Finding Dika

Sejak pertemuannya dengan Jasmine hari minggu lalu, keberadaan Dika jadi sulit ditemui. Anggota Idiosin yang lain pun dibuat bingung, orang seberisik dan sepecicilan Dika tiba-tiba jadi susah dilacak. Dan di hari ketiga, akhirnya Acip dan Gemintang memutuskan untuk mencarinya ke dua rumah yang katanya memang ditinggali Dika. Iya, anaknya memang nomaden, satu rumah di Cibadak yang jadi tempat tinggalnya dari kecil dan satu di Buah Batu yang merupakan rumah peninggalan dari mendiang sang Kakek.

Acip memberhentikan motor matic nya didepan rumah bertingkat dua, kembali mencocokkan alamat yang diberikan Gemintang, blok G nomor 18. Sangat mencolok dibanding rumah-rumah lainnya, dengan warna tembok hijau pandan alias paling mentereng sendiri. Acip mengamati teras depan rumah itu dari balik pagar yang kebetulan terbuka. Hening dan sepi seperti tidak ada satu pun penghuni didalamnya, Acip jadi ragu sendiri takutnya dia malah mendatangi rumah yang salah. Acip mengedarkan pandangannya, mencoba menelisik sekeliling lingkungan rumah tersebut barangkali dia bisa bertemu dengan warga komplek untuk memastikan kalau Dika memang benar tinggal disini. Mata nya tertuju pada sebuah gerobak mie ayam yang tepat berada didepannya, mungkin saja penjual mie ayam tersebut punya sedikit informasi soal Dika walaupun kecil kemungkinan nya.

“Punten, pak” Sapa Acip sopan kepada bapak penjual mie ayam, “Kalo yang tinggal di rumah ini teh, siapa ya pak?” Bapak penjual yang sedang mengelap mangkok-mangkok yang habis dicucinya itu pun memutar badan,

“Punya dia tuh, A” Jawab si Bapak menunjuk seorang laki-laki yang sedang lahap memakan mie ayam nya, orang yang sangat familiar tentunya bagi Acip, siapa lagi kalau bukan Senandika. Dika tampak dongkol dengan sendok yang tertahan di udara, karena sesi makannya harus diinterupsi oleh percakapan antara kedua orang itu,

“DIIIIK”

Pekik Acip ketika ia bertemu dengan Dika. Padahal cuma gak ketemu tiga hari tapi rasanya sepertinya sudah ribuan purnama bagi Acip. Dia antusias sekali, akhirnya pencarian yang dia tempuh jauh-jauh ini membuahkan hasil,

“Anjir, kok bisa kesini maneh?”

“Sia yang kemana aja anying? Tiga hari ngilang udah kayak teroris”

Duh, bener-bener dah ni Acip. Gak bisa liat kondisi banget, bisa aja si Bapak mie ayam dan tiga pelanggan lainnya yang sedang makan di tempat malah berasumsi yang tidak-tidak soal Dika.

“Astagfirullah” Dika mengelap wajahnya frustasi, menyuapkan satu sendok mie ayam yang tadi sempat tertunda, “Pak, mau bayar”

“Lah lah lah, kenapa udahan makan nya? Urang juga mau atuh Dik” Ujar Acip ketika melihat Dika beranjak dari duduknya hendak membayar mie ayam nya yang sebenarnya nanggung tinggal beberapa suap lagi, tapi masa bodo pikir Dika. Dia harus buru-buru membawa teman nya ini ke rumah sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, karena tahu sendiri lah penguping yang handal adalah tetangga. Dengernya apa pas diceritain malah lain lagi. Huft. Acip terkekeh geli lalu mengekor langkah Dika ke dalam rumahnya.

“Kok bisa tau sih aing disini?” Tanya Dika sesaat setelah ia membuka pintu rumah nya,

“Dikasih tau Gew lah”

“Hah?”

