plutoprojector

“Bang Farhan ada yang nyariin”

Ujar Gemintang diambang pintu ruangan panitia memanggil Farhan yang sedang sibuk menelaah isi dari rundown acara hari ini,

“Hah siapa?”

Perempuan itu mengangkat kedua bahu nya lalu menggestur ke arah belakang dengan dagu nya, “Ditungguin tuh sama orangnya”

Dengan sedikit malas Farhan akhirnya berdiri melangkahkan kaki nya keluar ruangan untuk bertemu orang yang dimaksud, lalu ia mendapati pria serta wanita berumur kurang lebih setengah abad sedang duduk di bangku dekat aula gereja. Perlu waktu beberapa detik untuk Farhan bisa mengenali kedua orang itu, karena sebelumnya Sabita sudah menawari ia untuk bertemu dengan kedua orangtua nya, meski Farhan tidak langsung mengiyakan namun ia tahu jika hal ini bisa terjadi di kemudian hari, seperti sekarang.

“Om, tante.” Farhan menyapa mereka berdua sambil tersenyum kikuk, sedikit menganggukkan kepala nya lalu duduk di bangku seberang dengan canggung, “Nyari saya om tante?”

“Betul, ini Farhan ya?” Tanya ayah Sabita, figur nya yang ramah serta damai membuat Farhan seperti melihat sosok ayah nya sendiri,

“Iya om, saya Farhan.” Jawab Farhan sekali lagi, lantas bergantian menatap ibu nya Sabita, memasang senyum yang sangat sulit untuk Farhan terka maksudnya, senyum yang terasa asing dan dingin untuk ia rasakan,

“Om sama tante ganggu kegiatan kamu, Nda?”

“Enggak kok, Om. Acaranya mulai 30 menit lagi, jadi saya punya waktu lebih hehe.” Bohong, nyatanya acara itu hanya tinggal beberapa menit saja sebelum dimulai.

“Farhan, kuliah di ITB juga?” Ibu Sabita tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang sebetulnya bisa Farhan jawab dengan cepat, masuk salah satu perguruan tinggi negeri yang tersohor menjadi salah satu kebanggaan nya namun entah kenapa lidah nya seperti kelu untuk menyebutkan tiga huruf itu,

“Iㅡiㅡiya tante. Sama kayak Sabita juga.”

“Arsitektur?”

Degh.

Perasaan laki-laki itu kini bercampur aduk.

“Desain interior tan, masuk nya ke fakultas seni.”

Ibu Sabita mengangguk-ngangguk, entah menanggapi jawaban Farhan atau memang hanya sebagai tanda formalitas saja karena jawaban yang ia inginkan berbeda dari harapannya.

Dari percakapan perihal jurusan ini Farhan sendiri sudah paham arah nya kemana, mungkin kedua orang tua Sabita ingin laki-laki yang satu rumpun yang berpacaran dengan anak nya itu, seperti Joshua, misalnya.

“Pas sekali ya dengan Sabita, dia arsi pacar nya desain interior. Kalau bikin rumah hemat biaya tuh, haha.”

Ujar Ayah nya mencairkan kecanggungan kami dan diakhiri dengan tawa renyah.

Farhan merasa perutnya terisi oleh ribuan kupu-kupu yang berterbangan, sedikit salah tingkah karena nyatanya orang yang paling membuat ia was-was perihal hubungan nya adalah orang yang sama yang berkata demikian. Lucu, pikir Farhan. Sebenarnya hal-hal yang ia takutkan tidak akan terjadi,

Mungkin untuk sekarang.

“Hehehe, bisa aja om.” Farhan mengusap tengkuk nya, sesekali mencuri-curi pandang pada ponsel nya yang daritadi bergetar, dipenuhi dengan chat dari GC The Panas Tiris dan juga misscall dari Gemintang. Terlalu sungkan untuk Farhan menyudahi sesi mini wawancara ini tapi di satu sisi posisi nya sebagai ketua pelaksana acara sedang dibutuhkan sekarang,

“Sudah berapa lama sama Bita, nak Farhan?”

“Mau tiga tahun, pak.”

“Lama ya...”

“Hehe iya. Kenal sama Bita pas masih TPB, pak.”

Ayah Bita menganggukkan kepala nya, sambil tetap tersenyum. Pemandangan berbeda justru ditampilkan oleh Ibu nya, senyuman misterius tadi kini digantikan dengan ekspresi masam yang sudah bisa Farhan simpulkan sebagai bentuk ketidaksukaan beliau dengan hubungan keduanya,

“Sudah ada rencana buat kedepannya, nak Farhan?”

Lagi-lagi, kerongkongan Farhan terasa tercekat. Ujung lidah nya bukan lagi kelu tapi terlalu kebas untuk menjawab pertanyaan super rumit yang meluncur dari mulut Ibu Sabita,

“Nah iya, sudah mau lulus, rencananya nak Farhan mau ngapain?” Tanya Ayah ikut memastikan,

“Belum ada planning kedepannya, om tante. Tapi mungkin akan fokus sama Idiosinkrasi dulu.”

“Kalo rencana sama Bita, gimana nak Farhan?”

Di detik kesekian, Farhan bersumpah ia ingin berubah menjadi tanaman hias saja. Pertanyaan yang ditakutkan ternyata muncul belakangan, membuat dirinya makin tersudut dan kebingungan.


Acip keluar dari kamar mandi dengan panik, setelah mendapat pesan dari Arumi mengenai kondisi Jasmine. Tangan nya bergetar ketika mencoba menghubungi perempuan itu tapi nihil jawaban dari seberang sana hanya tersambung pada pesan suara. Kepala Acip benar-benar pengang dan gaduh dengan kemungkinan-kemungkinan paling buruk yang menimpa Jasmine, mengingat kronologi yang Arumi jelaskan tadi makin memperjelas jika Jasmine memang sedang dalam bahaya.

“Anjing! Bener-bener bikin orang jantungan aja!” Acip mengumpat disela-sela kepanikkan nya, pilihannya sekarang hanya ada dua, pertama; ia pergi menyusul Jasmine di apartemen dan kedua; tetap disini dengan tanggung jawabnya sebagai divisi konsumsi, karena secara teknis, hal-hal tersebut memang diluar kendali dan kontrak Acip sebagai boyfriend rent.

“Kalo mati gimana...” Gumam nya dengan suara lirih, “Alah anjing, persetan.” Tanpa pikir panjang lagi Acip langsung berlari secepat kilat keluar dari aula gereja dan buru-buru menaiki motor matic nya untuk segera tancap gas menuju apartemen Jasmine.


Gemintang tampak sangat gelisah, pasal nya acara yang harusnya sudah memasuki segmen utama malah molor duapuluh menit karena keberadaan sang ketua pelaksanaㅡFarhan yang tidak diketahui keberadaan nya,

“Udah di telfon lagi?” Tanya Nata disebelahnya,

“Udah ih bang. Gue udah spam chat juga, tetep gak dibales”

“Lo standby disini aja, gue nyari ke belakang dulu, gimana?”

“Terus ini? Mulai aja?”

Walaupun sedikit ragu, Nata menganggukkan kepala nya. Jika acara ini lagi-lagi di tunda mungkin alur nya akan semakin berantakan, mengingat para audience yang hadir adalah anak-anak yang sangat sulit untuk diatur mood nya.

“Bisa sambutan kan lo?”

“Yaa bisa sih. Tapi kan bang...”

“Kalo nungguin Farhan, entar makin ngaret gimana?”

Gemintang merengut sebal, lagi-lagi dia yang harus turun tangan jika ada sesi mengisi sambutan atau meresmikan sesuatu atas nama Idiosinkrasi jika tidak ada sosok Farhan, padahal jelas, jobdesc nya bukanlah wakil ketua.

“Yaudah...”

Nata terkekeh kecil, mengusap kepala perempuan itu lalu berlalu pergi untuk mencari Farhan.

Pemandangan yang masih terasa asing namun bukan hal aneh itu tertangkap ujung mata Dika, sedari tadi ia masih terdiam di posisi nya, sebenarnya bingung. Bingung karena, jobdesc nya hari ini adalah menjadi asisten Gemintang dan Nata tapi mengingat hubungannya dengan Gemintang masih kurang baik, jadi laki-laki itu hanya menunggu perintah dan intruksi dari orang-orang yang mungkin membutuhkan bantuan nya.

Soal Gemintang dan Nata. Senandika sebenarnya adalah orang yang paling mendukung keduanya untuk bersatu, tapi di situasi saat ini perkara cinta-cintaan mungkin harus ia kesampingkan dulu, mengingat ia sedang di fase muak dengan hal-hal yang bersubstansi perihal isi hati.

Dika melihat Gemintang berdiri ditengah-tengah podium sedang memberi sepatah-dua patah kata dengan sesi sambutan nya. Andai saja, jika waktu bisa diputar mundur, mungkin Dika akan menjauhkan eksistensi nya dari Gemintang. Menganggap perempuan itu hanya bagian dari kenangan masa kecilnya, seorang anak yang sering bermain ke rumah nya sambil membawa permen loli, seorang anak dari om Ais yang menjadi sahabat terdekat ayah nya, serta berharap jika sudah dewasa keduanya tidak lagi dipertemukan.

Jauh di lubuk hati nya, Senandika hanya ingin menjaga perempuan yang paling ia sayang,

Termasuk, dari dirinya sendiri.

