasakan dengan amat nyata, bagaimana Jasmine menanggung luka-luka nya sendirian tanpa sosok yang seharusnya jadi panutan, agaknya mendambakan hidup tenang saja bagi Jasmine adalah sebuah kemewahan.</p>

<p><em>Jasmine, seberat dan sebanyak apapun luka yang lu tanggung semoga semuanya bisa terbalas menjadi hal-hal indah yang bisa lu syukuri untuk terus memaknai hidup.</em></p>

<hr/>

<p>“Tadi ngomongin apaan sama Oma? Sampe nangis-nangis begitu?”</p>

<p>Angin malam Lembang menerpa lembut wajah gue, dihadapan kelap-kelip lampu, yang terlihat seperti hamparan langit bertabur bintang dari kejauhan. Gue mengajak dia ke bukit Moko, duduk diatas bangku kayu dengan dua cangkir bandrek hangat, melihat <em>night view</em> kota Bandung dari ketinggian, dengan harapan bisa membuat perasaannya sedikit membaik.</p>

<p>“Banyak.” Dia menyesap bandrek dari cangkir berwarna putih itu, lalu kembali memeluk kedua lututnya menatap hamparan lampu-lampu itu dengan tatapan sendu, “Mami, Papi dan hidup gue.”</p>

<p>Sebenarnya, gue tidak mau jika harus bertanya kembali tentang hal-hal yang mungkin sudah ia kubur dalam-dalam dibagian mana saja pada hati nya, karena gue tahu betul mengorek kenangan-kenangan menyakitkan sama saja me-reka adegan seperti sebuah <em>roll film</em> yang berputar pada ingatan.</p>

<p><em>“It feels like i don&#39;t deserve everything in this world.</em> Semuanya jadi terasa asing, Cip. Bahkan orangtua gue sendiri. Rasanya hanya raga gue aja yang hidup, perasaan gue udah mati.”</p>

<p>“Jas-”</p>

<p>“Gue masih ingat dengan jelas gimana Mami nyalahin gue karena Michael minta putus, padahal posisi nya udah jelas kalo Michael <em>did a harassment.</em> <em>Isn&#39;t that funny, Cip?</em> Mami yang gue kira adalah orang yang sangat menyayangi gue tega ngelakuin itu.”</p>

<p>“Papi? Papi lu gimana emang?” Kayaknya udah kagok juga, suasana nya lagi <em>deeptalk</em> begini sekalian gue tanya-tanya yang lain biar dia nya juga lega bisa ngeluarin semua beban-beban yang selama ini menyesakkan dada nya,</p>

<p>“Gak ada yang bisa diharepin lagi, Cip. Justru papi yang gue benci pertama kali. Dari kecil gue gak deket sama dia- Oh, bahkan waktu kecil gue di asuh mbok Yati yang udah berpuluh-puluh tahun kerja di rumah, jadi bisa lo liat sendiri lah ya tadi, gue kayak ngeliat sosok mbok Yati pas liat Oma Sinta.” Jasmine merapatkan pelukan pada lututnya, tersenyum getir dengan udara yang semakin dingin,</p>

<p>“Orangtua gue mana pernah peduli.”</p>

<p>Perih, gue bisa melihat gurat penuh kekecewaan terpancar dari tatapan sendu nya,</p>

<p><em>“That&#39;s why you work as model and stuff to provide your own life. Am i right?”</em></p>

<p>Dia mengangguk.</p>

<p><em>“And also, your relationship with Arumi-”</em></p>

<p>Keceplosan, harusnya gue tidak bertanya hal-hal percintaan nya itu, karena urusan orientasi seksual seseorang bukanlah jadi sesuatu yang harus dijelaskan pada semua orang,</p>

<p><em>“You right, Cip.</em> Gara-gara <em>harassment</em> itu gue menganggap semua cowok sama sampahnya kayak Michael. Dari situ juga gue dipertemukan sama Arumi. <em>We connected to the each other.</em> Rasanya sebagian dari diri gue yang hilang bisa lengkap ketika sama Arumi <em>and i don&#39;t know it turned out to be romantically ships.</em>“</p>

<p>Kini giliran gue yang mengangguk. Asumsi gue ternyata benar, hal yang terjadi pada Jasmine ini memang tercetus karena adanya kebencian pada lawan jenis. Jika Jasmine melakukan ini hanya untuk melampiaskan lukanya... gue kurang yakin juga dengan itu.</p>

