yang tidak mereka katakan: senandika.

Sepuluh menit berlalu anak laki-laki itu masih berdiri ditempat tanpa melepaskan pandangannya pada seorang anak perempuan yang kini tergeletak bersimbah darah. Ia masih berusaha mencerna semua kejadian yang terasa seperti kilat di siang bolong, raga nya seperti hampa, pandangan nya kosong dan gravitasi seperti hendak menariknya kian terperosok menuju dasar bumi, yang masih ia ingat dengan jelas adalah bagaimana perempuan kecil itu mendorongnya agar terhindar dari mobil kencang yang melaju dari arah barat, hanya itu, setelahnya si anak laki-laki sudah menemukan teman kesayangan nya terbaring diatas aspal dengan mengenaskan. Pengang, telinga nya terasa berdengung, beberapa kali mengerjapkan mata berharap ketika membukanya yang ia lihat sekarang ini hanyalah bagian dari bunga tidur belaka. Riuh di kepala nya makin menjadi, bersamaan dengan segerombolan orang-orang yang mulai berkerumun, Senandung, kakak perempuan anak laki-laki itu menarik lengan nya menjauhi keramaian dan memeluknya erat sambil menangis.

Kepala nya mendongak, menatap langit yang kini benderang dengan sangat cerah, diantara gumul awan-awan putih itu, ia berkata lirih dalam hati; jika ada satu malaikat yang akan terbang ke langit hari ini.


“Dika, apakabar?”

Sapa pria paruh baya dengan setelan jas putih menyapa Dika dengan sangat ramah, yang ditanya hanya mengangguk sambil memberi senyum sekenannya.

“Udah lama gak ketemu ya? Terakhir pas kamu masih SMP apa SMA ya?” Dokter itu mengawang langit-langit ruangan praktiknya, mengusap dagu yang kini ditumbuhi janggut berwarna putih. Sangat lama, seingat Dika ketika ia terakhir datang berkunjung Dokter ini masih tampak muda walaupun rambutnya memang sudah memutih,

“SMP, Dok.”

Timpal Senandung dari arah kursi tunggu, terapi perdana Dika yang ditemani sang kakak sebagai wali pasien. Senandung sengaja terbang dari Jogja menuju Bandung ketika mendapat kabar jika Dika harus kembali bertemu psikiater nya lagi setelah tujuh tahun,

“Oh iya iya, SMP ya. Makin ganteng aja ya Dika, haha perasaan dulu pas ketemu saya masih kecil banget sekarang sudah besar.”

Dokter Arman memang selalu begitu, berbasa-basi untuk membuatnya pasien nya merasa rileks, baik Dika dan Senandung hanya tertawa kikuk,

“Jadi ada keluhan apa, Dika?”

Dika melempar pandang pada kakak nya, sedikit ragu jika ia harus kembali menceritakan semuanya dari awal, yang artinya kembali lagi membuka luka lama yang sudah ia tutup, sudah ia simpan dalam-dalam disudut hippocampus nya dan hari ini ia harus kembali berurusan dengan kelam nya lagi,

“Gapapa, ceritain aja semuanya ya?” Jawab si kakak sambil tersenyum walau tahu didalam dirinya mati-matian menahan tangis karena Senandung tahu betul bagaimana perjuangan Dika untuk bisa bangkit dari kejadian 14 tahun silam.

“Anu dok... saya mimpi buruk lagi.” Dika menghela nafas pelan, “Tiap mau merem rasanya kejadian itu berputar lagi didalam kepala saya... kayak film. Udah tiga hari juga saya gak bisa tidur, bawaannya gelisah terus.”

Dokter Arman mengangguk-ngangguk sembari menulis sesuatu didalam catatan nya, “Sebelumnya apa ada trigger yang bikin kamu tiba-tiba jadi begini?”