“Bang Dika, bang Acip kemana ya?” Tanya Baskara setengah berbisik,

“Tadi ada kok, Bas. Lagi ngurus catering kali?”

“Ah, iya kali ya. Gue agak waswas nih takutnya tu catering gak nyampe sini tepat waktu, kan berabe entar anak-anak ini pada makan apa.”

“Kalem, Acip kerja nya bagus kok.” Dika berusaha menenangkan Baskara walaupun sebenarnya ia pun sama-sama tidak tahu keberadaan sahabat dekat nya itu dimana,

“Bang Dik, gua punya feeling kurang enak sebenernya.”

“Kurang enak gimana, Bas?”

Baskara buru-buru menepis jauh pikirian jelek yang mampir di kepala nya, padahal bisa saja perasaan-perasaan tidak enak nya itu adalah tanda dari awal mula sebuah kekacauan...

....seperti yang terjadi sekarang.

“KAAAAAAK, TOLONGIN AKU NYA DI LUDAHIN SAMA DIAAAA!”

“KAK AKU MAU DI TONJOK!”

“Kak... kebelet pengen pipis!”

“Kak makan nya mana... aku laper!”

Seharusnya mereka membuat beberapa opsi planning mengingat anak-anak adalah sekumpulan makhluk yang tidak bisa diprediksi.

Shit.” Keluh Dika melihat situasi yang tidak kondusif ini.

“Ini seriusan begini, anjir?” Baskara kembali berbisik, agaknya perkiraan yang ia katakan tadi mulai terjadi.

Gemintang melihat kode dari Baskara untuk segera mempercepat sesi sambutan nya, dari posisi depan pasti situasi chaos itu cukup terlihat jelas karena beberapa anak ada yang keluar dari barisan tempat duduk. Setelahnya, Gemintang menyerahkan komando acara untuk selanjutnya dipandu bersama Baskara selaku MC, cukup berat karena sebelumnya ia belum pernah dihadapkan dengan kondisi seperti ini walaupun di Idiosinkrasi Gemintang adalah bagian dari divisi panti asuhan.

“Lo kenapa diem aja deh?” Tanya Gemintang pada Dika yang sedari tadi masih diam dengan tatapan kosong,

“Kenapa?”

“Lo tanya kenapa? Dika, didepan lo, in the fucking your front, there's a bunch of kids pada berantem, lo gak nyoba melerai atau gimana gitu?” Terdengar penekanan serta emosi yang tertahan pada kalimat Gemintang, ia benar-benar merasa asing, yang sejak awal bergelagat aneh, bukan seperti bagaimana Dika bersikap.

“Jadi ini kerjaan gue?”

“Ya iya?”

Gemintang mengurut pelipis nya, acara belum berada di puncak nya tapi serentetan masalah sudah membuat pusing perempuan itu.

“Ge, Acip dimana ya?” Kini giliran Joshua yang bertanya keberadaan Acip yang sejak awal sama-sama belum terlihat batang hidung nya, seingat Gemintang, laki-laki itu pamit ke kamar mandi dan mengurus persoalan catering,

“Belom ada juga tah? Tadi sih bilang nya ke kamar mandi terus ngurusin catering, kak Jo.”

“Enggak ada, Ge. Saya udah bolak-balik ke kamar mandi dua kali tapi gak liat Acip sama sekali. Di telfon pun susah banget gak diangkat.”

“Hah? Serius kak?”

“Iya, mana setengah jam lagi udah masuk sesi konsumsi loh ini. Harusnya catering udah disini biar kita bisa gampang buat ngatur nya.”

Gemintang lagi-lagi merasa harus bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi sekarang, sebagai sekretaris Idiosinkrasi Gemintang tentu punya pekerjaan lainnya yang tidak kalah penting ketimbang mengurusi sambutan atau masalah serumit catering yang masih belum tiba di tempat,

“Kak Jo, tadi abis handle apa?”

“Tadi ngurusin administrasi panti sama ketua yayasan, Ge. Terus backup kerjaan nya Farhan juga”

“Kak...”

“Tenang, dikit kok hehe. Biar sekalian beres nya gitu, nanti saya bisa turun tangan handle yang lain juga.”

Wajah Gemintang sudah memerah, merasa malu dan emosi menjadi satu, mungkin jika ada yang bertanya kenapa, air mata nya bisa ruah kapan saja. Selama berkarir menjadi bagian Idiosinkrasi mungkin program kerja ini yang paling berat. Tapi untung nya ia selalu dipertemukan dengan orang-orang yang kompeten dan mengerti dengan situasi serta kondisi, yang mampu bekerja berdasarkan inisiatif nya sendiri.

“Wah ini dokumentasi kemana ya? Kok gak ada yang fotoin?”

“Bang Nata lagi nyusulin bang Farhan, kak. Tadi aja sempet chaos anak-anak nya, pada ribut.”

“Oh iya? Pantes tu ada yang nangis” Joshua menghampiri sekumpulan anak-anak itu, berusaha menenangkan nya padahal disana sudah ada Dika yang... masih banyak bengong ketimbang kerja nya. Entah kenapa, pertengkaran nya dengan Gemintang seperti mempengaruhi kondisi mood nya hari ini, ditambah keadaan mental nya yang masih belum stabil pasca melakukan terapi dengan psikiater minggu lalu.

Selang beberapa menit Nata muncul kembali ke aula bersama Farhan dengan ekspresi yang agak gusar.

Gemintang mengirim telepati pada Nata, memberi kode mengapa sang ketua tiba-tiba muncul dengan wajah yang muram, membuat orang-orang enggan untuk menegur nya. Nata, berbisik dengan perlahan jika sebenarnya Farhan habis bertemu dengan kedua orangtua Sabita. Helaan nafas kasar keluar dari Gemintang, merutuki nasib nya hari ini yang seperti tidak berpihak pada nya. Jika ia tega dan nekat mungkin sudah sedari tadi Gemintang akan melarikan diri dari tempat ini untuk bersembunyi atau pergi kemana saja, melepas semua tanggung jawab nya dan andai...

Jika Gemintang bisa.

“Semangat, lo pasti bisa. Gue bakal bantuin.”

Setidaknya kata-kata dari Nata itu bisa sedikit menghibur perasaan nya saat ini.

Hidup dengan gelimang harta dan kemewahan mungkin sebuah privilege bagi sebagian orang, ongkang-ongkang kaki tinggal sebut apa yang diminta lalu sepersekian detik langsung terlaksana. Jasmine, dengan segala kelebihan merasa hidup nya masih kurang, bukan tentang materi dan segala nya yang menyilaukan mata namun esensi dari bahagia yang belum bisa ia rasakan dengan sebenar-benarnya. Dari ujung rambut hingga kaki Jasmine masih diikut campuri oleh kedua orangtuanya bahkan segala keputusan dalam hidup nya seakan tidak memberi Jasmine kesempatan untuk bisa memilih.

Perempuan itu seperti hidup dalam belenggu yang tidak berkesudahan dalam rentang waktu yang cukup lama, begitupun perihal urusan hati, lagi-lagi Jasmine harus mengikuti perintah Ayah nya untuk bersedia dijodohkan dengan anak salah satu kolega bisnis nya. Meski Jasmine menolak keras dan berontak, tetap saja budaya patriarki keluarga nya yang begitu melekat mengharuskan ia untuk tidak melakukan perlawanan.

Hubungan itu memang baik pada awalnya, satu bulan, dua bulan hingga enam bulan berjalan, Jasmine sudah mulai terbuka, menganggap pilihan Ayah nya ini sebagai sesuatu yang tidak terlalu buruk namun hal-hal yang ternyata ditutupi rapat-rapat itu mulai terbongkar satu-persatu. Tentang perilaku abusive nya, tidak jarang Jasmine jadi sasaran main tangan pacar nya itu ketika sedang mendebatkan permasalahan yang sebenarnya tidak begitu besar, juga tentang kebiasaan playing victim serta gaslighting bahkan sampai yang paling parah adalah hampir menjadi korban pemerkosaan hingga tiga kali. Tertekan hingga depresi, berkali-kali pula Jasmine sengaja meminum puluhan obat tidur dan penenang atau menyakiti dirinya sendiri menggunakan cutter kemalangan yang masih saja membuatnya tersudut di mata keluarga, menjadi aib serta sesuatu yang memalukan hingga di cap sebagai perempuan gila.

Jasmine hanya ingin didengar dan diperlakukan adil sebagaimana manusia seharusnya, yang berhak untuk menentukan pilihan serta jalan hidupnya, bukan malah diatur ini itu sampai membuat ruang gerak nya terbatas.

Serangkaian kejadian itu lah yang membawa Jasmine mengenal sosok Arumi, perempuan berparas cantik serta lemah lembut. Jasmine yang berprofesi sebagai model disamping menjadi seorang mahasiswi, kala itu membutuhkan seorang manager untuk mengatur seluruh jadwal pemotretan dan endorsement nya, dari banyaknya orang yang menjadi pilihan Jasmine adalah Arumi, dari sana pula keduanya merasa punya kecocokkan serta ketertarikan walaupun terdengar agak menyimpang.

Arumi mampu memberikan rasa nyaman serta perasaan-perasaan yang sebelumnya tidak ia dapatkan pada hubungan terdahulu nya, meski sebenarnya Jasmine tidak terlalu mengerti jika keputusan menjalin hubungan dengan manager nya itu murni dari dorongan orientasi seksual nya atau hanya terlena mencari suatu pengalihan dari trauma nya.