<p><em>“You love her- i mean, Arumi?</em>“</p>

<p><em>“Maybe for some purposes...”</em> Jasmine beralih menatap gue ragu, “Mungkin aja gue gak pernah benar-benar mencintai Arumi sebagaimana seseorang yang harus gue cintai.”</p>

<p>“Masih berpikir semua cowok sama sampah nya kayak mantan lu itu?”</p>

<p>Suara gue jadi lebih parau, mungkin karena udara dingin yang makin mencekat.</p>

<p>“Cip...” Jasmine menggigit bibir bawah nya, dengan penuh kebimbangan Jasmine mungkin menghindari pertanyaan gue itu. Jelas, luka nya memang belum benar-benar pulih dan hal ini tidak lantas membuat gue terburu-buru untuk menjadi sosok penyelamat yang menarik tangan nya dari tempat gelap ke tempat benderang. Konsep nya tidak sesederhana itu, “Gue gatau.”</p>

<p>Gue menatap nya dalam. Kesedihan masih ada diujung netra perempuan itu.</p>

<p>Kepala gue mendadak jadi berat. Rasanya seperti ada puluhan batu-batu asteroid yang berjatuhan menerpa seluruh badan gue. Pulang dari sini gue bisa saja pilek gara-gara kelamaan kena angin malam.</p>

<p>“Lu sangat amat berhak untuk dicintai, Jas. Bahkan jika tidak ada yang bisa lu cintai, lu masih punya diri lu sendiri.” Ada dorongan yang membuat gue tiba-tiba memajukan badan untuk mengikis jarak diantara kami berdua. Gue sudah tidak bisa merasakan lagi deg-degan ataupun perasaan salah tingkah lainnya ketika gue bisa melihat dengan sangat jelas wajah dia yang memerah menahan tangis,</p>

<p>“Dan juga gue...”</p>

<p>Gue tatap mata nya dengan teduh, beralih menatap bibir ranum merah ceri nya yang sejak siang membuat gue salah fokus. Entah dorongan dari mana gue semakin berani untuk menangkup wajah nya dengan kedua tangan gue, mencoba menyalurkan hangat untuk setidaknya membuat dia tidak terlalu kedinginan,</p>

<p>Perasaan bandrek yang gua pesan tadi gak dimasukin apa-apa tapi sensasi nya mirip ketika whiskey yang gue minum dicampuri obat tidur tempo hari lalu. Gravitasi seperti menipis dan dengan kesadaran yang masih dipertanyakan,</p>

<p><em>I kissed her.</em></p>

<p>Bibir merah ceri itu terasa begitu nyata ketika bersentuhan dengan bibir gue yang dingin.</p>

