Jika disuruh untuk kembali mengerjakan setumpuk tugas nirmana ketimbang bertemu dengan seorang perempuan, maka tentu yang akan gue pilih adalah menyelesaikan tugas-tugas biadab tersebut. Berkutat dengan cat poster serta berpacu dengan waktu daripada harus mengobrol, berbasa-basi dengan mahluk yang tercipta dari rusuk Adam itu.
Gue, Senandika Krisna. Bukan anti perempuan apalagi yang lebih ekstrim, seorang patriarki. Enggak, bukan begitu konsep nya. Gue hanya super canggung untuk mengobrol dengan perempuan. Perlu digaris bawahi, statement ini tidak berlaku untuk Gemintang, Teteh dan Ibu gue. Hanya tiga perempuan tersebut yang masih sangat nyaman untuk gue ajak berkomunikasi sehari-hari.
Dikarenakan tuntutan dari kantor cabang—atau yang biasa kami berdua sebut 'Idiosins' mengharuskan gue untuk bersedia ikut andil dalam membantu Acip menghandle klient gelap nya. Iya, ini memang job yang kami ambil di luar job utama di Idiosinkrasi, karena ekhem profit yang kami hasilkan disini akan kami gunakan untuk foya-foya. Gue dan Acip tentu takut jika nantinya hal ini mungkin akan terendus Farhan (yang berakhir kami akan didepak permanen dari Idiosinkrasi) tapi dengan keyakinan dan keteguhan hati kami nekat untuk tetap menjalani nya. Gapapa, maju lo Farhan gue punya Tuhan.
Sesuai dengan tempat yang disepakati, gue sudah berada didepan pintu masuk PVJ sepuluh menit lebih awal dari jam janjian. Sebenernya berat banget, dari tadi gue deg-degan terus tapi udah kepalang basah jadi yaudah nyebur sekalian. Bisa aja pulang dari sini skill bercakap gue dengan perempuan bisa bertambah, mana tahu gue bisa dengan mudah buat dapetin pacar.
“Kak Dika?” Sapa seorang perempuan dengan suara lembut, “Halo, Kak Dika. Ini aku Jasmine.” Lalu dia tersenyum hingga gue bisa merasakan getar nya hingga dada.
“Ee—eh, I—iya ini Dika. He—hehe” God dammit, Senandika!
“Udah lama kak, nunggu nya?”
Jujur, gue diem cukup lama. Memproses semua informasi di kepala gue, sesekali terdistraksi karena wajah nya terus mengalihkan fokus gue. Cantik banget. Jasmine cantik banget dan surprisingly dia memakai hijab. Sangat jauh dari yang gue dan Acip bayangkan. Astagfirullah, udah suudzon dari awal jadinya gini nih.
“Eee—enggak kok. Barusan banget. Ya—aaa gak nyampe semenit deh, hehe” Jika ada bang Farhan dan Acip disini pasti gue akan habis mereka ledekin.
“Mau makan dulu barangkali? Sekalian ngobrol-ngobrol?” Ajak Jasmine. Duh, sumpah suaranya lembut banget kayak kapas mana tutur katanya sopan banget. Bisa-bisanya dulu gue mikir dia manggil Acip jadi pacar rental untuk melakukan hal-hal yang melanggar norma agama.
“Boleh, kak. Saya belum makan juga kebetulan”
“Eh? Hahaha, gak usah panggil kakak juga ih. Jasmine aja, ya?”
“Emang boleh?” Pertanyaan gue dibalas anggukan oleh dia. Lucu banget.
Setelah itu kami berdua memasuki PVJ, menjelajahi foodcourt nya mencari tempat yang agak kosong. Maklum, hari minggu mall yang jadi primadona di kota Bandung ini memang bakal ramai. Akhirnya kami memilih untuk makan ramen aja karena kebetulan tempat nya luas dan pengunjung nya juga gak terlalu banyak. Kami duduk berhadap-hadapan, sedikit canggung Jasmine memberikan buku menu nya pada gue,
“Duluan aja” Tolak gue halus sambil menyerahkan buku menu nya.
“Gak apa kak, disamain aja. Aku bakal makan apapun yang kak Dika pesen”
Lo tau? Lo tau ledakan bom atom Nagasaki dan Hirosima tujuhpuluh enam tahun yang lalu? Mungkin aja seperti itu gambaran hati gue sekarang. Ternyata seperti ini ya, sensasi dari dating yang selalu Acip lakukan di akhir pekan, walaupun pura-pura ternyata efek nya gak main-main. Hal ini cukup membuktikan gue memang tidak memasuki kualifikasi untuk masuk ke divisi boyfriend rent, bukan nya bikin baper klien tapi yang ada gue nya yang baper duluan!
“O—ooh, Oke...”
Gue ambil kembali buku menu nya, menyeleksi beberapa menu yang akan gue—dan dia pilih untuk jadi menu makan malam perdana kami. Pilihan gue jatuh pada salah satu menu best seller mereka, mungkin rasanya enak, soalnya ada logo bintang di gambar nya.