Kebingungan itu berlanjut sampai Arumi memutuskan untuk kembali ke 'jalan' awal dengan mencoba berhijrah dan mulai menggunakan hijab, Jasmine masih bingung dengan perasaan nya sendiri. Disatu sisi ia sedih karena Arumi bukan lagi tempat pulang nya untuk berkeluh kesah dan mendapat sebuah afeksi tapi ia pun senang karena Arumi bisa kembali menemukan jati diri nya dan berubah ke arah yang lebih baik.

Jika bukan karena Arumi menawarkan jasa boyfriend rent mungkin Jasmine sudah menemukan perempuan lain untuk menggantikan posisi Arumi, tapi masalah nya tidak se-sederhana itu. Jasmine lantas mengiyakan tawaran nya justru karena Arumi sendiri, bagaimana perempuan itu bisa meyakinkan Jasmine bahwa tidak semua laki-laki sama, tidak semua laki-laki itu jahat, walaupun skeptis Jasmine tetap setuju untuk memberanikan diri terbuka lagi pada laki-laki,

“But what if... it that doesn't work? You will come to my side again, right Rum?”

Arumi terlihat bingung mendengar pertanyaan Jasmine itu. Ia hanya ingin berpisah baik-baik dengan Jasmine tanpa membuat mantan pacarnya ini kecewa dan makin terpuruk,

“Jas...”

“Ya kan, Rum? Kamu tau kan... kamu tau persis kalo aku udah gak bisa lagi sama cowok?”

Arumi menggenggam kedua lengan nya, menatap wajah cantiknya yang kini pucat pasi, kedua mata bengkak dan rambut yang acak-acakan,

“Jasmine... aku tau bukan ini yang kamu inginkan, bukan berpacaran dengan sesama yang kamu butuhkan untuk menyembuhkan luka kamu. Deep inside your heart, you already know the answer, don't you?

“Arumi..” Tangis Jasmine kembali pecah, mencengkram lengan Arumi kencang, “Aku gak bisa... aku takut, Rum.”

Bukan sekali-dua kali, jika Arumi yang akan dipanggil Jasmine sebagai opsi pertama ketika ia sedang tidak baik-baik saja, lebih dari itu Arumi juga yang akan setia menemani Jasmine masuk UGD untuk kesekian kalinya karena lagi-lagi ia melakukan selfharm. Arumi ada untuk Jasmine di kala duka dan bahagia nya, menerima ia apa adanya bahkan dengan semua kekacauan nya. Tidak heran jika Arumi sangat berhati-hati tentang menyudahi semua hubungan nya itu.

Arumi merengkuh tubuh Jasmine, membiarkan segala resah dan kesedihan yang tidak berkesudahan itu kembali larut dalam peluknya,

“It's going to be fine, believe me. Semuanya bakal baik-baik aja, aku masih di sisi kamu sekarang, aku akan bantu kamu.”

Sepuluh menit berlalu anak laki-laki itu masih berdiri ditempat tanpa melepaskan pandangannya pada seorang anak perempuan yang kini tergeletak bersimbah darah. Ia masih berusaha mencerna semua kejadian yang terasa seperti kilat di siang bolong, raga nya seperti hampa, pandangan nya kosong dan gravitasi seperti hendak menariknya kian terperosok menuju dasar bumi, yang masih ia ingat dengan jelas adalah bagaimana perempuan kecil itu mendorongnya agar terhindar dari mobil kencang yang melaju dari arah barat, hanya itu, setelahnya si anak laki-laki sudah menemukan teman kesayangan nya terbaring diatas aspal dengan mengenaskan. Pengang, telinga nya terasa berdengung, beberapa kali mengerjapkan mata berharap ketika membukanya yang ia lihat sekarang ini hanyalah bagian dari bunga tidur belaka. Riuh di kepala nya makin menjadi, bersamaan dengan segerombolan orang-orang yang mulai berkerumun, Senandung, kakak perempuan anak laki-laki itu menarik lengan nya menjauhi keramaian dan memeluknya erat sambil menangis.

Kepala nya mendongak, menatap langit yang kini benderang dengan sangat cerah, diantara gumul awan-awan putih itu, ia berkata lirih dalam hati; jika ada satu malaikat yang akan terbang ke langit hari ini.


“Dika, apakabar?”

Sapa pria paruh baya dengan setelan jas putih menyapa Dika dengan sangat ramah, yang ditanya hanya mengangguk sambil memberi senyum sekenannya.

“Udah lama gak ketemu ya? Terakhir pas kamu masih SMP apa SMA ya?” Dokter itu mengawang langit-langit ruangan praktiknya, mengusap dagu yang kini ditumbuhi janggut berwarna putih. Sangat lama, seingat Dika ketika ia terakhir datang berkunjung Dokter ini masih tampak muda walaupun rambutnya memang sudah memutih,

“SMP, Dok.”

Timpal Senandung dari arah kursi tunggu, terapi perdana Dika yang ditemani sang kakak sebagai wali pasien. Senandung sengaja terbang dari Jogja menuju Bandung ketika mendapat kabar jika Dika harus kembali bertemu psikiater nya lagi setelah tujuh tahun,

“Oh iya iya, SMP ya. Makin ganteng aja ya Dika, haha perasaan dulu pas ketemu saya masih kecil banget sekarang sudah besar.”

Dokter Arman memang selalu begitu, berbasa-basi untuk membuatnya pasien nya merasa rileks, baik Dika dan Senandung hanya tertawa kikuk,

“Jadi ada keluhan apa, Dika?”

Dika melempar pandang pada kakak nya, sedikit ragu jika ia harus kembali menceritakan semuanya dari awal, yang artinya kembali lagi membuka luka lama yang sudah ia tutup, sudah ia simpan dalam-dalam disudut hippocampus nya dan hari ini ia harus kembali berurusan dengan kelam nya lagi,

“Gapapa, ceritain aja semuanya ya?” Jawab si kakak sambil tersenyum walau tahu didalam dirinya mati-matian menahan tangis karena Senandung tahu betul bagaimana perjuangan Dika untuk bisa bangkit dari kejadian 14 tahun silam.

“Anu dok... saya mimpi buruk lagi.” Dika menghela nafas pelan, “Tiap mau merem rasanya kejadian itu berputar lagi didalam kepala saya... kayak film. Udah tiga hari juga saya gak bisa tidur, bawaannya gelisah terus.”

Dokter Arman mengangguk-ngangguk sembari menulis sesuatu didalam catatan nya, “Sebelumnya apa ada trigger yang bikin kamu tiba-tiba jadi begini?”

Dika menggigit bibir bawahnya, mencengkram tangannya sendiri karena sedari tadi terus gemetar, ia tahu lambat laun tangis nya pasti akan pecah juga. Dengan susah payah ia menceritakan kronologis kondisi nya, mengapa tiga hari ke belakang rasanya seperti neraka hingga dada nya kembali sesak, kepala nya seperti akan pecah karena memori itu terus-terusan berputar seperi sebuah alur film. Dari apa yang Dika paparkan, jika kondisi ini memburuk ketika ia tahu jika teman dekatnya sendiri, teman perempuan satu-satunya ternyata diam-diam menyukainya, yang menjadi masalah adalah mengapa orang nya harus Gemintang, mengapa kilas balik dari kejadian beberapa belas tahun silam itu seakan direka ulang seperti deja vu. Dika merasa keberatan pada awalnya ketika mengetahui bahwa ada nama serta foto masa kecilnya terselip diantara lembaran buku jurnal milik Gemintang yang tidak sengaja ia buka ketika datang berkunjung ke rumah nya, ia merasa seperti perlu tutup mulut soal ini dan menganggap hal yang ia lihat tidak pernah terjadi tapi malam itu, ketika Dika secara spontan bertanya mengenai pendapat Ge soal hubungan Farhan dan Sabita justru jawaban yang tidak terduga yang ia dapat, jawaban yang membuat Dika kalut jika semisal perasaan perempuan itu tumbuh lebih besar, membuat ia harus kembali terlibat dalam perdebatan perihal rasa suka dan jika benar-benar terjadi maka mereka akan berakhir saling menyakiti.

Adalah Nadira teman masa kecil Dika, anak perempuan yang selalu ia banggakan, selalu ia sempatkan untuk bermain setiap hari selepas pulang sekolah, masih menggunakan seragam putih merah nya Dika akan datang berkunjung untuk sekedar menemani Dira bermain barbie atau berperan menjadi pasien dengan Dira sebagai dokter nya. Entahlah, Dika tidak tahu apa itu cinta, di umur seusianya untuk memahami konsepsi dari rumus matematika saja masih kesulitan apalagi untuk mengartikan perasaan-perasaan yang meletup ketika netra mereka saling bertemu. Namun yang jelas, jika ditanya siapa orang yang paling ia sayang, bukan Abah, Ibu atau Teh Ndung yang jadi jawaban justru nama Dira lah yang ia sebut lantang-lantang.

Seiring berjalannya waktu, pasca kejadian itu perlu waktu yang sangat lama untuk Dika bisa berbaur dan kembali bersosialisasi dengan teman-temannya, Dika seolah lahir kembali seakan kejadian yang menimpa Nadira adalah bagian dari mimpi buruk yang tidak pernah terjadi. Dika menutup nya dalam-dalam, begitupun dengan keluarga nya.