<p><em>Manis dan lembut.</em></p>

<p>Sebelum benar-benar tidak sadar dengan situasi ini, hal terakhir yang gue ingat adalah bagaimana airmata nya yang meluruh jatuh ikut membasahi pipi gue.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://plutoprojector.writeas.com/hafidz-fall-for-you</guid>
      <pubDate>Thu, 19 May 2022 13:17:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Farhan: Between Two Walls.</title>
      <link>https://plutoprojector.writeas.com/farhan-between-two-walls?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sabita menghampiri gue dengan langkah tergesa, dari radius dua meter pun gue bisa merasakan jika perempuan itu menyimpan sejuta tanya untuk gue jawab dan jelaskan.&#xA;Gue menghabiskan sisa air mineral yang kebetulan gue beli di warung tempat gue berada sekarang, setelah insiden di rumah Sabita tadi energi gue benar-benar terkuras ditambah mungkin setelah ini Joshua akan mengirimi gue pesan singkat perihal tagihan kerusakan spion yang tidak sengaja gue patahkan itu.&#xA;&#xA;Kedua mata kami bertemu. Pada legam netra nya terselip sebuah kesedihan yang mendalam. Getar nya terasa hingga ulu hati gue ikut ngilu mengingat ketololan gue lah yang membuat dia seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Bi..&#34;&#xA;&#xA;Panggil gue lirih, rasanya seperti sudah satu dasawarsa gue tidak melihat dia. Ada perasaan yang berkecamuk, ingin membayar semua kerinduan ini dengan tuntas tapi di satu sisi situasi yang tidak mendukung membuat gue terpaksa memendamnya—hingga waktu yang tidak bisa gue prediksikan kapan datang saatnya,&#xA;&#xA;Atau mungkin memang tidak akan pernah terjadi karena kami terlanjur menemui ujung dari buntu nya semua keresahan.&#xA;&#xA;Hanya ada respon dingin dan asing yang mengisi keheningan kami, gue belum pernah se-canggung ini ketika bertemu Sabita, lidah gue seperti kelu untuk melontarkan kalimat-kalimat lain karena rasanya gue seperti tersangka yang akan diadili dengan hukum cambuk sebagai ganjaran nya,&#xA;&#xA;&#34;Aku bilang kan gak usah kesini. Joshua nya jadi kamu tinggal.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Farhan stop?&#34;&#xA;&#xA;Atau mungkin hukuman mati? Karena demi Tuhan, Farhan you fucking stupid! malah kalimat terlarang itu yang gue ucapkan.&#xA;&#xA;&#34;Maaf.&#34; Ujar gue penuh penyesalan, saat ini gue malah makin menciut takut jika gue kembali bersuara keadaan nya bisa saja makin keruh.&#xA;&#xA;&#34;Kamu masih bisa bawa-bawa Joshua? Di situasi kayak begini?&#34; Perempuan itu menghela nafas nya kasar, menyibakkan rambut panjang nya ke belakang, ingin sekali gue ikatkan dengan ikat rambut yang selalu gue bawa di saku celana, seperti kebiasaan yang selalu gue lakukan dulu ketika melihat Sabita menggerai rambut nya.&#xA;&#xA;&#34;Bi aku—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu kenapa pergi sama Tera gak bilang dulu sama aku?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku kira kamu lagi gak pengen diganggu makanya aku gak bilang.&#34;&#xA;&#xA;Sabita melebarkan matanya, menatap gue tidak percaya dengan mulut sedikit terbuka. Please, hanya ini yang bisa gue lakukan untuk setidaknya sedikit mempertahankan harga diri gue sebelum gue benar-benar di caci maki oleh dia, sebuah upaya pembelaan diri yang sebenarnya jika dilihat dari sudut pandang mana pun tetaplah gue yang salah,&#xA;&#xA;Dan gue memang mengakuinya.&#xA;&#xA;&#34;Yang tiba-tiba susah dihubungi tuh siapa? Chat bahkan telfon aku selalu kamu hindarin, Han. Kamu ngerasa gak sih? Sampe kapan aku harus ngemaklumin sikap kamu?&#34;&#xA;&#xA;Sabita meledak dengan rentetan pertanyaan yang sangat menyudutkan gue. Hati gue benar-benar perih, bukan dengan kata-katanya—karena semua yang dia ucapkan memang sebuah kebenaran, tapi cara ia marah dan cara ia menatap gue sekarang adalah hal yang tidak pernah gue lihat sebelumnya.&#xA;&#xA;&#34;Setidaknya beresin dulu semuanya. Aku gak mau kalo kita udahan dengan cara yang gak jelas kayak begini.&#34;&#xA;&#xA;Beberapa manusia memilih menghindari suatu masalah untuk tetap merasa aman tanpa tahu jika ada manusia lain juga yang digantung oleh ketidakpastian.