plutoprojector

Aji dan pikirannya, sulit untuk diterka.

Isi kepalanya hampir setara semesta. Laki-laki itu memang luar biasa, disamping keahliannya membuat bait serta nada.

“Kala, saya memang tidak punya kapasitas untuk menarik tangan kamu menuju tempat yang lebih baik”

Aji, mengambil jeda diantara kalimat nya. Menatap kedua mata saya dengan teduh,

“Tapi, jika kamu butuh teman di tempat gelap itu, saya dengan senang hati akan menemani”

Aji, tidak mau dipanggil rumah.

Dia tidak mau menjadi tempat bagi seseorang untuk mengharapkan cerah. Menurutnya, ia masih butuh banyak waktu untuk berbenah.

Tapi, Aji.

Jika bukan karena kamu, perempuan ini mungkin akan membenci sisa hidupnya, lalu mati kesepian bersama luka nya.

Pasca pertemuannya dengan Arumi hari minggu lalu, Dika mendadak menghilang tanpa kabar. Terhitung hampir tiga hari laki-laki itu tidak bikin rusuh seperti biasanya, spam group chat dengan meme koleksinya atau sambat perihal mata kuliah yang bikin frustasi.

Jelas aja hal ini bikin semua anggota Idiosinkrasi heran dan juga khawatir, terlebih Acip yang sangat paham mengapa sahabat nya itu berbuat demikian.

Jika disuruh untuk kembali mengerjakan setumpuk tugas nirmana ketimbang bertemu dengan seorang perempuan, maka tentu yang akan gue pilih adalah menyelesaikan tugas-tugas biadab tersebut. Berkutat dengan cat poster serta berpacu dengan waktu daripada harus mengobrol, berbasa-basi dengan mahluk yang tercipta dari rusuk Adam itu.

Gue, Senandika Krisna. Bukan anti perempuan apalagi yang lebih ekstrim, seorang patriarki. Enggak, bukan begitu konsep nya. Gue hanya super canggung untuk mengobrol dengan perempuan. Perlu digaris bawahi, statement ini tidak berlaku untuk Gemintang, Teteh dan Ibu gue. Hanya tiga perempuan tersebut yang masih sangat nyaman untuk gue ajak berkomunikasi sehari-hari.

Dikarenakan tuntutan dari kantor cabang—atau yang biasa kami berdua sebut 'Idiosins' mengharuskan gue untuk bersedia ikut andil dalam membantu Acip menghandle klient gelap nya. Iya, ini memang job yang kami ambil di luar job utama di Idiosinkrasi, karena ekhem profit yang kami hasilkan disini akan kami gunakan untuk foya-foya. Gue dan Acip tentu takut jika nantinya hal ini mungkin akan terendus Farhan (yang berakhir kami akan didepak permanen dari Idiosinkrasi) tapi dengan keyakinan dan keteguhan hati kami nekat untuk tetap menjalani nya. Gapapa, maju lo Farhan gue punya Tuhan.

Sesuai dengan tempat yang disepakati, gue sudah berada didepan pintu masuk PVJ sepuluh menit lebih awal dari jam janjian. Sebenernya berat banget, dari tadi gue deg-degan terus tapi udah kepalang basah jadi yaudah nyebur sekalian. Bisa aja pulang dari sini skill bercakap gue dengan perempuan bisa bertambah, mana tahu gue bisa dengan mudah buat dapetin pacar.

“Kak Dika?” Sapa seorang perempuan dengan suara lembut, “Halo, Kak Dika. Ini aku Jasmine.” Lalu dia tersenyum hingga gue bisa merasakan getar nya hingga dada.

“Ee—eh, I—iya ini Dika. He—hehe” God dammit, Senandika!

“Udah lama kak, nunggu nya?”

Jujur, gue diem cukup lama. Memproses semua informasi di kepala gue, sesekali terdistraksi karena wajah nya terus mengalihkan fokus gue. Cantik banget. Jasmine cantik banget dan surprisingly dia memakai hijab. Sangat jauh dari yang gue dan Acip bayangkan. Astagfirullah, udah suudzon dari awal jadinya gini nih.

“Eee—enggak kok. Barusan banget. Ya—aaa gak nyampe semenit deh, hehe” Jika ada bang Farhan dan Acip disini pasti gue akan habis mereka ledekin.

“Mau makan dulu barangkali? Sekalian ngobrol-ngobrol?” Ajak Jasmine. Duh, sumpah suaranya lembut banget kayak kapas mana tutur katanya sopan banget. Bisa-bisanya dulu gue mikir dia manggil Acip jadi pacar rental untuk melakukan hal-hal yang melanggar norma agama.

“Boleh, kak. Saya belum makan juga kebetulan”

“Eh? Hahaha, gak usah panggil kakak juga ih. Jasmine aja, ya?”

“Emang boleh?” Pertanyaan gue dibalas anggukan oleh dia. Lucu banget.

Setelah itu kami berdua memasuki PVJ, menjelajahi foodcourt nya mencari tempat yang agak kosong. Maklum, hari minggu mall yang jadi primadona di kota Bandung ini memang bakal ramai. Akhirnya kami memilih untuk makan ramen aja karena kebetulan tempat nya luas dan pengunjung nya juga gak terlalu banyak. Kami duduk berhadap-hadapan, sedikit canggung Jasmine memberikan buku menu nya pada gue,

“Duluan aja” Tolak gue halus sambil menyerahkan buku menu nya.

“Gak apa kak, disamain aja. Aku bakal makan apapun yang kak Dika pesen”

Lo tau? Lo tau ledakan bom atom Nagasaki dan Hirosima tujuhpuluh enam tahun yang lalu? Mungkin aja seperti itu gambaran hati gue sekarang. Ternyata seperti ini ya, sensasi dari dating yang selalu Acip lakukan di akhir pekan, walaupun pura-pura ternyata efek nya gak main-main. Hal ini cukup membuktikan gue memang tidak memasuki kualifikasi untuk masuk ke divisi boyfriend rent, bukan nya bikin baper klien tapi yang ada gue nya yang baper duluan!

“O—ooh, Oke...”

Gue ambil kembali buku menu nya, menyeleksi beberapa menu yang akan gue—dan dia pilih untuk jadi menu makan malam perdana kami. Pilihan gue jatuh pada salah satu menu best seller mereka, mungkin rasanya enak, soalnya ada logo bintang di gambar nya.

Sambil menunggu pesanan tiba, gue sesekali curi-curi pandang untuk melihat wajahnya, lalu gue cocokan dengan gambar yang ada di display picture kontak nya. Aneh, ternyata beda dan gue pun baru sadar karena selama ini gak terlalu merhatiin.

“Kak Dika pasti bingung ya? Hehe, itu yang di display emang bukan foto ku kak.”