“Jadi, Dika merasa tidak pantas untuk disukai oleh teman Dika itu karena takut kejadian seperti dulu terulang?” Lanjut dokter Arman, Dika mengangguk tangis nya sudah ruah begitupun dengan Senandung,

“Saya ngerasa hal ini tuh salah... salah banget. Gak seharusnya Gemintang suka sama saya... saya takut... takut... jika saya bakal menyakiti Gemintang sama seperti saya ke Dira dulu...” Jawab Dika pilu, ditengah isak nya ia berusaha untuk tetap menenangkan sang kakak, “Padahal alasan saya untuk tetap bertahan, mulai terbuka lagi dengan lawan jenis adalah Gemintang... saya hanya ingin berteman tanpa harus saling suka atau cinta... saya takut, Dok. Takut sama perasaan dia, sama perasaan saya sendiri.”

Gemintang memang punya arti tersendiri bagi Dika, sebagai teman perempuan satu-satunya yang Dika miliki, bukan hanya karena ayah mereka yang berteman tapi jauh di lubuk hati Dika, Gemintang adalah penyelamatnya, jika saat itu Dika dan Gemintang tidak dipertemukan oleh Idiosinkrasi mungkin hingga sekarang ketakutakn Dika makin menjadi. Hanya Gemintang dan hanya ia yang dikecualikan.

Di tengah segala keterbatasannya, Dika hanya ingin melindungi perempuan itu.

Setelah sesi konsultasi dan terapi yang memakan waktu sekitar satu jam setengah Dika dan Senandung keluar dari ruangan dokter Arman yang langsung disambut oleh kedua orangtua mereka yang menunggu sejak tadi, Dika beruntung punya keluarga yang sangat suportif soal kesehatan mental, karena hal ini pula Dika lebih nyaman terbuka tentang semua hal pada keluarga nya ketimbang pada teman-temannya sendiri. Karena citra Dika adalah pribadi yang menyenangkan, lucu, ceria dan suka bercanda ia merasa sungkan untuk memperlihatkan sisi lain dari dirinya.

Nama Aji mungkin masih terdengar asing diantara para pegiat skena musik independent se-Bandung Raya, berbeda dengan Sadawira yang namanya hampir tergaung diseluruh penjuru kota bahwasanya eksistensi penyanyi itu nyata walaupun wujudnya hanya bisa ditemui pada bait serta nada yang kerap kali menduduki peringkat teratas di chart platform musik berbayar.

Padahal baik Aji dan Sadawira adalah satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, mereka utuh dari seorang individu yang mempunyai kemampuan meramu nada menjadi sebuah senandung pelipur siapa saja yang merasa lara. Aji merasa nyawa nya adalah musik, ia hidup berkat musik dan hampir tiap malam selalu ia habiskan untuk menyelesaikan karya-karya nya dengan berkutat di bawah cahaya temaram lampu studio

Jika ada satu nama yang akan selalu ia sebutkan dalam setiap kesempatan bermusiknya tentu Aji akan menyebut nama Brian lebih dulu. Aji sangat beruntung dipertemukan semesta dengan sang owner cafe Brian saat itu, ketika Aji berumur sembilan belas tahun nekat pergi merantau dari rumahnya di Singkawang menuju Bandung seorang diri. Aji tidak menyangka jika kedatangan nya dulu ke Geladeri cafe untuk melamar pekerjaan sebagai waiters karena uang saku yang semakin menipis berakhir menjadi sebuah takdir yang membawanya bertemu dengan musik. Brian mencurahkan tenaga serta waktunya untuk Aji, karena sebagai orang yang dulu sempat berkecimpung dalam bidang serupa, Brian bisa melihat Aji sebagai manusia yang diberkati banyak potensi, ambisi dan keinginan yang tinggi, sampai dimana ia menemukan bahwa alasan Aji melarikan diri dari rumah adalah untuk menemukan sebuah mimpi. Tak ayal, Brian rela memberikan berbagai fasilitas bermusik hingga sebuah studio kecil yang ia buat didalam cafe untuk Aji, yang dulu mungkin hanya bisa dimasuki dua orang, hanya ada beberapa instrumen seadanya serta laptop pribadi nya yang biasa ia gunakan untuk editing dan mixing agaknya lebih dari cukup saat itu untuk membuat produksi musik nya jadi lebih baik.

Mungkin saat ini tujuan Aji semakin terlihat jelas, disamping meniti karir sebagai penyanyi dan seorang produser Aji ingin membuktikkan pada kedua orangtuanya bahwa ia juga bisa menjadi apa yang ia inginkan tanpa harus selalu mengikuti arus yang sudah ditentukan, bahwa ia juga mampu berdiri diatas kaki nya sendiri.

Masa lalu kecil Aji memanglah seperti anak kebanyakan, mungkin bagi sebagian orang. Tapi tidak menurut Aji, statusnya sebagai anak tunggal cukup membuat dia kewalahan, kedua orangtua nya hanya memberikan setumpuk harapan serta mimpi-mimpi yang masih belum terlaksana pada Aji. Tumpuan hidup keduanya ada pada Aji, rotasi nya hanya berputar pada Aji dan semuanya tentang Aji. Hingga mereka lupa bahwa Aji juga sama-sama manusia. Hingga mereka lupa bahwa Aji tumbuh semakin dewasa. Dengan rasa ingin berontak setiap hari, rumah nya lama-lama terasa seperti penjara dengan tembok-tembok tinggi yang menyesakkan dada nya.

Aji dan dirinya lima tahun yang lalu memang tidak banyak berubah, tetap Aji yang agak keras kepala, tetap Aji yang gengsi, tetap Aji yang rajin bekerja di cafe padahal Brian sudah mewanti-wanti ia untuk tidak ikut campur lagi soal urusan cafe karena pekerjaannya sebagai produser musik cukuplah berat. Tapi Aji tetaplah Aji, yang tetap merendah sekalipun namanya dibicarakan di berbagai forum berita, yang tetap tahu diri dari mana ia berasal, tetap merasa jika kebaikan seseorang yang membantunya bangkit dari keterpurukan adalah hal yang harus ia balas hingga akhir.

Aji berusia lima tahun mungkin masih sangat membanggakan status nya menjadi anak tunggal yang diberi kelimpahan kasih sayang dan perhatian dari Ayah serta Ibu nya, tanpa perlu merasa khawatir harus berbagi mobil mainan kesayangan bergantian dengan anak lain karena Aji adalah satu-satunya anak di rumah itu.

Aji tidak pernah diabaikan, apapun yang ia inginkan selalu dikabulkan. Mainan keluaran terbaru, makanan enak serta barang-barang yang mungkin tidak terlalu diperlukan.

Aji yang menjadi peran utama disaat yang lain mungkin berlomba-lomba menjadi yang pertama. Aji adalah pusat perhatian, tiap gerak-geriknya menjadi sorotan. Aji dituntut untuk selalu menang, karena kalah berarti pecundang.

Aji ini. Aji itu.

Aji harus begini. Aji harus begitu.

Aji asing dengan dirinya.

Aji menyadari bahwa tunggal adalah sendiri, kesepian dan menyakitkan. Aji menyadari bahwa tunggal adalah menanggung seluruh ekspetasi dari orang-orang yang haus akan harapan.

Aji menyadari bahwa tunggal adalah..

Menyedihkan.

Tangan nya hanya dua tapi seolah Aji lah yang harus merengkuh seisi dunia, menopangnya dengan kuasa yang tidak seberapa, menolak lupa bahwa Aji juga sama-sama manusia.

Aji benar-benar asing dengan dirinya sendiri.

Mimpi seorang Aji kecil hanya sesederhana diizinkan bermain dengan teman sebaya atau dibolehkan untuk bolos les matematika, sesederhana menyantap es serut dan gulali warna-warni dari bapak penjual yang selalu berjualan didepan rumahnya dan hal yang paling sederhana tersebut justru adalah sebuah kemewahan baginya.

Aji adalah sebuah jalan dari seluruh mimpi mereka yang masih belum sempat tersempurnakan.

Aji harus patuh. Aji harus tunduk. Aji harus melakukan apapun yang disuruh.

Karena ia tunggal.

Tidak...

Karena yang mereka miliki hanya Aji.

Hanya Aji.

Call me orang yang paling tabah dan sabar.

Hari minggu yang seharusnya gue habiskan dengan berleha-leha terpaksa gue harus menuntaskan kewajiban gue sebagai anggota Idiosinkrasi. Kalau ditanya capek apa enggak jadi solo player? Ya, jelas lah. Gila aja tiap minggu rasanya badan gue remuk banget karena harus on duty dengan schedule boyfriend rent yang makin kesini makin jahanam banyak nya. Okay, gua jujur bilang begini dari lubuk hati gue yang paling dalam tapi gue berusaha untuk menikmati semuanya dan bekerja dengan profesional karena ini gue lakukan semata-mata untuk beramal.

Penasaran kan, gimana sih sistem boyfriend rent di Idiosinkrasi? Okay, I tell you. Base Idiosinkrasi akan bikin pengumuman dulu mengenai slot yang tersedia, tentunya sebelum itu sudah di diskusikan dulu bersama gue mengenai kesanggupan jumlah client, selanjutnya siapa yang cepat maka dia yang dapat. Gue sih biasa dapet client dua atau tiga tergantung kesibukan gue juga, maklum masih jadi mahasiswa. Atau ada yang book full day gue bisa-bisa hanya menerima satu orang saja, biasanya client yang begini hire jasa gue buat nemenin kondangan di luar kota atau gak nemenin family gathering. Beda kasus nih sama client yang akan gue datangi kali ini. Agak lain soalnya ini client ilegal hasil dari kerjasama dengan Dika membuka cabang proker yaitu Idiosins. Yeah, yang malah dapet client lesbian itu, akhirnya jadi berlanjut dengan gue yang jadi tumbal nya. Keep it lowkey, karena kalau ini terendus Farhan gue benar-benar bisa kena geprek.

