Selalu ada khawatir berlebih yang Zea rasakan ketika Oryza berada di apartement seorang diri.
Kompor yang lupa dimatikan, handuk basah yang ia taruh sembarang, pakaian yang terlipat dengan bentuk tidak karuan atau ketika Oryza sakit dan harus berada disana sendirian.
Zea sudah seperti induk yang mengerami anak nya, harus berada dijangkauan mata Oryza karena ketika sakit laki-laki itu hampir tidak bisa melakukan apa-apa sendiri, lebih tepatnya tidak bisa bisa apa-apa tanpa ada Zea disisi nya.
Kita bisa sepakat kalau Oryza dan gym adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, workout suatu keharusan baginya namun untuk urusan jaga kesehatan sepertinya laki-laki itu tidak bisa diandalkan, tapi untung nya berkat dari rajin berolahraga separah-parah nya sakit cuman sampai demam dan flu saja.
Zea melongokkan kepala nya dari balik pintu, membawa nampan berisi sup ayam beserta bubur sesuai permintaan Iza tadi siang lalu berjalan mengendap-endap melewati Iza yang tidur dengan posisi terlentang, berbalut selimut super tebal dan tisu yang ia pegang di tangan nya. Perempuan itu terkikik geli karena laki-laki nya harus bersusah payah bernafas lewat mulut.
“Za, makan dulu yuk.” Sehabis menaruh makanan di meja sebelah ranjang, Zea mengguncang tubuh Iza pelan, mengelus pipi nya yang kemerahan itu dengan lembut, yang lalu dibalas dengan erangan khas bangun tidur, mengerjapkan mata sayu nya berkali-kali.
“Hmmm..” Suara nya parau, mengambil handphone nya untuk melihat pukul berapa saat itu, “Kok udah pulang?”
“Aku izin pulang cepet.” Tangan nya menyisir rambut panjang Iza lalu diselipkannya ke belakang telinga, “Makan dulu yah, abis itu minum obat.”
Dengan sisa-sisa tenaga nya Iza berusaha untuk bangun, menopang badan nya dengan susah payah namun karena terlalu lemas ia kembali terhempas ke tempat tidur, Zea ikut meringis melihat Iza yang kesulitan untuk sekedar bangun lalu dengan cekatan ia mengambil posisi duduk ditepi ranjang dan bersiap untuk menyuapi laki-laki itu,
“Baju kamu..” Iza menyentuh ujung blouse biru muda Zea, “Kenapa gak diganti dulu?”
“Kamu kan belum makan, jadi aku buru-buru masak dan belum sempet ganti baju.” Jelas nya yang diberi penjelasan cuma mengangguk lucu, dengan semburat yang makin memerah di pipi, Iza menarik ingus nya dalam-dalam sebagai bentuk kamuflase agar tidak terlihat salah tingkah.
“Kamu bersih-bersih dulu aja, aku bisa makan sendiri.”
“Aku bau ya?” Tanya nya dengan bibir mengerucut, “Abis dari luar terus masak, bau-bau nya jadi makin aneh gak sih...”
Iza menggelengkan kepala nya lemah, “Biar kamu nya segeran, pasti gerah banget kan?” Untuk kedua kalinya ia berusaha untuk bangkit dari tempat tidur, dibantu Zea dan akhirnya Iza bisa menyandarkan punggung nya pada permukaan headboard.
“Beneran gapapa?” Zea kembali memastikan terlalu khawatir apalagi ketika melihat Iza memegang sendok dengan tangan gemetar. Pertanyaan nya dibalas anggukan kecil oleh Iza, mulai menyendokkan bubur nya sedikit untuk ia masukan kedalam mulut nya yang masih terasa pahit.
“Aku mandi nya cepet. Dua puluh- Oh, enggak! Sepuluh menit, janji sepuluh menit aja!” Iza terkekeh lalu kembali menganggukkan kepala nya.
“Enak gak?”
Tanya Zea sesaat setelah ia masuk kembali ke kamar Iza, matanya menangkap dua mangkok yang tandas menyisakan kuah saja, lalu mengambil posisi duduk di tepi ranjang dan mengambil termometer yang Iza taruh asal di tempat tidur,
“Enak. Tapi..”
“Tapi?”
“Pait.”
Satu usapan mendarat di kepala Iza, mengelus nya dengan sayang Zea terkekeh girang, “Makasih, ganteng.” Ia memasukkan termometer itu kedalam kaus Iza, menjepit diantara ketiak nya, “Obat nya udah diminum kan?”
Hanya ada dehaman singkat dari yang bersangkutan, kedua matanya masih terpejam, “Semoga turun...”
“Mau aku bikin panas nya turun cepet gak?” Jari-jari lentik Zea mengelus dada Iza pelan diikuti dengan senyum yang terlihat seperti sebuah seringai pada bibir nya.
