Hafidz: Drunk.

Call me orang yang paling tabah dan sabar.

Hari minggu yang seharusnya gue habiskan dengan berleha-leha terpaksa gue harus menuntaskan kewajiban gue sebagai anggota Idiosinkrasi. Kalau ditanya capek apa enggak jadi solo player? Ya, jelas lah. Gila aja tiap minggu rasanya badan gue remuk banget karena harus on duty dengan schedule boyfriend rent yang makin kesini makin jahanam banyak nya. Okay, gua jujur bilang begini dari lubuk hati gue yang paling dalam tapi gue berusaha untuk menikmati semuanya dan bekerja dengan profesional karena ini gue lakukan semata-mata untuk beramal.

Penasaran kan, gimana sih sistem boyfriend rent di Idiosinkrasi? Okay, I tell you. Base Idiosinkrasi akan bikin pengumuman dulu mengenai slot yang tersedia, tentunya sebelum itu sudah di diskusikan dulu bersama gue mengenai kesanggupan jumlah client, selanjutnya siapa yang cepat maka dia yang dapat. Gue sih biasa dapet client dua atau tiga tergantung kesibukan gue juga, maklum masih jadi mahasiswa. Atau ada yang book full day gue bisa-bisa hanya menerima satu orang saja, biasanya client yang begini hire jasa gue buat nemenin kondangan di luar kota atau gak nemenin family gathering. Beda kasus nih sama client yang akan gue datangi kali ini. Agak lain soalnya ini client ilegal hasil dari kerjasama dengan Dika membuka cabang proker yaitu Idiosins. Yeah, yang malah dapet client lesbian itu, akhirnya jadi berlanjut dengan gue yang jadi tumbal nya. Keep it lowkey, karena kalau ini terendus Farhan gue benar-benar bisa kena geprek.

Gue memasuki lift dan menekan tombol enam, ini bukan sekali-dua kali gue bertemu client di tempat tinggal nya tapi gue nervous banget, apa karena ini client gelap ya makanya perasaan gue jadi tidak karuan?

Sesampainya di depan pintu apart nya gue menarik nafas dalam-dalam sebelum mengetuknya. Satu. Dua. Bahkan sampai hitungan keenam pun pintu nya tidak terbuka.

Baru akan gue ketuk lagi pintu nya tiba-tiba saja terbuka, menampilkan sesosok perempuan yang menyembulkan kepala nya dari balik pintu, melihat gue dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu menatap wajah gue intens. Apakah gue terlihat seperti kurir narkoba sampai-sampai diliatin segitunya?

“Hai...?” Sapa gue canggung, entah kenapa sapaan itu yang pertama kali keluar dari mulut gue, berasumsi jika gue yang mulai untuk mencairkan suasana mungkin atmosfir nya tidak akan terlalu garing seperti sekarang.

“Acip?” Gue mengangguk sambil tersenyum, “Lo gak bawa apa-apa?”

Hah, emang apaan...

“Enggak, Jas. Emang lu ada nyuruh gua beli sesuatu?”

Dia menggelengkan kepala nya lalu membuka pintu apart sedikit lebih lebar memberi kode pada gue untuk segera masuk kedalam dan dengan cepat gue menuruti perintah nya.


Dalam keadaan yang super awkward ini gue masih menebak-nebak maksud dan tujuan Jasmine mengundang gue ke apart nya itu untuk apa. Masa iya cuma buat ngacangin gue doang? Dia yang maksa, minta gue dateng kesini jam delapan tepat, sampai bikin gue harus mencari-cari alasan agar bisa pulang cepat ketika on duty bersama Mentari tadi.

“Jas—”

“Lo ngerokok, Cip?”

“I—Iya. Gua ngerokok. Kenapa, Jas?”

Dia tidak menjawab dan hanya memberikan sekotak penuh nikotin itu pada gue dengan kebingungan gue menerimanya lantas mengeluarkan satu batang,

“Butuh korek?”

“Eh enggak, gua bawa sendiri kok.”

Jasmine mengangguk, lagi. Tanpa kata dia menyalakan rokok nya, menghisapnya perlahan walaupun sambil sedikit terbatuk-batuk, gue perhatikan sepertinya dia memaksakan diri untuk merorok, dari cara memegang bahkan cara nya menikmati rokok tidak tampak seperti perokok aktif. Sampai gue lihat tangan nya bergetar dia tetap menghisap dan menghembuskan asap nya ke udara. Jasmine, what's wrong with you?

