tentang datang dan pergi.
Nat, manusia itu dinamis.
Sebagai satu-satunya orang yang sadar diantara kedua orang mabok ini gue berusaha mencerna setiap petuah yang keluar dari mulut mereka walaupun kebanyakan opini yang mereka lontarkan cukup absurd ditelinga.
“Nat, hidup tuh tentang pulang dan pergi. Ada yang nyamperin karena kita masih punya value di mata mereka, ada pula yang ninggalin karena udah beda visi misi nya,” ucap Acip disela-sela sesi tipsy nya walaupun matanya tinggal segaris orang itu masih dalam keadaan meracau karna efek alkohol, “Emang anjing, seenggaknya omongin dulu duduk permasalahan nya apa, jangan maen tinggalin aja lah.”
“Tapi gini deh Cip... kita harus berterima kasih juga loh sama mereka yang udah ninggalin kita.” gue langsung beralih menatap Farhan yang sama-sama lagi mabok tapi dia lebih jago dari Acip dalam hal mengontrol kendali diri.
“Hah?”
“Orang itu berubah.. and sometimes circumstances pushes us far away from the people we love.” Dia mengambil jeda untuk menghisap rokoknya lalu menghembuskan asap nya ke udara, “As we grow up, as painful as it can be, yang bisa kita lakuin tuh berterima kasih for the borrowed time of their company dan cuma bisa ngedoain yang terbaik buat mereka.”
Gue terdiam berusaha menerka-nerka apa maksud dari ucapan Farhan tersebut. Ikut memposisikan diri sebagai orang mabok mana tau jalan pikiran gue bisa sama-sama terbuka seperti Acip dan Farhan, bukan barang aneh kalau dua orang ini bakal jadi motivator dadakan setelah alkohol menguasai seisi kepalanya.
“Jadi maksudnya, gue harus berterimakasih nih sama orang-orang gak tau diri itu?” Kini Acip sedikit tersulut emosi pasalnya argumen perihal datang dan pergi ini memanglah sangat sensitif bagi dia, mengingat teman-teman lamanya bahkan cinta pertama nya tiba-tiba pergi tanpa pamit. Jelas, ini membuat Acip cukup skeptis kepada semua orang, mungkin termasuk gue dan Farhan.
“Gak perlu tersurat, Cip. Gue tau hal-hal seperti itu emang nyebelin banget. Mau nyalahin ekspetasi melulu mah gak ada abisnya, kan emang pada dasarnya manusia suka menggantungkan harap. Ya kan?”
Farhan tersenyum getir, mematikan sisa puntung rokok nya yang masih terbakar ke tanah,
“Daripada dendam terus gak ada gunanya, emang lebih baik begitu pan? Mengobati luka sendiri dengan afirmasi baik biar hidup bisa terus berlanjut.” Lanjutnya, kini berdiri dan berjalan sempoyongan mendahului kami.
“Kacau tu orang. Brengsek, tapi emang bener.” Acip pun tersenyum dan berlari menyusul Farhan yang sekarang lagi pelukan sama tiang listrik.
Ha.. here we go again.
Sekarang gue sudah mengerti sepenuhnya ucapan mereka berdua, terlebih perkataan Farhan barusan. Kalau siklus hidup itu memanglah tentang datang dan pergi dan tentu meninggalkan luka serta hilangnya rasa percaya, selain melakukan hal-hal preventif seperti tidak terlalu menaruh ekspetasi tinggi saran dari Farhan bisa diterapkan juga, memberi afirmasi baik pada diri bahwasanya seseorang yang pernah singgah pernah memberi arti yang berarti, mencurahkan waktu serta energi nya sebelum pergi dengan atau tidak pamit.