Us: Storm.

“Bang Farhan ada yang nyariin”

Ujar Gemintang diambang pintu ruangan panitia memanggil Farhan yang sedang sibuk menelaah isi dari rundown acara hari ini,

“Hah siapa?”

Perempuan itu mengangkat kedua bahu nya lalu menggestur ke arah belakang dengan dagu nya, “Ditungguin tuh sama orangnya”

Dengan sedikit malas Farhan akhirnya berdiri melangkahkan kaki nya keluar ruangan untuk bertemu orang yang dimaksud, lalu ia mendapati pria serta wanita berumur kurang lebih setengah abad sedang duduk di bangku dekat aula gereja. Perlu waktu beberapa detik untuk Farhan bisa mengenali kedua orang itu, karena sebelumnya Sabita sudah menawari ia untuk bertemu dengan kedua orangtua nya, meski Farhan tidak langsung mengiyakan namun ia tahu jika hal ini bisa terjadi di kemudian hari, seperti sekarang.

“Om, tante.” Farhan menyapa mereka berdua sambil tersenyum kikuk, sedikit menganggukkan kepala nya lalu duduk di bangku seberang dengan canggung, “Nyari saya om tante?”

“Betul, ini Farhan ya?” Tanya ayah Sabita, figur nya yang ramah serta damai membuat Farhan seperti melihat sosok ayah nya sendiri,

“Iya om, saya Farhan.” Jawab Farhan sekali lagi, lantas bergantian menatap ibu nya Sabita, memasang senyum yang sangat sulit untuk Farhan terka maksudnya, senyum yang terasa asing dan dingin untuk ia rasakan,

“Om sama tante ganggu kegiatan kamu, Nda?”

“Enggak kok, Om. Acaranya mulai 30 menit lagi, jadi saya punya waktu lebih hehe.” Bohong, nyatanya acara itu hanya tinggal beberapa menit saja sebelum dimulai.

“Farhan, kuliah di ITB juga?” Ibu Sabita tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang sebetulnya bisa Farhan jawab dengan cepat, masuk salah satu perguruan tinggi negeri yang tersohor menjadi salah satu kebanggaan nya namun entah kenapa lidah nya seperti kelu untuk menyebutkan tiga huruf itu,

“Iㅡiㅡiya tante. Sama kayak Sabita juga.”

“Arsitektur?”

Degh.

Perasaan laki-laki itu kini bercampur aduk.

“Desain interior tan, masuk nya ke fakultas seni.”

Ibu Sabita mengangguk-ngangguk, entah menanggapi jawaban Farhan atau memang hanya sebagai tanda formalitas saja karena jawaban yang ia inginkan berbeda dari harapannya.

Dari percakapan perihal jurusan ini Farhan sendiri sudah paham arah nya kemana, mungkin kedua orang tua Sabita ingin laki-laki yang satu rumpun yang berpacaran dengan anak nya itu, seperti Joshua, misalnya.

“Pas sekali ya dengan Sabita, dia arsi pacar nya desain interior. Kalau bikin rumah hemat biaya tuh, haha.”

Ujar Ayah nya mencairkan kecanggungan kami dan diakhiri dengan tawa renyah.

Farhan merasa perutnya terisi oleh ribuan kupu-kupu yang berterbangan, sedikit salah tingkah karena nyatanya orang yang paling membuat ia was-was perihal hubungan nya adalah orang yang sama yang berkata demikian. Lucu, pikir Farhan. Sebenarnya hal-hal yang ia takutkan tidak akan terjadi,

Mungkin untuk sekarang.

“Hehehe, bisa aja om.” Farhan mengusap tengkuk nya, sesekali mencuri-curi pandang pada ponsel nya yang daritadi bergetar, dipenuhi dengan chat dari GC The Panas Tiris dan juga misscall dari Gemintang. Terlalu sungkan untuk Farhan menyudahi sesi mini wawancara ini tapi di satu sisi posisi nya sebagai ketua pelaksana acara sedang dibutuhkan sekarang,

“Sudah berapa lama sama Bita, nak Farhan?”