“Hei, lu gapapa?”

“K—kenapa emang nya?”

Jawabnya terbata-bata. Gue yakin ada yang enggak beres sama dia.

“Lu kayaknya gak terbiasa buat ngerokok? Atau mungkin lu baru nyobain ngerokok?”

“Gue sesekali suka ngerokok kalau lagi stress sama kerjaan and if you don't mind, can you stop staring at me like that?”

Eh, buset galak amat. Padahal gue mencoba berbaik hati menawarkan bantuan berupa kiat-kiat menjadi perokok aktif yang handal. Dih, apaan banget dah ngerokok kok asep nya ditelen anjrit, dikira asep ciki nitrogen apa.

“Okay?” Gue memutar bola mata malas lalu menyalakan juga rokok gue. Nih, liat ngerokok tuh kayak begini. Gue hisap dalam-dalam hingga bara nya makin memerah lalu menghembuskan asap nya perlahan ke udara, gue juga bikin asap nya membentuk huruf O, bodo amat gue pengen flexing didepan dia kalau cara ngerokok tuh—

“Have you ever doing sex, Cip?”

....Kayak begini.

Wait, what? Dia bilang apa?

“Hah?”

“Udah?”

Gue menggelengkan kepala. Kenapa. Kenapa dia harus bertanya pertanyaan super ngehe itu? In this fucking situation? Apa gak makin canggung entar? Terus, apa katanya, gue pernah ngew— ngent— doing sex? Gila, baru kali ini gue dikasih pertanyaan aneh seperti itu. Walaupun ada yang lebih aneh sih, dulu ada client gue yang nanyain soal aljabar hanya karena gue anak ITB tapi shit, yang bener aja. Gue anak seni bukan anak rumpun eksakta. Oke, kembali soal Jasmine. Ya belom pernah lah gila. Gini-gini juga gue cowok baik-baik ya anjir.

“Wanna try with me?”

Allahuakbar. Apa katanya. Apa. Katanya. Try. With. Me.

“HAH?”

Hanya reaksi keong yang sanggup gue berikan untuk menjawab semua kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan.

“Lo kenapa sih, Cip? Belom pernah? Haha, cupu.”

Biji mata lu cupu. Lu pikir belom pernah ngelakuin itu cupu? Stress, walaupun gue suka mabok tapi untuk frisek dan makan babi gue sangat menentang nya. Tolol kan? Jangan ditiru ya teman-teman.

“Emang kenapa sih, Jas? Nih ya, gue tanya dulu. Lu ngajak gue ke apart tuh buat apa? Gue sampe rela izin sama client buat udahan lebih awal demi elu.”

“Gue juga client lo Cip kalo lupa.”

Iye, client selundupan tapi.

“Ya terus mau ngapain? Lu kalo cuma pengen ngajak gua sebat mah didepan indomaret juga sabi kenapa pake segala gua yang nyamperin kesini?”

“Apa karena pengaruh nama lo ya, Cip?”

“Apaan? Kenapa nama gua?”

Jasmine terkekeh kecil mematikan rokok yang baru terbakar sedikit itu ke asbak yang berada didepannya,

“Hafidz? Nama lo Hafidz kan? Terlalu soleh ya.”

Kenapa lagi dah ni cewek buset, kagak ada kolerasinya nama gua yang telalu soleh itu sama having sex.

“Fine, i'll take that as a compliment.”

“Kalo minum gimana? Lo belom pernah juga?”

“Itu sih, jago gua. Gua bisa tahan minum amer—”

“Cip, really lo masih minum amer?”

Emang ngapa sik? Gue aja merasa berdosa minum amer mana mungkin gue nyobain yang lain. Walaupun gue selalu beralibi kalau amer ini adalah jamu yang gue butuhkan ketika sedang kedinginan atau pilek. Hehe, jangan ditiru lagi ya temen-temen.

“Apa salahnya sih, Jas?”

“Wait, gue bawa sesuatu dulu.”

Jasmine pergi kearah dapur terdengar suara lemari yang dibuka lalu senyap kembali. Apa nih, jangan-jangan dia bawa pisau lagi? Kok jadi diem-dieman? Sekitar sepuluh menit berlalu barulah Jasmine muncul dari dapur sambil membawa botol berisi cairan berwarna cokelat bening yang terlihat seperti teh botol dari kejauhan.

