yang bersinar, Baskara.
Jika pendar cahaya bisa saya kalkulasikan dalam bentuk yang sebenar-benarnya mungkin Baskara lebih terang dari itu. Baskara bersinar tanpa ia sadari dan Baskara masih perlu untuk divalidasi.
Baskara, lagi-lagi saya jatuh hati.
Sebagai teman slash sohib terbaiknya (menurut yang ia katakan sih) saya belum sepenuhnya memahami apa yang Baskara inginkan. Betul, anak nya memang full of affection banget, peduli sama sekitar dan tidak jarang lebih mementingkan urusan orang lain ketimbang urusannya sendiri. Padahal, jika dilihat urusan yang ia hadapi jauh lebih pelik. Tapi memang seperi itu adanya Baskara. Saya tidak bisa menahan ia untuk selalu berbuat baik yang kelihatannya seperti tindakan cari muka menurut apa yang orang-orang katakan. Namun yang jelas, dengan kesadaran yang penuh saya berani mengatakan jika Baskara punya hati yang tulus.
“Bas, lo tuh gak capek apa?” Tanya saya pada Baskara yang sedang sibuk mengerjakan tugas studio nya, sambil mengernyit Baskara melempar pandang dengan tatapan bingung,
“Apaan?”
“Jadi orang baik?”
Gelak kecil keluar dari mulutnya, “Jadi menurut lu, gua ini orang baik?”
“Ya... Iya? Menurut apa yang gue perhatikan sih lo kelewat baik sampe-sampe... Tuh tugas studio yang harusnya tugas kelompok aja lo kerjain sendiri. Sinting ya lo?”
Baskara kini tertawa, memutar badannya menghadap kearah saya, “Yang lu perhatiin tuh yang keliatan nya aja berarti?” Saya mengangguk, sudah barang tentu ia akan mengelak dengan fakta ini. Meskipun hampir tidak ada manusia yang sempurna, namun menurut saya Baskara adalah bentuk sempurna dari persepsi saya.
Baskara being Baskara laki-laki berumur duapuluhan yang sangat menikmati masa mudanya itu, masih sama seperti kebanyakan orang-orang pada umumnya, yang suka membicarakan aib orang, sering ngomong jelek dan hal-hal manusiawi lainnya. Tidak jarang sumber berita terhangat juga datang nya dari Baskara, sampai-sampai berita setidak penting seperti dosen fakultas sebelah yang nikah lagi dan punya istri muda. Dua tahun memang hanyalah sebuah waktu yang bergulir, masih belum cukup untuk mengenal seluk beluk seseorang beserta pribadi nya, tapi Baskara hadir. Baskara berhasil memproyeksikan kata baik yang saya percayai.
“Selama gua masih bernafas, masih diberi kesempatan buat liat hari esok dan masih hidup sampai detik ini, gua tentu akan berbuat baik.”
“Tapi...”
“Apa?”
Saya kembali merasa harus bungkam.
“Lu khawatir kalo gua bakal merasa rugi dengan tindakan ini?”
Saya mengangguk. Lagi.
Menjadi baik tetap perlu ada batasnya. Tidak selamanya bersikap baik itu bagus, betul? Ada kalanya orang-orang yang tidak bertanggung jawab malah akan menjadikannya sasaran empuk untuk dimanfaatkan.
“I'm fine with that. Gua tau limit nya menjadi 'baik' menurut definisi lu itu.”
“Emang menurut lo baik itu seperti apa?”
Terkadang isi kepala Baskara memang selalu rumit untuk saya tebak, untuk saya urai menjadi untaian yang bisa saya pahami. Cara ia memandang dunia memang agak berbeda dengan saya, konsepsi yang sering kali beririsan jika dihadapkan dengan sebuah persoalan. Poin saya seperti ini dan poin ia seperti itu dan aneh nya saya merasa perlu untuk tetap bersinggungan seperti demikian, karena sekali lagi presensi nya sangat berarti bagi saya. Mengartikan makna-makna kehidupan dari kacamata seorang Baskara Kusuma Wiryawan memang sangat menarik.
“Lu bakal bilang ini basi, klasik, bullshit or whatever you named it,” Baskara menutup laptop nya dan menatap saya lekat, “Is that what we called as the humane thing? Itu tuh hal basic yang diperlukan untuk menjadi manusia.”