&#xA;&#xA;Gue memang benar-benar sebrengsek itu.&#xA;&#xA;&#34;Aku bener-bener pengecut ya, Bi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yes you are.&#34;&#xA;&#xA;Cairan bening di pelupuk matanya sudah bisa menyimpulkan perasaan seperti apa yang Sabita rasakan saat ini. Ingin gue tarik tangan nya lalu gue rengkuh tubuh nya yang terlihat rapuh itu kedalam pelukan gue, tapi sekali lagi...&#xA;&#xA;Gue bahkan tidak ada kuasa untuk melakukan itu.&#xA;&#xA;&#34;Seharusnya kita udah tau gak sih kalo semua ini bakal dibawa kemana pada akhirnya?&#34; Lanjutnya dengan suara sedikit tercekat, masih mati-matian menahan tangis,&#xA;&#xA;&#34;There is a way, Bi.&#34;&#xA;&#xA;A stupid denial.&#xA;&#xA;&#34;A way? Jalan yang kayak gimana yang kamu maksud, Han? It&#39;s not working anymore kamu tau gak? Kamu bahkan selalu kabur disaat aku lagi butuh jawaban.&#34;&#xA;&#xA;A stupid denial that kills me inside.&#xA;&#xA;&#34;Although we never said it to each other, I think we both know...&#34; Gue menghela nafas panjang, &#34;The ending.&#34;&#xA;&#xA;&#34;You&#39;re right. We both know everything. The possibilities that don&#39;t ever happen to us.&#34;&#xA;&#xA;Tears are meltdown through her cheeks. Jika memang ini akhirnya, gue tidak mau kalau harus melihat Sabita menangis bahkan untuk yang terakhir kali. Walaupun hati gue benar-benar berontak menyangkal semua prasangka-prasangka buruk yang akan segera terjadi tapi nalar gue merasa perlu untuk tetap rasional, karena baik gue dan Sabita tidak akan pernah menemukan terang yang sama.&#xA;&#xA;Karena kami memang sudah berbeda di awal.&#xA;&#xA;&#34;Kita bakal nabung sakit hati kalo terlalu lama. Mau dipertahanin pun ujung-ujung nya bakal kayak gini juga. Aku gak mau ada yang berubah, begitupun kamu. Maaf, kalo aku ngelakuin hal-hal nyebelin dulu—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biar aku kecewa terus kita pisah dengan mudah?&#34;&#xA;&#xA;Gue benar-benar tertohok. Lagi-lagi jawabannya tepat sasaran.&#xA;&#xA;&#34;Pertama kamu emang bener-bener pengecut dan kedua...&#34; Ucapan nya tertahan, mengigit bibir bawah nya berusaha untuk tidak menangis padahal air mata nya sudah mengalir di pipi bersemu merah itu, &#34;Dan yang kedua.... kamu berhasil bikin aku kecewa.&#34;&#xA;&#xA;Botol air mineral yang sudah gue habiskan isinya tadi remuk karena gue cengkram terlalu kuat. Dada gue benar-benar sesak, karena niat awal kedatangan gue menemui Sabita adalah untuk meluruskan apa yang seharusnya diluruskan. Kembali bersembunyi dalam kebahagiaan semu, yang kami gunakan untuk menutupi semua kemungkinan-kemungkinan paling menyakitkan seperti hal nya perpisahan.&#xA;&#xA;Mata gue menangkap bayangan seseorang di ujung jalan, walaupun hanya disinari remang nya cahaya lampu gue bisa dengan yakin menjawab jika itu adalah Joshua. Berdiri melihat kami berdua, mungkin khawatir karena ditinggal Sabita terlalu lama, mungkin juga untuk menjemput Sabita kembali ke rumah nya.&#xA;&#xA;Bahu Sabita bergetar dan tangis nya akhirnya pecah, Joshua yang melihat itu mulai menghampiri kami berdua, namun sebelum langkah kaki laki-laki itu mendekat dengan cepat gue tarik Sabita kedalam pelukan gue.&#xA;&#xA;Gue menatap Joshua dingin lalu mendekap tubuh Sabita semakin erat seraya bergumam lirih,&#xA;&#xA;&#34;Please don&#39;t fall in love with someone else.&#34;&#xA;&#xA;Mungkin tidak hari ini. Izinkan gue menjadi egois untuk sekali lagi sebelum akhirnya gue dan Sabita sama-sama memilih jalan yang berbeda.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sabita menghampiri gue dengan langkah tergesa, dari radius dua meter pun gue bisa merasakan jika perempuan itu menyimpan sejuta tanya untuk gue jawab dan jelaskan.
Gue menghabiskan sisa air mineral yang kebetulan gue beli di warung tempat gue berada sekarang, setelah insiden di rumah Sabita tadi energi gue benar-benar terkuras ditambah mungkin setelah ini Joshua akan mengirimi gue pesan singkat perihal tagihan kerusakan spion yang tidak sengaja gue patahkan itu.</p>

