tunggal yang tanggal.
Aji berusia lima tahun mungkin masih sangat membanggakan status nya menjadi anak tunggal yang diberi kelimpahan kasih sayang dan perhatian dari Ayah serta Ibu nya, tanpa perlu merasa khawatir harus berbagi mobil mainan kesayangan bergantian dengan anak lain karena Aji adalah satu-satunya anak di rumah itu.
Aji tidak pernah diabaikan, apapun yang ia inginkan selalu dikabulkan. Mainan keluaran terbaru, makanan enak serta barang-barang yang mungkin tidak terlalu diperlukan.
Aji yang menjadi peran utama disaat yang lain mungkin berlomba-lomba menjadi yang pertama. Aji adalah pusat perhatian, tiap gerak-geriknya menjadi sorotan. Aji dituntut untuk selalu menang, karena kalah berarti pecundang.
Aji ini. Aji itu.
Aji harus begini. Aji harus begitu.
Aji asing dengan dirinya.
Aji menyadari bahwa tunggal adalah sendiri, kesepian dan menyakitkan. Aji menyadari bahwa tunggal adalah menanggung seluruh ekspetasi dari orang-orang yang haus akan harapan.
Aji menyadari bahwa tunggal adalah..
Menyedihkan.
Tangan nya hanya dua tapi seolah Aji lah yang harus merengkuh seisi dunia, menopangnya dengan kuasa yang tidak seberapa, menolak lupa bahwa Aji juga sama-sama manusia.
Aji benar-benar asing dengan dirinya sendiri.
Mimpi seorang Aji kecil hanya sesederhana diizinkan bermain dengan teman sebaya atau dibolehkan untuk bolos les matematika, sesederhana menyantap es serut dan gulali warna-warni dari bapak penjual yang selalu berjualan didepan rumahnya dan hal yang paling sederhana tersebut justru adalah sebuah kemewahan baginya.
Aji adalah sebuah jalan dari seluruh mimpi mereka yang masih belum sempat tersempurnakan.
Aji harus patuh. Aji harus tunduk. Aji harus melakukan apapun yang disuruh.
Karena ia tunggal.
Tidak...
Karena yang mereka miliki hanya Aji.
Hanya Aji.