terbang ke negeri seberang.

Memutuskan untuk merantau sejauh enamratus kilometer dari rumah menjadi pilihanku pada akhirnya. Aku yang belum pernah berpergian jauh tentu sangat khawatir dan juga gelisah, berandai-andai apakah hidup seorang diri di kota orang akan lebih baik?

...atau mungkin tidak?

“Sudah kamu masukin semuanya belum, Nduk?” Ujar Ibu diambang pintu, memperhatikan ku dengan seksama karena sudah hampir tiga jam berlalu barang-barang yang akan aku bawa masih berceceran diluar koper.

“Belum semua, bu. Masih bingung mau bawa yang mana aja.”

Ibu masuk kedalam kamarku dan duduk ditepi ranjang, mungkin mengawasiku agar sesi berkemas-kemas ini bisa cepat selesai.

“Berangkatnya jam berapa?”

Entah kali keberapa pertanyaan itu diajukan Ibu, ia bertanya hal serupa sebelum aku pamit untuk membeli tiket bis pagi tadi. Ada rasa sesak pada pertanyaan nya kini, aku tahu, Ibu mungkin takut jika nantinya aku tinggal, karena hampir setiap hari selepas Ayah pergi dari rumah aku yang bertugas menjaganya.

Aku lihat Ibu menunduk, meremas daster cokelat yang dikenakannya seperti bersusah payah untuk menahan air mata agar tidak jatuh. Aku mendekatinya perlahan lalu duduk disebelahnya, merengkuh nya dengan hati-hati agar ia tidak rapuh karena aku peluk erat-erat. Pundaknya kini bergetar bersama tangis yang mulai ruah, membalas pelukanku tidak kalah eratnya.

Kuusap puncak kepalanya yang kini ditutupi oleh helaian rambut putih, aku bisa merasakan ngilu di ulu hati menyadari untuk kedepannya Ibu harus menua tanpa ada aku disisinya.

“Lala kan ke Bandung buat cari kerja, Bu..”

Ujar ku lirih sembari menahan sesak, mati-matian ku tahan juga air mata takut ia akan luruh bersama kesedihan Ibu yang kini makin terisak. Ada kalanya, aku yang masih belajar menjadi dewasa ini berperan sebagai seorang sulung sebagaimana mestinya, menjadi kepala keluarga juga tulang punggung bagi kedua tanggungan ku.

Tentu aku marah pada Ayah, hingga rasanya benci pun bukan lagi kata yang bisa menggambarkan perasaanku untuk dia, jauh dari itu aku sudah mengubur sosok Ayah dalam-dalam dibagian hati yang bahkan kini aku lupa posisinya dimana. Bentuknya seperti apa. Membayangkan Ayah tiba-tiba mengetuk pintu saja sepertinya tidak pernah aku bayangkan.

Seharusnya Ayah yang kini ada diposisi ku, mencari uang dan menjaga ibu, adik dan juga aku.

Kenapa aku harus dipaksa dewasa ketika aku bahkan belum siap untuk merasakan segala beban serta rasa sakit dari menjadi anak tertua.

Dunia harus tetap berjalan bagaimanapun keadaanya. Aku tetap harus hidup demi Ibu serta Adik ku yang kini memasuki sekolah menengah pertama, persis seperti aku sepulu tahun lalu, masa dimana aku harus mulai memahami apa arti dari memikul sebuah tanggung jawab keluarga.

“Jagain Ibu ya, Ru.”

Aku mengelus kepala Biru—si bungsu, satu-satunya laki-laki yang ada di keluarga kecil kami. Anak itu mengangguk juga sambil menahan tangis, aku terkekeh kecil melihat dia sekarang tumbuh besar menjadi anak yang baik dan pintar. Ada rasa getir terselip disana, meski tanpa sosok Ayah yang menemani tumbuh kembangnya, aku harap Biru menjadi laki-laki yang bertanggung jawab kelak.

“Bu, Lala pamit ya.”

Ibu kembali memeluk ku entah yang keberapa kali, yang jelas kini pelukannya jadi yang paling hangat diantara pelukan-pelukan yang ia berikan. Sesuatu yang akan sangat aku rindukan ketika berada di tanah perantauan. Hari ini Ibu tidak menangis, ia tersenyum, senyum paling tulus yang pernah aku lihat.

Aku mulai berjalan sambil menggeret koper serta membawa berbagai tentengan tas yang tentu saja atas paksaan Ibu harus aku bawa, berisi camilan dan kue-kue yang ia buat, sisa dari dagangan nya hari ini. Takut bila aku mendadak kangen dengan masakan nya.

Bersamaan dengan perpisahan ku pada Ibu dan Biru, dada ku kembali bergemuruh, langkah ku kian berat, berat meninggalkan mereka berdua untuk waktu yang lama, terpisah jarak ratusan kilometer jauhnya. Aku hanya berharap diberi kekuatan dan kemudahan untuk membahagiakan kedua orang yang aku cintai ini, dua orang yang jadi alasan ku masih bertahan hingga sekarang.

Bandung, mungkin masihlah terasa asing bagi seorang perempuan yang masih belum menemukan tujuannya ini, tapi Bandung. Aku mohon wujudkan hal-hal baik yang masih aku yakini karena disinilah titik awal yang harus aku mulai.