<p>Kedua mata kami bertemu. Pada legam netra nya terselip sebuah kesedihan yang mendalam. Getar nya terasa hingga ulu hati gue ikut ngilu mengingat ketololan gue lah yang membuat dia seperti ini.</p>

<p>“Bi..”</p>

<p>Panggil gue lirih, rasanya seperti sudah satu dasawarsa gue tidak melihat dia. Ada perasaan yang berkecamuk, ingin membayar semua kerinduan ini dengan tuntas tapi di satu sisi situasi yang tidak mendukung membuat gue terpaksa memendamnya—hingga waktu yang tidak bisa gue prediksikan kapan datang saatnya,</p>

<p>Atau mungkin memang tidak akan pernah terjadi karena kami terlanjur menemui ujung dari buntu nya semua keresahan.</p>

<p>Hanya ada respon dingin dan asing yang mengisi keheningan kami, gue belum pernah se-canggung ini ketika bertemu Sabita, lidah gue seperti kelu untuk melontarkan kalimat-kalimat lain karena rasanya gue seperti tersangka yang akan diadili dengan hukum cambuk sebagai ganjaran nya,</p>

<p>“Aku bilang kan gak usah kesini. Joshua nya jadi kamu tinggal.”</p>

<p>“Farhan stop?”</p>

<p>Atau mungkin hukuman mati? Karena demi Tuhan, <em>Farhan you fucking stupid!</em> malah kalimat terlarang itu yang gue ucapkan.</p>

<p>“Maaf.” Ujar gue penuh penyesalan, saat ini gue malah makin menciut takut jika gue kembali bersuara keadaan nya bisa saja makin keruh.</p>

<p>“Kamu masih bisa bawa-bawa Joshua? Di situasi kayak begini?” Perempuan itu menghela nafas nya kasar, menyibakkan rambut panjang nya ke belakang, ingin sekali gue ikatkan dengan ikat rambut yang selalu gue bawa di saku celana, seperti kebiasaan yang selalu gue lakukan dulu ketika melihat Sabita menggerai rambut nya.</p>

<p>“Bi aku—”</p>

<p>“Kamu kenapa pergi sama Tera gak bilang dulu sama aku?”</p>

<p>“Aku kira kamu lagi gak pengen diganggu makanya aku gak bilang.”</p>

<p>Sabita melebarkan matanya, menatap gue tidak percaya dengan mulut sedikit terbuka. <em>Please</em>, hanya ini yang bisa gue lakukan untuk setidaknya sedikit mempertahankan harga diri gue sebelum gue benar-benar di caci maki oleh dia, sebuah upaya pembelaan diri yang sebenarnya jika dilihat dari sudut pandang mana pun tetaplah gue yang salah,</p>

<p>Dan gue memang mengakuinya.</p>

<p>“Yang tiba-tiba susah dihubungi tuh siapa? Chat bahkan telfon aku selalu kamu hindarin, Han. Kamu ngerasa gak sih? Sampe kapan aku harus ngemaklumin sikap kamu?”</p>

<p>Sabita meledak dengan rentetan pertanyaan yang sangat menyudutkan gue. Hati gue benar-benar perih, bukan dengan kata-katanya—karena semua yang dia ucapkan memang sebuah kebenaran, tapi cara ia marah dan cara ia menatap gue sekarang adalah hal yang tidak pernah gue lihat sebelumnya.</p>

<p>“Setidaknya beresin dulu semuanya. Aku gak mau kalo kita udahan dengan cara yang gak jelas kayak begini.”</p>

<p>Beberapa manusia memilih menghindari suatu masalah untuk tetap merasa aman tanpa tahu jika ada manusia lain juga yang digantung oleh ketidakpastian.</p>

<p>Gue memang benar-benar sebrengsek itu.</p>

<p>“Aku bener-bener pengecut ya, Bi?”</p>

<p><em>“Yes you are.”</em></p>

<p>Cairan bening di pelupuk matanya sudah bisa menyimpulkan perasaan seperti apa yang Sabita rasakan saat ini. Ingin gue tarik tangan nya lalu gue rengkuh tubuh nya yang terlihat rapuh itu kedalam pelukan gue, tapi sekali lagi...</p>

<p>Gue bahkan tidak ada kuasa untuk melakukan itu.</p>

<p>“Seharusnya kita udah tau gak sih kalo semua ini bakal dibawa kemana pada akhirnya?” Lanjutnya dengan suara sedikit tercekat, masih mati-matian menahan tangis,</p>

<p><em>“There is a way, Bi.”</em></p>

<p><em>A stupid denial.</em></p>

<p>“<em>A way?</em> Jalan yang kayak gimana yang kamu maksud, Han? <em>It&#39;s not working anymore</em> kamu tau gak? Kamu bahkan selalu kabur disaat aku lagi butuh jawaban.”</p>

<p><em>A stupid denial that kills me inside.</em></p>

<p><em>“Although we never said it to each other, I think we both know...”</em> Gue menghela nafas panjang, <em>“The ending.”</em></p>

<p><em>“You&#39;re right. We both know everything. The possibilities that don&#39;t ever happen to us.”</em></p>