Kan, kata gue apa. Wah, Acip bakal kaget sih ini kalo nanti gue ceritain.

“Ah, pantes aja. Makanya ada yang ganjil, kok gak mirip sama yang ada di foto hehe.” Gue tertawa kikuk, “Emang ini foto siapa?”

“Jasmine, kak”

Hah..

“Jasmine?” Gue mengernyitkan dahi, makin bingung melihat dia mengiyakan hal tersebut. Kini malah gue yang mempertanyakan identitas perempuan ini sebenarnya. Kok jadi parno sendiri ya. Apa ini penipuan berkedok menjadi klien boyfriend rent? Pantes aja dia gak langsung DM base Idiosinkrasi dan malah tiba-tiba ngechat Acip. Ah, apa jangan-jangan...

“Yang di foto itu namanya Jasmine, kak. Kalo aku namanya, Arumi” Jawab dia sambil kembali memamerkan senyum manisnya begitupun dengan kedua lesung pipi nya yang gak kalah manis.

Hati gue mencelos beberapa kali, pertama; karena senyum nya yang bikin setengah kewarasan gue menghilang, kedua; karena ternyata oknum Jasmine-Jasmine itu adalah orang yang berbeda dengan yang ada dihadapan gue sekarang, dan ketiga; kok dia ngerent Acip?! Maksudnya buat apaan anjrit?

“Eh.. bentar deh. Kok jadi makin bingung, ya?”

“Hahaha, aduh maaf kak Dika. Mmm, mau nanya apa nih? Aku bakal jawab semua yang bikin kak Dika bingung”

Banyak banget sebenernya. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang perlu gue ketahui jawabannya saat itu, tetapi makanan kami keburu dateng dan mengharuskan gue untuk menunda sementara sesi tanya jawab perihal Jasmine dan Arumi ini.

Setelah makan dalam keadaan hening juga diselimuti dengan kekepoan gue yang makin meninggi, untuk terus mengorek fakta-fakta yang masih belum terungkap, gue memberanikan diri untuk kembali membahasnya,

“Btw—”

“Kak Dika, mau nonton gak? Mumpung film nya lagi pada bagus-bagus nih”

“Hah? Eh—Iya boleh-boleh...”

“Hehe, oke! Aku pesen dulu tiket nya di aplikasi ya, mumpung banyak diskon”

Gue mengangguk dengan ajakan Arumi itu dan seketika ngerasa dongkol sendiri karena kebingungan gue masih belum terjawab. Sembari Arumi memesan tiket nya, gue pun sambil chattingan sama Acip melaporkan apa saja yang sudah gue lakukan di sesi pertama rental pacar ini.

“Eh, kak Dika mau nanya apa tadi? Aku sampe lupa hehe”

“Ah, iya...” Gue memasukan hape kedalam saku celana, lalu duduk dengan posisi tegak, bersiap mengintrogasi—maksudnya, mewawancarai Arumi, “Btw, kenapa kamu pake jasa boyfriend rent kayak gini? Dan kenapa enggak pake jasa ini secara resmi...” Gue beranikan diri untuk menatap langsung matanya, “Ya, kamu tau lah.. langsung DM base terus bikin appointment dan segala macem?”

Arumi terlihat bingung sesekali raut wajah nya menandakan dia agak gelisah, apa pertanyaan nya serumit itu ya? Sampe-sampe bikin dia kesulitan buat ngejelasin alasan nya.

“Kak Dika, jangan kaget ya? Sebenernya, kak Acip juga belum tau..”

Gue mematung sepersekian detik, mencoba menelaah situasi yang terjadi. Demi Tuhan, gue makin gugup dibuatnya. “Eh? Kenapa emang? Kenapa harus kaget?”

“Kak... sebenernya anu.. Jasmine itu penyuka sesama jenis” Arumi memberikan jeda diantara kalimatnya, lalu menelan ludah untuk terus menyelesaikan ucapannya, “Alesan aku pake jasa kak Acip diluar kontrak resmi tuh karena ya... takut aja nantinya dipermasalahin, apalagi kan nantinya fee akan digunakan untuk beramal. Aku mana berani buat pake jasa nya.”

Seketika gue menjadi manusia paling dongo. Sel otak gue yang tidak seberapa jumlahnya itu makin kepayahan untuk mencerna semua hal yang Arumi katakan.

Jasmine? Penyuka sesama jenis? Lesbian? Terus... terus hubungan nya sama Arumi apa?

Beberapa asumi mulai berseliweran dibenak gue, silih berganti memasuki akal pikiran, seperti sedang menunggu untuk di validasi oleh yang bersangkutan.

“Lalu... kamu ini siapanya Jasmine?” Tanya gue kembali, kini dengan lebih berhati-hati, mengantisipasi jawaban yang mungkin aja diluar dugaan gue.

“Pacar nya, kak.”

For God's sake, what the hell is going here?

Meski bisa mengerjakan semua hal, gue bukanlah tipikal orang yang akan mau melakukan sesuatu diluar jobdesk nya dan jika bukan karena Gemintang maka gue enggan melakukannya.

Manusia setengah kumbang—kalau kata Farhan, alias lebih suka menyendiri dan berlama-lama di kamar kosan nya. Bukan untuk bermalas-malasan atau sekedar gabut scrolling media sosial, justru gue akan lebih produktif jika berada di zona nyaman.

Sore ini akhirnya seorang Adinata Cakrawala bisa kembali mencicipi sesi pemotretan; mempromosikan suatu produk dengan pose sok keren dan menjajakan wajah yang cukup menjual bagi seorang model dadakan. Ditemani Gemintang dan Dika malah bikin gue makin gugup. Pertama, karena harus memperlihatkan sisi dari diri gue yang asing dan mungkin kurang familiar untuk mereka dan kedua adalah gue harus melakukan ini bersama Gemintang dan Dika, meski gue gak tahu alur pemotretan nya bakal seperti apa tapi yang jelas pasti akan ada sesi yang mengharuskan kami bertiga berfoto bersama.

Ugh, ngebayanginnya aja udah bikin gue cringe setengah mati.

“Yuk, kakak-kakak. Bisa masuk ke studio duluan, nanti akan ada staff yang mengarahkan untuk ganti outfit dan make up.” Ujar perempuan berlanyard biru dengan name tag bertuliskan Social Media Manager mungkin dia bagian dari team The Glorify.

“Eh, laper gak? Kalo gue sih iya.” Tanya Dika tiba-tiba, ya kalau bukan random bukan Dika sih namanya, “Boleh melipir dulu gak sih? Gua mau beli batagor dulu.”

“Diiiiiiiikkk” Pekik Gemintang sambil menyikut lengan Dika, lalu beralih menatap gue yang kini tertawa geli karena kelakuan nya.

“Minta aja sih, Dik. Biasanya suka dikasih nasi box sebelum mulai sesi.”