“Mau tiga tahun, pak.”

“Lama ya...”

“Hehe iya. Kenal sama Bita pas masih TPB, pak.”

Ayah Bita menganggukkan kepala nya, sambil tetap tersenyum. Pemandangan berbeda justru ditampilkan oleh Ibu nya, senyuman misterius tadi kini digantikan dengan ekspresi masam yang sudah bisa Farhan simpulkan sebagai bentuk ketidaksukaan beliau dengan hubungan keduanya,

“Sudah ada rencana buat kedepannya, nak Farhan?”

Lagi-lagi, kerongkongan Farhan terasa tercekat. Ujung lidah nya bukan lagi kelu tapi terlalu kebas untuk menjawab pertanyaan super rumit yang meluncur dari mulut Ibu Sabita,

“Nah iya, sudah mau lulus, rencananya nak Farhan mau ngapain?” Tanya Ayah ikut memastikan,

“Belum ada planning kedepannya, om tante. Tapi mungkin akan fokus sama Idiosinkrasi dulu.”

“Kalo rencana sama Bita, gimana nak Farhan?”

Di detik kesekian, Farhan bersumpah ia ingin berubah menjadi tanaman hias saja. Pertanyaan yang ditakutkan ternyata muncul belakangan, membuat dirinya makin tersudut dan kebingungan.


Acip keluar dari kamar mandi dengan panik, setelah mendapat pesan dari Arumi mengenai kondisi Jasmine. Tangan nya bergetar ketika mencoba menghubungi perempuan itu tapi nihil jawaban dari seberang sana hanya tersambung pada pesan suara. Kepala Acip benar-benar pengang dan gaduh dengan kemungkinan-kemungkinan paling buruk yang menimpa Jasmine, mengingat kronologi yang Arumi jelaskan tadi makin memperjelas jika Jasmine memang sedang dalam bahaya.

“Anjing! Bener-bener bikin orang jantungan aja!” Acip mengumpat disela-sela kepanikkan nya, pilihannya sekarang hanya ada dua, pertama; ia pergi menyusul Jasmine di apartemen dan kedua; tetap disini dengan tanggung jawabnya sebagai divisi konsumsi, karena secara teknis, hal-hal tersebut memang diluar kendali dan kontrak Acip sebagai boyfriend rent.

“Kalo mati gimana...” Gumam nya dengan suara lirih, “Alah anjing, persetan.” Tanpa pikir panjang lagi Acip langsung berlari secepat kilat keluar dari aula gereja dan buru-buru menaiki motor matic nya untuk segera tancap gas menuju apartemen Jasmine.


Gemintang tampak sangat gelisah, pasal nya acara yang harusnya sudah memasuki segmen utama malah molor duapuluh menit karena keberadaan sang ketua pelaksanaㅡFarhan yang tidak diketahui keberadaan nya,

“Udah di telfon lagi?” Tanya Nata disebelahnya,

“Udah ih bang. Gue udah spam chat juga, tetep gak dibales”

“Lo standby disini aja, gue nyari ke belakang dulu, gimana?”

“Terus ini? Mulai aja?”

Walaupun sedikit ragu, Nata menganggukkan kepala nya. Jika acara ini lagi-lagi di tunda mungkin alur nya akan semakin berantakan, mengingat para audience yang hadir adalah anak-anak yang sangat sulit untuk diatur mood nya.

“Bisa sambutan kan lo?”

“Yaa bisa sih. Tapi kan bang...”

“Kalo nungguin Farhan, entar makin ngaret gimana?”

Gemintang merengut sebal, lagi-lagi dia yang harus turun tangan jika ada sesi mengisi sambutan atau meresmikan sesuatu atas nama Idiosinkrasi jika tidak ada sosok Farhan, padahal jelas, jobdesc nya bukanlah wakil ketua.

“Yaudah...”