“Hm?” Tidak mengindahkan sentuhan Zea pada dada nya Iza balik bertanya penasaran, urgensi nya saat ini adalah bagaimana menurunkan demam nya dengan cepat karena suhu badan nya yang tinggi benar-benar membuat nya serasa seperti sebuah hotplate.
Zea memasukkan kembali tangan nya untuk mengambil termometer, tersenyum saat melihat hasilnya merasa senang karena suhu badan Iza sudah tidak setinggi pagi tadi, “Pernah denger skin to skin gak, Za?”
Mata laki-laki itu sedikit terbuka mengekor jari-jari Zea yang masih berada di tempat semula, “Nggak. Apaan tuh?”
“Berpelukan, biar suhu badan nya turun.”
“Ngh?”
“Gak pake baju tapi..”
Sentuhan yang diberikan Zea mulai bergerak menuju lekukan leher lalu naik sampai pipi, ia benar-benar suka melihat bagaimana kedua pipi Iza yang merekah kemerahan itu seperti diberi olesan blush on, “Mau coba?”
Iza mengangguk, langsung melepas kaus nya sendiri menyisakan dada bidang nya dan Zea yang melihat itu harus bersusah payah menelan ludah. Mengikuti yang Iza lakukan, ia juga membuka piyama nya yang secara-kebetulan tidak menyisakan apapun selain dada yang sama-sama terekspose.
Zea merangkak menuju tempat kosong disebelah Iza, memposisikan badan nya lebih tinggi, menaruh lengan nya kebawah kepala laki-laki itu untuk selanjutnya ia peluk erat. Iza bisa mencium aroma tubuh Zea dengan jelas, hidung yang beradu dengan lekukan leher Zea membuatnya harus membuka mata dan seketika mematung beberapa detik karena baru menyadari sesuatu yang menurutnya janggal,
“Zea..”
“Hmm..”
“Kok gini?” Iza menengadah untuk melihat wajah Zea, dengan jarak bebera senti ia bisa merasakan nafas perempuan itu memburu sedikit menerpa wajah nya, Iza menatap nya tidak percaya, “Aku lagi sakit. Jangan begini dulu bisa?”
Zea memundurkan wajah nya, menatap Iza dengan ekspresi nya... yang tidak bisa ia baca, “Apa? Kan kamu ngeiyain tadi?”
“Ya, aku kira kamu nya gak ikut buka baju juga?”
“Ya, menurut kamu tuh skin to skin kayak gimana emang? Jadi aku pake baju lagi nih?”
“Gausah.” Dasar. Zea memutar bola mata nya malas, dengan sengaja menarik kepala Iza menuju ke pelukannya hingga laki-laki itu berdecak kesal.
Iza sebenarnya sedang tidak ingin melakukan hal-hal lain selain tidur dan berusaha menurunkan suhu badan yang sedang tinggi-tinggi nya, namun seonggok hawa yang sepertinya mencoba menggoda nya ini sedang menyusun rencana-rencana kotor di balik kepala nya. Dada nya ikut bergemuruh tidak karuan apalagi ketika benda kenyal dibawah sana ikut menyentuh permukaan kulit nya dengan jahil,
“Kamu horny?”
“Sembarangan.” Elak Zea membenamkan wajah nya pada rambut ikal Iza, “Kamu tuh apa-apa horny, emang keliatannya aku sepengen itu kah?”
“Heem.” Disusul satu dorongan di dahi nya, yang hanya Iza balas dengan tawa renyah dari suara serak nya, “Jangan aneh-aneh dulu deh. Aku beneran lagi sakit, entar lama lagi sembuh nya.”
Setelah itu hanya ada sunyi yang mengisi keheningan mereka, Iza kembali terlelap sedangkan Zea masih terjaga karena pikiran-pikiran intrusif mengusik kepala nya.
Apakah malam ini hanya akan berakhir dengan berpelukan? Atau yang lain? Tapi mengingat kondisi laki-laki itu yang belum stabil Zea merasa perlu untuk memikirkan matang-matang niat nya.
Ia memperhatikan wajah Iza lekat, pipi nya masih bersemu persis mochi stroberi yang ingin ia lahap di detik itu juga, mata yang terpejam dan bibir yang selalu berceloteh kini dingin tampak pucat.
Ada dorongan yang terus menyuruhnya untuk menempelkan bibir nya diatas bibir Iza, menghangatkan setiap inchi permukaan nya, memberi lumatan-lumatan lembut untuk membuat nya nyaman, namun belum sempat niat nya terlaksana laki-laki itu membuka mata menatap penuh curiga,
“Jangan cium-cium, nanti ketularan.”
“Deket-deketan begini juga pasti nular gak sih?”
“Kemungkinan nya gak segede kalau ciuman. Kontak langsung kan bahaya.” Perempuan itu mencibir, lalu kembali menggoda Iza dengan sengaja menarik tengkuk nya hingga ujung hidung Iza sedikit mengenai dada Zea.