Sambil menunggu pesanan tiba, gue sesekali curi-curi pandang untuk melihat wajahnya, lalu gue cocokan dengan gambar yang ada di display picture kontak nya. Aneh, ternyata beda dan gue pun baru sadar karena selama ini gak terlalu merhatiin.
“Kak Dika pasti bingung ya? Hehe, itu yang di display emang bukan foto ku kak.”
Kan, kata gue apa. Wah, Acip bakal kaget sih ini kalo nanti gue ceritain.
“Ah, pantes aja. Makanya ada yang ganjil, kok gak mirip sama yang ada di foto hehe.” Gue tertawa kikuk, “Emang ini foto siapa?”
“Jasmine, kak”
Hah..
“Jasmine?” Gue mengernyitkan dahi, makin bingung melihat dia mengiyakan hal tersebut. Kini malah gue yang mempertanyakan identitas perempuan ini sebenarnya. Kok jadi parno sendiri ya. Apa ini penipuan berkedok menjadi klien boyfriend rent? Pantes aja dia gak langsung DM base Idiosinkrasi dan malah tiba-tiba ngechat Acip. Ah, apa jangan-jangan...
“Yang di foto itu namanya Jasmine, kak. Kalo aku namanya, Arumi” Jawab dia sambil kembali memamerkan senyum manisnya begitupun dengan kedua lesung pipi nya yang gak kalah manis.
Hati gue mencelos beberapa kali, pertama; karena senyum nya yang bikin setengah kewarasan gue menghilang, kedua; karena ternyata oknum Jasmine-Jasmine itu adalah orang yang berbeda dengan yang ada dihadapan gue sekarang, dan ketiga; kok dia ngerent Acip?! Maksudnya buat apaan anjrit?
“Eh.. bentar deh. Kok jadi makin bingung, ya?”
“Hahaha, aduh maaf kak Dika. Mmm, mau nanya apa nih? Aku bakal jawab semua yang bikin kak Dika bingung”
Banyak banget sebenernya. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang perlu gue ketahui jawabannya saat itu, tetapi makanan kami keburu dateng dan mengharuskan gue untuk menunda sementara sesi tanya jawab perihal Jasmine dan Arumi ini.
Setelah makan dalam keadaan hening juga diselimuti dengan kekepoan gue yang makin meninggi, untuk terus mengorek fakta-fakta yang masih belum terungkap, gue memberanikan diri untuk kembali membahasnya,
“Btw—”
“Kak Dika, mau nonton gak? Mumpung film nya lagi pada bagus-bagus nih”
“Hah? Eh—Iya boleh-boleh...”
“Hehe, oke! Aku pesen dulu tiket nya di aplikasi ya, mumpung banyak diskon”
Gue mengangguk dengan ajakan Arumi itu dan seketika ngerasa dongkol sendiri karena kebingungan gue masih belum terjawab. Sembari Arumi memesan tiket nya, gue pun sambil chattingan sama Acip melaporkan apa saja yang sudah gue lakukan di sesi pertama rental pacar ini.
“Eh, kak Dika mau nanya apa tadi? Aku sampe lupa hehe”
“Ah, iya...” Gue memasukan hape kedalam saku celana, lalu duduk dengan posisi tegak, bersiap mengintrogasi—maksudnya, mewawancarai Arumi, “Btw, kenapa kamu pake jasa boyfriend rent kayak gini? Dan kenapa enggak pake jasa ini secara resmi...”
Gue beranikan diri untuk menatap langsung matanya,
“Ya, kamu tau lah.. langsung DM base terus bikin appointment dan segala macem?”
Arumi terlihat bingung sesekali raut wajah nya menandakan dia agak gelisah, apa pertanyaan nya serumit itu ya? Sampe-sampe bikin dia kesulitan buat ngejelasin alasan nya.
“Kak Dika, jangan kaget ya? Sebenernya, kak Acip juga belum tau..”
Gue mematung sepersekian detik, mencoba menelaah situasi yang terjadi. Demi Tuhan, gue makin gugup dibuatnya. “Eh? Kenapa emang? Kenapa harus kaget?”
“Kak... sebenernya anu.. Jasmine itu penyuka sesama jenis” Arumi memberikan jeda diantara kalimatnya, lalu menelan ludah untuk terus menyelesaikan ucapannya, “Alesan aku pake jasa kak Acip diluar kontrak resmi tuh karena ya... takut aja nantinya dipermasalahin, apalagi kan nantinya fee akan digunakan untuk beramal. Aku mana berani buat pake jasa nya.”
Seketika gue menjadi manusia paling dongo. Sel otak gue yang tidak seberapa jumlahnya itu makin kepayahan untuk mencerna semua hal yang Arumi katakan.
Jasmine? Penyuka sesama jenis? Lesbian? Terus... terus hubungan nya sama Arumi apa?
Beberapa asumi mulai berseliweran dibenak gue, silih berganti memasuki akal pikiran, seperti sedang menunggu untuk di validasi oleh yang bersangkutan.
“Lalu... kamu ini siapanya Jasmine?” Tanya gue kembali, kini dengan lebih berhati-hati, mengantisipasi jawaban yang mungkin aja diluar dugaan gue.
“Pacar nya, kak.”
For God's sake, what the hell is going here?