hafidz: fall for you.
Kadang gue tidak pernah menyangka jika cara kerja Semesta bisa menarik gue dalam sebuah kebingungan tidak berujung. Contoh keisengan Semesta yang tentunya merepotkan gue adalah bagaimana seorang perempuan bisa meluluh lantakkan dunia seorang Hafidz Frimawan seperti sekarang ini.
Lucu ya. Awal yang gue kira hubungan profesional antara talent dan client menjadi suatu hal yang tidak bisa gue atasi dengan cara profesional lagi. Padahal yang punya prinsip; gak-akan-pernah-baper-pas-on duty tuh gue tapi memang bisa disimpulkan jika manusia sukanya minum ludah sendiri.
Jasmine Amanda...
Ah, kadang menyebut namanya aja bikin mulut gue mendadak kelu. Rasanya belum terbiasa (dan masih gak percaya) jika gue bisa jatuh hati pada entitas yang membuat gue hampir meregang nyawa.
Kini, lagi-lagi gue harus bersusah payah untuk bersikap tenang dan tidak terlihat salah tingkah didepan dia karena, Demi Tuhan, Jasmine tampak lucu dengan rambut dikepang dua serta riasan sederhana membuat gue harus mengalihkan pandangan ke arah mana saja agar gue tidak bertatapan langsung dengan sepasang mata bulat lucu itu.
“Cip, itu namanya Oma siapa ya?” Tanya nya dengan nada penasaran tapi begitu geli di telinga, rasanya seperti ada embusan angin yang tertiup dari arah kiri. Gue seperti baru tersadar jika suara Jasmine bisa selembut dan setenang itu,
“A- aah... i- itu.. anu-” Kemampuan dasar gue sebagai mahluk hidup yaitu berbicara sepertinya dipertanyakan disini. Shit, ini nih yang gak bisa gue tolerir dari kasmaran adalah bumbu-bumbu bego yang membuat sebagian panca indra dan skill bersosialisasi jadi tumpul.
Sekarang gue dan dia berada di panti werdha Bakti Senja, sebagai agenda akhir dari rangkaian boyfriend rent dengan periode paling panjang yang pernah gue handle ini gue mengajak dia untuk visit sekalian jenguk Oma dan Opa yang mungkin sudah beberapa minggu tidak pernah gue sambangi lagi. Gue gak yakin jika nantinya Jasmine akan nyaman berada diantara lansia-lansia ini, tapi semoga aja karena gue sudah memilih tempat yang setidaknya bisa didatangi orang baru yang mau bersosialisasi dengan para manula.
Omong-omong soal Bakti Senja, panti yang menjadi comfort place gue ketika bertandang untuk visit mingguan, bukan berarti panti werdha yang lain tidak membuat gue nyaman namun Bakti Senja punya makna dan kesan tersendiri. Suatu kesempatan istimewa tentunya jika ada orang yang gue ajak kesini dan Jasmine lah yang beruntung diantara yang lainnya. Bukan Farhan si presiden The Panas Tiris, bukan pula anak-anak Idiosin yang lain. Baru Jasmine. Dia yang pertama.
“Hmmm?” Kepala nya memutar menghadap gue yang berada dibelakang nya, dan ya, satu umpatan kecil berhasil lolos dari mulut gue membuat raut wajah nya semakin lucu dalam jarak beberapa centi dari wajah gue, “Kenapa Cip?”
Tanya nya lagi. Aduh, kenapa ya. Gak bisa banget nih begini masa iya ketika moment-moment cinta monyet kayak gini kilas balik soal dia yang secara sengaja masukin obat tidur kedalam whiskey gue tiba-tiba menghilang. Justru hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut kini digantikan oleh sensasi aneh yang mengalir dari ujung kepala hingga pangkal ulu hati- ah, mungkin jantung? Atau lambung? Entahlah, yang jelas dari dada hingga ke perut, gue bisa merasakan sensasi yang teramat geli.
“Na- na- namanya Oma Sinta! I- iya Oma Sinta. Hehehe, baru inget gue.”
“Gue denger loh, lo bilang shit kan tadi? Ada apa? Gue ada salah kah Cip?”
Argh, Jasmine. Mending lu mundurin dulu dah muka lu itu jangan sampe gue tiba-tiba kelepasan.
“Salah denger kali lu, Jas?” Gue mengambil langkah mundur untuk sedikit menjauhi dia. Lalu Jasmine dengan sigap menghampiri Oma Sinta dengan senyuman manisnya,
“Oma~ Oma lagi apa?” Butuh beberapa detik untuk gue bisa memproses pemandangan yang tentunya belum pernah gue lihat ini. Perempuan yang gue kira psiko ternyata bisa memperlihatkan sisi nya yang lain,
“Alah, ini teh siapa yah? Kok baru liat. Meni Geulis kieu.“
Satu tarikan diujung bibir gue. Betul, Oma Sinta berbicara fakta gue dua puluh juta persen setuju.
