sedikit tentang Aji
Nama Aji mungkin masih terdengar asing diantara para pegiat skena musik independent se-Bandung Raya, berbeda dengan Sadawira yang namanya hampir tergaung diseluruh penjuru kota bahwasanya eksistensi penyanyi itu nyata walaupun wujudnya hanya bisa ditemui pada bait serta nada yang kerap kali menduduki peringkat teratas di chart platform musik berbayar.
Padahal baik Aji dan Sadawira adalah satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, mereka utuh dari seorang individu yang mempunyai kemampuan meramu nada menjadi sebuah senandung pelipur siapa saja yang merasa lara. Aji merasa nyawa nya adalah musik, ia hidup berkat musik dan hampir tiap malam selalu ia habiskan untuk menyelesaikan karya-karya nya dengan berkutat di bawah cahaya temaram lampu studio
Jika ada satu nama yang akan selalu ia sebutkan dalam setiap kesempatan bermusiknya tentu Aji akan menyebut nama Brian lebih dulu. Aji sangat beruntung dipertemukan semesta dengan sang owner cafe Brian saat itu, ketika Aji berumur sembilan belas tahun nekat pergi merantau dari rumahnya di Singkawang menuju Bandung seorang diri. Aji tidak menyangka jika kedatangan nya dulu ke Geladeri cafe untuk melamar pekerjaan sebagai waiters karena uang saku yang semakin menipis berakhir menjadi sebuah takdir yang membawanya bertemu dengan musik. Brian mencurahkan tenaga serta waktunya untuk Aji, karena sebagai orang yang dulu sempat berkecimpung dalam bidang serupa, Brian bisa melihat Aji sebagai manusia yang diberkati banyak potensi, ambisi dan keinginan yang tinggi, sampai dimana ia menemukan bahwa alasan Aji melarikan diri dari rumah adalah untuk menemukan sebuah mimpi. Tak ayal, Brian rela memberikan berbagai fasilitas bermusik hingga sebuah studio kecil yang ia buat didalam cafe untuk Aji, yang dulu mungkin hanya bisa dimasuki dua orang, hanya ada beberapa instrumen seadanya serta laptop pribadi nya yang biasa ia gunakan untuk editing dan mixing agaknya lebih dari cukup saat itu untuk membuat produksi musik nya jadi lebih baik.
Mungkin saat ini tujuan Aji semakin terlihat jelas, disamping meniti karir sebagai penyanyi dan seorang produser Aji ingin membuktikkan pada kedua orangtuanya bahwa ia juga bisa menjadi apa yang ia inginkan tanpa harus selalu mengikuti arus yang sudah ditentukan, bahwa ia juga mampu berdiri diatas kaki nya sendiri.
Masa lalu kecil Aji memanglah seperti anak kebanyakan, mungkin bagi sebagian orang. Tapi tidak menurut Aji, statusnya sebagai anak tunggal cukup membuat dia kewalahan, kedua orangtua nya hanya memberikan setumpuk harapan serta mimpi-mimpi yang masih belum terlaksana pada Aji. Tumpuan hidup keduanya ada pada Aji, rotasi nya hanya berputar pada Aji dan semuanya tentang Aji. Hingga mereka lupa bahwa Aji juga sama-sama manusia. Hingga mereka lupa bahwa Aji tumbuh semakin dewasa. Dengan rasa ingin berontak setiap hari, rumah nya lama-lama terasa seperti penjara dengan tembok-tembok tinggi yang menyesakkan dada nya.
Aji dan dirinya lima tahun yang lalu memang tidak banyak berubah, tetap Aji yang agak keras kepala, tetap Aji yang gengsi, tetap Aji yang rajin bekerja di cafe padahal Brian sudah mewanti-wanti ia untuk tidak ikut campur lagi soal urusan cafe karena pekerjaannya sebagai produser musik cukuplah berat. Tapi Aji tetaplah Aji, yang tetap merendah sekalipun namanya dibicarakan di berbagai forum berita, yang tetap tahu diri dari mana ia berasal, tetap merasa jika kebaikan seseorang yang membantunya bangkit dari keterpurukan adalah hal yang harus ia balas hingga akhir.