Kala dan Rumahnya.

Deru mesin mobil mengisi keheninganku dan Aji. Ada tanya ku tergantung disana dan mungkin tanya Aji yang ikut serta didalamnya, bersama dengan semua kebetulan-kebetulan yang terjadi sebelumnya.

Namun setelah lima belas menit berlalu baik aku dan Aji sama-sama enggan bersuara, tidak tahu pasti apa yang ada dibenak nya saat ini tapi jika boleh berasumsi, mungkin Aji masih merasa keberatan dengan keberadaan ku yang lagi-lagi harus merepotkan nya dua kali untuk hari ini. Sebenarnya aku menyesal setelah sebelumnya menyumpah serapahi dia karena terlihat tidak ikhlas ketika mengantarku pergi survey. Meski untuk kebetulan kedua ini atas pesan dari Saga tetap saja rasanya kepalang malu dan sungkan bahkan untuk sekedar meminta maaf.

Satu dehaman dari kursi kemudi membuyarkan lamunan ku, Aji yang masih fokus pada setir akhirnya berinisiatif membuka percakapan,

“Temen nya, Mbak?”

“Bukan, Mas.”

Hening kembali. Tidak ada pertanyaan lain, Aji hanya mengangguk-ngangguk sambil mengetuk-ngetukan jari nya diatas kemudi, sebelum aku menambahkan jawaban Aji tiba-tiba berujar kembali,

“Hati-hati, Mbak.”

Bersamaan dengan Yaris putih yang kami tumpangi terhenti di sebuah persimpangan lampu merah dan disaat itu pula aku merasakan debaran tidak karuan yang membuat sebagian wajahku mendadak hangat. Aku tidak tahu ada makna apa dibalik kata-katanya barusan tapi mari berbaik sangka saja jika Aji hanya ingin memintaku untuk tetap waspada.

“Iya Mas, terimakasih.”

Entah cuma perasaan ku atau keadaan nya jadi makin canggung, sebelum lampu merah berubah menjadi hijau Aji lagi-lagi membuka obrolan,

“Boleh?” Tanya nya dengan satu tangan bersiap menyentuh layar perangkat audio player namun sebelum benar-benar menekan tombol play nya Aji memutar wajah nya untuk menatapku, “Kalo gak keberatan.”

“S-ssi-silahkan, Mas.”

Rasanya aku ingin berubah jadi wiper di detik berikut nya. Jawaban yang teramat sangat payah. Ya Tuhan, kenapa sih hamba harus ada di situasi seperti ini.

Terdengar kekehan kecil dari seberang sana kekehan yang hampir membuat jantung ku melorot hingga jatuh ke perut. Hiperbola memang, tapi respon nya itu membuatku mempertanyakan impresi seperti apa yang Aji tangkap tentang ku hingga harus ditertawakan? Apa aku terlihat bodoh karena bersikap demikian? Huh.

Sementara aku masih tenggelam bersama pikiran ku sendiri, intro lagu yang sangat familiar mulai terdengar membuat atensi ku teralihkan sepenuhnya, secara kebetulan lagu yang menjadi on repeat ku belakangan ini tiba-tiba di mainkan.

“Wah.. You're My Home..” Seru ku pelan sembari melihat judul serta nama penyanyi yang terpampang di display audio player, aku tersenyum lebar, lagu yang seakan merengkuhku kedalam peluk hangat setelah berjibaku menghadapi hari yang sangat melelahkan ini.

“Tau lagu nya, Mbak?”

Namun belum sempat menjawab pertanyaan Aji, bunyi notifikasi chat yang masuk sukses membuatku mematung beberapa saat,

Pesan dari Ibu.

Aku hanya berani melihat preview nya dari lockscreen saja, tanpa perlu membukanya bisa dipastikan aku akan berakhir mengenaskan didalam mobil dan menjadi tontonan Aji.

Chat lainnya masuk, kini dengan isi yang lebih menohok membuat kedua mata ku memanas, aku harus bersusah payah menahan tangis tapi sesak nya semakin menjadi dan tanpa disadari satu bulir air lolos meluncur dari ujung mata ku.

'Things might seem hard but i'll always be here.' 'So, don't think too difficulty'.

Alunan lagu Sadawira mengiringi pesan Ibu yang kian emosional dan mengharu biru, betapa kesepian dan sedih nya harus mulai hidup terbiasa terbentang jarak dengan rumah, dengan Surabaya dan juga dengan Ibu. Hari ini belum genap satu minggu tapi rindu untuk Ibu sudah sangat menggebu-gebu.

Aku menyerah untuk bertahan, bersama dengan tangis yang pecah ruah beserta semua perasaan-perasaan yang berkecamuk, tentang rumah, tentang belajar mandiri, tentang mencari uang, tentang menjadi tulang punggung, tentang kuat, tentang tanggung jawab, tentang Ibu dan tentang semua ketakutan ku.

'Cause I'm your home, a place you can come to.'