Gue memasuki lift dan menekan tombol enam, ini bukan sekali-dua kali gue bertemu client di tempat tinggal nya tapi gue nervous banget, apa karena ini client gelap ya makanya perasaan gue jadi tidak karuan?

Sesampainya di depan pintu apart nya gue menarik nafas dalam-dalam sebelum mengetuknya. Satu. Dua. Bahkan sampai hitungan keenam pun pintu nya tidak terbuka.

Baru akan gue ketuk lagi pintu nya tiba-tiba saja terbuka, menampilkan sesosok perempuan yang menyembulkan kepala nya dari balik pintu, melihat gue dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu menatap wajah gue intens. Apakah gue terlihat seperti kurir narkoba sampai-sampai diliatin segitunya?

“Hai...?” Sapa gue canggung, entah kenapa sapaan itu yang pertama kali keluar dari mulut gue, berasumsi jika gue yang mulai untuk mencairkan suasana mungkin atmosfir nya tidak akan terlalu garing seperti sekarang.

“Acip?” Gue mengangguk sambil tersenyum, “Lo gak bawa apa-apa?”

Hah, emang apaan...

“Enggak, Jas. Emang lu ada nyuruh gua beli sesuatu?”

Dia menggelengkan kepala nya lalu membuka pintu apart sedikit lebih lebar memberi kode pada gue untuk segera masuk kedalam dan dengan cepat gue menuruti perintah nya.


Dalam keadaan yang super awkward ini gue masih menebak-nebak maksud dan tujuan Jasmine mengundang gue ke apart nya itu untuk apa. Masa iya cuma buat ngacangin gue doang? Dia yang maksa, minta gue dateng kesini jam delapan tepat, sampai bikin gue harus mencari-cari alasan agar bisa pulang cepat ketika on duty bersama Mentari tadi.

“Jas—”

“Lo ngerokok, Cip?”

“I—Iya. Gua ngerokok. Kenapa, Jas?”

Dia tidak menjawab dan hanya memberikan sekotak penuh nikotin itu pada gue dengan kebingungan gue menerimanya lantas mengeluarkan satu batang,

“Butuh korek?”

“Eh enggak, gua bawa sendiri kok.”

Jasmine mengangguk, lagi. Tanpa kata dia menyalakan rokok nya, menghisapnya perlahan walaupun sambil sedikit terbatuk-batuk, gue perhatikan sepertinya dia memaksakan diri untuk merorok, dari cara memegang bahkan cara nya menikmati rokok tidak tampak seperti perokok aktif. Sampai gue lihat tangan nya bergetar dia tetap menghisap dan menghembuskan asap nya ke udara. Jasmine, what's wrong with you?

“Hei, lu gapapa?”

“K—kenapa emang nya?”

Jawabnya terbata-bata. Gue yakin ada yang enggak beres sama dia.

“Lu kayaknya gak terbiasa buat ngerokok? Atau mungkin lu baru nyobain ngerokok?”

“Gue sesekali suka ngerokok kalau lagi stress sama kerjaan and if you don't mind, can you stop staring at me like that?”

Eh, buset galak amat. Padahal gue mencoba berbaik hati menawarkan bantuan berupa kiat-kiat menjadi perokok aktif yang handal. Dih, apaan banget dah ngerokok kok asep nya ditelen anjrit, dikira asep ciki nitrogen apa.

“Okay?” Gue memutar bola mata malas lalu menyalakan juga rokok gue. Nih, liat ngerokok tuh kayak begini. Gue hisap dalam-dalam hingga bara nya makin memerah lalu menghembuskan asap nya perlahan ke udara, gue juga bikin asap nya membentuk huruf O, bodo amat gue pengen flexing didepan dia kalau cara ngerokok tuh—

“Have you ever doing sex, Cip?”

....Kayak begini.

Wait, what? Dia bilang apa?

“Hah?”

“Udah?”

Gue menggelengkan kepala. Kenapa. Kenapa dia harus bertanya pertanyaan super ngehe itu? In this fucking situation? Apa gak makin canggung entar? Terus, apa katanya, gue pernah ngew— ngent— doing sex? Gila, baru kali ini gue dikasih pertanyaan aneh seperti itu. Walaupun ada yang lebih aneh sih, dulu ada client gue yang nanyain soal aljabar hanya karena gue anak ITB tapi shit, yang bener aja. Gue anak seni bukan anak rumpun eksakta. Oke, kembali soal Jasmine. Ya belom pernah lah gila. Gini-gini juga gue cowok baik-baik ya anjir.

“Wanna try with me?”

Allahuakbar. Apa katanya. Apa. Katanya. Try. With. Me.

“HAH?”

Hanya reaksi keong yang sanggup gue berikan untuk menjawab semua kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan.

“Lo kenapa sih, Cip? Belom pernah? Haha, cupu.”

Biji mata lu cupu. Lu pikir belom pernah ngelakuin itu cupu? Stress, walaupun gue suka mabok tapi untuk frisek dan makan babi gue sangat menentang nya. Tolol kan? Jangan ditiru ya teman-teman.

“Emang kenapa sih, Jas? Nih ya, gue tanya dulu. Lu ngajak gue ke apart tuh buat apa? Gue sampe rela izin sama client buat udahan lebih awal demi elu.”

“Gue juga client lo Cip kalo lupa.”

Iye, client selundupan tapi.

“Ya terus mau ngapain? Lu kalo cuma pengen ngajak gua sebat mah didepan indomaret juga sabi kenapa pake segala gua yang nyamperin kesini?”

“Apa karena pengaruh nama lo ya, Cip?”

“Apaan? Kenapa nama gua?”

Jasmine terkekeh kecil mematikan rokok yang baru terbakar sedikit itu ke asbak yang berada didepannya,

“Hafidz? Nama lo Hafidz kan? Terlalu soleh ya.”

Kenapa lagi dah ni cewek buset, kagak ada kolerasinya nama gua yang telalu soleh itu sama having sex.

“Fine, i'll take that as a compliment.”

“Kalo minum gimana? Lo belom pernah juga?”

“Itu sih, jago gua. Gua bisa tahan minum amer—”

“Cip, really lo masih minum amer?”

Emang ngapa sik? Gue aja merasa berdosa minum amer mana mungkin gue nyobain yang lain. Walaupun gue selalu beralibi kalau amer ini adalah jamu yang gue butuhkan ketika sedang kedinginan atau pilek. Hehe, jangan ditiru lagi ya temen-temen.

“Apa salahnya sih, Jas?”

“Wait, gue bawa sesuatu dulu.”

Jasmine pergi kearah dapur terdengar suara lemari yang dibuka lalu senyap kembali. Apa nih, jangan-jangan dia bawa pisau lagi? Kok jadi diem-dieman? Sekitar sepuluh menit berlalu barulah Jasmine muncul dari dapur sambil membawa botol berisi cairan berwarna cokelat bening yang terlihat seperti teh botol dari kejauhan.

“Apaan tuh?”

“Something tastier than amer.” Ucapnya menaruh botol dengan tulisan 'Jack Daniels' itu didepan gue.

“Lu nyuruh gue buat minum ini, Jas?”

Jasmine mengangguk sambil menaruh dua gelas nya juga, “Lo harus nyobain yang lain selain amer.”

Ada pergulatan batin didalam diri gue. Pertama, gue memang sangat penasaran dengan rasa alkohol selain amer tapi kedua, gue tidak tahu batas toleransi gue sama minuman ini, takut jika nantinya gue malah high diluar kendali dan melakukan hal-hal yang tidak semestinya gue lakukan. Betul, kebiasaan mabok gue memang jelek banget. Makanya, kalau minum gue lebih prefer buat sendirian aja.

“Jangan-jangan lo gak berani juga, Cip?”

Lagi-lagi, kenapa pertanyaan nya sangat bikin gue terprovokasi ya, kata-kata yang dia pilih tuh seakan meremehkan gue banget. Jiwa gue memang my life my adventure merasa sangat tertantang dengan ajakan tersebut.

“Iya-iya, gua minum.”

Persetan dengan after effect.

Jasmine membuka tutup botol itu dan menuangkan isinya ke gelas kami masing-masing lalu gue beranikan diri untuk mencicipinya sedikit,

“Gimana? Enak kan?”

“Aneh, tapi enak.”

Sensasi asing yang menyentuh lidah gue lalu turun dengan agak lambat di kerongkongan. Rasanya hangat dan juga manis, rasa yang kurang familiar tapi begitu menarik untuk gue coba. Tanpa ba-bi-bu gue langsung meminum nya sekaligus hingga tidak bersisa.

“Chill, Cip. Lo lagi minum whiskey bukan teh manis.”

Ada hasrat yang mendorong yang gue untuk terus menikmati minuman memabukkan itu, mungkin nantinya posisi amer akan tergantikan oleh whiskey.