<p><em>Tears are meltdown through her cheeks.</em> Jika memang ini akhirnya, gue tidak mau kalau harus melihat Sabita menangis bahkan untuk yang terakhir kali. Walaupun hati gue benar-benar berontak menyangkal semua prasangka-prasangka buruk yang akan segera terjadi tapi nalar gue merasa perlu untuk tetap rasional, karena baik gue dan Sabita tidak akan pernah menemukan terang yang sama.</p>

<p>Karena kami memang sudah berbeda di awal.</p>

<p>“Kita bakal nabung sakit hati kalo terlalu lama. Mau dipertahanin pun ujung-ujung nya bakal kayak gini juga. Aku gak mau ada yang berubah, begitupun kamu. Maaf, kalo aku ngelakuin hal-hal nyebelin dulu—”</p>

<p>“Biar aku kecewa terus kita pisah dengan mudah?”</p>

<p>Gue benar-benar tertohok. Lagi-lagi jawabannya tepat sasaran.</p>

<p>“Pertama kamu emang bener-bener pengecut dan kedua...” Ucapan nya tertahan, mengigit bibir bawah nya berusaha untuk tidak menangis padahal air mata nya sudah mengalir di pipi bersemu merah itu, “Dan yang kedua.... kamu berhasil bikin aku kecewa.”</p>

<p>Botol air mineral yang sudah gue habiskan isinya tadi remuk karena gue cengkram terlalu kuat. Dada gue benar-benar sesak, karena niat awal kedatangan gue menemui Sabita adalah untuk meluruskan apa yang seharusnya diluruskan. Kembali bersembunyi dalam kebahagiaan semu, yang kami gunakan untuk menutupi semua kemungkinan-kemungkinan paling menyakitkan seperti hal nya perpisahan.</p>

<p>Mata gue menangkap bayangan seseorang di ujung jalan, walaupun hanya disinari remang nya cahaya lampu gue bisa dengan yakin menjawab jika itu adalah Joshua. Berdiri melihat kami berdua, mungkin khawatir karena ditinggal Sabita terlalu lama, mungkin juga untuk menjemput Sabita kembali ke rumah nya.</p>

<p>Bahu Sabita bergetar dan tangis nya akhirnya pecah, Joshua yang melihat itu mulai menghampiri kami berdua, namun sebelum langkah kaki laki-laki itu mendekat dengan cepat gue tarik Sabita kedalam pelukan gue.</p>

<p>Gue menatap Joshua dingin lalu mendekap tubuh Sabita semakin erat seraya bergumam lirih,</p>

