The Barriers.

Gue terdiam memperhatikan Sabita dari kejauhan, perempuan itu benar-benar menunggu gue hingga hampir empat jam lamanya. Sibuk dengan laptop nya dibawah pohon beringin ditemani seorang penjual cuangki.

Bukan cuma mendatangi geladiresik untuk wisuda esok hari tapi gue merasa jika ajakkan Sabita untuk bertemu lagi di Sabuga adalah sebagai bentuk wisata masa lalu karena dulu gue dan dia sering menghabiskan waktu di tempat ini, bertemankan dua mangkok cuangki dengan pemandangan orang-orang yang berolahraga di lapangan bola Sabuga,

Sekelebat kenangan itu samar-samar terputar di kepala gue. Bagaimana gue akan menghadapi perpisahan jika kebiasaan-kebiasaan kecil yang sudah kami lalui saja terkunci begitu erat.

Sabita melambaikan tangan nya, senyumnya merekah ketika mata kami akhirnya bertemu kembali.

Apa masih ada kesedihan yang mengawang diantara binar mata itu?’

Gumam gue meremas tote bag berisi jubah wisuda dan toga. Padahal dulu gue dan dia bermimpi untuk di wisuda di bulan yang sama dan setelah semuanya terwujud, giliran hubungan kami yang sudah tidak lagi sama-sama.

“Maaf ya Bi nunggu lama.”

“Gapapa kok, disini wifi nya kenceng.”

Masih dengan senyum nya Sabita menjawab dengan lembut.

Kondisi kami sudah bisa dikatakan lebih tenang dari pertemuan sebelumnya. Gue tidak bisa mengelak jika perasaan gue masih sama carut marut nya seperti kemarin, masih ingin gue rengkuh Sabita kedalam peluk gue sebelum ia pergi jauh,

“Ada apa, Bi?”

Angin berembus menerbangkan surai indah perempuan cantik itu, legam nya berkilauan dipantulkan sinar matahari yang menembus celah-celah pohon beringin. Oh jika gue bisa... ingin diikat nya rambut itu dengan karet rambut yang selalu gue bawa kemana-mana di saku celana, bahkan sampai sekarang.

“Mau ngobrol aja sih, boleh?”

Gue mengangguk lalu duduk disebelah Sabita, di dalam benak terbersit berbagai pertanyaan menebak-nebak jika Sabita memang sudah move on duluan, dibuktikan dengan tidak ada raut kesedihan di air muka nya. Rasanya pilu bagaimana hubungan yang bertahan hampir empat tahun itu sudah dilupakan nya hanya dalam kurun waktu dua bulan saja,

“Sebenernya aku udah gamau ngomongin ini lagi, tapi enaknya di bicarakan pake kepala dingin gak sih, Han? Dulu kan kita sama-sama lagi meledak.”

Jika keputusan akhir nya masih tetap sama, maka gue enggan melanjutkan obrolan ini dan memilih untuk pergi demi menyelamatkan mood gue untuk wisuda besok.

“Ya... boleh.”

“Maafin aku ya?”

Secepat kilat gue memutar kepala menghadap Sabita, ucapan nya begitu lirih hingga membuat gue waspada karena bisa saja percakapan ini memancing tangis terlebih untuk kami berdua,

“Feels like it isn't fair ya? Aku ngerasa kita gak punya salah sampe harus ngorbanin hubungan ini. But in the other hand, this is my fault too for not being honest and realistic about ourselvesㅡ

“Bi..”

“Ya?”

“Cinta gak ada yang realistis.”

Told you, pasangan yang dimabuk asmara akan menaruh realistis dibawah segala nya. Sama seperti gue dan Bita ketika masih berstatus mahasiswa baru empat tahun lalu, bagaimana gue mempercayai bahwa cinta pada pandangan pertama itu memang benar ada nya, tidak hanya Bita bahkan teman-teman kelompok ospek kami saat itu tercengang ketika dengan tidak tahu malu nya gue menyatakan perasaan pada Bita lantang-lantang di hari terakhir inagurasi,

“Gak ada yang salah, Bi. Gak ada yang harus disalah kan juga, karena jalan nya emang harus begini aja. Masa kita mau nyalahin Tuhan kita masing-masing sih?” Kekeh gue terdengar agak sarcastic, walaupun tidak ada yang bisa disalahkan tapi rasanya memang benar-benar nggak adil buat gue.