Tanpa sadar gue terus menuangkan isi nya hingga dua atau mungkin tiga gelas? I don't know, gue gak ingat dengan pasti, yang jelas gue hanya merasakan sensasi yang amat nikmat, tubuh gue serasa melayang-layang, terlalu ringan hingga gue benar-benar ingin terbang. Sensasi-sensasi aneh nya mulai bermunculan (yang gue yakini sebagai symptoms awal menuju fase high.) udara nya jadi panas, gerah, wajah gue mendadak memanas, gue ingat sempat membuka baju beserta celana gue sendiri. Dari situ samar-samar gue melihat Jasmine mematung menatap gue layaknya melihat orang kurang waras yang tiba-tiba buka baju didepan matanya. Tenang, gue gak sampai naked kok, gue cuma menyisakan boxer yang gue pakai. Gue melanjutkan menghabiskan whiskey yang tersisa dengan terburu-buru namun justru gue mendapati sensasi aneh lagi sesudahnya, kepala gue terasa berputar, perut gue seperti akan meledak, mata gue jadi sangat berat bahkan hanya untuk bekedip dan setelahnya gue tidak mengingat apa-apa lagi.


“A, bangun A. Jangan tidur di parkiran.”

Gue membuka mata perlahan mendapati seorang satpam yang sedang berjongkok didepan gue, mengguncangkan tubuh gue untuk segera bangun. Shit, kepala gue masih sakit dan... what the actual fuck... kok gue bisa ada di parkiran apart? Dengan posisi tertidur?

“Aa, kenapa sampe bisa tidur disini? Tadi saya liat Aa nya masuk kedalem kok.”

“Gak tau pak....” Jawab gue lirih sambil sekuat tenaga menahan rasa sakit di kepala,

“A, mau saya panggilin gocar?”

“Gak usah pak, saya minta jemput temen aja.”

Bapak satpam masih menemani gue mungkin beliau takut gue kejang-kejang lalu mati mendadak kali ya. Walaupun dengan keadaan seperti ini gue memaksakan diri untuk menghubungi anak-anak karena gak mungkin banget gue pulang pake angkutan umum, grab atau gocar, karena gue tahu akan terjadi sesuatu sama gue setelah ini. Ya, efek high nya masih bisa kumat bahkan ketika gue setengah sadar.

Bayang-bayang Jasmine tiba-tiba memenuhi pikiran gue. Ah, cewek itu. Emang beneran gila kayaknya.

“Kenape lagi dah?” Pertanyaan pertama yang dilemparkan Arga setelah ia sampai di kos gue membawa pesanan yang sebelumnya gue request di pesan singkat.

“Buka dulu martabak nya lah. Sebat nya beli apa, Ga?”

“Biasa lah.”

“Oke, cakep.” Arga melemparkan sebuah kotak kecil berwarna merah putih bertuliskan Marlboro itu pada gue, lalu membuka box martabak telor yang akan menemani sesi deeptalk kami.

“Minum nya mau gak, Ga?”

“Serius nih? Punya berapa botol?”

“Lima sih, punya gua sebotol doang sisanya punya si Acip.”

“Yaudah buka aja punya lu.”

Oke. Serta ditemani amer tentunya. Gue merasa perlu untuk rileks dan meracau dibawah kendali alkohol malem ini.

“Jadi kenapa?” Lagi, Arga bertanya hal serupa padahal gue baru saja mengigit satu potong martabak, belom nyampe kerongkongan tapi gue merasa seperti lagi di introgasi.

“Ya itu... Sabita.”

“Mau udahan?”

“Buset dah Arga ngomong nya.”

“Ya abisan asu, gua tanya dari tadi kenapa malah ngomongin hal lain sih.”

Gue terkekeh melihat Arga yang darah tinggi behavior ini memang seru banget buat dijailin. Sebelum bercerita panjang lebar, gue membuka satu botol anggur merah, menuangkannya kedalam gelas lalu meneguknya hingga tak bersisa.

“Gua kayaknya lagi di tahap insecure, Ga.”

“Kok bisa?”

“Emang scoopy sejelek itu ya?”

“Konteks?”

“Dibandingin ama fortuner.”

Sedetik kemudian Arga tertawa hingga gue bisa merasakan pedih nya. Ish, iya emang salah gue berharap sama dia.

“Aduh sorry sorry, abisnya pertanyaan lu itu dongo banget.”

“Taeeee, seriusan ini. Tadi kan temen nya Bita ikutan rapat ama anak-anak gua kan soalnya mau ngadain collab, lu tau tampang nya kayak gimana?”

“Lebih cakep dari elu?”

ExactlyㅡEh anjing, Gua amplas juga dah mulut lu.”

Okay, not gonna lie. Tapi gue merasa Jo lebih cakep dari gue.

“Oke, let me connect the dot. Muka cakep sama punya fortuner?”

Yes.

“Anak arsi juga berarti?”

“Yaaa.”

“Seiman?”

Gue terdiam. Bukan gak bisa menjawab pertanyaan Arga tapi gue sedikit tertampar dengan kenyataan itu, gue tau kalau Jo dan Bita adalah teman sekelas ketika maba sekaligus teman ibadah juga karena mereka sama-sama jemaat di gereja yang sama. Tapi ada satu hal yang baru gue sadari, mereka kenal bahkan jauh sebelum gue pacaran dengan Bita tapi kenapa selama ini Bita belum pernah sama sekali menyinggung perihal Joshua? Bita lebih sering cerita soal temen-temen ceweknya seperti, Nadine, Luna, Gisya dan lain-lain tapi Joshua, seingat gue Bita belum pernah bercerita tentang laki-laki itu.

“Wah, dengan lu diem begini udah bisa gua asumsi kan sih.”

“Iye, Ga. Muka cakep, punya fortuner, sekelas sama seiman. Kenal juga sama orangtua nya Bita.”

“Kacau, paket lengkap banget.”

Gue menenggak kembali anggur merah yang kini tersisa setengah, bergantian menghisap rokok yang baru gue nyalakan. Kalau Bita tau soal ini kayaknya gue bakal abis kena omel seharian. Tapi persetan, gue ingin bebas hari ini.

“Gimana dong, Ga?”

Arga menghembuskan asap rokok nya ke udara lalu menatap gue lekat,

“Gue gak bisa ngasih solusi yang menjamin, Han. Semua kendali ada di elu, gua kira isn't that deep tapi pas tau mereka seiman, jujur gua juga jadi ikut kepikiran.”

“Ya kan? The fact that she's not told me about him bikin gua jadi ikutan gamang. Lu tau apa pikiran jelek gue sekarang?”

“Apa?”

“Orangtua Bita taunya anaknya pacaran sama Joshua bukan sama gua.”

“Lah, emang belom pernah ketemu ape lu ama mereka?”

“Ya.. belom? Gua nya sih yang gak mau. Takut ditanyain ini itu. Kalo ditanya soal keseriusan gimana coba? Kan berabe.”

“Lu tuh pacaran ngapain aja sih anying? Sampah banget, ciuman kek apa kek.”

Bener juga sih, gue sama Bita paling jauh cuma pernah nginep sekamar pas kemaleman di Lembang itupun gue nya tidur di sofa dan sama sekali gak punya pikiran yang aneh. Gue gak akan pernah berani jika belum mendapatkan consent dari dia.

“Tai.”

“Terus rencananya mau gimana nih?”

“Au dah. Tapi menurut lu kalo gua datengin rumah Bita terus ngobrol ama bokap nyokap nya, gimana?”

“Mau ngomong apa?”

“Saya islam.”

Lagi-lagi tawa Arga meledak kini lebih keras, bener-bener dah bedebah banget ni orang.

“Yang bener aje sih Han masa tiba-tiba lu ngomong begitu. Mau ngapain anjing?”

“Ya abisan bingung. Gua juga gak tau entar nya bakal dibawa kemana.”

“Han..”

“Gua ajak Sabita jadi mualaf aja apa?”

“Gak begitu juga konsep nya ege. Lu mau gua jawab dengan jawaban serius apa enggak?”

“Dua-duanya boleh.”

“Pertama, goblok mana bisa. Kedua, goblok juga. Lu pikir ngajak orang pindah agama tuh segampang ngajak join MLM apa?”

“Ya kalo orangtua nya open minded dan ngebebasin anaknya buat milih keyakinan yang di anut sih, harusnya bisa kan, Ga?”

“Iya, bisa aja. Tapi pertanyaan nya, Bita ada tanda-tanda kepengen masuk islam kagak?”

“Dulu sih pernah minta gua buat cerita nabi. Kayaknya udah deh, dia gak kepo lagi soal per-agama-an.”

“Anjir ampun dah, Han. Kalo gue tebak sih persentase nya 98%.”

“Dia mau masuk islam?”

“Gak tertarik lah anying. Itu sisanya 2% kayaknya emang murni karena kepo doang. Eh lu abis ini jangan doktrin anaknya ye.”

“Ga, lu pikir gua sesoleh itu?”

“Enggak sih. Buktinya aja ni lu mabok, astagfirullah Farhan. Inget mati, Han.”

Eh, sumpah gue bukannya enakan curhat sama dia malah tetep kebawa emosi, pengen gue bisikin 'Man robbuka' di telinga nya.

Dan sisa malam itu gue habiskan untuk ngobrol ngalor ngidul bersama Arga. Sudah habis tiga botol amer tapi orang itu masih aja tetep seger, beda dengan gue yang langsung tepar dan hal terakhir yang gue ingat adalah Arga meninggalkan kosan pukul empat atau mungkin lima? Gak tau juga, pokoknya ketika adzan subuh berkumandang anak itu udah pamit pulang.

Untuk pertama kalinya gue merasakan keresahan dalam menjalani suatu hubungan. Gue bukanlah tipikal laki-laki yang suka meributkan sesuatu dalam sebuah relasi apalagi perkara hal sepele yang sepertinya minim substansi untuk diperdebatkan.

