plutoprojector

Gemintang, seorang mahasiswi baru FSRD kala itu, sudah mencak-mencak gak jelas karena hari terakhir OSKM ia tidak kebagian parkir yang mengharuskan nya putar balik sejauh satu kilometer untuk menempatkan motor matic hitam (yang dia panggil Lili) di kantong parkir yang sudah disediakan pihak panitia. Gara-gara harus beradu argumen dengan seorang ibu-ibu ketika membeli nasi kuning untuk sarapan dan berujung ia harus merelakan waktu pagi nya bertemu dengan macet Dago padahal Gemintang bangun lebih awal untuk menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan seperti ini.

“Ayo dek, boleh. Mampir ke stand kami yuk, tanya-tanya dulu juga boleh!” Sapa seorang kakak senior menginterupsi langkah tergesa Gemintang hingga ia harus menunduk-nunduk dengan sopan sambil menolak nya. Hari terakhir penutupan ospek memang selalu diisi dengan berbagai penampilan serta promosi dari UKM se-ITB. Dari awal kedatangan nya di kampus ia sudah kebelet banget tapi tidak bisa menemukan toilet terdekat, belum terlalu hapal seluk beluk kampus juga karena masih mahasiswa baru, mau bertanya tapi sungkan karena para kakak tingkat sedang sibuk-sibuknya promosi.

“Anjir demi apa, makin siang makin banyak orang. Aaaargh pengen pipis!” Ujarnya frustasi sambil terus mengedarkan pandangan mana tau kebetulan nemu toilet,

Tapi yang ia temukan justru stand sepi dengan banner gak niat terbuat dari karton berwarna biru bertuliskan 'Idiosinkrasi' dan seorang kakak senior yang sibuk bermain handphone tengah duduk berjaga, Gemintang pikir jika ia bertanya pada kakak senior tersebut ia akan segera menemukan toilet. Buru-buru bergegas dan mendekati stand itu agak hati-hati,

“Kak, permisi?”

Laki-laki yang Gemintang yakini adalah kakak senior itu (walaupun masih agak ragu juga) menengadah, menatap wajah kebelet Gemintang lalu tersenyum,

“Iya? Ada yang bisa dibantu? Mau masuk Idiosinkrasi?” Tutur nya ramah sekali hingga bikin Gemintang makin tidak enak untuk menyela pertanyaan nya,

“A-anu kak... Aaa-”

“Boleh, isi form nya ya. Bentar”

Hah

“Kak, anu toilet sebelah mana ya?”

Kakak senior tersebut mematung dengan kertas formulir di tangan nya lalu beralih menatap Gemintang lagi, takutnya ia salah dengar atau bagaimana,

“Toilet?”

“I-iya kak” Jawab nya dengan gugup takut malah kena semprot,

“Gini deh. saya kasih tau kamu dimana toilet nya tapi kamu harus gabung Idiosin ya?”

Hah... orang gila..

Alah persetan dia bisa langsung kabur kalau udah tau dimana toilet nya dengan begitu ia gak harus terikat dengan Ideo..Idisi.. ah pokoknya kelompok dan orang aneh ini.

“Oke! saya bakal gabung sama kelompok ini. tapi please kak dimana ya toilet nya?” Gemintang makin menciut dengan wajah tidak karuan karena beneran udah gak setahan itu,

“Yes, acc! Oke, jadi kamu masuk gedung ini nih nanti masuk lorong deket ruang tata usaha terus mentok disana ada toilet. Kalo ada yang nanya-nanya aneh ngapain kesitu, bilang aja disuruh Farhan.” Tutur kakak tersebut dan dalam sepersekian detik Gemintang langsung melesat meninggalkan stand dan masuk ke dalam gedung yang dimaksud.

-

“Yaampun.. lega..” ujar nya selepas keluar dari toilet, mencuci tangan nya lalu merapikan penampilan nya yang agak berantkan karena terlalu banyak berlari. Gemintang pun melenggang keluar gedung dengan perasaan ringan lalu terdiam dengan wajah shock karena melihat seseorang yang familiar sedang bersandar pada tembok gedung dekat pintu, melempar senyum nya seraya melambaikan tangan,

“Hai, udah ke toilet nya? Yuk lanjutin isi form”

'Beneran orang gila, ternyata ditungguin...' batin Gemintang sedikit menyumpahi keputusan nya tadi karena langsung mengiyakan tawaran si kakak senior, ia gak nyangka bakal beneran dibuntutin kayak begini. Ah, mati. Padahal ia ingin kehidupan maba nya tentram dan damai, walaupun 'soon to be gila' karena tugas-tugas yang akan ia hadapi di fase TPB ini.

“Anak FSRD ya?”

“Hah? A-ah, iya kak.”

“Wah.” si kakak langsung tersenyum, tergambar di wajah nya bahwa ia sangat puas sekali me-rekrut Gemintang dengan cara yang tidak terduga.

“Kenapa ya kak?” Merasa ada yang janggal, Gemintang bertanya hati-hati, laki-laki ini beneran mahasiswa sini bukan sih? kok tingkah nya mencurigakan banget. Jangan-jangan orang random yang buka stand secara ilegal buat dapetin mangsa. Hah, jangan-jangan...

