Topik Semalam

Perjalanan pulang Zea malam ini tidak sendiri, tidak sepi karena ada Oryza menemani. Tidak beriringan tapi dalam satu langkah bersamaan. Oryza selalu didepan karena jalan nya cepat dan Zea yang terlalu banyak salah fokus jalan nya lambat.

Tanpa mobil sport keluaran anyar, tanpa motor bermesin kuda berharga tiga digit, keduanya lebih memilih menjadi pedestrian yang menyusuri trotoar, sambil melihat kendaraan berlalu lalang, semak belukar yang menjadi pembatas area pejalan kaki dengan taman kota serta pemandangan lainnya yang mungkin tidak akan didapatkan jika menaiki benda beroda.

Bukannya tidak sanggup membeli kendaraan pribadi (karena tentu saja kehidupan seorang produser musik terkenal sangat bergelimang harta) justru Oryza berkelit jika alasan nya adalah untuk mengurangi angka kemacetan dan polusi kota.

Terdengar bijak, bukan? Walaupun pada akhirnya Zea selalu mengolok-olokkan nya dengan sebutan si-orang-kaya-pelit.

“Ini gak bakal pesen grabcar?” Tanya Zea dengan nafas terengah, “Kita udah jalan setengah nya, Za.”

“Tanggung lah, sekalian olahraga.” Balas Oryza yang sepertinya tampak bersemangat dengan agenda jalan kaki mereka, dalam perjalanan menuju apartemen dari kantor Zea, nyatanya perkiraan yang ia pertimbangkan dengan estimasi lima menit justru meleset karena jarak nya jadi dua kali lipatㅡbahkan tiga kali jika Zea banyak berhenti nya.

“Olahraga apaan! Gue masih harus lembur besok!” Sungut perempuan itu tidak terima, “Kalo lo gendong gue sih ya gapapa.”

Dari jarak kurang lebih dua meter yang membagi keduanya sekarang, Oryza berbalik untuk sekali lagi mendengar lebih jelas ucapan Zea, yang bersangkutan cuma bisa cengengesan memperlihatkan barisan gigi rapih nya sedangkan Oryza menghela nafas sambil memutar bola mata malas,

“Izaaaaaa” Seru Zea, yang lagi-lagi harus menginterupsi Oryza diseberang sana.

“Apa lagi?”

“Gue serius... Capek...” Kini nada nya merajuk, bibir nya mengerucut membuat Oryza sedikit meringis karena perempuan didepan nya ini jadi lebih menggemaskan dan tentu saja tanpa disuruh Oryza akan dengan senang hati menuruti semua perintah nya dalam rangka mengambil hati nya kembali. Tapi Oryza bukan Oryza namanya jika tidak diselingi drama si paling tsundere nya,

“Emang nya gak malu di gendong?”

“Kenapa pake malu?”

“Takutnya dikiraㅡ”

“Malu karena di gendong mantan nya?”

“Heck...”

Tawa Zea pecah, selalu ada cara untuk membuat laki-laki berzodiak sagitarius itu merasa dicemooh harga dirinya.

Well, orang-orang gak bakal tau juga sih lo mantan gue apa bukan. Ya kan?”

Oryza mengangkat bahu nya acuh menanggapi pertanyaan Zea dan tanpa pikir panjang langsung mengambil posisi berjongkok, “Mau mantan kek mau suami istri kek, kumpul kebo pun orang-orang gak bakal tau, Ze. Jadi, mending buruan naek aja sebelum gua yang malu karena jongkok begini.” Omel nya terdengar sedikit kesal dan Zea yang sekali lagi tidak bisa menahan gelak nya.

Zea melingkarkan tangan nya pada bahu tegap milik Iza, merangkak di punggung nya yang kokoh dan dalam hitungan detik Zea sudah diangkat Iza layaknya bayi koala yang di gendong induk nya.

“Berat gak?”

“Biasa aja.”

Oryza yang belakangan ini memang intens bolak-balik gym, tentu bukan suatu masalah jika harus menggendong Zea yang memiliki badan lebih kecil dibandingkan milik nya. Zea membenamkan wajah nya pada lekuk leher Iza, menghirup aroma yang sangat familiar bagi indra penciuman nya; aroma yang biasa menempel pada hoodie yang selalu dipakai nya, pada sarung bantal di kamar nya dan pada aroma ruang tengah yang selalu Iza jadikan tempat kerja dadakan. Aroma yang selalu mengingatkan Zea tentang bagaimana Oryza memiliki presensi berarti di lembar hidupnya.