Kali ini berbeda. Iya, ada sesuatu yang meletup di dada, sesuatu yang tidak bisa gue deskripsikan rasanya seperti apa yang jelas,

Sepertinya gue cemburu.

Dalam tahap ini gue masih berusaha denial, enggan mengakuinya karena seumur-umur berburuk sangka sama pasangan baru kali ini gue alami. Walaupun kebenarannya masih abu-abu, membuat gue resah dan sedikit waspada takut-takut sesuatu yang tidak gue inginkan terjadi. Apalagi ketika melihat dua entitas yang sejak tadi membuat pikiran gue gundah itu datang beriringan, Sabita dan Joshua dengan sangat kebetulan memakai baju dengan warna yang sama. Jangan tanya pendapat gue, yang jelas gue ingin sekali menarik baju yang dikenakan laki-laki itu, tapi gue sadar itu adalah alasan yang terlampau tolol untuk jadi sebuah first impression.

“Halo semuanya.” Sapa Sabita sesaat ia sampai dan langsung duduk disebelah gue, melempar senyum manis nya dan harus gue akui lagi-lagi seorang Farhan Oktara harus luluh karena nya.

Butuh lima detik untuk gue kembali tersadar dan bergantian menatap Joshua, penampilan nya memang oke banget gue mengakuinya, terus beuh wangi banget kayak kuburan baru.

“Bang Han?” Ujar Gemintang membuyarkan lamunan gue, raut wajah nya memberi isyarat kalau gue harus segera membuka rapat dan menyampaikan satu-dua patah kata untuk Joshua agar keadaan nya gak jadi canggung-canggung banget,

“Oh iya, sorry haha.” Gue berdiri tanpa melepaskan atensi pada Joshua, “Oke. Pertama, gue ucapkan terimakasih sama anggota idiosinkrasi yang sudah mau meluangkan waktu malam minggu nya untuk hadir di rapat mingguan ini dan gue ucapkan selamat datang juga buat Joshua yang malam ini dateng hehe. Ganteng, ya?”

Goblok. Kenapa harus itu yabg keluar dari mulut gue.

Keadaan jadi makin canggung karena gue malah beromong kosong, tapi jujur ni cowok emang cakep banget? Koor tawa dan tepuk tangan akhirnya memecah keheningan, berkat Acip dan Dika yang seakan mengerti bahwa ketua nya ini sedang mengalami pergolakkan batin. Huft.


Tiga puluh menit berlalu setelah para anggota idiosinkrasi selesai menyampaikan progress proker masing-masing yang sedang dikerjakan. Masih juara bertahan Acip dengan boyfriend rent andalan nya yang minggu ini mendapat rekor client terbanyak, memang gak salah sektor ini jadi andalan.

Ohiya, soal Joshua. Sekarang giliran dia yang memaparkan program kerja yang akan dijadikan project collab antara idiosinkrasi dan kelompok sosial nya sendiri yaitu 'Serenity'.

“Terimakasih banyak temen-temen sudah menyambut saya dengan baik disini. Kayaknya saya harus memperkenalkan diri lagi just in case temen-temen kurang familiar sama saya hehe.”

Alah. Caper banget.

“Perkenalkan nama saya Joshua Daniel Hartanto bisa dipanggil Joshua atau Jo, jurusan arsitektur angkatan 2017 dan disini saya mewakili social project milik saya yaitu 'Serenity'. Terimakasih.”

Iye dah iye elu yang paling arsitektur. Eh wait... cewek gue juga kan anak arsi, anjrit.

Omong-omong, maaf jika gue terdengar urakan. Mohon dimaklum karena gue baru pertama kali merasakan cemburu.

“Boleh langsung aja saya jelasin, Han?” Joshua menginterupsi sesi overthinking gue,

“Oohㅡ Iㅡiya, silahkan, Jo.”

Fokus Han fokus. Lu boleh panas tapi jangan sampai citra dan martabat lu sebagai presiden idiosinkrasi jadi jelek gara-gara kebanyakan ngelamun bego, mikirin hal-hal yang seharusnya enggak dipikirin.


“Bi, pulang?”

Gue mengusap tengkuk dengan kikuk begitupun dengan Sabita, percakapan perihal Joshua sore tadi masih membuat kami sama-sama canggung pun gue belum mendapatkan penjelasan yang konkret karena udah keburu malem dan gak mungkin banget gue harus mengajak dia ke suatu tempat untuk membicarakan masalah ini, urgensi nya tidak seburu-buru itu.

“Iya, Han. Kamu abis ini mau kemana?”

“Kayaknya mau pulang juga deh.”

“Oh, okay.”

Hening kembali menyelimuti kami berdua.

“Biㅡ”

Ucapan gue terpotong oleh bunyi klakson dari fortuner hitam dengan kaca depan yang tebuka dan sudah bisa gue tebak itu milik Joshua karena gue melihat si empu nya sedang tersenyum kearah gue dan Bita dari balik jok kemudi,

“Kenapa, Han?”

Ragu, tadinya mau gue anterin pulang tapi gak jadi karena sepertinya cewek gue lebih aman dianter pake fortuner daripada pake scoopy. Shit, the gap is real.

“Enggak, Bi. Tar kalo nyampe rumah kabarin aku ya.”

“Iya, Han. Aku pulang ya.”

Gue mengangguk, melihat punggung nya berbalik dan mulai menjauh jika ini adegan pada sebuah drama mungkin sudah gue peluk erat tubuhnya tapi lagi-lagi nalar gue lebih bisa mengendalikan hati gue yang sedang panas-panasnya. Gue melirik Joshua lagi, melambaikan tangan nya seakan memberi kode kalau Bita akan diantarkan nya selamat sampai tujuan. Gue mengangguk dan melambaikan tangan juga.

Setelahnya gue masih merasa kalut, bahkan ketika fortuner hitam itu sudah melaju jauh gue masih teramat kalut.

Jika pendar cahaya bisa saya kalkulasikan dalam bentuk yang sebenar-benarnya mungkin Baskara lebih terang dari itu. Baskara bersinar tanpa ia sadari dan Baskara masih perlu untuk divalidasi.

Baskara, lagi-lagi saya jatuh hati.

Sebagai teman slash sohib terbaiknya (menurut yang ia katakan sih) saya belum sepenuhnya memahami apa yang Baskara inginkan. Betul, anak nya memang full of affection banget, peduli sama sekitar dan tidak jarang lebih mementingkan urusan orang lain ketimbang urusannya sendiri. Padahal, jika dilihat urusan yang ia hadapi jauh lebih pelik. Tapi memang seperi itu adanya Baskara. Saya tidak bisa menahan ia untuk selalu berbuat baik yang kelihatannya seperti tindakan cari muka menurut apa yang orang-orang katakan. Namun yang jelas, dengan kesadaran yang penuh saya berani mengatakan jika Baskara punya hati yang tulus.

“Bas, lo tuh gak capek apa?” Tanya saya pada Baskara yang sedang sibuk mengerjakan tugas studio nya, sambil mengernyit Baskara melempar pandang dengan tatapan bingung,

“Apaan?”

“Jadi orang baik?”

Gelak kecil keluar dari mulutnya, “Jadi menurut lu, gua ini orang baik?”

“Ya... Iya? Menurut apa yang gue perhatikan sih lo kelewat baik sampe-sampe... Tuh tugas studio yang harusnya tugas kelompok aja lo kerjain sendiri. Sinting ya lo?”

Baskara kini tertawa, memutar badannya menghadap kearah saya, “Yang lu perhatiin tuh yang keliatan nya aja berarti?” Saya mengangguk, sudah barang tentu ia akan mengelak dengan fakta ini. Meskipun hampir tidak ada manusia yang sempurna, namun menurut saya Baskara adalah bentuk sempurna dari persepsi saya.

Baskara being Baskara laki-laki berumur duapuluhan yang sangat menikmati masa mudanya itu, masih sama seperti kebanyakan orang-orang pada umumnya, yang suka membicarakan aib orang, sering ngomong jelek dan hal-hal manusiawi lainnya. Tidak jarang sumber berita terhangat juga datang nya dari Baskara, sampai-sampai berita setidak penting seperti dosen fakultas sebelah yang nikah lagi dan punya istri muda. Dua tahun memang hanyalah sebuah waktu yang bergulir, masih belum cukup untuk mengenal seluk beluk seseorang beserta pribadi nya, tapi Baskara hadir. Baskara berhasil memproyeksikan kata baik yang saya percayai.

“Selama gua masih bernafas, masih diberi kesempatan buat liat hari esok dan masih hidup sampai detik ini, gua tentu akan berbuat baik.”

“Tapi...”

“Apa?”

Saya kembali merasa harus bungkam.

“Lu khawatir kalo gua bakal merasa rugi dengan tindakan ini?”

Saya mengangguk. Lagi.

Menjadi baik tetap perlu ada batasnya. Tidak selamanya bersikap baik itu bagus, betul? Ada kalanya orang-orang yang tidak bertanggung jawab malah akan menjadikannya sasaran empuk untuk dimanfaatkan.

I'm fine with that. Gua tau limit nya menjadi 'baik' menurut definisi lu itu.”

“Emang menurut lo baik itu seperti apa?”

