Kala dan Bandung.

Setelah menempuh perjalanan darat yang memakan waktu hampir seharian kini aku benar-benar mengijakkan kaki di kota yang katanya tercipta ketika Tuhan sedang tersenyum.

Bandung, bukanlah kota impian ku untuk bekerja. Menurut khayalan Kala diumurnya yang masih tujuh tahun, Jakarta lah yang sering ia selipkan diantara doa-doa masa kecilnya. Gedung pencakar langit membuatnya terkesan dan ikut membayangkan apa jadinya jika bekerja diantara bangunan-bangunan menjulang itu, padahal sebenarnya, ada harga yang harus dibayar, berupa usaha-usaha untuk tetap bertahan diantara ketatnya persaingan kerja di ibu kota.

Mungkin itu juga yang mendasari aku untuk memilih Bandung saja menjadi opsi kedua. Ya, walaupun sama-sama sulitnya, setidaknya disini aku masih punya rekan serta kolega yang mungkin mau membantu aku ketika aku kesusahan. Salah satunya adalah, Saga, yang kini sedang berlari kearah ku dengan senyum sumringahnya,

“Mbaaaaak!”

Panggilnya lantang, mungkin bisa terdengar hingga ujung terminal. Anak ini masih sama ceria nya seperti dulu.

“Sag!”

Balas ku tidak kalah antusias. Satu yang aku sadari ketika bertemu Saga kembali, kini laki-laki itu lebih tinggi 20-30 centi dari tinggiku, meski aku ini termasuk kedalam orang yang berpostur tidak tinggi-tinggi amat, tapi seingatku dulu Saga masih lebih pendek, berpenampilan cupu dan masih suka memeluk boneka keropi kesayangannya,

“Mbak, maafin telat. Ternyata bener, muacet banget!”

“Hahaha, gak apa toh Sag. Mbak ngerti kalo sore-sore gini emang suka macet, barengan sama jam pulang kerja juga kan?”

“Betul, mbak. Eeh—” Saga dengan sigap mengambil semua bawaanku, termasuk dengan koper nya, “Kita ngobrol didalem mobil aja mbak, yuk”

“Wih, sekarang punya mobil tah?” Aku mengekor langkah Saga yang kini terlihat ribet dengan barang bawaan ku, lucu banget.

“Bukan punyaku, Mbak. Itu punya bos tempat aku part time. Aku mana punya duit buat beli mobil, motor aja dibeliin Papah.” Aku mengangguk-ngangguk, Saga sebelumnya cerita sih kalau dia bakal bawa aku ke tempat part time nya, kebetulan disana ada kamar kosong yang cukup layak untuk ditempati beberapa hari, sementara sampai aku menemukan kamar kosan disekitar tempat kerja.

Saga ini adalah anak tetangga ku dulu di Surabaya, dia paling dekat denganku, bahkan sudah aku anggap adikku sendiri. Sebenarnya umur kami tidak jauh-jauh amat, sampai Saga harus memanggilku dengan sebutan Mbak, tapi dia ini dulunya kan anak tunggal super manja, tidak jarang kedua orangtua nya sengaja menitipkan Saga kecil di rumah ku sementara mereka pergi bekerja, aku yang memang suka anak kecil selalu antusias ketika Saga datang berkunjung.

Sampai dimana kejadian yang menyebabkan Saga dan keluarga akhirnya memutuskan pindah rumah, kejadian yang mungkin masih terekam di memori Saga hingga dewasa.

“Gimana mbak, udara Bandung enak gak?” Tanya Saga sesaat ketika kami sudah memasuki mobil, “Dulu aku pas pertama kali kesini langsung pilek loh, mbak”

Aku spontan tertawa dengan ucapannya itu, suhunya memang turun beberapa derajat jadi lebih dingin tapi kayaknya gak sampe bikin aku pilek juga.

“Gimana Sag?”

“Apanya, mbak?”

“Ya, perasaan kamu sekarang. Akhirnya bisa ketemu sama mbak lagi. Jadi keinget sama Surabaya gak?” Aku lihat senyum Saga mulai menghilang, berganti dengan raut wajah agak gusar, harusnya yang terakhir gak usah aku omongin. Duh, bodoh banget.