Nata terkekeh kecil, mengusap kepala perempuan itu lalu berlalu pergi untuk mencari Farhan.

Pemandangan yang masih terasa asing namun bukan hal aneh itu tertangkap ujung mata Dika, sedari tadi ia masih terdiam di posisi nya, sebenarnya bingung. Bingung karena, jobdesc nya hari ini adalah menjadi asisten Gemintang dan Nata tapi mengingat hubungannya dengan Gemintang masih kurang baik, jadi laki-laki itu hanya menunggu perintah dan intruksi dari orang-orang yang mungkin membutuhkan bantuan nya.

Soal Gemintang dan Nata. Senandika sebenarnya adalah orang yang paling mendukung keduanya untuk bersatu, tapi di situasi saat ini perkara cinta-cintaan mungkin harus ia kesampingkan dulu, mengingat ia sedang di fase muak dengan hal-hal yang bersubstansi perihal isi hati.

Dika melihat Gemintang berdiri ditengah-tengah podium sedang memberi sepatah-dua patah kata dengan sesi sambutan nya. Andai saja, jika waktu bisa diputar mundur, mungkin Dika akan menjauhkan eksistensi nya dari Gemintang. Menganggap perempuan itu hanya bagian dari kenangan masa kecilnya, seorang anak yang sering bermain ke rumah nya sambil membawa permen loli, seorang anak dari om Ais yang menjadi sahabat terdekat ayah nya, serta berharap jika sudah dewasa keduanya tidak lagi dipertemukan.

Jauh di lubuk hati nya, Senandika hanya ingin menjaga perempuan yang paling ia sayang,

Termasuk, dari dirinya sendiri.

“Bang Dika, bang Acip kemana ya?” Tanya Baskara setengah berbisik,

“Tadi ada kok, Bas. Lagi ngurus catering kali?”

“Ah, iya kali ya. Gue agak waswas nih takutnya tu catering gak nyampe sini tepat waktu, kan berabe entar anak-anak ini pada makan apa.”

“Kalem, Acip kerja nya bagus kok.” Dika berusaha menenangkan Baskara walaupun sebenarnya ia pun sama-sama tidak tahu keberadaan sahabat dekat nya itu dimana,

“Bang Dik, gua punya feeling kurang enak sebenernya.”

“Kurang enak gimana, Bas?”

Baskara buru-buru menepis jauh pikirian jelek yang mampir di kepala nya, padahal bisa saja perasaan-perasaan tidak enak nya itu adalah tanda dari awal mula sebuah kekacauan...

....seperti yang terjadi sekarang.

“KAAAAAAK, TOLONGIN AKU NYA DI LUDAHIN SAMA DIAAAA!”

“KAK AKU MAU DI TONJOK!”

“Kak... kebelet pengen pipis!”

“Kak makan nya mana... aku laper!”

Seharusnya mereka membuat beberapa opsi planning mengingat anak-anak adalah sekumpulan makhluk yang tidak bisa diprediksi.

Shit.” Keluh Dika melihat situasi yang tidak kondusif ini.

“Ini seriusan begini, anjir?” Baskara kembali berbisik, agaknya perkiraan yang ia katakan tadi mulai terjadi.

Gemintang melihat kode dari Baskara untuk segera mempercepat sesi sambutan nya, dari posisi depan pasti situasi chaos itu cukup terlihat jelas karena beberapa anak ada yang keluar dari barisan tempat duduk. Setelahnya, Gemintang menyerahkan komando acara untuk selanjutnya dipandu bersama Baskara selaku MC, cukup berat karena sebelumnya ia belum pernah dihadapkan dengan kondisi seperti ini walaupun di Idiosinkrasi Gemintang adalah bagian dari divisi panti asuhan.

“Lo kenapa diem aja deh?” Tanya Gemintang pada Dika yang sedari tadi masih diam dengan tatapan kosong,

“Kenapa?”