<p><em>“Please don&#39;t fall in love with someone else.”</em></p>

<p>Mungkin tidak hari ini. Izinkan gue menjadi egois untuk sekali lagi sebelum akhirnya gue dan Sabita sama-sama memilih jalan yang berbeda.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://plutoprojector.writeas.com/farhan-between-two-walls</guid>
      <pubDate>Sat, 23 Apr 2022 19:14:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Gemintang: i (don&#39;t) love you.</title>
      <link>https://plutoprojector.writeas.com/gemintang-i-dont-love-you?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[“Halo?“&#xA;&#xA;Suara yang amat familiar itu kini terdengar serak di telinga gue, walaupun hanya terhubung di sambungan telfon gue bisa merasakan jika laki-laki itu sedang menahan tangis. Hati gue benar-benar mencelos dengan semua kemungkinan-kemungkinan yang tidak gue pikirkan sebelumnya, mungkin hari ini... mungkin hari ini adalah hari dimana gue akan dilucuti sedemikian rupa seperti tersangka yang tertangkap basah.&#xA;&#xA;&#34;Iya dik.&#34;&#xA;&#xA;Dika berdeham, walaupun bergetar suaranya masih bisa gue dengar dengan sangat jelas tanpa ia ketahui disini, didalam mobil bang Nata dan didepan bang Nata gue lamat-lamat menelan kembali semua perkataan yang tertahan di kerongkongan untuk tidak gue utarakan karena posisi ini terlalu rumit untuk bisa gue jelaskan hanya dalam ungkapan kata-kata.&#xA;&#xA;&#34;Please... jangan suka sama gue. Jangan... jangan sampe lo jatuh cinta sama gue. I don&#39;t deserve to be loved...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dika...&#34; Gue mencengkram sabuk pengaman yang sedang gue pakai juga menggigit bibir bawah gue untuk meredam agar tangis nya tidak pecah saat itu walaupun demi tuhan, jika tidak didepan Dika mungkin gue sudah meraung-raung, &#34;Dika, gue gak paham apa yang lo omongin? Maㅡmaksudnya.. apa? Suka apa? Lo ngelantur kan?&#34;&#xA;&#xA;Gue hanya berusaha untuk tidak memperjelas semuanya, walaupun memang tidak ada yang bisa gue sangkal lagi pada akhirnya. &#xA;&#xA;&#34;Ge...&#34;&#xA;&#xA;Sekarang Dika benar-benar terisak, selama bertahun-tahun kenal, baru kali ini  gue mendengar Dika menangis... dengan sangat pilu. Seperti menular sesak yang dari tadi gue tahan pun pelan-pelan mulai luruh karena suara tangis dari seberang sana.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;But how did you know..?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo gak perlu tau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dik..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Your journal...&#34; &#xA;&#xA;Ada jeda yang diisi keheningan, baik dia dan gue sama-sama menunggu satu sama lain untuk bersuara, tapi di benak gue saat ini adalah... jurnal.. jurnal mana yang berisi curahan hati gue tentang Dika?&#xA;&#xA;&#34;Maafin gue lancang baca isi jurnal nya, awalnya cuma iseng but turns out that i found the letter with my childhood photo in it...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Fucks sake. Dika lo tuh....&#34; &#xA;&#xA;Setelah kami benar-benar tenang untuk bisa membicarakan semua kekisruhan ini, giliran gue yang dibuat tidak bisa berkata-kata lagi, kesal, malu serta amarah yang meluap-luap bercampur menjadi satu. &#xA;Bang Nata yang sedari tadi menyaksikan gue memegang tangan gue erat, seakan tahu jika gelagat dan ekspresi gue memang perlu untuk di tenangkan, genggaman nya mampu menyalurkan hangat membuat gue makin ingin menangis untuk kedua kalinya, &#xA;&#xA;&#34;Gue... gue gak pantes.. jadi orang yang lo suka Ge. Enggak pantes... Gue gak berhak dapet cinta dari lo... We are friends, right? Not supposed to be lover, bener kan Ge? Please bilang iya....&#34; Ujar Dika, lagi-lagi dengan suara yang makin parau terasa perih untuk didengar, kata-kata yang ia ucapkan begitu menyakitkan bahkan untuk gue,&#xA;&#xA;&#34;Gemintang.. lo tuh temen terbaik gue... yang selalu gue banggakan... selalu gue jaga agar tidak terluka.. gue gamau.. gamau jika nantinya gue lah yang bikin lo nangis because of that stupid things.. please...&#34;&#xA;&#xA;Berkali-kali Dika memohon dengan iringan tangis nya berharap gue mengiyakan semua permintaan nya, tapi Dika... gue tidak masalah jika harus membuang semua perasaan-perasaan yang sudah tertanam belasan tahun itu tapi kenapa... lo merasa tidak pantas hanya untuk sekedar dicintai oleh seseorang?&#xA;&#xA;&#34;Oㅡokay, fine. Anggep aja semuanya yang lo baca kemarin itu adalah tulisan random dari bocah SMP tentang cinta monyet nya, nothing serious. Right? Lo mau kita temenan kayak biasa kan? Oke, gue bisa turutin.&#34;&#xA;&#xA;Gue tidak sanggup jika harus melanjutkan obrolan ini dan di detik kesekian hati gue benar-benar remuk, gue langsung menutup sambungan telfon itu dan mulai menangis sejadi-jadinya, semua kesedihan dan kebingungan ini ikut hanyut bersama seluruh perasaan yang berkecamuk.&#xA;&#xA;Gemintang, it is all over.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>“Halo?“</em></p>

<p>Suara yang amat familiar itu kini terdengar serak di telinga gue, walaupun hanya terhubung di sambungan telfon gue bisa merasakan jika laki-laki itu sedang menahan tangis. Hati gue benar-benar mencelos dengan semua kemungkinan-kemungkinan yang tidak gue pikirkan sebelumnya, mungkin hari ini... mungkin hari ini adalah hari dimana gue akan dilucuti sedemikian rupa seperti tersangka yang tertangkap basah.</p>

