Things that make us happiest.

Cuaca cerah Bandung hari ini cukup bikin saya kewalahan karena harus berkutat dengan terik nya matahari pukul duabelas siang, jika harus memilih saya hanya ingin berbaring seharian diatas kasur, bergelung dengan selimut dan menuntaskan film yang sudah saya kumpulkan jauh-jauh hari, ketimbang berjalan diantara gang sempit berjejalan dengan para manusia hanya demi bersantap semangkok mie ayam yang katanya paling tersohor seantero kota kembang dan jika bukan karena kamu saya enggan untuk melakukannya.

“Masih jauh apa?”

“Enggak, enggak, bentar lagi. Serius!”

Ujar kamu untuk ketiga kalinya ketika saya bertanya hal serupa. Masih dengan tangan kita yang bertaut dan kamu yang berjalan didepan mengkomandoi arah langkah saya agar tidak tersesat atau mungkin tertinggal karena penglihatan saya yang buruk walau sudah dibantu oleh kacamata berminus empat.

Akhirnya langkah mu terhenti didepan gerobak tua namun tetap kokoh berwarna cokelat pudar, dengan aksen khas tionghoa membuat kios mie ayam ini terasa sangat autentik dan orsinil. Saya bisa mendengar kamu mengeluh diantara peluh mengenai kondisi kios sekarang, berhubung tepat dengan jam makan siang sudah barang tentu tempat-tempat makan akan sesak dengan pengunjung yang ingin memenuhi isi perutnya.

“Mari neng, masih ada tempat kosong. Buat dua orang kan?” Sapa pria paruh baya berumur sekitar enampuluh tahunan menghampiri seakan bisa membaca gelagat mu,

“Ehㅡ iya pak. Untuk dua orang!” Jawab mu antusias lalu beralih menatap saya dengan mata yang berbinar, karena akhirnya rencana mu untuk mengajak saya makan mie ayam bisa terlaksana.

Bapak itu mengarahkan kami berdua kedalam kios, setelah masuk lebih dalam ternyata masih banyak tempat kosong yang tersedia, dengan sigap kamu memilih duduk didekat jendela yang memperlihatkan suasana gang yang dipenuhi orang berlalu-lalang. Bapak tersebut kembali menghampiri kini dengan membawa selebaran kertas menu beserta pensil nya.

“Kayaknya aku mau pesen yang original aja deh. Kamu mau apa?”

“Gak pake bakso?”

Kamu tampak bingung walaupun saya sudah tau alasan nya pasti karena niat diet mu yang seringkali gagal padahal sudah mematok prinsip; kalau makan enak ya secukupnya, gak boleh berlebihan.

“Iiiih, kenapa diingetin? Kamu sih!”

Kamu merajuk sambil merengut sebal. Kan, diingetin malah kena semprot. Saya menghela nafas pelan, tapi gak apa saya bisa puas lihat kamu lucu-lucu begini,

“Lah, yaudah si pesen aja. Diet nya besok lagi”

“Dih yaudah deh, aku mulai nya besok aja”

Kalau besok-besok begini lagi saya sudah tidak heran, pendirian kamu memang seringkali goyah kalau dihadapkan dengan makan-makanan enak.

Selagi menunggu makanan tiba, kamu mulai bercerita banyak hal mulai dari pengalaman magang mu, soal film-film yang sedang kamu tonton atau tiba-tiba se-random membicarakan penemu sendal rematik.

“Nat”

“Hm?”

“Kalo kita nikah, entar home band nya nyanyiin lagu-lagu feast asik kali ya?”

“Kamu mau gelar resepsi apa mau orasi mengkritisi kebijakan pemerintahan sih?”

“Biar keren tauuuuuu”

“Dasar aneh”

Sedetik kemudian tisu bekas mengenai wajah saya, tidak lain dan tidak bukan itu karena ulah kamu merasa harga dirinya tercoreng akibat saya panggil aneh, tapi apa boleh buat jika memang fakta nya seperti itu. Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit akhirnya pesanan kami tiba, kamu sangat bersemangat, tersenyum lebar memandang semangkok kebahagian yang masih mengepulkan asap itu seperti sebuah harta karun, lalu beralih menuangkan segala jenis saus tambahan untuk membuat citarasa nya jadi lebih enak ketika di makan.

“Nata, kalo aku ajak lagi kesini minggu depan mau gak?”

Ujar mu menginterupsi saya yang sedang menyuapkan satu sendok mie ke dalam mulut,

“Aku tuh baru mangap loh?”

“Jawab dulu!”

