Gemintang: i (don't) love you.
“Halo?“
Suara yang amat familiar itu kini terdengar serak di telinga gue, walaupun hanya terhubung di sambungan telfon gue bisa merasakan jika laki-laki itu sedang menahan tangis. Hati gue benar-benar mencelos dengan semua kemungkinan-kemungkinan yang tidak gue pikirkan sebelumnya, mungkin hari ini... mungkin hari ini adalah hari dimana gue akan dilucuti sedemikian rupa seperti tersangka yang tertangkap basah.
“Iya dik.”
Dika berdeham, walaupun bergetar suaranya masih bisa gue dengar dengan sangat jelas tanpa ia ketahui disini, didalam mobil bang Nata dan didepan bang Nata gue lamat-lamat menelan kembali semua perkataan yang tertahan di kerongkongan untuk tidak gue utarakan karena posisi ini terlalu rumit untuk bisa gue jelaskan hanya dalam ungkapan kata-kata.
“Please... jangan suka sama gue. Jangan... jangan sampe lo jatuh cinta sama gue. I don't deserve to be loved...”
“Dika...” Gue mencengkram sabuk pengaman yang sedang gue pakai juga menggigit bibir bawah gue untuk meredam agar tangis nya tidak pecah saat itu walaupun demi tuhan, jika tidak didepan Dika mungkin gue sudah meraung-raung, “Dika, gue gak paham apa yang lo omongin? Maㅡmaksudnya.. apa? Suka apa? Lo ngelantur kan?”
Gue hanya berusaha untuk tidak memperjelas semuanya, walaupun memang tidak ada yang bisa gue sangkal lagi pada akhirnya.
“Ge...”
Sekarang Dika benar-benar terisak, selama bertahun-tahun kenal, baru kali ini gue mendengar Dika menangis... dengan sangat pilu. Seperti menular sesak yang dari tadi gue tahan pun pelan-pelan mulai luruh karena suara tangis dari seberang sana.
“But how did you know..?”
“Lo gak perlu tau.”
“Dik..”
“Your journal...”
Ada jeda yang diisi keheningan, baik dia dan gue sama-sama menunggu satu sama lain untuk bersuara, tapi di benak gue saat ini adalah... jurnal.. jurnal mana yang berisi curahan hati gue tentang Dika?
“Maafin gue lancang baca isi jurnal nya, awalnya cuma iseng but turns out that i found the letter with my childhood photo in it...”
“Fucks sake. Dika lo tuh....”
Setelah kami benar-benar tenang untuk bisa membicarakan semua kekisruhan ini, giliran gue yang dibuat tidak bisa berkata-kata lagi, kesal, malu serta amarah yang meluap-luap bercampur menjadi satu. Bang Nata yang sedari tadi menyaksikan gue memegang tangan gue erat, seakan tahu jika gelagat dan ekspresi gue memang perlu untuk di tenangkan, genggaman nya mampu menyalurkan hangat membuat gue makin ingin menangis untuk kedua kalinya,
“Gue... gue gak pantes.. jadi orang yang lo suka Ge. Enggak pantes... Gue gak berhak dapet cinta dari lo... We are friends, right? Not supposed to be lover, bener kan Ge? Please bilang iya....” Ujar Dika, lagi-lagi dengan suara yang makin parau terasa perih untuk didengar, kata-kata yang ia ucapkan begitu menyakitkan bahkan untuk gue,
“Gemintang.. lo tuh temen terbaik gue... yang selalu gue banggakan... selalu gue jaga agar tidak terluka.. gue gamau.. gamau jika nantinya gue lah yang bikin lo nangis because of that stupid things.. please...”
Berkali-kali Dika memohon dengan iringan tangis nya berharap gue mengiyakan semua permintaan nya, tapi Dika... gue tidak masalah jika harus membuang semua perasaan-perasaan yang sudah tertanam belasan tahun itu tapi kenapa... lo merasa tidak pantas hanya untuk sekedar dicintai oleh seseorang?
“Oㅡokay, fine. Anggep aja semuanya yang lo baca kemarin itu adalah tulisan random dari bocah SMP tentang cinta monyet nya, nothing serious. Right? Lo mau kita temenan kayak biasa kan? Oke, gue bisa turutin.”
Gue tidak sanggup jika harus melanjutkan obrolan ini dan di detik kesekian hati gue benar-benar remuk, gue langsung menutup sambungan telfon itu dan mulai menangis sejadi-jadinya, semua kesedihan dan kebingungan ini ikut hanyut bersama seluruh perasaan yang berkecamuk.
Gemintang, it is all over.