“Seneng.. seneng akhirnya bisa ketemu sama mbak lagi setelah sekian lama. Tapi kayaknya.. enggak dengan Surabaya. Menurutku mbak bukan bagian dari kenangan-kenangan menyakitkan itu. Mbak dan Surabaya adalah dua hal berbeda.” Ujar Saga tanpa melepaskan pandangan pada kemudi nya, “Tinggal disini emang susah awalnya, karena harus adaptasi, harus kenalan lagi, gak ada orang yang kayak mbak. Tapi, seenggaknya gak ada yang ngatain aku cina lagi. Gak ada sekumpulan orang yang marah-marah ke rumah sambil ngelemparin batu. Aku dan keluarga akhirnya bisa tinggal dengan tenang disini, mbak.”

Aku tahu, Saga harus kembali mengorek luka masa lalu nya itu, tapi aku lega karena pada akhirnya dia dan keluarganya bisa menemukan ketentraman dan kebahagiaannya disini.

“Mbak bangga sama Saga.” Aku menepuk-nepuk pundaknya pelan, baru aku bisa melihat senyum itu kembali muncul dibibir nya.

“Aku harap hal-hal baik yang terjadi sama aku, bisa terjadi juga sama mbak. Aku yakin mbak bisa.”

Aku mengangguk, tersenyum membalas ucapannya. Aku harap juga begitu, Sag. Semoga Bandung jadi tempat ku untuk menemukan ketentraman dan kebahagiaanku sendiri.

“Hei halo, kenalin gue Jevian. Panggil Jape aja sih, biar akrab hehe. Salam kenal” Aku mengangguk kikuk dengan perkenalan dari laki-laki berkacamata itu. Suasana jadi super canggung karena sekarang aku duduk satu meja dengan lima laki-laki—kecuali Saga, yang tidak aku kenal. Mungkin mereka ini teman-temannya Saga.

“Halo, mbak Kala. Saya Andreas”

“Eee—eh, iya halo Andreas. Saya Kala.”

“Bagus ya namanya, Kemilau Kala Senja. Beuh, pasti orangtuanya dulu suka nulis sajak nih, bener gak Kal?” Ucap laki-laki disamping Jevian terlihat sok akrab, pasti Saga nih yang ngasih tahu nama lengkapku, duh malu banget. Aku lebih suka dipanggil Lala aja padahal.

“Iya, Mas.” Lagi-lagi aku menjawabnya dengan canggung, kemampuan bersosialisasiku memang payah, tapi sekarang sudah agak mendingan. Dulu, bertemu dengan orang aja aku bisa tremor hingga keringat dingin.

“Eh iya, belom kenalan. Panggil aja gue Brian, Kal.”

“Dia bos nya Saga, mbak. Jadi dibaik-baikin lah, biar gaji Saga dinaekin.” Saga tertawa nyaring sambil memakan camilan-camilan yang aku bawa dari rumah.

“Oh iya, halo mas Brian, makasih udah minjemin mobil nya tadi buat jemput saya”

“Alah santai, kalem aja. Nanti buat sementara tinggal di kamar deket kitchen dulu ya? Mau sebulan juga gapapa.”

“Hehehe, makasih sekali lagi mas Brian.”

“Anying adem gini euy, dipanggil mas. Biasanya dipanggil Aa atau Koh.”

“Asal jangan dipanggil sayang aja, Kal. Entar orangnya bisa kejang-kejang” Balas Jevian disusul koor tawa dari kami semua. Oh, kecuali laki-laki yang duduk tepat didepanku. Sejak aku tiba disini, dia tidak pernah melepaskan pandangannya pada handphone. Ya, terserah sih, tapi alangkah baiknya kan saling berkenalan dulu, mungkin emang dia nya aja yang gak paham sama namanya tata krama.

“Ji, woy. Kenalan dulu atuh, maen hape mulu sia mah.” Tegur Brian hingga orang yang dimaksud bisa benar-benar mengangkat kepalanya dan menatap ku sekilas,

“Oh iya. Panggil aja Aji.” Sesingkat itu, lalu kembali sibuk dengan handphone nya.

Wah, bener-bener. Kayaknya aku baru pertama kali ketemu orang seperti Aji-Aji ini. Asli, manners nya jelek banget. Gak peduli soal first impression kali ya?