“Lo tanya kenapa? Dika, didepan lo, in the fucking your front, there's a bunch of kids pada berantem, lo gak nyoba melerai atau gimana gitu?” Terdengar penekanan serta emosi yang tertahan pada kalimat Gemintang, ia benar-benar merasa asing, yang sejak awal bergelagat aneh, bukan seperti bagaimana Dika bersikap.

“Jadi ini kerjaan gue?”

“Ya iya?”

Gemintang mengurut pelipis nya, acara belum berada di puncak nya tapi serentetan masalah sudah membuat pusing perempuan itu.

“Ge, Acip dimana ya?” Kini giliran Joshua yang bertanya keberadaan Acip yang sejak awal sama-sama belum terlihat batang hidung nya, seingat Gemintang, laki-laki itu pamit ke kamar mandi dan mengurus persoalan catering,

“Belom ada juga tah? Tadi sih bilang nya ke kamar mandi terus ngurusin catering, kak Jo.”

“Enggak ada, Ge. Saya udah bolak-balik ke kamar mandi dua kali tapi gak liat Acip sama sekali. Di telfon pun susah banget gak diangkat.”

“Hah? Serius kak?”

“Iya, mana setengah jam lagi udah masuk sesi konsumsi loh ini. Harusnya catering udah disini biar kita bisa gampang buat ngatur nya.”

Gemintang lagi-lagi merasa harus bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi sekarang, sebagai sekretaris Idiosinkrasi Gemintang tentu punya pekerjaan lainnya yang tidak kalah penting ketimbang mengurusi sambutan atau masalah serumit catering yang masih belum tiba di tempat,

“Kak Jo, tadi abis handle apa?”

“Tadi ngurusin administrasi panti sama ketua yayasan, Ge. Terus backup kerjaan nya Farhan juga”

“Kak...”

“Tenang, dikit kok hehe. Biar sekalian beres nya gitu, nanti saya bisa turun tangan handle yang lain juga.”

Wajah Gemintang sudah memerah, merasa malu dan emosi menjadi satu, mungkin jika ada yang bertanya kenapa, air mata nya bisa ruah kapan saja. Selama berkarir menjadi bagian Idiosinkrasi mungkin program kerja ini yang paling berat. Tapi untung nya ia selalu dipertemukan dengan orang-orang yang kompeten dan mengerti dengan situasi serta kondisi, yang mampu bekerja berdasarkan inisiatif nya sendiri.

“Wah ini dokumentasi kemana ya? Kok gak ada yang fotoin?”

“Bang Nata lagi nyusulin bang Farhan, kak. Tadi aja sempet chaos anak-anak nya, pada ribut.”

“Oh iya? Pantes tu ada yang nangis” Joshua menghampiri sekumpulan anak-anak itu, berusaha menenangkan nya padahal disana sudah ada Dika yang... masih banyak bengong ketimbang kerja nya. Entah kenapa, pertengkaran nya dengan Gemintang seperti mempengaruhi kondisi mood nya hari ini, ditambah keadaan mental nya yang masih belum stabil pasca melakukan terapi dengan psikiater minggu lalu.

Selang beberapa menit Nata muncul kembali ke aula bersama Farhan dengan ekspresi yang agak gusar.

Gemintang mengirim telepati pada Nata, memberi kode mengapa sang ketua tiba-tiba muncul dengan wajah yang muram, membuat orang-orang enggan untuk menegur nya. Nata, berbisik dengan perlahan jika sebenarnya Farhan habis bertemu dengan kedua orangtua Sabita. Helaan nafas kasar keluar dari Gemintang, merutuki nasib nya hari ini yang seperti tidak berpihak pada nya. Jika ia tega dan nekat mungkin sudah sedari tadi Gemintang akan melarikan diri dari tempat ini untuk bersembunyi atau pergi kemana saja, melepas semua tanggung jawab nya dan andai...

Jika Gemintang bisa.

“Semangat, lo pasti bisa. Gue bakal bantuin.”

Setidaknya kata-kata dari Nata itu bisa sedikit menghibur perasaan nya saat ini.