“But.. why..?“
“Gua gak pernah melabelisasi tindakan yang gua lakukan ini sebagai tindakan baik, kalau orang-orang nilai seperti itu ya bagus? Gua seneng banget? Berarti yang gua lakukan sudah benar.”
“For what?“
“Bikin orang-orang bahagia.”
Saya amat berterimakasih pada diri saya sendiri karena menemukan ia pada acara malam keakraban ketika kami masih sama-sama berstatus mahasiswa baru. Malam itu, didepan api unggun yang menguar diantara udara dingin Dago Atas yang menusuk tulang, Baskara menarik perhatian saya dengan gagasan nya perihal emansipasi wanita. Kala itu, seorang kakak senior melempar topik bahasan pada forum diskusi antar para maba, diantara puluhan orang peserta hanya ia yang berani bersuara. Bukan hanya saya tapi semua orang disana kagum dengan penjabaran Baskara, menilai hal yang masih tabu dalam sudut pandang seorang laki-laki dewasa. Baskara itu peka. Ia mengerti dengan kekhawatiran saya sebagai kaum hawa yang hidup berdampingan dengan nilai-nilai patriarki dan misoginis. Little did I know, kalau Baskara ini adalah anak terakhir dari tiga bersaudara dengan dua kakak nya yang juga perempuan, dari situ saya paham, dari kecil hingga sekarang Baskara memang akrab dengan kesetaraan, pendidikan keluarga nya memang patut diacungi jempol.
“You are indeed my friend, Bas.”
“Tumben gak di debatin?
“Gak semua perkara musti gue debatin juga dong? Ada kalanya emang bagusnya begini aja. Ya gak sih? Lo tetap berpegang teguh dengan nilai-nilai yang lo pahami itu, begitupun sebaliknya.”
Baskara tersenyum, “Betul. Gak serta merta semua harus ada titik temu nya. Menjadi berbeda gak selamanya salah, menjadi lain tidak selalu berkonotasi negatif, selama itu baik bagi lu dan gua, ya kenapa enggak.”
Baskara, sepertinya saya benar-benar jatuh hati. Berkali-kali.
Saya berdiri didepan Baskara, hingga bisa merasakan sensasi hangat dipunggung saya akibat menghalangi sorot matahari yang menerpa wajah nya sejak tadi,
“Lo tuh bersinar, tau gak?”
Kedua alis nya terangkat, mungkin opini saya akan dibantah lagi, tapi saya senang mengutarakan semua yang selama ini menyumbat isi kepala saya tiap menatap dan berbicara dengan Baskara. Menormalisasi berbuat baik sebagai tindakan yang manusiawi memang sudah sepatutnya seperti itu, tapi masih ada yang membuat saya gamang, kenapa harus berbuat baik pada orang-orang ketika bahkan berbuat baik pada diri sendiri saja masih belum mampu?
Saya memang skeptis pada nilai-nilai kehidupan. Sebenarnya, memang belum percaya saja.
“Tau? gua pake merk skincare yang lu rekomendasiin itu.”
“Hadeh, bukan itu ege.” Saya merapihkan rambut nya yang sedikit berantakan karena hembusan angin,
“Apa dong? Kenapa menurut lu gua ini bersinar?” Baskara semakin antusias, senyum nya kian lebar, menyandarkan punggung nya pada bangku taman DPR (Dibawah Pohon Rindang) itu lalu menatap saya dengan mata kilap kejora.
Indah, mata Baskara indah, bahkan sorot mata nya saja sangat bersinar bagi saya.
“Baskara kan artinya matahari, kayaknya dari situ deh pribadi lo pun ikutan bersinar?”
“Yang jelas dong kalo ngomong”
Baskara memang paling tahu.
“Yaaa... lo tuh keren, makanya bersinar. Semua yang lo lakukan, pencapaian lo, prestasi lo tuh kebahagiaan nya nular tau gak. That's why, gue bilang lo tuh bersinar, Bas. Eksistensi lo tuh positif banget, orang-orang yang ada disekitar lo ikutan seneng juga. You should know about that, really.“
“Thankyou, tapi lu tau kan gua selalu merasa kurang dan merasa belum cukup bahkan untuk menjadi diri sendiri?”
Baskara memang paling tahu. Tapi tidak dengan diri nya sendiri.