“Apa katanya, Cip?” Ujar Jasmine tanpa melepaskan pandangan nya, gue lupa jika Jasmine bukan orang sunda tapi masa iya pujian sepopuler itu aja dia gak ngerti?
“Cantik.”
“Hah?”
“Eee- eh..” Gue mengusap tengkuk dengan panik, “Kata Oma nya, lu cantik, Jas. Gitu hehe.”
“Dih boong ya? Jangan mentang-mentang gue gak bisa bahasa sunda ya lo bisa boongin gue.”
YAELAH LU PAKE ACARA NGAMBEK-NGAMBEK LUCU BEGITU LAGI. NGEREPOTIN PERASAAN GUE AJA.
Sesuatu dari dalam diri gue sedang berteriak ketika Jasmine merajuk dengan ekspresi lucu. Jika ada kamera disini mungkin dari tadi sudah gue lambaikan tangan tanda menyerah. Sesungguhnya, kelemahan terbesar gue adalah cewek agresif yang bisa jadi lucu dalam satu waktu. Mmm, mungkin Jasmine orang nya.
“Eh, enggak neng, bener itu kata Acip. Kamu teh geulis, indonesia nya mah kamu itu cantik.”
Baru dari situ si perempuan yang Oma panggil cantik itu bisa tersenyum. Senyum yang lagi-lagi gue akui jika itu adalah senyum paling manis yang pernah gue lihat.
“Hehehe Oma bisa aja. Makasih yah Oma.” Gue pikir Jasmine berkenalan dengan orang yang tepat, karena Oma Sinta memang terkenal friendly dengan orang baru dan gue tidak kaget juga jika beliau mudah akrab bersama Jasmine.
Dari hati gue yang paling dalam, semoga diajaknya Jasmine kesini bukan semata-mata untuk jadi last service gue sebagai cowok boongan nya, jauh dari itu, gue harap Jasmine bisa lebih merasa dicintai oleh orang-orang disekitarnya seperti sekarang ini,
Termasuk juga bisa dicintai oleh dirinya sendiri.
Tigapuluh menit berlalu, gue meninggalkan Jasmine bersama Oma Sinta karena tadi gue harus dipanggil oleh pihak panti untuk membahas kelanjutan program kerja dari Idiosinkrasi yang memilih Bakti Senja menjadi salah satu panti binaan nya,
“Jas...”
Panggil gue lirih melihat Jasmine menangis tersedu-sedu sambil dipeluk Oma Sinta. Begitu pilu dan hangat di saat bersamaan. Moment yang mungkin belum pernah dia rasakan, dimana sosok Ibu begitu jauh dari jangkauan nya. Walaupun gue tidak tahu apa yang mereka bicarakan hingga Jasmine bisa selepas itu untuk menangis, tapi seolah ngilu nya bisa gue rasakan dengan amat nyata, bagaimana Jasmine menanggung luka-luka nya sendirian tanpa sosok yang seharusnya jadi panutan, agaknya mendambakan hidup tenang saja bagi Jasmine adalah sebuah kemewahan.
Jasmine, seberat dan sebanyak apapun luka yang lu tanggung semoga semuanya bisa terbalas menjadi hal-hal indah yang bisa lu syukuri untuk terus memaknai hidup.
“Tadi ngomongin apaan sama Oma? Sampe nangis-nangis begitu?”
Angin malam Lembang menerpa lembut wajah gue, dihadapan kelap-kelip lampu, yang terlihat seperti hamparan langit bertabur bintang dari kejauhan. Gue mengajak dia ke bukit Moko, duduk diatas bangku kayu dengan dua cangkir bandrek hangat, melihat night view kota Bandung dari ketinggian, dengan harapan bisa membuat perasaannya sedikit membaik.
“Banyak.” Dia menyesap bandrek dari cangkir berwarna putih itu, lalu kembali memeluk kedua lututnya menatap hamparan lampu-lampu itu dengan tatapan sendu, “Mami, Papi dan hidup gue.”
Sebenarnya, gue tidak mau jika harus bertanya kembali tentang hal-hal yang mungkin sudah ia kubur dalam-dalam dibagian mana saja pada hati nya, karena gue tahu betul mengorek kenangan-kenangan menyakitkan sama saja me-reka adegan seperti sebuah roll film yang berputar pada ingatan.
“It feels like i don't deserve everything in this world. Semuanya jadi terasa asing, Cip. Bahkan orangtua gue sendiri. Rasanya hanya raga gue aja yang hidup, perasaan gue udah mati.”
