yang tidak mereka katakan: jasmine.
Hidup dengan gelimang harta dan kemewahan mungkin sebuah privilege bagi sebagian orang, ongkang-ongkang kaki tinggal sebut apa yang diminta lalu sepersekian detik langsung terlaksana. Jasmine, dengan segala kelebihan merasa hidup nya masih kurang, bukan tentang materi dan segala nya yang menyilaukan mata namun esensi dari bahagia yang belum bisa ia rasakan dengan sebenar-benarnya. Dari ujung rambut hingga kaki Jasmine masih diikut campuri oleh kedua orangtuanya bahkan segala keputusan dalam hidup nya seakan tidak memberi Jasmine kesempatan untuk bisa memilih.
Perempuan itu seperti hidup dalam belenggu yang tidak berkesudahan dalam rentang waktu yang cukup lama, begitupun perihal urusan hati, lagi-lagi Jasmine harus mengikuti perintah Ayah nya untuk bersedia dijodohkan dengan anak salah satu kolega bisnis nya. Meski Jasmine menolak keras dan berontak, tetap saja budaya patriarki keluarga nya yang begitu melekat mengharuskan ia untuk tidak melakukan perlawanan.
Hubungan itu memang baik pada awalnya, satu bulan, dua bulan hingga enam bulan berjalan, Jasmine sudah mulai terbuka, menganggap pilihan Ayah nya ini sebagai sesuatu yang tidak terlalu buruk namun hal-hal yang ternyata ditutupi rapat-rapat itu mulai terbongkar satu-persatu. Tentang perilaku abusive nya, tidak jarang Jasmine jadi sasaran main tangan pacar nya itu ketika sedang mendebatkan permasalahan yang sebenarnya tidak begitu besar, juga tentang kebiasaan playing victim serta gaslighting bahkan sampai yang paling parah adalah hampir menjadi korban pemerkosaan hingga tiga kali. Tertekan hingga depresi, berkali-kali pula Jasmine sengaja meminum puluhan obat tidur dan penenang atau menyakiti dirinya sendiri menggunakan cutter kemalangan yang masih saja membuatnya tersudut di mata keluarga, menjadi aib serta sesuatu yang memalukan hingga di cap sebagai perempuan gila.
Jasmine hanya ingin didengar dan diperlakukan adil sebagaimana manusia seharusnya, yang berhak untuk menentukan pilihan serta jalan hidupnya, bukan malah diatur ini itu sampai membuat ruang gerak nya terbatas.
Serangkaian kejadian itu lah yang membawa Jasmine mengenal sosok Arumi, perempuan berparas cantik serta lemah lembut. Jasmine yang berprofesi sebagai model disamping menjadi seorang mahasiswi, kala itu membutuhkan seorang manager untuk mengatur seluruh jadwal pemotretan dan endorsement nya, dari banyaknya orang yang menjadi pilihan Jasmine adalah Arumi, dari sana pula keduanya merasa punya kecocokkan serta ketertarikan walaupun terdengar agak menyimpang.
Arumi mampu memberikan rasa nyaman serta perasaan-perasaan yang sebelumnya tidak ia dapatkan pada hubungan terdahulu nya, meski sebenarnya Jasmine tidak terlalu mengerti jika keputusan menjalin hubungan dengan manager nya itu murni dari dorongan orientasi seksual nya atau hanya terlena mencari suatu pengalihan dari trauma nya.
Kebingungan itu berlanjut sampai Arumi memutuskan untuk kembali ke 'jalan' awal dengan mencoba berhijrah dan mulai menggunakan hijab, Jasmine masih bingung dengan perasaan nya sendiri. Disatu sisi ia sedih karena Arumi bukan lagi tempat pulang nya untuk berkeluh kesah dan mendapat sebuah afeksi tapi ia pun senang karena Arumi bisa kembali menemukan jati diri nya dan berubah ke arah yang lebih baik.
Jika bukan karena Arumi menawarkan jasa boyfriend rent mungkin Jasmine sudah menemukan perempuan lain untuk menggantikan posisi Arumi, tapi masalah nya tidak se-sederhana itu. Jasmine lantas mengiyakan tawaran nya justru karena Arumi sendiri, bagaimana perempuan itu bisa meyakinkan Jasmine bahwa tidak semua laki-laki sama, tidak semua laki-laki itu jahat, walaupun skeptis Jasmine tetap setuju untuk memberanikan diri terbuka lagi pada laki-laki,
“But what if... it that doesn't work? You will come to my side again, right Rum?”
Arumi terlihat bingung mendengar pertanyaan Jasmine itu. Ia hanya ingin berpisah baik-baik dengan Jasmine tanpa membuat mantan pacarnya ini kecewa dan makin terpuruk,
“Jas...”
“Ya kan, Rum? Kamu tau kan... kamu tau persis kalo aku udah gak bisa lagi sama cowok?”
Arumi menggenggam kedua lengan nya, menatap wajah cantiknya yang kini pucat pasi, kedua mata bengkak dan rambut yang acak-acakan,
“Jasmine... aku tau bukan ini yang kamu inginkan, bukan berpacaran dengan sesama yang kamu butuhkan untuk menyembuhkan luka kamu. Deep inside your heart, you already know the answer, don't you?“
“Arumi..” Tangis Jasmine kembali pecah, mencengkram lengan Arumi kencang, “Aku gak bisa... aku takut, Rum.”
Bukan sekali-dua kali, jika Arumi yang akan dipanggil Jasmine sebagai opsi pertama ketika ia sedang tidak baik-baik saja, lebih dari itu Arumi juga yang akan setia menemani Jasmine masuk UGD untuk kesekian kalinya karena lagi-lagi ia melakukan selfharm. Arumi ada untuk Jasmine di kala duka dan bahagia nya, menerima ia apa adanya bahkan dengan semua kekacauan nya. Tidak heran jika Arumi sangat berhati-hati tentang menyudahi semua hubungan nya itu.
Arumi merengkuh tubuh Jasmine, membiarkan segala resah dan kesedihan yang tidak berkesudahan itu kembali larut dalam peluknya,
“It's going to be fine, believe me. Semuanya bakal baik-baik aja, aku masih di sisi kamu sekarang, aku akan bantu kamu.”