Aneh, perasaan Dika gak pernah ngasih tau siapapun soal alamat rumahnya,

“Sekarang dia ama Nata lagi ke rumah maneh yang di Bubat.”

“HAH?”

“Sia kenapa anjir? Kayak yang kaget gitu si Gew tau alamat rumah lu. Emang dia gak pernah kesini?”

Lalu dia teringat sesuatu, pantes Gemintang bisa tau alamat rumah nya bahkan yang di Buah Batu juga. Ayah Gemintang kan teman dekat Ayah nya, mungkin aja Gemintang tahu soal ini dari beliau.

“Enggak.” Dika menjatuhkan badannya diatas sofa ruang tamu, “Maneh kesini mau ngapain?”

Acip duduk di kursi seberang, merentangkan kedua tangan nya lebar-lebar, “Ini gak disuguhin apaan gitu?”

“Tamu gak diundang sia mah”

“Anjing”

Keributan diantara keduanya memang gak bakal bisa berhenti, sekalipun terpisah ratusan tahun. Sepertinya, memang begini coping mechanism Acip dan Dika untuk terus sinkron dalam menjalin pertemanan.

“Sepi banget nih rumah, pada kemana Dik?”

“Bokap keluar kota buat dinas, nyokap ngikut bokap. Teteh aing di Jogja lanjutin pendidikan, jadi tau sendiri lah. Sendirian” Acip mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan dari Dika, lalu dia teringat maksud dan tujuannya mencari Dika adalah untuk mengetahui kenapa laki-laki itu tiba-tiba menghilang, tepat setelah pertemuan dengan Jasmine di PVJ hari minggu lalu,

“Btw, Dik”

“Hmm” Dika menutup kedua matanya, menikmati udara dingin dari AC ruang tamu yang kini menerpa wajahnya,

“Jasmine gimana, Dik?”

Seketika Dika membuka matanya kembali, duduk dengan posisi lebih tegak. Agaknya, obrolan ini akan jadi yang paling serius diantara topik-topik obrolan yang pernah mereka bicarakan, maklum aja, bahasan serius antar keduanya cuman mentok debatin konspirasi Hitler yang katanya meninggal di Garut.

“Dia emang gak ada ngechat lu, Cip?”

“Enggak, makanya gua bingung. Pas gua telfon dia cuma ngomong, tanya Dika aja katanya.” Acip makin penasaran, “Ada apa sih?”

“Cip, stop aja kali ya?”

“Hah?”

“She's not Jasmine, yang ketemu sama gua itu Arumi” Dika ragu untuk melanjutkan kalimatnya, tapi apapun itu Acip harus tahu yang sebenar-benarnya, “Arumi is Jasmine girlfriend, they are in relationship, Cip”


“Ge, masukin alamat nya ke maps coba”

Nata memberikan handphone nya pada Gemintang, menyuruhnya untuk memasukan alamat rumah Dika yang berada di Buah Batu,

“Ooh—Iya bang Nat” Dengan canggung Gemintang mengambil handphone Nata, memasukkan alamat yang sudah ia hapal diluar kepala, “Wah, bang liat deh...”

Gemintang menunjukkan layar yang menampilkan untaian berwarna merah memanjang, agaknya butuh waktu yang lama untuk sampai tempat tujuan.

“Waduh, panjang banget macet nya. Mau lanjut aja, Ge?” Nata mencoba memastikan lagi barangkali Gemintang berubah pikiran dan hanya menunggu jawaban dari Acip mana tahu Dika sekarang memang lagi di Cibadak.

“Gapapa bang, lanjut aja. Gue khawatir dia kenapa-napa, takutnya dia lagi sakit”

“Oh, okay”

Nata menginjak pedal gas mobil nya, meluncur siap menghadang macet nya Buah Batu di sore hari yang tentunya akan menguji kesabaran. Nata hanya mengikuti perintah Gemintang. Ya, karena disini tugasnya cuma nganter doang, begitu mandat yang diberikan Farhan.

