suara hati si sulung.

Menjadi dewasa itu menyebalkan, sepakat?

Tumbuh besar, kerja di perusahaan ternama dengan gaji dua digit, tidur nyaman diatas kasur empuk, tinggal di rumah mewah berpagar tinggi dan hal-hal enak lainnya yang saya impikan waktu masih berumur tujuh tahun. Apa sih, yang ada dipikiran bocah yang bahkan ke kamar mandi waktu tengah malam saja masih harus diantar? Masih diistimewakan karena menjadi anak tunggal bahagia lengkap dengan kasih sayang dari kedua orangtua, agaknya memikirkan hidup susah saja tidak pernah terpikirkan sama sekali.

Sampai dimana bocah ini harus menerima satu-persatu fase kehidupan menuju dewasa. Ayah dan Ibu yang saya kira adalah pasangan paling bahagia di muka bumi harus berpisah setelah Ibu melahirkan adik. Saat itu saya masih berseragam putih biru dimana seharusnya saya lebih diperhatikan karena memasuki masa transisi menuju remaja puber, tapi saat itu rasanya dunia seperti runtuh, seluruh isinya menimpa kedua pundak saya, memikul perasaan sedih juga kecewa serta perasaan-perasaan lainnya yang sulit saya deskripsikan bentuknya seperti apa.

Saya lelah.

Saya lelah dituntut dewasa sebelum waktunya.

Orang bilang ketika umur memasuki duapuluhan, kedewasaan itu harus berada pada puncaknya. Bertempur dengan quarter life crisis, kebal dengan serentetan pertanyaan memuakan seperti; kapan lulus?, kapan punya pacar?, kapan nikah?, kapan punya rumah?, kapan punya anak?, kapan nambah anak? dan lainnya, seolah tidak ada opsi pertanyaan lain yang lebih bermutu, ketimbang rasa kepo pada hidup seseorang.

Here we are all.

Bukankah pada akhirnya semua orang akan dipaksa dewasa oleh keadaan?

Saya rasa diri saya ini masih jauh dari kata dewasa. Yang saya lakukan hanya terbawa arus, mengikuti perubahan dengan hanya raga saya yang melakukannya, jiwa saya pergi entah ke bagian hidup yang mana.

Saya lelah.

Saya lelah berpura-pura baik-baik saja.

Seakan bersedih adalah suatu tindakan berdosa yang bahkan sulit untuk saya ekspresikan.

Sudah mati rasa, pikir saya.

Bukankah menjadi dewasa adalah bisa memvalidasi semua bentuk emosi? Entah senang, sedih, marah, kecewa, takut. Bukankah menjadi dewasa adalah bisa mengolah serta memilah ego nya? Kehendak mana yang harus dilakukan, diutarakan atau disimpan rapat-rapat. Melebur menjadi suatu renungan untuk ajang refleksi diri.

Saya pikir, saya benar-benar sudah mati rasa.

Jika suara hati saya bisa didengar orang-orang tanpa perlu saya katakan lantang-lantang,

Saya hanya ingin diapresiasi, ingin dihargai, ingin menangis, ingin dipeluk, ingin disayang....

Juga ingin dicintai.

Menyedihkan. Bahkan mencintai diri sendiri saja saya belum mampu.

Menggantungkan berbagai ekspetasi tinggi-tinggi untuk kuasa yang bahkan saya sendiri belum bisa meraihnya.

Saya lelah.

Saya hanya lelah, berkali-kali ingin menyerah tapi enggan untuk pasrah.

Sebenarnya saya ini hidup untuk apa?