“Apaan tuh?”

“Something tastier than amer.” Ucapnya menaruh botol dengan tulisan 'Jack Daniels' itu didepan gue.

“Lu nyuruh gue buat minum ini, Jas?”

Jasmine mengangguk sambil menaruh dua gelas nya juga, “Lo harus nyobain yang lain selain amer.”

Ada pergulatan batin didalam diri gue. Pertama, gue memang sangat penasaran dengan rasa alkohol selain amer tapi kedua, gue tidak tahu batas toleransi gue sama minuman ini, takut jika nantinya gue malah high diluar kendali dan melakukan hal-hal yang tidak semestinya gue lakukan. Betul, kebiasaan mabok gue memang jelek banget. Makanya, kalau minum gue lebih prefer buat sendirian aja.

“Jangan-jangan lo gak berani juga, Cip?”

Lagi-lagi, kenapa pertanyaan nya sangat bikin gue terprovokasi ya, kata-kata yang dia pilih tuh seakan meremehkan gue banget. Jiwa gue memang my life my adventure merasa sangat tertantang dengan ajakan tersebut.

“Iya-iya, gua minum.”

Persetan dengan after effect.

Jasmine membuka tutup botol itu dan menuangkan isinya ke gelas kami masing-masing lalu gue beranikan diri untuk mencicipinya sedikit,

“Gimana? Enak kan?”

“Aneh, tapi enak.”

Sensasi asing yang menyentuh lidah gue lalu turun dengan agak lambat di kerongkongan. Rasanya hangat dan juga manis, rasa yang kurang familiar tapi begitu menarik untuk gue coba. Tanpa ba-bi-bu gue langsung meminum nya sekaligus hingga tidak bersisa.

“Chill, Cip. Lo lagi minum whiskey bukan teh manis.”

Ada hasrat yang mendorong yang gue untuk terus menikmati minuman memabukkan itu, mungkin nantinya posisi amer akan tergantikan oleh whiskey.

Tanpa sadar gue terus menuangkan isi nya hingga dua atau mungkin tiga gelas? I don't know, gue gak ingat dengan pasti, yang jelas gue hanya merasakan sensasi yang amat nikmat, tubuh gue serasa melayang-layang, terlalu ringan hingga gue benar-benar ingin terbang. Sensasi-sensasi aneh nya mulai bermunculan (yang gue yakini sebagai symptoms awal menuju fase high.) udara nya jadi panas, gerah, wajah gue mendadak memanas, gue ingat sempat membuka baju beserta celana gue sendiri. Dari situ samar-samar gue melihat Jasmine mematung menatap gue layaknya melihat orang kurang waras yang tiba-tiba buka baju didepan matanya. Tenang, gue gak sampai naked kok, gue cuma menyisakan boxer yang gue pakai. Gue melanjutkan menghabiskan whiskey yang tersisa dengan terburu-buru namun justru gue mendapati sensasi aneh lagi sesudahnya, kepala gue terasa berputar, perut gue seperti akan meledak, mata gue jadi sangat berat bahkan hanya untuk bekedip dan setelahnya gue tidak mengingat apa-apa lagi.


“A, bangun A. Jangan tidur di parkiran.”

Gue membuka mata perlahan mendapati seorang satpam yang sedang berjongkok didepan gue, mengguncangkan tubuh gue untuk segera bangun. Shit, kepala gue masih sakit dan... what the actual fuck... kok gue bisa ada di parkiran apart? Dengan posisi tertidur?

“Aa, kenapa sampe bisa tidur disini? Tadi saya liat Aa nya masuk kedalem kok.”

“Gak tau pak....” Jawab gue lirih sambil sekuat tenaga menahan rasa sakit di kepala,

“A, mau saya panggilin gocar?”

“Gak usah pak, saya minta jemput temen aja.”

Bapak satpam masih menemani gue mungkin beliau takut gue kejang-kejang lalu mati mendadak kali ya. Walaupun dengan keadaan seperti ini gue memaksakan diri untuk menghubungi anak-anak karena gak mungkin banget gue pulang pake angkutan umum, grab atau gocar, karena gue tahu akan terjadi sesuatu sama gue setelah ini. Ya, efek high nya masih bisa kumat bahkan ketika gue setengah sadar.

Bayang-bayang Jasmine tiba-tiba memenuhi pikiran gue. Ah, cewek itu. Emang beneran gila kayaknya.