Dan benar saja, sesaat memasuki daerah Buah Batu mereka berdua sudah disambut antrian kendaraan yang mungkin bisa mencapai ratusan—mungkin lebih, karena sejauh mata memandang hanya ada kendaraan roda empat dan juga roda dua memenuhi jalanan.

Suasana makin canggung, apalagi keheningan mereka sekarang hanya diisi dengan deru mesin mobil dan juga klakson pengendara lain yang dibunyikan bergantian. Pada dasarnya, kombinasi Adinata dan Gemintang adalah yang paling kaku, walaupun mereka pernah bekerja sama sebagai partner ketika Gemintang menjadi pegawai magang di Idiosin Coffee dan juga tandem ketika pemotretan, tapi rasanya hubungan keduanya masih gitu-gitu aja. Gak makin deket pun gak makin akrab, Nata yang kikuk dan Gemintang yang sungkan.

“Gue nyalain radio nya ya?” Ujar Nata, mungkin ini jadi cara agar kecangguan mereka sedikit mencair dengan ditemani suara dari penyiar radio.

“Eh, iya boleh dong bang hehe. Ini kan mobil lo”

Sesaat setelah Nata menyalakan radio mobil nya, baru kecanggungan diantara keduanya bisa sedikit mereda.


Selama berkecimpung di dunia boyfriend rent baru kali ini Acip dapet job yang membuatnya bingung. Ya memang sih, job ilegal karena ini diluar kesepakatan Idiosinkrasi tapi seumur-umur baru kali ini terlibat sama klien yang nyeleneh.

“Jadi gimana, Cip?”

“Gua harus ketemu dulu nih sama si Jasmine”

“Yang ngerent lu tuh kan si Arumi ya? Tapi ngaku-ngaku nya jadi Jasmine. Padahal si Jasmine posisinya jadi pihak kedua. Gitu kan?”

Acip mengangguk merespon pertanyaan Dika tersebut, sepemahaman nya juga seperti itu. Berdasarkan isi chat yang dikirimkan Arumi dulu, kalau Acip ini harus melewati semacam masa 'percobaan' sebelum benar-benar disewa oleh klien yang sesungguhnya. Yang membuat Acip dan Dika bingung adalah, kenapa Arumi harus memperkenalkan dirinya sebagai Jasmine, yang notabene adalah nama pacarnya sendiri.

“Kalo kata gue sih, salah satu diantara mereka mau ada yang berubah”

“Jadi power rangers?”

Beberapa detik kemudian bantal sofa sudah melayang mengenai wajah Dika. Kan, dibilangin apa, seserius-serius nya mereka tuh cuma gimmick doang.

“Dik, atuh lah serius”

“Iyeeee taeee, ini juga serius. Daritadi gue dengerin” Ucap Dika menahan tawa nya agar tidak pecah, bisa-bisa bukan cuma bantal sofa yang mengenai wajah nya, mungkin aja Acip bakal lebih nekat melemparkan sofa nya juga,

“Jadi asumsi lu soal Jasmine sama Arumi ini apa?” Acip melempar pertanyaan serupa kepada Dika, laki-laki itu mengusap dagu nya mencoba menelaah motif dari kedua pasangan itu menyewa Acip sebagai pacar rental.

“Menurut gue sih, Jasmine yang mau berubah. Arumi nya mah udah berubah.”

“Hah? Kok begitu?”

Dika duduk dengan pose lebih serius, seserius anggota dewan ketika rapat soal anggaran kenaikan gaji, “Arumi ngaku-ngaku jadi Jasmine buat ngerent lu, dia bilang harus trial dulu sebelum beneran disewa sama klien yang asli, which is mean, itu adalah si Jasmine. Jadi, asumsi gua itu adalah, Arumi yang udah balik ke jalur asal, mencoba membantu si Jasmine yang masih, begitu untuk bisa juga kayak dia, sampe sini lu paham?”