“Wah, yang bener bang? Gue minta dua dikasih gak ya?”

“Lo tuh. Kerjaannya aja belom dilakuin malah udah mikirin jatah nasi box. Mana minta dua. Gak usah bikin malu.”

“Idiiiih kenape sih lu? Bang Nat aja santai. Elu tuh harusnya yang mintain jatah nasi box, karena ini kan kerjaan elu. Kita mah supporting cast.”

“Eh, anjing—”

Buru-buru gue tengahi mereka dengan menarik mundur Gemintang ke belakang. Duh, apa hari ini jobdesk gue juga adalah sekalian untuk jadi penjaga mereka ya? Ini anak dua bener-bener akur nya cuma 5 menit doang, sisanya ribut sama adu bacot.

Setelah memasuki studio, kami ke ruang wardrobe untuk berganti pakaian dan di make up. Dika dan gue beres duluan karena outfit nya cukup simpel, cuma setelan casual kaos, outer dan juga celana jeans. The Glorify ini memang brand yang fokus pada daily wear cocok-cocok aja sama gue yang memang sebenernya agak picky kalau disuruh ngisi jobdesk model. Gue akan menolak jika produk yang akan gue pakai itu bikin gue gak nyaman dan bikin gue malu. Bukan apa-apa, tapi ini kan buat charity ya, harus dikerjakan atas dasar ikhlas dan dengan perasaan senang dong?

Lalu Gemintang keluar dengan outfit serupa. Untuk sepersekian detik dada gue seperti menghangat, meletup bersama ratusan—atau mungkin ribuan kupu-kupu yang berterbangan didalam perut, sensasi aneh yang diberikan itu cukup menggelikan tapi entah kenapa aura yang dipancarkan begitu kuat. Padahal pemandangan seperti ini amat sering gue lihat, karena itulah gaya Gemintang sehari-hari, outfit super simpel tapi tetap punya daya tariknya tersendiri.

Harus gue akui berkali-kali, Gemintang hari ini seribu kali lebih cantik.

Tanpa sadar kedua ujung bibir gue terangkat, melengkung keatas. Tersenyum bodoh.

“Cantik ya bang?”

Shit, kayaknya pas senyum tadi gue diliatin Dika deh.

“Hahㅡha, Iㅡiya. Cantik.” Sialan, jatuh cinta tuh bikin fungsi otak jadi menurun apa ya? Bisa-bisanya gue gak bisa ngendaliin diri dan malah terlena kebawa sama suasana.

Dika terkekeh geli, lalu menepuk pundak gue perlahan, “Sukses ye bang” Lalu dia berlalu, meninggalkan gue dengan wajah bertanya-tanya, perihal ucapan nya itu. Sukses apaan anjrit.

Setelah semua setting siap, kini Gemintang yang jadi kandidat pertama yang di foto, sementara itu gue dan Dika menunggu dibelakang operator yang ditemani tiang-tiang lampu besar serta monitor yang digunakan untuk preview singkat hasil dari pemotretan. Ketika foto pertama muncul di layar monitor, perasaan aneh kembali muncul di dada gue.

Kini detak nya makin kencang hingga gue bisa merasakan nya dari luar outer yang gue pakai, sepertinya gue bisa meledak kapan saja jika terus-terusan menatap monitor yang menampilkan wajah Gemintang dengan riasan make up ringan itu. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, gue diam-diam memfoto monitor dan laptop salah satu seorang staff yang kini sama-sama menampilkan preview dari foto-foto Gemintang.

“Bang, Gew sukanya musik indie” Tiba-tiba Dika menginterupsi lamunan indah gue ini, “Lebih prefer makan di warung kaki lima ketimbang di cafe. Soalnya lebih romantis, katanya.” Ujar Dika lagi yang sekarang sambil cekikikan juga ikut memperhatikan layar monitor.

“Hah?”

“Hah, heh, hoh. Bang, deketin aja gih. Diliatin mulu, kabur entar” Dika masih berujar sambil tertawa kecil lalu berjalan kearah tempat pemotretan, karena sekarang giliran dia yang di foto. Gue masih mematung dengan handphone di tangan, berusaha mencerna perlahan dari semua ucapan yang Dika katakan.

“Bang Nat!” Sapa Gemintang sambil berjalan kearah gue lalu tersenyum lebar, “Hehehe, seru gak? Jujur deh, staff-staff nya pada bae banget, ramah juga. Tiap gue diem suka ditanya duluan biar gak tegang.”

Gue hanya mengangguk-ngangguk kikuk dan kini pura-pura ngeliatin Dika yang lagi di foto, berusaha untuk tidak terdistraksi dengan kehadiran Gemintang dan diam-diam menata hati kembali karena sempat luluh lantak karena ulah si yang punya senyuman.

Dalam radius setengah meter gue masih bisa melihat dia dari sudut mata gue, memperhatikan nya masih dalam mode siaga. Perempuan itu sekarang lagi ngeliatin Dika yang sedang berpose didepan kamera, namun lagi-lagi ada yang aneh. Gue makin lekat memperhatikan Gemintang, cara dia menatap Dika agak berbeda. Tatapan yang sulit diartikan, namun yang jelas..

...Tatapan itu sama seperti tatapan yang gue berikan untuk dia.

Gemintang, is it wrong to loving you?

He arrived at her place earlier than usual, not only to get his cigarettes, there was something he had to finish before finally parting ways for a while due to her business trip.

He knocked on her apartment door slowly, deliberately not pressing the bell because he knew that she was still awake from her sleep. The teak wood door opened, revealing a beautiful woman clad in an oversized pink hoodie. She looked very fluffy and warm,

“Hai, Cla.” He greeted, sounding happy even though two hours earlier they had met to say goodbye.

“Tunggu aja disini, aku bawain rokok nya dulu.” She closed the door and rushed to take that box full of nicotine, but indeed, he is typical of a man who can't be patient; he pushed into her apartment quickly because he memorized the password.

“Cip, aku bilang tunggu dulu diluarㅡ”

It was too late. Her mouth to being silenced by him. Their lips were pressed together for a long time, and if it weren't her who stepped on his foot, he would never stop.

“Surprise” He chuckled, “Suka gak?”

She is still holding her breath and trying to calm herself because now he is showing his super sweet smile, which is her biggest weakness.

“Bisa gak sih? Gak usah senyum kayak begitu.” She said slowly and handed him the packet of cigarettes that he had left before.

“Kenapa sih nunduk? Come here, look at my eyes.” Her face was getting red, maybe similar to a freshly tomatoes or maybe as same as with the strawberries, “Well, I'll just finish it up.” He pulled her into his arms, kissed the top of her head and then down to her ear, whispered something, and then crushed her gently. A moan escaped from her mouth, and her small hands tugged at the hem of his shirt, and without being commanded that, he immediately took off his clothes and resumed his activities which now made several signs of affection around her neck.