<p>“Iya dik.”</p>

<p>Dika berdeham, walaupun bergetar suaranya masih bisa gue dengar dengan sangat jelas tanpa ia ketahui disini, didalam mobil bang Nata dan didepan bang Nata gue lamat-lamat menelan kembali semua perkataan yang tertahan di kerongkongan untuk tidak gue utarakan karena posisi ini terlalu rumit untuk bisa gue jelaskan hanya dalam ungkapan kata-kata.</p>

<p><em>“Please... jangan suka sama gue. Jangan... jangan sampe lo jatuh cinta sama gue. I don&#39;t deserve to be loved...”</em></p>

<p>“Dika...” Gue mencengkram sabuk pengaman yang sedang gue pakai juga menggigit bibir bawah gue untuk meredam agar tangis nya tidak pecah saat itu walaupun demi tuhan, jika tidak didepan Dika mungkin gue sudah meraung-raung, “Dika, gue gak paham apa yang lo omongin? Maㅡmaksudnya.. apa? Suka apa? Lo ngelantur kan?”</p>

<p>Gue hanya berusaha untuk tidak memperjelas semuanya, walaupun memang tidak ada yang bisa gue sangkal lagi pada akhirnya.</p>

<p><em>“Ge...”</em></p>

<p>Sekarang Dika benar-benar terisak, selama bertahun-tahun kenal, baru kali ini  gue mendengar Dika menangis... dengan sangat pilu. Seperti menular sesak yang dari tadi gue tahan pun pelan-pelan mulai luruh karena suara tangis dari seberang sana.</p>

<hr/>

<p>“But how did you know..?”</p>

<p><em>“Lo gak perlu tau.”</em></p>

<p>“Dik..”</p>

<p><em>“Your journal...”</em></p>

<p>Ada jeda yang diisi keheningan, baik dia dan gue sama-sama menunggu satu sama lain untuk bersuara, tapi di benak gue saat ini adalah... jurnal.. jurnal mana yang berisi curahan hati gue tentang Dika?</p>

<p><em>“Maafin gue lancang baca isi jurnal nya, awalnya cuma iseng but turns out that i found the letter with my childhood photo in it...”</em></p>

<p>“Fucks sake. Dika lo tuh....”</p>

<p>Setelah kami benar-benar tenang untuk bisa membicarakan semua kekisruhan ini, giliran gue yang dibuat tidak bisa berkata-kata lagi, kesal, malu serta amarah yang meluap-luap bercampur menjadi satu.
Bang Nata yang sedari tadi menyaksikan gue memegang tangan gue erat, seakan tahu jika gelagat dan ekspresi gue memang perlu untuk di tenangkan, genggaman nya mampu menyalurkan hangat membuat gue makin ingin menangis untuk kedua kalinya,</p>

<p><em>“Gue... gue gak pantes.. jadi orang yang lo suka Ge. Enggak pantes... Gue gak berhak dapet cinta dari lo... We are friends, right? Not supposed to be lover, bener kan Ge? Please bilang iya....”</em> Ujar Dika, lagi-lagi dengan suara yang makin parau terasa perih untuk didengar, kata-kata yang ia ucapkan begitu menyakitkan bahkan untuk gue,</p>

<p><em>“Gemintang.. lo tuh temen terbaik gue... yang selalu gue banggakan... selalu gue jaga agar tidak terluka.. gue gamau.. gamau jika nantinya gue lah yang bikin lo nangis because of that stupid things.. please...”</em></p>

<p>Berkali-kali Dika memohon dengan iringan tangis nya berharap gue mengiyakan semua permintaan nya, tapi Dika... gue tidak masalah jika harus membuang semua perasaan-perasaan yang sudah tertanam belasan tahun itu tapi kenapa... lo merasa tidak pantas hanya untuk sekedar dicintai oleh seseorang?</p>

<p>“Oㅡokay, fine. Anggep aja semuanya yang lo baca kemarin itu adalah tulisan random dari bocah SMP tentang cinta monyet nya, nothing serious. Right? Lo mau kita temenan kayak biasa kan? Oke, gue bisa turutin.”</p>

<p>Gue tidak sanggup jika harus melanjutkan obrolan ini dan di detik kesekian hati gue benar-benar remuk, gue langsung menutup sambungan telfon itu dan mulai menangis sejadi-jadinya, semua kesedihan dan kebingungan ini ikut hanyut bersama seluruh perasaan yang berkecamuk.</p>

<p><em>Gemintang, it is all over.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://plutoprojector.writeas.com/gemintang-i-dont-love-you</guid>
      <pubDate>Sun, 06 Mar 2022 13:35:26 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>