“Boleh, kalo belom kiamat”

“Dih kagak jelas lu”

Saya terkekeh geli mendengar respon mu, reaksi yang ditampilkan selalu menarik perhatian dan bikin saya harus berkali-kali meringis karena demi Tuhan jika saja kamu ini seekor kucing pasti sudah saya masukkan kandang agar orang lain enggak bisa lihat kamu lagi gemes-gemesnya seperti sekarang ini.

“Iya ayo. Serius, mie ayam nya enak soalnya.”

“Iya kan?! Ih sumpah, emang rekomendasi aku tuh gak ada yang gagal.”

“Nyari dimana sih?”

“Apanya?” Lagi-lagi saya tertawa, sudah bisa ditebak kamu tidak fokus karena atensi mu itu sepenuhnya tercurahkan pada mie ayam, padahal jelas topik pembicaraan nya masih sama.

“Tempat nya lah? Emang apa lagi?”

“Ooooooh hehehe, tiktok! Aku nemu tempat ini dari tiktok, Nat”

“Bukannya tiktok itu aplikasi joget-joget aja ya?” Seperti yang kamu tahu saya memang orangnya kurang update sama tren-tren keninian yang lagi viral, yang saya tahu tiktok kan isinya orang-orang yang joget doang.

“Yeu elu mah. Tiktok gak cuma mentok joget-joget doang dong ganteng, makanya aku suruh download tuh nurut, jadinya aku bisa kirimin video-video kucing lucu!”

“Emang boleh aku download?”

Kamu terdiam dengan sendok yang terangkat di udara tampak berpikir keputusan menyuruh mendownload aplikasi tersebut mungkin akan jadi distraksi bagi saya dan otomatis waktu buat pacaran jadi lebih sedikit karena sudah bisa diprekdiksikan saya akan menonton video-video kucing lucu seharian, seperti yang kamu katakan tadi.

“Eeeh, enggak ding. Enggak. Cukup twitter aja, kamu kalo dibolehin download tiktok kayaknya makin-makin dah.”

“Makin?” Saya menaikkan sebelah alis sampai bikin kamu harus kembali mengurungkan niat menyantap mie ayam tersebut, “Makin apa?”

“Ya.. Makin gak tau waktu? Aku masih inget tuh dulu, waktu kamu stalk akun-akun kucing twitter sampe begadang padahal besok pagi nya kamu ada uts.”

Ohiya, kejadian itu. Emang akibatnya saya jadi telat masuk kelas dan akhirnya mengerjakan uts dengan waktu yang sangat singkat.

“Hahaha iya-iya deh.”

“Eh tapi.. kamu gak ada stalk akun lain kan di twitter? Cuma akun-akun kucing aja?” Kedua matamu membulat sempurna dengan wajah yang agak tegang takut-takut jawaban saya ini ternyata berbeda dari apa yang kamu harapkan,

“Sama akun shitposting.”

“Okay.. terus?”

Saya meminum teh tawar milik saya lalu tersenyum jahil, sudah tahu kalau arah obrolan nya pasti mengarah ke soal ambigu.

“Akun cewek cantik”

Tepat tebakan saya, kamu langsung menghempaskan punggungmu ke belakang kursi dengan kasar, memakan sisa mie ayam dengan terburu-buru sampai mulut mu kini blepotan dengan saus,

“Siapa?” Terdengar kekesalan tersirat disana. Kamu tahu? Saya rela menaruhkan jiwa raga saya alias rela abis ini bakal jadi sasaran pukulan kamu (yang sakitnya gak seberapa itu) hanya untuk melihat kamu cemburu dengan ekspresi lucu.

“Kamu” Jawab saya sambil mengelap ujung bibir kamu dengan punggung tangan, “Makan tuh jangan sambil emosi mbak.”

“Dih” Kamu berusaha untuk tidak salah tingkah padahal semuanya sudah terwakilkan dengan semburat kemerahan pada kedua pipi hingga kedua telinga mu.

“Kenapa musti pake punggung tangan sih, Nat? Lipstik aku sampe kena pipi ini, ish.”

“Terus mau nya aku lap pake apa? Bibir?”

Jawaban saya sontak membuat kamu makin kaget. Tapi sangat lucu buat saya. Ah, apa emang udah kadung bucin aja ya? Sampai-sampai kamu gak ngapa-ngapain pun udah lucu di mata saya.

“Eh lu tuh. Gua lempar mangkok juga ini.”

God, i just want to squeeze my girlfriend into tiny pieces and keep her in my pocket forever.