“Fuck me, Hafidz...” Now her moans are getting loud and louder, making her whole body tremble because of the sensation he gives.

“Then.. i will do.” After her requests are fulfilled, he aggressively took off her hoodie, a bit shocked because she wasn't wearing anything again, yeah, she is naked now.

“Su...surprise?” Her laugh sounds bumbling. He chuckled again because his girl are too cute and very initiative, which is a good thing for him to easily carry out the plan.

Under the dim lights he's climb up to her body, ready to push his baguette to her donut. The one time that she did slightly move her hips, he had placed a firm hand to her inner thigh, pushing down gently. 

The rest of the night was very intimate, those kisses, those hickey and those cum are very memorable.

Idiosin coffee malam ini tidak ramai seperti biasanya padahal akhir pekan trafik pengunjung akan selalu melonjak dua bahkan tiga kali lipat tidak jarang Nata dan kawan-kawan Idiosin lain akan menyediakan tempat dadakan untuk pelanggan yang harus waiting list. Asumsi nya sih karena tidak ada sosok yang menjadi magnet Idiosin coffee, si pegawai teladan nan ramah, Senandika.

Posisi Dika hari ini diganti sementara oleh Gemintang karena kebijakan dari bapak ketua yang mengharuskan para anggota Idiosin lebih fleksibel dengan memasuki berbagai sektor program kerja. Walaupun agak sepi masih ada pelanggan yang mengunjungi kedai untuk sekedar nongkrong atau mengerjakan tugas dengan laptop dan setumpuk buku-buku tebal di sudut meja.

“Bang Nat, meja nomor tiga pesen hot latte sama cemilan nya tahu cabe garam. Buat tahu nya tinggal goreng aja kan? Di kulkas?” Walaupun jadi pegawai magang Gemintang sangat cekatan dan tanggap meski ada beberapa pertanyaan yang selalu dia pastikan sebelum mengerjakan tugas nya. Maklum Nata kalau sama Gemintang emang jadi super duper pendiem, ngejawab kalau ditanya aja.

Nata merespon pertanyaan Gemintang dengan anggukan lalu kembali ke counter nya untuk membuat latte, sebelum itu ia berbalik melirik Gemintang yang juga sedang sibuk menyiapkan pesanan. Ucapan dari Farhan siang tadi sedikit membuyarkan fokus nya sekarang. Dia bukan tipikal laki-laki yang pintar membaca gelagat lawan jenis, pengetahuan nya soal perempuan nol besar pun perasaan nya masih tidak karuan antara suka atau tidak.

“Ge?”

“Yap?”

Ada yang aneh pikir Nata, seperti hangat di dada dan perut nya ketika dua manik mata mereka bertemu, “Kalo ada yang susah atau gak bisa lo kerjain, bilang aja ya?”

Gemintang mengacungkan jempol nya lalu tersenyum lebar membuat Nata sedikit salah tingkah, ia memang pintar dalam apapun tapi untuk menyembunyikan perihal isi hati sepertinya ia benar-benar jadi ciut dipecundangi rasa gugup. Tidak lama setelah nya anggota Idiosin yang lain datang, Farhan yang tiba lebih awal dari jam janjian dan disusul duo rusuh yang sepertinya udah kecapean banget gara-gara visit empat panti asuhan dalam sehari. Idiosin punya tempat khusus di kedai, kursi dekat kasir jadi spot mutlak mereka untuk diskusi atau evaluasi mengenai progress program kerja.

“Mbak, saya mau kopi dong” Dika mendekati Gemintang yang sekarang sedang mengelap gelas-gelas yang baru saja dicuci, sudah keliatan jelas orang ini emang cuma becandain Gemintang doang.

“Boleh mas, tapi buat mas nya kopi sianida aja ya”

“Weits padahal saya mau nya kopinang kamu dengan bismillah, jiah”

Satu detik.

Dua detik

Lap serbet sudah mendarat mulus di wajah laki-laki itu. Dan sudah bisa ditebak kini giliran Gemintang yang kepayahan menata hati nya yang porak-poranda akibat cheesy pick up line Dika itu, padahal ia sudah tau konteks nya hanya untuk lucu-lucuan saja tapi Gemintang kepalang menganggapnya sebagai hal yang serius, yang mana sangat berbahaya untuk perasaan nya.

“Gak jelas dih asuuu”

“Mulut lo tuh” Dika menyampirkan lap serbet ke atas kepala Gemintang, lalu berjalan kearah kulkas masih dengan kekehan khas nya.

“Es kopi dong oi, Dik dik bikinin dua buat gua ama Bang Han” Perintah Acip yang sekarang lagi tepar diatas lantai, energi nya terkuras baik jiwa dan raga karena biasa dapet jobdesk mengobrol bersama para orangtua sekarang harus mengeluarkan effort lebih karena yang ia hadapi adalah anak-anak dari empat panti berbeda,

“Capek banget ya Bang Cip?” Tanya Gemintang meledek melihat keadaan Acip seperti tidak bernyawa, apalagi cowok berzodiak gemini itu memang memiliki semangat yang meluap-luap.

“Asliiii Geeeeew... Haaaa.. Serius capek banget. No wonder maneh selalu ngeluh kalo abis pulang visit. Apalagi tuh ye... Panti Mekarwangi...” Nafas Acip kini tersengal-sengal membuat Dika mendekatinya, berpura-pura seperti orang yang akan memberi CPR plus dengan nafas buatan,

“ANJIIIING EUNGAP GOBLOOOG” (anjing, sesek bego).

Teriakan frustasi dari Acip membuat tawa mereka seketika pecah, memang kelakuan biang rusuh ini sangatlah menghibur walau tidak jarang malah seperti dua orang aneh yang tercipta untuk saling melengkapi satu sama lain.

“Oke, untuk team panti werdha, yaitu gue dan Nata bakal ada beberapa hal yang perlu disampaikan baik progress program kerja dan hal-hal pendukung lainnya. Silahkan saudara Adinata” Ujar Farhan membuat Nata mematung sesaat karena pikirnya laporan visit akan sekalian disampaikan oleh sang ketua, tapi nyatanya tidak,

“Ohiya— jadi gini,” Nata membenarkan letak kacamata nya lalu duduk dengan posisi lebih tegak “Dari tiga panti werdha, Bakti sukma, Wisma mulia sama Kasih yang dapet keluhan paling banyak tuh Bakti sukma. Ada satu donatur tetap mereka yang mendadak mogok gak ngasih tunjangan tiga bulan, alhasil pendanaan mereka agak— ah bukan agak lagi tapi seret banget. Luckily, masih ada donatur kecil-kecilan kayak kita gini nih, seenggaknya buat sebulan kedepan kebutuhan masih bisa ter-cover.” Jelas Nata panjang lebar membuat anggota Idiosin spontan kompak bertepuk tangan,

“Sorry nih, gue bukannya gak merhatiin substansi nya tapi men— Aaargh bangga banget aing sama maneh, public speaking lo udah mulai bagus” Ucap Acip tampak terharu dengan kemajuan teman sejawat nya itu. Nata tersenyum malu-malu, mungkin dirinya sendiri juga sadar sekarang bakat bercuap-cuapnya sudah sedikit mengalami kemajuan dibandingkan dulu.