Dalam perjalanan pulang menuju apartemen ditemani malam yang kian riuh dengan bunyi klakson saling bersautan, keduanya larut dalam hening masing-masing.

“Ze.”

“Hm?”

“Mungkin gua bakal pertimbangin beli mobil.”

“Tiba-tiba?”

Dari balik lengan nya yang melingkar di leher Iza, Zea bisa melihat jika telinga lawan bicaranya itu tiba-tiba memerah,

“Ya, tapi tergantung sih. Kalo lu nya mau apa nggak.” Pernyataan yang cukup membuat Zea bingung, ada hubungan apa antara dirinya dengan keinginan laki-laki ini untuk memiliki sebuah mobil.

“Kalo gue mau, gimana? Dan kalo misalnya gue gak mau, itu gimana juga?”

“Pilih satu lah.”

“Gimana mau milih, konteks aja gue gak tau!” Semprot Zea membuat Iza tergelak,

“Gue bakal beli mobil kalo misalnya lu mau tinggal bareng.”

“Kan udah?”

“Like, together.”

“You mean married?”

“Hahahaha.”

“Malah ketawa.” Zea memukul bahu Iza gemas, “Jawab yang bener gak!”

Oryza menghentikan langkah nya, degup jantung nya mungkin sudah bisa terdengar sekarang seiring dengan lengan Zea yang turun menyentuh dada nya,

“Gue seriusㅡ I mean, about married... yeah... karena kita udah tinggal bareng bertahun-tahun, is it possible if weㅡ yeah... tau lah ya...”

Kini giliran tawa Zea yang meledak, lamaran yang terdengar sangat tidak proper untuk disebut sebuah lamaran tetapi bukan pula sebuah keheranan karena datang nya dari mulut seorang Oryza; si paling tsundere dan banyak ngeles nya.

“Cerita nya lagi propose?”

“Hahㅡ Ehㅡ Maksudnya tuh... Aduh gimana ya...” Jawabnya gelagapan,

“Lo bakal beli mobil, andai kata kalo gue mau nikah sama lo, gitu kan?”

“Kind of...”

“Ya, berarti tadi tuh lo lagi ngelamar, dodol.”

“Tapi maksud gua tuh, gak sekarang juga... Jadinya yang tadi gak termasuk propose lah..”

Okay. Got it. Lo cuma nanya aja kan? Semacam ngasih offer?” Kini intonasi Zea sedikit dinaikan, menekankan di tiap kata nya untuk memberi tahu jika ia memang paham dengan maksud yang Iza sampaikan, yang didepan hanya menganggukkan kepala seraya melanjutkan kembali perjalanan dan tanpa Oryza tahu jika Zea pun sama-sama salah tingkah, semburat kemerahan merekah di kedua pipi nya,

“Tungguin dulu, kalo lu mau. Gua udah berani kalo urusannya soal materi, tapi ada beberapa hal yang harus gua persiapkan matang-matang dan mungkin lu pun sama, Ze.”

Zea menggigit bibir bawah nya, selama hampir lima tahun tinggal bersama, melewati berbagai fase hubungan dari mulai pacaran-putus-pacaran-sampai saat ini dengan status yang masih dipertanyakan karena keputusan untuk tetap tinggal bersama ber-alibi-kan sewa apartemen yang masih tersisa satu tahun, jauh dari lubuk hati Zea dan mungkin Oryza, jika mereka masih merasakan getar dan debar yang sama, yang menjadi urgensi utama jika bayang nya tidak tertangkap ujung mata masing-masing dan hal-hal lainnya yang membuktikan jika Zea masih menyimpan rasa besar itu di sudut hati nya,

Pernikahan adalah keputusan yang sangat besar dan bagi Zea pernikahan merupakan opsi yang ia simpan bawah-bawah, meski sudah tinggal satu atap dengan mantan kekasih slash roomate nya, namun tetap saja hal tersebut adalah dua hal yang berbeda. Pernah terbersit dalam benak nya namun belum sekalipun dibahas bersama secara serius dan tentu untuk kali ini Oryza benar-benar serius membicarakan rencana untuk kedepannya.

Zea ingin kembali menyimpan percaya nya, ingin kembali menaruh separuh nya untuk dibuat utuh dan ingin sekali lagi memberi kesempatan kepada dirinya untuk bisa mengenal Oryza lebih baik lagi, begitupun sebaliknya.

“Boleh gak kalo kita pulang dulu baru ngomongin soal ini?”

Gelak tawa dari keduanya mengiringi perjalanan pulang malam ini, ditemani juga dengan perasaan-perasaan meletup dari sebuah hubungan layu yang mungkin akan kembali merekah dalam waktu dekat.