Acip mengangguk setuju, seakan misteri soal Jasmine dan Arumi ini mulai menemukan titik terang nya,

“Nah bener! That's why, dia pake jasa gua buat bantu dia jadi normal kan?” Acip bangkit dari duduk nya, lalu berjalan mondar-mandir sambil menutup mulutnya dengan tangan, takjub, karena satu-persatu petunjuk mulai terlihat. Alasan yang cukup masuk akal kenapa Arumi harus jadi tameng terlebih dahulu, mungkin karena dia harus tahu bebet dan bobot dari calon cowok rental yang nantinya akan disewa oleh Jasmine.

“Tapi ya, Cip. Gue gak tau nih apa si Jasmine ini emang mau berubah atas kehendak dia sendiri atau ini strateginya Arumi aja buat bikin Jasmine sebel sama dia? Biar Jasmine nya lepas gitu, gak stick out sama Arumi mulu. Kan, Arumi nya udah hijrah”

Timbul pertanyaan lain, mungkin setelah ini akan bercabang kemana-mana membuat tebak-tebakkan Dika dan Acip makin melebar, jauh dari kata masuk akal.


“Ya Allah, bang Nat”

Gemintang menghembuskan nafasnya dengan kasar, mengerang frustasi sambil menundukkan kepala nya ke dashboard mobil.

“Eh, kenapa Ge?”

“Abaaaaang” Gemintang langsung menunjukkan layar handphone nya yang kini menampilkan obrolan di grup chat The Panas Tiris, ada foto Dika disana, “Udah ketemuuuu. Haaaaah, akhirnya” Gemintang tiba-tiba menangis sesaat mendengar kabar dari Dika yang akhirnya kembali muncul. Nata bingung, kenapa perempuan ini tiba-tiba menangis, apa karena terharu akhirnya Dika ditemukan dalam kondisi baik-baik saja, atau menangis kesal karena waktu dua jam bermacet-macetan yang dihabiskan mereka berakhir dengan sia-sia? Entahlah, Nata juga jadi sungkan untuk bertanya.

“Gue kira lo tuh sakit Dik...” Ujar Gemintang lirih disela-sela tangisan nya, Nata tidak bisa berbuat apa-apa selain memberhentikkan mobil nya ke bahu jalan agar Gemintang bisa meluapkan kesedihannya dengan lebih leluasa.

“Abaaaaang, Dika akhirnya ketemuuuuu... Haaaaaa....” Nata makin bingung, sebelumnya dia tidak pernah dihadapkan dengan seorang perempuan yang menangis, tapi dia ingin lebih berinisiatif walaupun mungkin nantinya akan terkesan sangat awkward.

“Eh—Ge—ya—yang sabar ya...” Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Nata sambil tangan nya menepuk-nepuk bahu Gemintang, barangkali tangis nya bisa mereda dan bisa jadi lebih tenang.

“Abaaaang, kenapa nenangin nya kayak begitu? Kenapa kayak abis denger berita duka? Abaaaang, Dika gak meninggal bang, tuh liat!” Sambil masih menangis Gemintang kembali menunjukkan layar handphone nya yang kini penuh dengan wajah Dika, sedang tersenyum bersender pada sebuah sofa abu, “Mukanya masih lucu... Haaaah... lusyuuu bwangetttt...”

Kalimat Gemintang makin tidak jelas karena berbicara sambil menangis, pemandangan ini cukup lucu bagi Nata. Apalagi dia baru pertama kali melihat Gemintang menangis, sesekali laki-laki itu menahan tawanya. Orang ini gemes banget, pikir Nata. Walaupun sedang meracau, ucapan-ucapan dari Gemintang masih bisa dipahami Nata walaupun tidak semuanya, tapi ada satu kata yang menarik perhatiannya, Gemintang menyebut suka dan cinta. Sudah pasti, itu ditujukan untuk Dika.

Nata hanya berharap, ia salah dengar atau mungkin memilih untuk pura-pura tidak mendengarnya saja.