“Heem, mantep dah lo Nat. Jadi.. apa yang dibilang Nata tadi bener ya, panti Bakti sukma lagi mengalami kendala sama pendanaan so tadi gue langsung nyerahin bantuan lebih cepet dari waktu seharusnya, tolong Gew dicatet di pengeluaran biar transparansi nya gak bikin bingung. Kalo bisa dirinciin aja ya Gew?” Ujar Farhan yang langsung mendapat anggukan dari Gemintang, dengan sigap perempuan itu langsung mengetikkan beberapa laporan penting di laptop nya.

Setelah sesi serius-serius dengan evaluasi visit panti, Idiosin mulai membahas tentang serangkaian program kerja mereka, bisa ditebak talent paling laris manis yaitu boyfriend rent masih memiliki animo yang cukup tinggi dibandingkan talent-talent lainnya,

“Yeah, padet lagi deh aku” Tersirat kesombongan pada perkataan Acip barusan. Ya, lagi-lagi Acip si cowok wangi itu menduduki peringkat pertama.

“YaAllah. KenapaAAAAAaaaAA..” Dika mulai mengerang frustasi pasalnya job gigs kini sepi peminat, bahkan dua minggu kemarin saja hanya ada satu event yang ia datangi, “Eh gue pindah beneran boleh gak sih?”

“Alah seriusan nying? Tar dideketin cewek duluan nangeeees”

“Takutnya lo malah trauma nih, Dik. Kasian psikis lo terguncang” Acip dan Nata kompak mencibir Dika yang emang agak kikuk kalau ketemu sama cewek. Gemintang is exceptions.

“Jaaah, Nata. Ngomong begitu tapi sendirinya tremor juga kan ngobrol sama cewek?” Alah skakmat. Ucapan Nata ternyata jadi boomerang buat dirinya sendiri. Pada dasarnya Dika dan Nata adalah dua entitas yang enggan untuk dekat dengan seorang perempuan.

“Wahahaha, sama si Gew aja Nata jadi menciut tuh” Timpal Acip makin membuat Nata semakin tersudut, bisa-bisanya orang ini adalah orang yang sama dengan yang memujinya tadi. Manusia memang gak ada yang bisa dipercaya. Huft.

“Eeeh udah dong, jadi melebar begini pembahasan nya” Kini Gemintang yang angkat suara mencoba menyelamatkan suasana juga menyelamatkan Nata dan Dika perihal masalah nya dengan perempuan, “Selain BF rent yang dapet job apa lagi nih bang Han?”

“Heeeeem banyak sih yang lain, bisa aja Dika kita oper ke sektor lain dulu sambil nunggu panggilan gigs” Farhan memeriksa beberapa DM yang masuk ke akun base Idiosin, para calon pengguna biasanya menghubungi base terlebih dahulu, menanyakan slot talent mana yang kosong atau sekedar DM gabut nanyain Acip udah punya pacar beneran apa belum. Duh, ya kali pacar si Acip bakal secara sukarela begitu liat cowoknya digilir tiap minggu, “Oke nih ada beberapa, Gew ada callingan jadi model buat produk lokal clothing line nanti rincian sama MOU nya gue kirim personal ya. Terus.. Nata design buat pamflet acara nya anak FTMD, terakhir.... gak ada”

“Jing, libur aja apa gua” Sahut Dika kini makin bete karena talent nya lagi gak ada yang butuhin.

“Temenin Gew aja sih Dik”

“Lah? Biasanya sendirian juga”

“Ngeri, yang pake jasa dia ketua aligator soalnya” Farhan menyimpan ponsel nya diatas meja “Si Mario, anak Teksip itu”

Nama itu sangat familiar khususnya untuk para anggota Idiosin, terkenal dengan kegantengan nya seantero FTSL bahkan ITB, membuat Mario mendapat julukan si Jago Penangkaran alias aligator. Iya, mantan nya banyak banget kayak biji sempoa.

“Oke, untuk team panti werdha, yaitu gue dan Natabakal ada beberapa hal yang perlu disampaikan baik progress program kerja dan hal-hal pendukung lainnya. Silahkan saudara Adinata” Ujar Farhan membuat Nata mematung sesaat karena pikirnya laporan visit akan sekalian disampaikan oleh sang ketua, tapi nyatanya tidak,

“Ohiya— jadi gini,” Nata membenarkan letak kacamata nya lalu duduk dengan posisi lebih tegak “Dari tiga panti werdha, Bakti sukma, Wisma mulia sama Kasih yang dapet keluhan paling banyak tuh Bakti sukma. Ada satu donatur tetap mereka yang mendadak mogok gak ngasih tunjangan tiga bulan, alhasil pendanaan mereka agak— ah bukan agak lagi tapi seret banget. Luckily, masih ada donatur kecil-kecilan kayak kita gini nih, seenggaknya buat sebulan kedepan kebutuhan masih bisa ter-cover.” Jelas Nata panjang lebar membuat anggota Idiosin spontan kompak bertepuk tangan,

“Sorry nih, gue bukannya gak merhatiin substansi nya tapi men— Aaargh bangga banget aing sama maneh, public speaking lo udah mulai bagus” Ucap Acip tampak terharu dengan kemajuan teman sejawat nya itu. Nata tersenyum malu-malu, mungkin dirinya sendiri juga sadar sekarang bakat bercuap-cuapnya sudah sedikit mengalami kemajuan dibandingkan dulu.

“Heem, mantep dah lo Nat. Jadi.. apa yang dibilang Nata tadi bener ya, panti Bakti sukma lagi mengalami kendala sama pendanaan so tadi gue langsung nyerahin bantuan lebih cepet dari waktu seharusnya, tolong Gew dicatet di pengeluaran biar transparansi nya gak bikin bingung. Kalo bisa dirinciin aja ya Gew?” Ujar Farhan yang langsung mendapat anggukan dari Gemintang, dengan sigap perempuan itu langsung mengetikkan beberapa laporan penting di laptop nya.

Setelah sesi serius-serius dengan evaluasi visit panti, Idiosin mulai membahas tentang serangkaian program kerja mereka, bisa ditebak talent paling laris manis yaitu boyfriend rent masih memiliki animo yang cukup tinggi dibandingkan talent-talent lainnya,

“Yeah, padet lagi deh aku” Tersirat kesombongan pada perkataan Acip barusan. Ya, lagi-lagi Acip si cowok wangi itu menduduki peringkat pertama.