“Jas-”
“Gue masih ingat dengan jelas gimana Mami nyalahin gue karena Michael minta putus, padahal posisi nya udah jelas kalo Michael did a harassment. Isn't that funny, Cip? Mami yang gue kira adalah orang yang sangat menyayangi gue tega ngelakuin itu.”
“Papi? Papi lu gimana emang?” Kayaknya udah kagok juga, suasana nya lagi deeptalk begini sekalian gue tanya-tanya yang lain biar dia nya juga lega bisa ngeluarin semua beban-beban yang selama ini menyesakkan dada nya,
“Gak ada yang bisa diharepin lagi, Cip. Justru papi yang gue benci pertama kali. Dari kecil gue gak deket sama dia- Oh, bahkan waktu kecil gue di asuh mbok Yati yang udah berpuluh-puluh tahun kerja di rumah, jadi bisa lo liat sendiri lah ya tadi, gue kayak ngeliat sosok mbok Yati pas liat Oma Sinta.” Jasmine merapatkan pelukan pada lututnya, tersenyum getir dengan udara yang semakin dingin,
“Orangtua gue mana pernah peduli.”
Perih, gue bisa melihat gurat penuh kekecewaan terpancar dari tatapan sendu nya,
“That's why you work as model and stuff to provide your own life. Am i right?”
Dia mengangguk.
“And also, your relationship with Arumi-”
Keceplosan, harusnya gue tidak bertanya hal-hal percintaan nya itu, karena urusan orientasi seksual seseorang bukanlah jadi sesuatu yang harus dijelaskan pada semua orang,
“You right, Cip. Gara-gara harassment itu gue menganggap semua cowok sama sampahnya kayak Michael. Dari situ juga gue dipertemukan sama Arumi. We connected to the each other. Rasanya sebagian dari diri gue yang hilang bisa lengkap ketika sama Arumi and i don't know it turned out to be romantically ships.“
Kini giliran gue yang mengangguk. Asumsi gue ternyata benar, hal yang terjadi pada Jasmine ini memang tercetus karena adanya kebencian pada lawan jenis. Jika Jasmine melakukan ini hanya untuk melampiaskan lukanya... gue kurang yakin juga dengan itu.
“You love her- i mean, Arumi?“
“Maybe for some purposes...” Jasmine beralih menatap gue ragu, “Mungkin aja gue gak pernah benar-benar mencintai Arumi sebagaimana seseorang yang harus gue cintai.”
“Masih berpikir semua cowok sama sampah nya kayak mantan lu itu?”
Suara gue jadi lebih parau, mungkin karena udara dingin yang makin mencekat.
“Cip...” Jasmine menggigit bibir bawah nya, dengan penuh kebimbangan Jasmine mungkin menghindari pertanyaan gue itu. Jelas, luka nya memang belum benar-benar pulih dan hal ini tidak lantas membuat gue terburu-buru untuk menjadi sosok penyelamat yang menarik tangan nya dari tempat gelap ke tempat benderang. Konsep nya tidak sesederhana itu, “Gue gatau.”
Gue menatap nya dalam. Kesedihan masih ada diujung netra perempuan itu.
Kepala gue mendadak jadi berat. Rasanya seperti ada puluhan batu-batu asteroid yang berjatuhan menerpa seluruh badan gue. Pulang dari sini gue bisa saja pilek gara-gara kelamaan kena angin malam.
“Lu sangat amat berhak untuk dicintai, Jas. Bahkan jika tidak ada yang bisa lu cintai, lu masih punya diri lu sendiri.” Ada dorongan yang membuat gue tiba-tiba memajukan badan untuk mengikis jarak diantara kami berdua. Gue sudah tidak bisa merasakan lagi deg-degan ataupun perasaan salah tingkah lainnya ketika gue bisa melihat dengan sangat jelas wajah dia yang memerah menahan tangis,
“Dan juga gue...”
Gue tatap mata nya dengan teduh, beralih menatap bibir ranum merah ceri nya yang sejak siang membuat gue salah fokus. Entah dorongan dari mana gue semakin berani untuk menangkup wajah nya dengan kedua tangan gue, mencoba menyalurkan hangat untuk setidaknya membuat dia tidak terlalu kedinginan,
Perasaan bandrek yang gua pesan tadi gak dimasukin apa-apa tapi sensasi nya mirip ketika whiskey yang gue minum dicampuri obat tidur tempo hari lalu. Gravitasi seperti menipis dan dengan kesadaran yang masih dipertanyakan,
I kissed her.
Bibir merah ceri itu terasa begitu nyata ketika bersentuhan dengan bibir gue yang dingin.
Manis dan lembut.
Sebelum benar-benar tidak sadar dengan situasi ini, hal terakhir yang gue ingat adalah bagaimana airmata nya yang meluruh jatuh ikut membasahi pipi gue.