“Kamu itu gak pengen aku sembuh ya? Kenapa sengaja kayak gini sih? Aku percaya pas kamu bilang pengen bikin badan aku gak panas lagi, kok jadi malah melenceng gini sih? Aku lagi gak mau main-main, Ze. Aku beneran pengen sembuh.” Jelasnya panjang lebar dan menggebu, seolah perkataan nya akan membuat Zea tersinggung, Iza kembali mengangkat kepala nya untuk melihat reaksi Zea namun yang ia dapati justru kekehan geli dari seberang sana.
“Weits, iya-iya. Jangan marah-marah begitu dong, jadi malah tambah hot tau gak. Makin pengen aku makan...” Giliran Iza yang bergedik ngeri, Malam ini perempuan nya benar-benar seperti predator yang siap menelan bulat mangsa nya kapan saja. Buas dan Liar.
“Za, kamu pernah nangis gak sih?” Tanya nya tiba-tiba, “Selama kenal kamu aku belum pernah liat kamu nangis nangis deh.”
“Ya, pernah. Kalopun nangis ngapain di depan kamu.”
Zea menyamakan posisi nya agar bisa berhadapan dengan wajah Iza, menatapnya dalam seolah topik pembicaraan nya akan jadi sesi yang serius dan menguras emosi, “Kok gitu? Kenapa kalo nangis nya didepan aku? Malu?” Za-”
“Iya malu. Aku nangis nya karena hal sepele jadi ngapain nangis nya diliatin ke banyak orang.” Pungkas nya masih dengan suara ingus yang ia tarik dalam-dalam.
“Emang nangis gara-gara apa sih?”
“AOT.”
Satu alis nya terangkat lantas menjentikkan jarinya didepan Iza, “Oh? That porn?“
“Who the fuck crying over porn?” Sungut nya sebal lalu memutar bola mata malas, “Attack On Titan. Gak pernah denger?”
“Ah, agenda wibu. Emang nangisin apa sih?” Iza membenarkan posisi nya bersiap untuk bercerita, mata yang sedari tadi terpejam terbuka lebar.
“Jadi, ada yang namanya Hange, Hange Zoe. Dia mati gara-gara ngelawan wall titan biar pesawat regu nya itu selamat. Sedih nya tuh dia sacrifice hidupnya buat team nya... Nyesek gak sih?” Zea bisa melihat bagaimana sorot mata Iza berbinar jika sedang membicarakan hal-hal yang ia sukai.
“Aku gak ngerti sebenernya kamu ngomong apa tapi aku berusaha buat paham-pahamin aja. Karena nangis kan gak butuh alasan yang logis juga... Iya gak sih?” Zea menarik nafas sebelum melanjutkan kata-katanya, “Jadi, kalo kamu mau nangis karena hal apapun, gak peduli itu karena anime, karena kerjaan kamu yang lagi kacau aku bersedia dengerin tangisan kamu, lap air mata dan ingus kamu. Jangan malu hanya karena nangis, ya? Kamu harus memvalidasi segala bentuk emosi, jangan ditahan dan jangan dihindari.”
Setelah mengakhiri sesi ceramah nya Zea mendapati Iza (dengan sengaja) tertidur kembali, mendadak ia ingin sekali mendorong tubuh laki-laki itu hingga terjungkal ke lantai, “Emang kelakuan lu tuh ye, gak ada bagus-bagus nya. Udah dikasih kata-kata baik malah molor. Keren lu begitu?”
Tangan Iza mengelus punggung Zea lalu tersenyum, seakan memberi isyarat jika ia mendengarkan semua yang Zea katakan, “I will do.” Lanjut nya sambil mengeratkan kembali pelukan nya. Dari seberang sana, Zea mati-matian agar jantung nya tidak mencelos, ikut meletup bersama perasaan-perasaan geli yang memenuhi perut nya. Selalu ada cara untuk Iza membuat perempuan nya jatuh hati, berkali-kali dan tanpa henti.
Nekat, Zea kembali mendekati wajah nya lalu tanpa aba-aba mencium Iza tepat di bibir nya, namun dengan tepisan kilat Iza kembali menghindar dan memberinya tatapan tajam juga desisan persis seperti seekor kucing yang sedang mengamuk, “Kenapa batu banget sih?”
“Aku mau sun... Hum?” Zea memberinya serangan balik yang mana mungkin bisa Iza abaikan, laki-laki itu meringis menggigit bibir bawah nya.
“Yaudah, boleh. Pipi aja, jangan yang lain.” Dalam hitungan detik Zea menciumi pipi Iza dengan semangat, kadang sengaja ia gigit karena terlalu gemas, yang diciumi hanya bisa terdiam pasrah.
“Nghhh..” Tidak mau kalah, Iza sama-sama melancarkan manuver nya, diam-diam memilin puting Zea hingga satu desahan berhasil lolos dari mulutnya.
“Emang nya udah sembuh?” Tanya Zea dengan nada sensual, jari-jari lentik nya menari indah mengelus dada bidang Iza, seringai tersungging pada bibir nya, Iza semakin mengikis jarak diantara mereka,
“Unless you want me to fuck you out?”