“YaAllah. KenapaAAAAAaaaAA..” Dika mulai mengerang frustasi pasalnya job gigs kini sepi peminat, bahkan dua minggu kemarin saja hanya ada satu event yang ia datangi, “Eh gue pindah beneran boleh gak sih?”

“Alah seriusan nying? Tar dideketin cewek duluan nangeeees”

“Takutnya lo malah trauma nih, Dik. Kasian psikis lo terguncang” Acip dan Nata kompak mencibir Dika yang emang agak kikuk kalau ketemu sama cewek. Gemintang is exceptions.

“Jaaah, Nata. Ngomong begitu tapi sendirinya tremor juga kan ngobrol sama cewek?” Alah skakmat. Ucapan Nata ternyata jadi boomerang buat dirinya sendiri. Pada dasarnya Dika dan Nata adalah dua entitas yang enggan untuk dekat dengan seorang perempuan.

“Wahahaha, sama si Gew aja Nata jadi menciut tuh” Timpal Acip makin membuat Nata semakin tersudut, bisa-bisanya orang ini adalah orang yang sama dengan yang memujinya tadi. Manusia memang gak ada yang bisa dipercaya. Huft.

“Eeeh udah dong, jadi melebar begini pembahasan nya” Kini Gemintang yang angkat suara mencoba menyelamatkan suasana juga menyelamatkan Nata dan Dika perihal masalah nya dengan perempuan, “Selain BF rent yang dapet job apa lagi nih bang Han?”

“Heeeeem banyak sih yang lain, bisa aja Dika kita oper ke sektor lain dulu sambil nunggu panggilan gigs” Farhan memeriksa beberapa DM yang masuk ke akun base Idiosin, para calon pengguna biasanya menghubungi base terlebih dahulu, menanyakan slot talent mana yang kosong atau sekedar DM gabut nanyain Acip udah punya pacar beneran apa belum. Duh, ya kali pacar si Acip bakal secara sukarela begitu liat cowoknya digilir tiap minggu, “Oke nih ada beberapa, Gew ada callingan jadi model buat produk lokal clothing line nanti rincian sama MOU nya gue kirim personal ya. Terus.. Nata design buat pamflet acara nya anak FTMD, terakhir.... gak ada”

“Jing, libur aja apa gua” Sahut Dika kini makin bete karena talent nya lagi gak ada yang butuhin.

“Temenin Gew aja sih Dik”

“Lah? Biasanya sendirian juga”

“Ngeri, yang pake jasa dia ketua aligator soalnya” Farhan menyimpan ponsel nya diatas meja “Mario, Tesip 19”

Nama itu sangat familiar khususnya diantara anggota Idiosin, terkenal dengan kegantengan nya seantero FTSL bahkan ITB, membuat Mario mendapat julukan si Jago Penangkaran alias aligator. Iya, mantan nya banyak banget kayak biji sempoa.

Siapa lagi yang harus saya salahkan? Apa pada semesta untuk semua pertemuan atau pada konstelasi bintang yang tidak mengindahkan semua harapan? Dan pada akhirnya rasa yang terlanjur ruah, serta senyum yang merekah untuk setiap hal-hal pengobat gundah hanya ada untuk saya simpan dalam-dalam hingga akhirnya berpisah.

Idiosin coffee malam ini tidak ramai seperti biasanya padahal akhir pekan trafik pengunjung akan selalu melonjak dua bahkan tiga kali lipat tidak jarang Nata dan kawan-kawan Idiosin lain akan menyediakan tempat dadakan untuk pelanggan yang harus waiting list. Asumsi nya sih karena tidak ada sosok yang menjadi magnet Idiosin coffee, si pegawai teladan nan ramah, Senandika.

Posisi Dika hari ini diganti sementara oleh Gemintang karena kebijakan dari bapak ketua yang mengharuskan para anggota Idiosin lebih fleksibel dengan memasuki berbagai sektor program kerja. Walaupun agak sepi masih ada pelanggan yang mengunjungi kedai untuk sekedar nongkrong atau mengerjakan tugas dengan laptop dan setumpuk buku-buku tebal di sudut meja.

“Bang Nat, meja nomor tiga pesen hot latte sama cemilan nya tahu cabe garam. Buat tahu nya tinggal goreng aja kan? Di kulkas?” Walaupun jadi pegawai magang Gemintang sangat cekatan dan tanggap meski ada beberapa pertanyaan yang selalu dia pastikan sebelum mengerjakan tugas nya. Maklum Nata kalau sama Gemintang emang jadi super duper pendiem, ngejawab kalau ditanya aja.

Nata merespon pertanyaan Gemintang dengan anggukan lalu kembali ke counter nya untuk membuat latte, sebelum itu ia berbalik melirik Gemintang yang juga sedang sibuk menyiapkan pesanan. Ucapan dari Farhan siang tadi sedikit membuyarkan fokus nya sekarang. Dia bukan tipikal laki-laki yang pintar membaca gelagat lawan jenis, pengetahuan nya soal perempuan nol besar pun perasaan nya masih tidak karuan antara suka atau tidak.

“Ge?”

“Yap?”

Ada yang aneh pikir Nata, seperti hangat di dada dan perut nya ketika dua manik mata mereka bertemu, “Kalo ada yang susah atau gak bisa lo kerjain, bilang aja ya?”

Gemintang mengacungkan jempol nya lalu tersenyum lebar membuat Nata sedikit salah tingkah, ia memang pintar dalam apapun tapi untuk menyembunyikan perihal isi hati sepertinya ia benar-benar jadi ciut dipecundangi rasa gugup. Tidak lama setelah nya anggota Idiosin yang lain datang, Farhan yang tiba lebih awal dari jam janjian dan disusul duo rusuh yang sepertinya udah kecapean banget gara-gara visit empat panti asuhan dalam sehari. Idiosin punya tempat khusus di kedai, kursi dekat kasir jadi spot mutlak mereka untuk diskusi atau evaluasi mengenai progress program kerja.

“Mbak, saya mau kopi dong” Dika mendekati Gemintang yang sekarang sedang mengelap gelas-gelas yang baru saja dicuci, sudah keliatan jelas orang ini emang cuma becandain Gemintang doang.

“Boleh mas, tapi buat mas nya kopi sianida aja ya”

“Weits padahal saya mau nya kopinang kamu dengan bismillah, jiah”

Satu detik.

Dua detik

Lap serbet sudah mendarat mulus di wajah laki-laki itu. Dan sudah bisa ditebak kini giliran Gemintang yang kepayahan menata hati nya yang porak-poranda akibat cheesy pick up line Dika itu, padahal ia sudah tau konteks nya hanya untuk lucu-lucuan saja tapi Gemintang kepalang menganggapnya sebagai hal yang serius, yang mana sangat berbahaya untuk perasaan nya.