“Kenalin, gue Farhan D.I 2017. Kayaknya kita bakal sering ketemu pas ospek fakultas”

Hah.. HAH?

Mungkin di masa lalu Gemintang pernah bikin rugi suatu negara apa gimana ya kok bisa-bisanya awal perkuliahan se-mlenceng ini, jauh dengan apa yang ia harapkan.

Dan begitulah awal mula seorang Gemintang Hanin Shidqia menghabiskan masa kuliah nya bersama Idiosinkrasi. Kalau ditanya perasaan nya sekarang seperti apa, ia sangat bersyukur walau dipertemukan dengan cara yang tidak biasa, cerita kebelet dan perjanjian aneh, membuka mata Gemintang dan selalu diberikan rasa syukur dengan memaknai kehidupan sebaik-baiknya.

Note:

  • OSKM = Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa (sebutan bagi ospek di ITB)
  • TPB = Tahapan Persiapan Bersama ( kegiatan akademik mahasiswa tingkat satu ITB dalam rangka mengantarkan dari tahap persiapan bersama menuju program studi)

Idiosinkrasi merupakan sebuah kelompok bentukan mahasiswa FSRD ITB yang berfokus pada pendanaan berbagai lembaga sosial seperti, panti dan shelter. Tidak seperti kelompok amal kebanyakkan, idiosinkrasi justru menggunakan sistem yang terbilang unik dan nyeleneh dalam mengumpulkan dana sumbangan, menjalankan berbagai jobdesk serta misi sesuai bakat dan minat anggota nya. Idiosinkrasi menyediakan berbagai jasa talent sesuai kebutuhan seperti, model, graphic designer , gigs bahkan boyfriend rent. Mereka juga membuka sebuah coffee shop kecil-kecilan sebagai sumber dana alternatif bahkan boleh dibilang pemasukan nya lebih stabil (karena job untuk talent tidak menentu).

Dibentuk oleh Farhan di tahun kedua nya berkuliah akibat dari rasa prihatin nya pada lembaga sosial yang masih mengalami kendala dalam proses pendanaan, mengajak dua temannya di FSRD yaitu Hafidz dan Adinata mereka bertiga membangun idiosinkrasi dari nol, dengan modal relasi yang dimiliki Farhan dan kawan-kawan hingga kini idiosin menjadi donatur tetap bagi empat panti asuhan, tiga panti werdha dan satu shelter kucing di daerah Bandung Raya.

Struktur organisasi nya menganut sistem pemerintahan seperti memiliki kabinet kerja bernama ‘Republic of The Panastiris’ dengan Farhan sebagai presiden serta dua kawan nya sebagai menteri ditambah dua orang anak baru yang diangkat langsung jadi staff ahli, Gemintang dan Senandika. If you wonder, what the hell The Panastiris mean? betul kalau diterjemahkan kedalam bahasa indonesia artinya adalah panas dingin, dilansir dari seorang narasumber The Panastiris terinspirasi dari film karya Pidi Baiq yang berjudul Koboy Kampus dimana alur kisah nya menceritakan sekelompok mahasiswa seni ITB yang membentuk sebuah negara The Panasdalam, biar gak mirip-mirip amat Farhan sengaja ganti panas dalam jadi panas tiris, kalau ditanya esensi dan makna nya apa pasti mereka kompak menjawab sebagai bentuk implementasi suatu karya seni kedalam kehidupan sehari-hari, huft memang isi kepala nya susah banget buat ditebak.

Kelima anggota idiosin semata-mata menganggap pekerjaan ini sebagai kegiatan sampingannya selain menjadi mahasiswa, menjalankan misi untuk membantu orang lain dengan cara yang menyenangkan, mungkin ini juga makna sebenarnya dari idiosinkrasi itu sendiri; menjadi berbeda dan tidak mengikuti aturan umum. Punya streotype aneh dimata orang-orang tapi mereka gak ambil pusing soal itu as long as mereka tetap pada jalur yang baik dan membantu sesama, they fine with that. Kalau kata Hippo Campus sih we’re weird but Lord knows we’re trying. orang lain cenderung menilai sesuatu berdasarkan dari apa yang mereka lihat dipermukaan tanpa tau keadaan yang sebenar-benarnya.

We are idiosinkrasi, let’s get closer with us!

Perjamuan Tengah Malam

Dengan ini aku nyatakan selamat datang di perjamuan tengah malam. Dimana kepala ku yang penuh lubang disumbat polusi pikiran tak pernah padam. Alih-alih menghindar aku lebih memilih bungkam.

Perjamuan tengah malam. Kita akan terduduk saling berhadapan, saling tikam. Mencari jalan keluar dari kusut nya masa lalumengulang keinginan untuk membunuh semua resah yang terpendam.

Di perjamuan tengah malam. Kala sepasang netra bersinar seperti kejora, berpendar indah diantara konstelasi-konstelasi prasangka membentuk instalasi rasa dan kuakui alur nya sedikit tergesa-gesa.

Ku sampaikan di perjamuan tengah malam. Beberapa mungkin dan seandainya yang masih membuat nyeri logika, mengawang bebas terselip dalam amigdala, perlahan membuatku paham apa artinya mencinta.