Terkadang isi kepala Baskara memang selalu rumit untuk saya tebak, untuk saya urai menjadi untaian yang bisa saya pahami. Cara ia memandang dunia memang agak berbeda dengan saya, konsepsi yang sering kali beririsan jika dihadapkan dengan sebuah persoalan. Poin saya seperti ini dan poin ia seperti itu dan aneh nya saya merasa perlu untuk tetap bersinggungan seperti demikian, karena sekali lagi presensi nya sangat berarti bagi saya. Mengartikan makna-makna kehidupan dari kacamata seorang Baskara Kusuma Wiryawan memang sangat menarik.

“Lu bakal bilang ini basi, klasik, bullshit or whatever you named it,” Baskara menutup laptop nya dan menatap saya lekat, “Is that what we called as the humane thing? Itu tuh hal basic yang diperlukan untuk menjadi manusia.”

But.. why..?

“Gua gak pernah melabelisasi tindakan yang gua lakukan ini sebagai tindakan baik, kalau orang-orang nilai seperti itu ya bagus? Gua seneng banget? Berarti yang gua lakukan sudah benar.”

For what?

“Bikin orang-orang bahagia.”

Saya amat berterimakasih pada diri saya sendiri karena menemukan ia pada acara malam keakraban ketika kami masih sama-sama berstatus mahasiswa baru. Malam itu, didepan api unggun yang menguar diantara udara dingin Dago Atas yang menusuk tulang, Baskara menarik perhatian saya dengan gagasan nya perihal emansipasi wanita. Kala itu, seorang kakak senior melempar topik bahasan pada forum diskusi antar para maba, diantara puluhan orang peserta hanya ia yang berani bersuara. Bukan hanya saya tapi semua orang disana kagum dengan penjabaran Baskara, menilai hal yang masih tabu dalam sudut pandang seorang laki-laki dewasa. Baskara itu peka. Ia mengerti dengan kekhawatiran saya sebagai kaum hawa yang hidup berdampingan dengan nilai-nilai patriarki dan misoginis. Little did I know, kalau Baskara ini adalah anak terakhir dari tiga bersaudara dengan dua kakak nya yang juga perempuan, dari situ saya paham, dari kecil hingga sekarang Baskara memang akrab dengan kesetaraan, pendidikan keluarga nya memang patut diacungi jempol.

You are indeed my friend, Bas.”

“Tumben gak di debatin?

“Gak semua perkara musti gue debatin juga dong? Ada kalanya emang bagusnya begini aja. Ya gak sih? Lo tetap berpegang teguh dengan nilai-nilai yang lo pahami itu, begitupun sebaliknya.”

Baskara tersenyum, “Betul. Gak serta merta semua harus ada titik temu nya. Menjadi berbeda gak selamanya salah, menjadi lain tidak selalu berkonotasi negatif, selama itu baik bagi lu dan gua, ya kenapa enggak.”

Baskara, sepertinya saya benar-benar jatuh hati. Berkali-kali.

Saya berdiri didepan Baskara, hingga bisa merasakan sensasi hangat dipunggung saya akibat menghalangi sorot matahari yang menerpa wajah nya sejak tadi,

“Lo tuh bersinar, tau gak?”

Kedua alis nya terangkat, mungkin opini saya akan dibantah lagi, tapi saya senang mengutarakan semua yang selama ini menyumbat isi kepala saya tiap menatap dan berbicara dengan Baskara. Menormalisasi berbuat baik sebagai tindakan yang manusiawi memang sudah sepatutnya seperti itu, tapi masih ada yang membuat saya gamang, kenapa harus berbuat baik pada orang-orang ketika bahkan berbuat baik pada diri sendiri saja masih belum mampu?

Saya memang skeptis pada nilai-nilai kehidupan. Sebenarnya, memang belum percaya saja.

“Tau? gua pake merk skincare yang lu rekomendasiin itu.”

“Hadeh, bukan itu ege.” Saya merapihkan rambut nya yang sedikit berantakan karena hembusan angin,

“Apa dong? Kenapa menurut lu gua ini bersinar?” Baskara semakin antusias, senyum nya kian lebar, menyandarkan punggung nya pada bangku taman DPR (Dibawah Pohon Rindang) itu lalu menatap saya dengan mata kilap kejora.

Indah, mata Baskara indah, bahkan sorot mata nya saja sangat bersinar bagi saya.

“Baskara kan artinya matahari, kayaknya dari situ deh pribadi lo pun ikutan bersinar?”

“Yang jelas dong kalo ngomong”

Baskara memang paling tahu.

“Yaaa... lo tuh keren, makanya bersinar. Semua yang lo lakukan, pencapaian lo, prestasi lo tuh kebahagiaan nya nular tau gak. That's why, gue bilang lo tuh bersinar, Bas. Eksistensi lo tuh positif banget, orang-orang yang ada disekitar lo ikutan seneng juga. You should know about that, really.

Thankyou, tapi lu tau kan gua selalu merasa kurang dan merasa belum cukup bahkan untuk menjadi diri sendiri?”

Baskara memang paling tahu. Tapi tidak dengan diri nya sendiri.

“Gue bilang begitu ya karena biar lo sadar, Bas. Lo itu sudah sampai di titik ini tuh struggle banget. Gue tau kerja keras lo, tau bagaimana pengorbanan lo selama ini, gue tau, Bas—”

Well, you not. Gak semuanya lu tau.” Baskara beralih menatap langit kota Bandung yang kini benderang berwarna biru segara. Saya jadi ragu, menciut takut karena ternyata yang saya ketahui itu hanyalah yang muncul dipermukaan tanpa tahu sebenar-benarnya seperti apa,

“Tadi gua nanya, lu tau kan gua selalu merasa kurang dan merasa belum cukup?” Lanjutnya memastikan.

Terbersit dalam benak kalau Baskara ini adalah orang yang kurang bersyukur dengan segala yang telah ia capai dan miliki. Kurang apa lagi sih sampai harus merasa belum cukup?

“Gua sedih, Bas. Lo bilang begitu didepan gue, padahal gue tau jatuh bangun lo seperti apa.”

Baskara menghela nafas,

“Lu tau? Gak semua orang punya batas puas yang sama. Gua belum menemukan arti baik yang sesungguhnya, makanya gua bilang belum merasa cukup. Kedengeran nya kayak kurang self love ya? Enggak juga kok? Gua hanya merasa perlu membuat sesuatu yang bisa gua kenang sebanyak yang gua bisa, memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar nantinya nama gua terkenang sekalipun raga gua sudah tidak ada di dunia.”

Berat. Bahasan nya terlalu berat, padahal masih pukul dua siang.

“Ada perasaan yang susah untuk gua utarakan, deskripsikan dan ceritakan bentuknya seperti apa. Dari sepuluh fakta mungkin lu hanya tau lima—atau bahkan enam? Gak semua nya harus gua gembor-gemborkan, I just want to keep it with myself. Yang mostly adalah pikiran-pikiran jelek nya aja.” Ujarnya kembali setelah panjang lebar menjelaskan. Selalu membuat saya terkesima, begitulah Baskara.

“Bas...”

“Apaan?”

“Kenapa jadinya gue kayak gak ada value jadi temen lo ya?”

“Gua bukan menganggap lu tuh gak ada artinya. Enggak.. bukan begitu. Gua pasti cerita kok kalo gua sedih, kalo gua lagi kesel, kalo gua lagi kecewa. Lagian orang yang pertama harus tau itu, ya elu.” Masih dengan kedua netra kami yang bertaut, seakan mengirim sebuah telepati bahwasanya kami ini saling memiliki.

Memiliki dalam konteks pertemanan, ya.

“Kita temenan tuh baru dua taun ya anjir. Masih banyak yang bakal lu find out dari gua, begitupun sebaliknya. Jangan pengen kejawab semuanya sekarang, nanti rasa nya bakal beda. Jadi hambar.” Baskara berujar kembali.

Makin kesini arus nya jadi bertabrakan. Memang benar dua kepala susah untuk dijadikan satu, baiknya memang berbeda pada satu alur yang sama. Saya kembali diam, sebenarnya capek, Baskara memang jago untuk berkelit.

“Masih ada gak nih sesi tanya jawab nya? Lu masih bingung dimana?”

“Banyak...”

“Yaudah lah sambil makan aja gimana? Gua harus kumpulan nih abis ini.”

Baskara yang sangat sibuk, tiap hari jadwal nya mungkin setara dengan para influencer sosial media, pengalaman organisasi dan kegiatan nya dari sekolah dasar jika ditulis didalam curriculum vitae mungkin akan setebal kamus Oxford, wajah nya terpampang dibeberapa baliho besar di sudut kampus layaknya calon legislatif yang akan melenggang ke Senayan, dan tentu saya adalah orang paling bangga akan hal itu.

“Eh, anjing tipes lo entar”

“Makanya sambil makan lah anjing”

Lalu kami larut dalam koor tawa. Seperti biasa. Mini debat ini akan kami akhiri dengan saling melempar umpatan.

Meski terdapat beberapa jawaban yang masih membuat nyeri logika serta serentetan pertanyaan yang ingin saya ajukan, tapi benar kata Baskara. Tidak serta merta semua hal harus ada titik temu nya.

Baskara adalah matahari bagi semua orang dan Baskara adalah matahari bagi dirinya sendiri.

Bersuka cita dengan perasaan penuh yang meluap. Tentang nominal bernama umur yang terus menggenap. Semua doa baik dipanjatkan dengan harap.

“Jika aku mati esok, apa ada lilin yang ku tiup serta sepotong kue yang ku lahap?”