“Han... ih aku serius..”

“Lah aku serius juga? Gini deh bi, aku beruntung karena bisa kenal sama kamu, menjadikan kamu bagian dari hidup aku dan hal-hal bahagia diluar semua keterbatasan kita.” Tangan gue gatal ingin menangkup wajah nya yang memulai memerah itu,

“Cinta itu gak mengenal apa, siapa, bagaimana dan 5W+1H lainnya, Bi. Hubungan kita gak dibangun sama yang kayak begitu juga kan? Aneh kalo misalnya dulu pas PDKT aku tiba-tiba nanya soal agama, emang aku petugas disdukcapil apa?”

Gelak keluar dari mulut Sabita, sebisa mungkin gue tidak ingin menjadikan percakapan ini ber-genre angst, apalagi ini adalah pertemuan terakhir kami. Padahal kalau boleh jujur gue berusaha mati-matian menahan tangis dari tadi.

But we lived in the barrier... don't we?”

Senyum gue memudar. Ucapan nya seperti memaksa gue untuk skak mat pada saat itu juga, gue terdiam semua kata-kata yang akan gue ucapkan lenyap begitu saja hingga membuat mulut gue bisu untuk bersuara,

Damn it hubungan beda agama.

“Or maybe... we need realistic for this, Han.”

“Yeah... perhaps..”

Jika disuruh memilih, sepertinya gue lebih mau jika membicarakan soal ini dalam keadaan emosi yang meluap-luap daripada dalam keadaan stabil tapi rasa sakit nya menyerang perlahan-lahan.

“Aku tau, manusia punya hak nya untuk memilih orang yang dia cintai, terlepas dari perbedaan suku, ras dan agama sekalipun. Kalo ambil studi kasus, banyak kok yang tetap bertahan sekalipun ada perbedaan, tapi bedanya kita gak bisa kayak gitu kan, Han?”

Sabita, if love is just bullshit that turns me into a dumbass who is not afraid of sins, i deff to choose stick with you and don't give a single fuck to our barriers.

And it kinda make sense when i said love isn't realistic.

“It sounds pathetic...”

“It is... tapi kita bisa apa, Han?”

Gue menelan ludah, sebelum Sabita melanjutkan ucapan nya gue mengalihkan pandangan kemana saja asal tidak beradu dengan kedua netra itu, takutnya gue yang akan hilang kendali duluan,

“Seenggaknya kita udah usaha, Han. Our four years were not in vain. Sama seperti yang kamu katakan tadi, aku juga beruntung kenal dan menjadikan kamu bahagia nya aku...”

“Bi, don't make it hard...”

No, it's not. Bukan maksud aku jadi mempersulit perpisahan ini, tapiㅡokay perpisahan dimana-mana emang sulit, but i just explain as realistic as possible.

Suara Sabita kini terdengar putus asa, sama hal nya dengan gue. Jika memang baik nya harus seperti ini, dengan hati yang lapang gue bersedia untuk melepasnya… karena baik gue dan dia sama-sama tidak mau ada yang berubah.

Demi keluarga... Dan mungkin demi kami berdua...

Probably.

Masuk akal dan tidak masuk akal, bisa saja baik gue dan Bita tetap nekat dan mengorbankan semuanya demi hubungan ini, namun sekali lagi, agaknya halangan ini masih begitu besar untuk sekedar kami hadapi, untuk kami lewati.

Lagi-lagi remuk, lagi-lagi pahit dan lagi-lagi mengulang sakit hati.

Sore itu, dengan semburat jingga di bentang langit kota Bandung, tidak dengan dua mangkok cuangki tapi masih dibawah pohon beringin yang sama menjadi saksi bisu bahwasanya hubungan gue dan bita haruslah menemui akhir yang buntu.

Sore itu, gue resmi melepas nya pergi jauh untuk tidak lagi gue rengkuh kedalam peluk gue kembali.

Tenang dan tanpa air mata.