Dika menggigit bibir bawahnya, mencengkram tangannya sendiri karena sedari tadi terus gemetar, ia tahu lambat laun tangis nya pasti akan pecah juga. Dengan susah payah ia menceritakan kronologis kondisi nya, mengapa tiga hari ke belakang rasanya seperti neraka hingga dada nya kembali sesak, kepala nya seperti akan pecah karena memori itu terus-terusan berputar seperi sebuah alur film. Dari apa yang Dika paparkan, jika kondisi ini memburuk ketika ia tahu jika teman dekatnya sendiri, teman perempuan satu-satunya ternyata diam-diam menyukainya, yang menjadi masalah adalah mengapa orang nya harus Gemintang, mengapa kilas balik dari kejadian beberapa belas tahun silam itu seakan direka ulang seperti deja vu. Dika merasa keberatan pada awalnya ketika mengetahui bahwa ada nama serta foto masa kecilnya terselip diantara lembaran buku jurnal milik Gemintang yang tidak sengaja ia buka ketika datang berkunjung ke rumah nya, ia merasa seperti perlu tutup mulut soal ini dan menganggap hal yang ia lihat tidak pernah terjadi tapi malam itu, ketika Dika secara spontan bertanya mengenai pendapat Ge soal hubungan Farhan dan Sabita justru jawaban yang tidak terduga yang ia dapat, jawaban yang membuat Dika kalut jika semisal perasaan perempuan itu tumbuh lebih besar, membuat ia harus kembali terlibat dalam perdebatan perihal rasa suka dan jika benar-benar terjadi maka mereka akan berakhir saling menyakiti.

Adalah Nadira teman masa kecil Dika, anak perempuan yang selalu ia banggakan, selalu ia sempatkan untuk bermain setiap hari selepas pulang sekolah, masih menggunakan seragam putih merah nya Dika akan datang berkunjung untuk sekedar menemani Dira bermain barbie atau berperan menjadi pasien dengan Dira sebagai dokter nya. Entahlah, Dika tidak tahu apa itu cinta, di umur seusianya untuk memahami konsepsi dari rumus matematika saja masih kesulitan apalagi untuk mengartikan perasaan-perasaan yang meletup ketika netra mereka saling bertemu. Namun yang jelas, jika ditanya siapa orang yang paling ia sayang, bukan Abah, Ibu atau Teh Ndung yang jadi jawaban justru nama Dira lah yang ia sebut lantang-lantang.

Seiring berjalannya waktu, pasca kejadian itu perlu waktu yang sangat lama untuk Dika bisa berbaur dan kembali bersosialisasi dengan teman-temannya, Dika seolah lahir kembali seakan kejadian yang menimpa Nadira adalah bagian dari mimpi buruk yang tidak pernah terjadi. Dika menutup nya dalam-dalam, begitupun dengan keluarga nya.

“Jadi, Dika merasa tidak pantas untuk disukai oleh teman Dika itu karena takut kejadian seperti dulu terulang?” Lanjut dokter Arman, Dika mengangguk tangis nya sudah ruah begitupun dengan Senandung,

“Saya ngerasa hal ini tuh salah... salah banget. Gak seharusnya Gemintang suka sama saya... saya takut... takut... jika saya bakal menyakiti Gemintang sama seperti saya ke Dira dulu...” Jawab Dika pilu, ditengah isak nya ia berusaha untuk tetap menenangkan sang kakak, “Padahal alasan saya untuk tetap bertahan, mulai terbuka lagi dengan lawan jenis adalah Gemintang... saya hanya ingin berteman tanpa harus saling suka atau cinta... saya takut, Dok. Takut sama perasaan dia, sama perasaan saya sendiri.”

Gemintang memang punya arti tersendiri bagi Dika, sebagai teman perempuan satu-satunya yang Dika miliki, bukan hanya karena ayah mereka yang berteman tapi jauh di lubuk hati Dika, Gemintang adalah penyelamatnya, jika saat itu Dika dan Gemintang tidak dipertemukan oleh Idiosinkrasi mungkin hingga sekarang ketakutakn Dika makin menjadi. Hanya Gemintang dan hanya ia yang dikecualikan.

Di tengah segala keterbatasannya, Dika hanya ingin melindungi perempuan itu.

Setelah sesi konsultasi dan terapi yang memakan waktu sekitar satu jam setengah Dika dan Senandung keluar dari ruangan dokter Arman yang langsung disambut oleh kedua orangtua mereka yang menunggu sejak tadi, Dika beruntung punya keluarga yang sangat suportif soal kesehatan mental, karena hal ini pula Dika lebih nyaman terbuka tentang semua hal pada keluarga nya ketimbang pada teman-temannya sendiri. Karena citra Dika adalah pribadi yang menyenangkan, lucu, ceria dan suka bercanda ia merasa sungkan untuk memperlihatkan sisi lain dari dirinya.