“Gak jelas dih asuuu”

“Mulut lo tuh” Dika menyampirkan lap serbet ke atas kepala Gemintang, lalu berjalan kearah kulkas masih dengan kekehan khas nya.

“Es kopi dong oi, Dik dik bikinin dua buat gua ama Bang Han” Perintah Acip yang sekarang lagi tepar diatas lantai, energi nya terkuras baik jiwa dan raga karena biasa dapet jobdesk mengobrol bersama para orangtua sekarang harus mengeluarkan effort lebih karena yang ia hadapi adalah anak-anak dari empat panti berbeda,

“Capek banget ya Bang Cip?” Tanya Gemintang meledek melihat keadaan Acip seperti tidak bernyawa, apalagi cowok berzodiak gemini itu memang memiliki semangat yang meluap-luap.

“Asliiii Geeeeew... Haaaa.. Serius capek banget. No wonder maneh selalu ngeluh kalo abis pulang visit. Apalagi tuh ye... Panti Mekarwangi...” Nafas Acip kini tersengal-sengal membuat Dika mendekatinya, berpura-pura seperti orang yang akan memberi CPR plus dengan nafas buatan,

“ANJIIIING EUNGAP GOBLOOOG” (anjing, sesek bego).

Teriakan frustasi dari Acip membuat tawa mereka seketika pecah, memang kelakuan biang rusuh ini sangatlah menghibur walau tidak jarang malah seperti dua orang aneh yang tercipta untuk saling melengkapi satu sama lain.

“Oke, untuk team panti werdha, yaitu gue dan Nata bakal ada beberapa hal yang perlu disampaikan baik progress program kerja dan hal-hal pendukung lainnya. Silahkan saudara Adinata” Ujar Farhan membuat Nata mematung sesaat karena pikirnya laporan visit akan sekalian disampaikan oleh sang ketua, tapi nyatanya tidak,

“Ohiya— jadi gini,” Nata membenarkan letak kacamata nya lalu duduk dengan posisi lebih tegak “Dari tiga panti werdha, Bakti sukma, Wisma mulia sama Kasih yang dapet keluhan paling banyak tuh Bakti sukma. Ada satu donatur tetap mereka yang mendadak mogok gak ngasih tunjangan tiga bulan, alhasil pendanaan mereka agak— ah bukan agak lagi tapi seret banget. Luckily, masih ada donatur kecil-kecilan kayak kita gini nih, seenggaknya buat sebulan kedepan kebutuhan masih bisa ter-cover.” Jelas Nata panjang lebar membuat anggota Idiosin spontan kompak bertepuk tangan,

“Sorry nih, gue bukannya gak merhatiin substansi nya tapi men— Aaargh bangga banget aing sama maneh, public speaking lo udah mulai bagus” Ucap Acip tampak terharu dengan kemajuan teman sejawat nya itu. Nata tersenyum malu-malu, mungkin dirinya sendiri juga sadar sekarang bakat bercuap-cuapnya sudah sedikit mengalami kemajuan dibandingkan dulu.

“Heem, mantep dah lo Nat. Jadi.. apa yang dibilang Nata tadi bener ya, panti Bakti sukma lagi mengalami kendala sama pendanaan so tadi gue langsung nyerahin bantuan lebih cepet dari waktu seharusnya, tolong Gew dicatet di pengeluaran biar transparansi nya gak bikin bingung. Kalo bisa dirinciin aja ya Gew?” Ujar Farhan yang langsung mendapat anggukan dari Gemintang, dengan sigap perempuan itu langsung mengetikkan beberapa laporan penting di laptop nya.

Setelah sesi serius-serius dengan evaluasi visit panti, Idiosin mulai membahas tentang serangkaian program kerja mereka, bisa ditebak talent paling laris manis yaitu boyfriend rent masih memiliki animo yang cukup tinggi dibandingkan talent-talent lainnya,

“Yeah, padet lagi deh aku” Tersirat kesombongan pada perkataan Acip barusan. Ya, lagi-lagi Acip si cowok wangi itu menduduki peringkat pertama.

“YaAllah. KenapaAAAAAaaaAA..” Dika mulai mengerang frustasi pasalnya job gigs kini sepi peminat, bahkan dua minggu kemarin saja hanya ada satu event yang ia datangi, “Eh gue pindah beneran boleh gak sih?”

“Alah seriusan nying? Tar dideketin cewek duluan nangeeees”

“Takutnya lo malah trauma nih, Dik. Kasian psikis lo terguncang” Acip dan Nata kompak mencibir Dika yang emang agak kikuk kalau ketemu sama cewek. Gemintang is exceptions.

“Jaaah, Nata. Ngomong begitu tapi sendirinya tremor juga kan ngobrol sama cewek?” Alah skakmat. Ucapan Nata ternyata jadi boomerang buat dirinya sendiri. Pada dasarnya Dika dan Nata adalah dua entitas yang enggan untuk dekat dengan seorang perempuan.

“Wahahaha, sama si Gew aja Nata jadi menciut tuh” Timpal Acip makin membuat Nata semakin tersudut, bisa-bisanya orang ini adalah orang yang sama dengan yang memujinya tadi. Manusia memang gak ada yang bisa dipercaya. Huft.

“Eeeh udah dong, jadi melebar begini pembahasan nya” Kini Gemintang yang angkat suara mencoba menyelamatkan suasana juga menyelamatkan Nata dan Dika perihal masalah nya dengan perempuan, “Selain BF rent yang dapet job apa lagi nih bang Han?”

“Heeeeem banyak sih yang lain, bisa aja Dika kita oper ke sektor lain dulu sambil nunggu panggilan gigs” Farhan memeriksa beberapa DM yang masuk ke akun base Idiosin, para calon pengguna biasanya menghubungi base terlebih dahulu, menanyakan slot talent mana yang kosong atau sekedar DM gabut nanyain Acip udah punya pacar beneran apa belum. Duh, ya kali pacar si Acip bakal secara sukarela begitu liat cowoknya digilir tiap minggu, “Oke nih ada beberapa, Gew ada callingan jadi model buat produk lokal clothing line nanti rincian sama MOU nya gue kirim personal ya. Terus.. Nata design buat pamflet acara nya anak FTMD, terakhir.... gak ada”

“Jing, libur aja apa gua” Sahut Dika kini makin bete karena talent nya lagi gak ada yang butuhin.

“Temenin Gew aja sih Dik”

“Lah? Biasanya sendirian juga”

“Ngeri, yang pake jasa dia ketua aligator soalnya” Farhan menyimpan ponsel nya diatas meja “Si Mario, anak Teksip itu”

Nama itu sangat familiar khususnya untuk para anggota Idiosin, terkenal dengan kegantengan nya seantero FTSL bahkan ITB, membuat Mario mendapat julukan si Jago Penangkaran alias aligator. Iya, mantan nya banyak banget kayak biji sempoa.

Sabtu dan minggu menjadi hari tersibuk bagi Idiosin, bukan diisi dengan serentetan jadwal nongkrong atau kongkow santai di suatu tempat hits se-antero kota melainkan menuntaskan tugas-tugas yang sudah diberikan Farhan satu minggu sebelumnya. Sepakat untuk memulai program kerja di hari weekend mau tidak mau mereka berlima harus rela meluangkan libur nya demi serangkaian kegiatan seperti; visit panti asuhan maupun panti werdha, gigs (khusus untuk Dika), boyfriend rent (khusus untuk Acip) juga program jangka panjang mereka Idiosin Coffee yang dibangun di halaman kost Nata secara permanen. Ya, demi totalitas bisnis ini Nata sengaja menyewa lahan kosong yang hanya digunakan pemilik kost untuk parkir disulap menjadi kedai kopi semi outdoor.

“Mau visit jam berape sih ini nying?” Terlihat Dika yang mulai kesal mengetuk-ngetukkan handphone nya ke meja, menunggu sang partner visit Acip yang hari ini telat karena begadang abis nonton bola,

“Heeeee, hape lo tuh!”

“Sekalian mau gue ganti kok”

“Weits tajir nih, apa sektor gigs memberi lo banyak kemudahan dalam menghasilkan uang?” Timpal Farhan sambil cekikikan memakan kacang nya, kadang kulit nya ia lempar hingga mengenai Dika. Sengaja aja sih biar Dika nya kesel, Farhan kan emang usil nya udah mendarah daging.

“Taeeeeeeee, gua nyanyi berjam-jam kadang dibayar pake akua gelas sama makasih doang”

“Muke lu seharga akua” Tidak lain dan tidak bukan pemilik mulut pedas Adinata ikut bergabung ke dalam obrolan.

“HAHAHAHAHAHA ANJINGGGG”

Setelah mendebatkan perihal—muka Dika—seharga akua akhirnya entitas yang ditunggu-tunggu datang. Acip dengan setelan khas nya; kaos Nirvana hitam dengan jeans belel beserta sepatu converse biru mencolok tidak lupa senyum nya yang selalu menularkan energi positif bagi siapa saja yang melihatnya, kecuali Adinata yang menganggap senyum Acip lebih mirip psikopat.

“Hehehehe, yuk!”

“Nyengir lu jing”

“Weeeits santuy, gue kira kalo gue kagak hadir bakal diganti sama Gew”

“Si Gew udah muak gantiin lu Cip” Sekarang giliran Acip yang jadi target timpukkan kulit kacang dari Farhan tentu saja ia langsung menghindari nya secepat kilat, “Bayar Gew berape si sampe tu anak manut banget kayaknya”

Acip nyengir menggaruk belakang kepala nya yang tidak gatal “Btw kemana emang Gew?”

“Gemintang shift sore, dia jaga kedai entar” Jawaban dari Nata membuat Acip membentuk mulutnya menjadi huruf O sambil mengangguk-ngangguk,

“Ohiya, entar malem eval nya sekalian di kedai aja ya? Laporin dah semua yang lu dapet pas visit”

“Anjrit, emang kalian udah?”

“Udeeee su, mereka dari pagi lu nya aje yang kesiangan” Dika ini emang hobi nya marah-marah ya pemirsa, tapi untung nya Acip bales ketawa bukannya balik emosi. Ada-ada aja konflik the dinamicys ship ini.

Selepas kepergian dua chaotic untuk visit ke panti asuhan tinggal Nata dan Farhan yang masih anteng dengan handphone nya masing-masing ngadem di kosan milik Farhan,

“Nats”

“Hm”

“Lu suka ye ama Gew?” Pertanyaan yang tidak diduga tiba-tiba meluncur dari mulut Farhan membuat Nata seketika berhenti memainkan Genshin nya,

“Who the fuck said that?”

Farhan terkekeh geli seakan pertanyaan nya tepat sasaran hingga membuat Nata kesal, padahal tingkah nya enggak akan mencurigakan kalau saja ia cukup menyangkal tanpa pake acara ngambek kayak begini,

“Intuisi”

“Intuisi your ass”

Farhan melanjutkan memainkan handphone nya sesekali masih melihat Nata yang sekarang agaknya kehilangan fokus bermain game, hingga kedua telinga nya yang mulai memerah.

“Terus lo ama Sabita gimana?”

“Ye si anying nanya balik”

“Masih?”

“Maksud lu apa nya yang masih anjir?” Jawab nya agak sensi, membenarkan posisi bantal nya menjadi agak tinggi Farhan siap menjelaskan tentang hubungan nya itu pada teman nya, “Ya, gua mah bae-bae aja sama dia, emang harus kenapa?”

“Han.” Nata menatap nya datar, senyum jahil yang sedari tadi tergambar di bibir Farhan kini memudar.

“Selagi masih bareng-bareng, ya gua harus nikmatin dulu gak sih, Nat? Urusan itu mah entar aja belakangan.”

Hingga sampai pada tahun keempat berpacaran baik Farhan dan Sabita masih sama-sama menikmati setiap moment indah itu, tanpa harus merasa dipusingkan dengan kemungkinan-kemungkinan diluar kendali keduanya. Masa-masa PDKT dulu memang cukup mulus hingga di suatu waktu Farhan mengetahui bahwa keluarga Sabita adalah pemeluk katholik yang taat, sebenarnya hal tersebut bukanlah masalah untuk Farhan tapi jika urusan nya dengan sebuah kepercayaan kepada Tuhan mau tidak mau Farhan dan Sabita harus mau sama-sama berkorban.

“Yauda nyari yang lain?” Sepertinya Nata sengaja mencerca Farhan dengan rentetan pertanyaan untuk menghindari atau bahkan menutupi hal yang sebenarnya terjadi soal perasaan nya pada Gemintang.

“Anjing ya lu” Umpatnya lalu melanjutkan memakan kacang yang sekarang kulit nya udah berserakan dimana-mana, duh.

“Kata gua, lu yang make a move noh. si Gew kayaknya suka sama orang lain” Nyatanya topik ini masih seru untuk dibahas membuat Nata makin merasa tersudutkan,

“A-aape si”

“Udahlah Nat. Sekarang misi buat lu dari gua jagain Gew yak. Jangan sampe lepas kejar terus sampe dapet.”

“Asu. Same goes to you berarti. Misi lo buat relain Sabita pergi dan gak ngarepin apa-apa lagi dari hubungan gak jelas itu”

“Taeeeeeeeee”

Lalu keduanya hening, mungkin larut dalam pikiran nya masing-masing soal 'misi' percintaan tersebut. Memang benar kata pepatah, Cinta itu kalo gak indah ya rumit.