“Gue bilang begitu ya karena biar lo sadar, Bas. Lo itu sudah sampai di titik ini tuh struggle banget. Gue tau kerja keras lo, tau bagaimana pengorbanan lo selama ini, gue tau, Bas—”
“Well, you not. Gak semuanya lu tau.” Baskara beralih menatap langit kota Bandung yang kini benderang berwarna biru segara. Saya jadi ragu, menciut takut karena ternyata yang saya ketahui itu hanyalah yang muncul dipermukaan tanpa tahu sebenar-benarnya seperti apa,
“Tadi gua nanya, lu tau kan gua selalu merasa kurang dan merasa belum cukup?” Lanjutnya memastikan.
Terbersit dalam benak kalau Baskara ini adalah orang yang kurang bersyukur dengan segala yang telah ia capai dan miliki. Kurang apa lagi sih sampai harus merasa belum cukup?
“Gua sedih, Bas. Lo bilang begitu didepan gue, padahal gue tau jatuh bangun lo seperti apa.”
Baskara menghela nafas,
“Lu tau? Gak semua orang punya batas puas yang sama. Gua belum menemukan arti baik yang sesungguhnya, makanya gua bilang belum merasa cukup. Kedengeran nya kayak kurang self love ya? Enggak juga kok? Gua hanya merasa perlu membuat sesuatu yang bisa gua kenang sebanyak yang gua bisa, memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar nantinya nama gua terkenang sekalipun raga gua sudah tidak ada di dunia.”
Berat. Bahasan nya terlalu berat, padahal masih pukul dua siang.
“Ada perasaan yang susah untuk gua utarakan, deskripsikan dan ceritakan bentuknya seperti apa. Dari sepuluh fakta mungkin lu hanya tau lima—atau bahkan enam? Gak semua nya harus gua gembor-gemborkan, I just want to keep it with myself. Yang mostly adalah pikiran-pikiran jelek nya aja.” Ujarnya kembali setelah panjang lebar menjelaskan. Selalu membuat saya terkesima, begitulah Baskara.
“Bas...”
“Apaan?”
“Kenapa jadinya gue kayak gak ada value jadi temen lo ya?”
“Gua bukan menganggap lu tuh gak ada artinya. Enggak.. bukan begitu. Gua pasti cerita kok kalo gua sedih, kalo gua lagi kesel, kalo gua lagi kecewa. Lagian orang yang pertama harus tau itu, ya elu.” Masih dengan kedua netra kami yang bertaut, seakan mengirim sebuah telepati bahwasanya kami ini saling memiliki.
Memiliki dalam konteks pertemanan, ya.
“Kita temenan tuh baru dua taun ya anjir. Masih banyak yang bakal lu find out dari gua, begitupun sebaliknya. Jangan pengen kejawab semuanya sekarang, nanti rasa nya bakal beda. Jadi hambar.” Baskara berujar kembali.
Makin kesini arus nya jadi bertabrakan. Memang benar dua kepala susah untuk dijadikan satu, baiknya memang berbeda pada satu alur yang sama. Saya kembali diam, sebenarnya capek, Baskara memang jago untuk berkelit.
“Masih ada gak nih sesi tanya jawab nya? Lu masih bingung dimana?”
“Banyak...”
“Yaudah lah sambil makan aja gimana? Gua harus kumpulan nih abis ini.”
Baskara yang sangat sibuk, tiap hari jadwal nya mungkin setara dengan para influencer sosial media, pengalaman organisasi dan kegiatan nya dari sekolah dasar jika ditulis didalam curriculum vitae mungkin akan setebal kamus Oxford, wajah nya terpampang dibeberapa baliho besar di sudut kampus layaknya calon legislatif yang akan melenggang ke Senayan, dan tentu saya adalah orang paling bangga akan hal itu.
“Eh, anjing tipes lo entar”
“Makanya sambil makan lah anjing”
Lalu kami larut dalam koor tawa. Seperti biasa. Mini debat ini akan kami akhiri dengan saling melempar umpatan.
Meski terdapat beberapa jawaban yang masih membuat nyeri logika serta serentetan pertanyaan yang ingin saya ajukan, tapi benar kata Baskara. Tidak serta merta semua hal harus ada titik temu nya.
Baskara adalah matahari bagi semua orang dan Baskara adalah matahari bagi dirinya sendiri.