How Did They Get Into Idiosinkrasi: #1 – Gemintang

Gemintang, seorang mahasiswi baru FSRD kala itu, sudah mencak-mencak gak jelas karena hari terakhir OSKM ia tidak kebagian parkir yang mengharuskan nya putar balik sejauh satu kilometer untuk menempatkan motor matic hitam (yang dia panggil Lili) di kantong parkir yang sudah disediakan pihak panitia. Gara-gara harus beradu argumen dengan seorang ibu-ibu ketika membeli nasi kuning untuk sarapan dan berujung ia harus merelakan waktu pagi nya bertemu dengan macet Dago padahal Gemintang bangun lebih awal untuk menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan seperti ini.

“Ayo dek, boleh. Mampir ke stand kami yuk, tanya-tanya dulu juga boleh!” Sapa seorang kakak senior menginterupsi langkah tergesa Gemintang hingga ia harus menunduk-nunduk dengan sopan sambil menolak nya. Hari terakhir penutupan ospek memang selalu diisi dengan berbagai penampilan serta promosi dari UKM se-ITB. Dari awal kedatangan nya di kampus ia sudah kebelet banget tapi tidak bisa menemukan toilet terdekat, belum terlalu hapal seluk beluk kampus juga karena masih mahasiswa baru, mau bertanya tapi sungkan karena para kakak tingkat sedang sibuk-sibuknya promosi.

“Anjir demi apa, makin siang makin banyak orang. Aaaargh pengen pipis!” Ujarnya frustasi sambil terus mengedarkan pandangan mana tau kebetulan nemu toilet,

Tapi yang ia temukan justru stand sepi dengan banner gak niat terbuat dari karton berwarna biru bertuliskan 'Idiosinkrasi' dan seorang kakak senior yang sibuk bermain handphone tengah duduk berjaga, Gemintang pikir jika ia bertanya pada kakak senior tersebut ia akan segera menemukan toilet. Buru-buru bergegas dan mendekati stand itu agak hati-hati,

“Kak, permisi?”

Laki-laki yang Gemintang yakini adalah kakak senior itu (walaupun masih agak ragu juga) menengadah, menatap wajah kebelet Gemintang lalu tersenyum,

“Iya? Ada yang bisa dibantu? Mau masuk Idiosinkrasi?” Tutur nya ramah sekali hingga bikin Gemintang makin tidak enak untuk menyela pertanyaan nya,

“A-anu kak... Aaa-”

“Boleh, isi form nya ya. Bentar”

Hah

“Kak, anu toilet sebelah mana ya?”

Kakak senior tersebut mematung dengan kertas formulir di tangan nya lalu beralih menatap Gemintang lagi, takutnya ia salah dengar atau bagaimana,

“Toilet?”

“I-iya kak” Jawab nya dengan gugup takut malah kena semprot,

“Gini deh. saya kasih tau kamu dimana toilet nya tapi kamu harus gabung Idiosin ya?”

Hah... orang gila..

Alah persetan dia bisa langsung kabur kalau udah tau dimana toilet nya dengan begitu ia gak harus terikat dengan Ideo..Idisi.. ah pokoknya kelompok dan orang aneh ini.

“Oke! saya bakal gabung sama kelompok ini. tapi please kak dimana ya toilet nya?” Gemintang makin menciut dengan wajah tidak karuan karena beneran udah gak setahan itu,

“Yes, acc! Oke, jadi kamu masuk gedung ini nih nanti masuk lorong deket ruang tata usaha terus mentok disana ada toilet. Kalo ada yang nanya-nanya aneh ngapain kesitu, bilang aja disuruh Farhan.” Tutur kakak tersebut dan dalam sepersekian detik Gemintang langsung melesat meninggalkan stand dan masuk ke dalam gedung yang dimaksud.

-

“Yaampun.. lega..” ujar nya selepas keluar dari toilet, mencuci tangan nya lalu merapikan penampilan nya yang agak berantkan karena terlalu banyak berlari. Gemintang pun melenggang keluar gedung dengan perasaan ringan lalu terdiam dengan wajah shock karena melihat seseorang yang familiar sedang bersandar pada tembok gedung dekat pintu, melempar senyum nya seraya melambaikan tangan,

“Hai, udah ke toilet nya? Yuk lanjutin isi form”

'Beneran orang gila, ternyata ditungguin...' batin Gemintang sedikit menyumpahi keputusan nya tadi karena langsung mengiyakan tawaran si kakak senior, ia gak nyangka bakal beneran dibuntutin kayak begini. Ah, mati. Padahal ia ingin kehidupan maba nya tentram dan damai, walaupun 'soon to be gila' karena tugas-tugas yang akan ia hadapi di fase TPB ini.

“Anak FSRD ya?”

“Hah? A-ah, iya kak.”

“Wah.” si kakak langsung tersenyum, tergambar di wajah nya bahwa ia sangat puas sekali me-rekrut Gemintang dengan cara yang tidak terduga.

“Kenapa ya kak?” Merasa ada yang janggal, Gemintang bertanya hati-hati, laki-laki ini beneran mahasiswa sini bukan sih? kok tingkah nya mencurigakan banget. Jangan-jangan orang random yang buka stand secara ilegal buat dapetin mangsa. Hah, jangan-jangan...

“Kenalin, gue Farhan D.I 2017. Kayaknya kita bakal sering ketemu pas ospek fakultas”

Hah.. HAH?

Mungkin di masa lalu Gemintang pernah bikin rugi suatu negara apa gimana ya kok bisa-bisanya awal perkuliahan se-mlenceng ini, jauh dengan apa yang ia harapkan.

Dan begitulah awal mula seorang Gemintang Hanin Shidqia menghabiskan masa kuliah nya bersama Idiosinkrasi. Kalau ditanya perasaan nya sekarang seperti apa, ia sangat bersyukur walau dipertemukan dengan cara yang tidak biasa, cerita kebelet dan perjanjian aneh, membuka mata Gemintang dan selalu diberikan rasa syukur dengan memaknai kehidupan sebaik-baiknya.

Note: